
Selang beberapa detik dokter sampai.
Karin yang kebingungan hanya bisa mondar mandir ke kanan dan ke kiri. Pikirannya sangat kacau dalam posisi apapun Karin tak bisa tenang.
Dokter pun keluar ruangan dengan wajah murung, membuat kepanikan dalam pikiran Karin semakin memuncak.
"Dok... Bima oke kan?" Tanya Karin.
Huft... Dokter menghela napas kasar.
"Akibat dua kali benturan yang cukup keras pada bagian kepala Pasian mengakibatkan adanya gumpalan darah yang menyumbat aliran darah pada bagian kepala belakang." Lapor dokter tersebut.
Mendengar jawaban dokter membuat Karin terkejut bukan main. Rasa bersalahnya semakin menjadi kala mendengar Bima harus operasi.
"Dok lakukan apapun agar dia sehat kembali" jawab Karin.
"Jika kita lalukan oprasi mungkin ingatan pasien tidak sepenuhnya kembali. Tpi jika oprasi ini di lakukan dengan sangat baik kemungkinan untuk amesia hanya sedikit." Ucap dokter itu lagi.
"Baik apapun resiko saya akan terima, tapi saya mohon dok lakukan yang terbaik" jawab Karin.
"Baik silahkan tanda tangan" ucap dokter menyerahkan selembar kertas yang di bawa suster.
"Baik" jawab Karin singkat. Ia seger menandatangani persetujuan tersebut.
Usai tanda tangan Karin segera masuk ke dalam ruangan Bima. Lelaki yang terbaring lemah di atas ranjang dengan kabel infus yang masih melekat pada tangan nya membuat Karin menangis. Ia tak pernah menyangka karena keegoisan nya lah buruk terjadi pada sahabat sendiri.
"Bim Lo kuat... Maafin gue yang gak pernah peka sama kelakukan Lo... Maafin gue terlalu banyak memberi harapan ke Lo dan maafin gue karena lebih milih orang lain ketimbang Lo." Sesal Karin dengan memegang erat tangan Bima.
Oprasi akan di lakukan besok pagi pukul 9. Malam ini karin tertidur lelap di samping Bima, ia masih menggenggam tangan lelaki itu.
Samar samar Bima membuka matanya. Nampak tanganya sedang di pegangan oleh seseorang. Senyum manis terukir di wajah Bima kala melihat jelas siapa seseorang tersebut.
"Maafin gue Rin, gue terlalu posesif sama kehidupan Lo, gue marah tanpa alasan yang mendukung dan jelas. Gue janji gue akan suport Lo sama lelaki itu" bisik Bima.
"Ah tapi gue laper..." Lanjutnya sambil memegang perut.
Perlahan ia melepas pegangan tangan karont lalu turun dari ranjang perlahan. Namun tiba tiba kepalanya teramat berat. Bima pun terjatuh membuat Karin terkejut dan akhirnya bangun.
"Bima Lo ngapain" tanya Karin.
"Udah tau jatuh pakek nanya" jawab Bima sewot.
"Ya Lo udah tau lemah pakek gaya gayaan turun ranjang sendiri... Sukurin tuh jatuh kan" gerutu Karin. Sebenarnya dalam hatinya senang ternyata Bima tak lagi marah padanya.
"Udah bantuin" ucap Bima mengulurkan tangannya.
"Iya iya" Karin menyambut uluran tangan Bima.
Karin mengajak Bima untuk duduk santai di sofa, jam masih menunjuk pukul 22.05.
"Jam segini masih ada tukang nasgor gak ya?" Tanya Bima.
"Mau apa Lo?" Jawab Karin balik bertanya.
__ADS_1
"Gue cari nasgor buat gue tembak... Ih Lo pakek tanya ya mau makan lah" ujar Bima geram.
"eee... Bima Lo gak boleh makan" jawab Karin hati hati.
"Lah kenapa gue laper dari siang gue belum makan apa apa" jawab Bima penasaran.
"Bim sebenarnya Lo harus operasi..." Jawab Karin ragu.
"Oprasi? Oprasi apa? Gue sehat kok" elak Bima lagi.
"Karena Lo kepentok dua kali ada gumpalan darah di bagian kepala Lo jadi harus operasi" jawab Karin.
"Gak... Gak gue gak mau hilang ingatan. Gue gak mau lupa sama Lo" jawab Bima, ekspresi wajahnya seketika berubah.
"Bim... Gue udah minta sama dokternya untuk melakukan oprasi dengan cara terbaik supaya ingatan Lo ga hilang... Lo gak akan pernah lupain gue" jawab Karin meyakinkan.
"Tapi Rin..." Kalimat bima di putus oleh Karin.
"Demi baiknya Lo dan inget Lo kesayangan papa" sela karin.
Mendengar kata papa, Bima tiba tiba teringat akan janjinya kepada papa dan mamanya.
"Astaga gue punya janji sama nyokap bokap gue mau pulang lah sekarang gue masih disini" ucap Bima memupuk jidatnya pelan. Sesegera mungkin bima menghubungi orang tuanya bahwa seminggu kedepan ia ada bisnis keluar kota. Walau alasan itu bohong tapi Bima tidak memilik jalan lain. Kalau orang tuanya tau keadaanya saat ini pasti mereka akan khawatir.
Keesokan paginya.
Bima telah memasuki ruang oprasi beberapa menit yang lalu. Iringan doa terus terucap dari mulut gadis yang menunggu di kursi depan ruangan. Masih dalam keadaan khawatir tiba tiba ponsel nya bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Karin pun segera mengangkatnya.
