
Sesampainya di sana, Sarah dan Karin melihat beberapa suster keluar dari ruangan Resa dengan membawa beberapa ember besi. walau keadaan ember tersebut di tutup, masih dapat di lihat jelas jika isi ember itu adalah darah.
Sarah begitupun Karin saling berpandangan. meski pikiran negatif sudah menyerang sejak beberapa menit yang lalu, Mereke masih berusaha untuk berpikir positif.
seorang dokter wanita keluar dari ruangan Resa dengan wajah yang di tekuk. menggambarkan bahwa pasien yang dia tangani saat ini dalam kondisi menyedihkan.
"dok bagaimana kondisi putri saya?" tanya Sarah dengan suara gemetar.
hembusan nafas kasar terdengar jelas dari dokter tersebut. lalu perlahan dia mengangkat wajah dengan senyum tipis. seakan akan senyum itu di paksa.
"dok... bagaimana keadaan resa?" Karin ikut bersuara.
"untuk kondisi pasien sudah membaik, kini dia beristirahat dan mohon jangan di ganggu" ucap dokter itu datar dengan sedikit bibir di tarik.
"lalu bayinya?" tanya Sarah.
Dokter itu terdiam lama. dengan muka datar yang perlahan mulai ia tunduk kan. tak lama setelah itu ia mengangkatnya kembali dengan senyum yang sedikit di paksakan.
"akibat benturan yang lumayan keras janin Bu resa tidak bisa kami selamatkan" ucapnya lalu pergi begitu saja.
"heh" lirih Sarah.
waktu seakan berhenti untuk beberapa saat. laki laki itu hanya dapat tersimpuh kerena hilangnya kekuatan pada kakinya. cucu yang sangat ia nanti sejak lama harus pergi sebelum melihat dunia.
"mama" suara Karin gemetar.
"mama..." teriak Zaky dari tak jauh dari mereka. dia tidak datang sendiri melainkan bersama topan dan juga... nata. laki laki itu masih dengan perban di bagian kepalanya.
"sayang" ucap topan berusaha mengajak istrinya bangun dari duduk tersimpuh nya.
"bayi resa... hiks hiks" tangis Sarah terdengar teramat perih tapi lebih terdengar perih sebuah teriakkan dari dalam ruangan resa.
"ENGGK... JANGAN BOHONG KAMU!"
"KURANG AJAR!... PERGI!!!" lalu dua orang suster keluar dari ruangan resa dengan keadaan yang sudah berantakan.
"resa..." lirih nata. "antar gue ke dalem ky.. tolong" pintanya.
__ADS_1
Nata dan Zaky akhirnya masuk terlebih dahulu, sedangkan Sarah, karin begitupun topan masih menunggu di luar. tapi teriakan dari resa berhasil.membuat ketiganya panik.
"PERGI... KAMU PENYEBAB KEMATIAN ANAK KU!"
"PERGI NAT... PERGI..."
tak lama setelah itu Zaky dan Nata keluar. tapi kiri bedanya, nata hanya terdiam membisu segala bahasa.
"resa kenapa? tanya Karin pada suaminya.
"seperti resa masih butuh sendiri" jawab Zaky datar.
"hah? kalian salah resa hanya butuh bahu untuk di bersandar beberapa saat, bukan berbagai pertanyaan konyol yang kalian layangkan" kini Karin ikut geram. dia tau apa yang menyebabkan resa se-frustasi itu.
tanpa pikir panjang Karin melangkah masuk kedalam ruangan resa. sesaat setelahnya sebuah teriakkan pilu terdengar begitu nyaring. tapi setelah itu hanya suara tangis yang menyesakkan dada terdengar.
perlahan Sarah mulai bangkit, hendak menyusul Karin di dalam. tapi sebelum bener bener masuk sebuah suara menghentikan langkahnya.
"dimana putri ku?" suara parau milik Raina terdengar.
Sarah, topan, Zaky begitupun nata yang duduk di kursi roba berbalik arah mencari asal suara. mata sebab hidung merah di ikuti pipi yang masih basah dapat di lihat jelas oleh mereka. wajah Raina begitu berantakan.
Raina berjalan lebih dekat dengan gerombolan manusia itu. lalu saat melewati nata di berhenti sejenak.
"setelah ini... Resa akan ikut pulang bersamaku" ucapnya datar lalu masuk ke dalam ruangan.
Semua yang ada di sana di buat membeku di tempat. apakah ketakutan yang di rasakan Sarah akan benar benar terjadi? hanya waktu yang dapat menjawab.
setelah beberapa saat hening, Karin keluar dengan raut wajah muram. perempuan itu seakan tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"sayang... gimana keadaan resa?" tanya Sarah.
"besok resa pulang ma, tapi tidak bersama nata"
mendengar itu nata langsung berdiri dari kursi roda, walau susah laki laki itu tetap kukuh dengan hasrat amarah nya.
"Nat tenang dulu" ingat topan.
__ADS_1
"kenapa? apa alasan mama memisahkan aku dan resa? resa butuh aku begitupun sebaliknya" suara nata memenuhi koridor rumah sakit.
"Resa yang meminta" ucap Karin datar.
tiga kata yang berhasil membungkam erat mulut nata. seakan segala amarah dan Sura kerasnya tercepat di tenggorokan. perlahan laki laki itu ambruk kembali duduk di kursi roda nya.
Hari telah berganti, dan nata harus merasakan bahwa dia tak dapat mendekap mesra tubuh ramping milik resa. sakit dari segala rasa sakit yang pernah ada. nata hanya bisa diam duduk di kursi roda. pagi siang bahkan sampai sore ia Melihat Zaky dan Karin Duduk mesra. memang tak semesta yang di bayangkan tapi tetap saja dia iri dan ingin memeluk resa pula.
"Nat.. masuk sudah sore" ucap Sarah pelan.
"kapan resa kembali ma?" celetuknya.
"resa akan kembali jika dia sudah tenang, kini dia bersama ibunya bukan orang lain Nat.."
"apa mama Raina tak lagi percaya dengan ku? karena kan telah membuat cucunya gagal untuk lahir?"
"kamu tenang dulu nat... semua akan baik baik saja pada waktunya. kamu jangan terlalu gegabah dengan keadaan, jangan paksa resa untuk segera ikhlas, dia ibu dan kini dia telah kehilangan anaknya. sama seperti mama dulu"
kalimat terakhir yang di ucapkan Sarah berhasil membuat nata terdiam. dia ingat kejadian itu. kejadian yang telah terjadi satu tahun lebih. kejadian yang melibatkan dirinya Zaky dan topan bahkan penyebab nya adalah Karin.
Seandainya semuanya terbongkar apa mungkin Sarah masih menyayangi karin seperti saat ini.
"mama... Karin pulang" suara itu mengejutkan lamunan nata.
perempuan dengan pakaian ala ala kantor dengan tas bahu hitam tersenyum manis menyambut sang ibu mertua. di peluk nya penuh kehangatan dan kasih sayang. Dengan sampul kepalsuan.
Memang di antara mereka tidak ada yang tau tentang masalah ini. tapi orang yang sudah tau pasti akan iba dan geram akan kaitan keduanya. tapi nata orang waras. dia tak akan membiarkan rumah tangga Zaky dan Karin berantakan. nata tau muka, Zaky dan keluarga nya Talah menerima nya dengan kasih sayang. apa hanya karena iri semua itu ia patahkan? tidak akan pernah.
"ayo masuk, langit semakin gelap" ucap Sarah sambil merangkul bahu Karin.
"iya ma..." jawab Karin