"Papa..." Ucap Karin terkejut setelah mendangar suara dari sebrang.
"Pa.. Bima oprasi" jawab Karin hati hati.
"Oprasi? Why?"tanya Samson.
"Lebih baik papa pergi ke rumah sakit pelita jaya, ruang oprasi" jawab Karin. Ia pun segera mematikan panggilan telepon.
Masih dalam keadaan was was Karin kembali di kejutakan dengan suara yang memanggila nama nya beberapa kali.
"Loh kamu kok udah keluar rumah sakit? Apa keadaan mu sudah lebih baik" tanya Karin pada dua orang yang baru datang
"Hahah... Kau pikir aku lelaki bagaimana? Aku tidak lemah Rin" jawab orang tersebut yang tak lain adalah Zaky.
"Jika kau tau dari kemarin, setelah kau mendadak pergi tanpa alasan dia sampai gak nafsu makan. Pengennya liat Lo terus" celoteh nata membuat Zaky merasa sangat malu.
"Ah tidak sampai seperti itu, oh iya bagaimana keadaan Bima?" Tanya Zaky mengalihkan perhatian.
" dia sedang berjuang bersama tim medis untuk mempertahankan ingatannya" jawab Karin.
"Ingatan? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Zaky.
"Dia... Kecelakaan beberapa hari lalu, saat sudah di boleh kan keluar rumah sakit dia malah jatuh dari tangga. Kepalanya terbentur dua kali, ada gumpalan darah pada kepala yang menyumbat aliran darah jadi Bima harus di oprasi" jelas Karin panjang lebar.
Zaky dan nata mengangguk paham. Tak berapa lama kemuadian seorang lelaki paruh baya dengan badan masih terlihat kekar berjalan menuju ketiga orang yang tengah tertunduk di kursi tunggu.
__ADS_1
"Karin." Panggi lelaki itu yang tak lain adalah Samson.
"Papa..." Jawab Karin menghambur memeluk papanya.
"Bagaiman keadaan Bima?" Tanya Samson.
"Masih di dalam ruang oprasi pa.." jawab Karin melepas pelukan.
"Dan siapa mereka" tanya Samson lagi.
Karin menoleh ke arah Zaky dan nata yang juga menoleh pada nya.
"Mereka teman teman Karin pa" jawab Karin.
"anak ini seperti aku pernah melihat tatapan matanya, tapi siapa dan di mana?" batin Samson menatap Zaky.
"Om.." ucap Zaky mulai berdiri. Dia mengulurkan tanganya ke arah Samson. Dengan sedikit ragu Samson menerima uluran tangan Zaky lalu di susul oleh nata.
Selang dua jam kemudia lampu papan ruangan oprasi mati menandakan bahwa oprasi telah usai. Dengan perasaan was was keempat orang yang menunggu di kursi tunggu berdiri.
"Dok bagaimana oprasi anak saya?" Tanya Samson setelah dokter keluar ruangan. Samson mengatakan bahwa Bima anaknya karena sejak masuk dunia mafia dan bergabung dengan anggotanya Bima di pandang baik oleh Samson.
"Puji syukur pak... Oprasi lancar tapi saya belum bisa memastikan sampai di mana ingatan putra bapak kembali" jawab dokter tersebut.
"Apa kami boleh masuk?" Tanya Karin menyela.
"Untuk sementara biarkan pasien siuman, agar pikirannya tak kacau atau bingung. jika keadaanya lebih baik biarkan dia di pindahkan ke kamarnya lagi." jawab dokter membuat Karin dan orang orang yang ada di sana kecewa.
"Baiklah dok..." Jawab Karin lesu.
Selang beberapa jam kemudian di blok melati nomer 2.
Seorang lelaki dengan samar samar melihat cahaya lampu yang terang. Belakang kepalanya terasa sakit dan perih. Kebingungan mulai berdatangan. Ingatanya kembali saat dirinya menyatakan cinta kepada queen nya sendiri namun di tolak mentah mentah. Kepalanya terasa lebih sakit di kala ia mulai mengingat ngingat kejadian selanjutnya.
Masih dalam kebingungan tiba tiba pintu terbuka. Terlihat seorang perempuan yang ada dalam ingatannya muncul dengan senyum di susul oleh tiga lelaki yang masih dia ingat.
Bukanya membalas senyuman dari semua orang yang ada di ruangan itu. Lelaki tersebut malah terlihat murung.
"Bim... Akhirnya Lo sadar... Lo ingat gue kan?" Ucap Karin.
"Iya." jawab Bima.
"Aku hanya ingin bertemu dengan mu dan om" lanjut bima menatap Samson dan karin. Dengan berat hati Karin meminta Zaky dan nata menunggu di luar.
"Bima maaf kan om karena om baru tau kau mengalami kecelakaan" sesal Samson.
"Seharusnya Bima om yang meminta maaf, karena Bima penghianat" tuturnya membuat Samson dan karin bingung.
"Penghianat apa maksudmu?" Tanya Karin.
"Aku... Mencintai Karin om" jawab Bima.
Mendengar penuturan bima, Samson terkejut bukan main. Dalam anggota mafia yang sudah terbentuk semenjak kakek nya dulu, mencintai rekan dalam dunia mafia mereka di larang apalagi menaruh hati pada leadernya.
__ADS_1
"Bima apa maksudmu?" Tanya Samson dengan nada tegas.
selanjutnya...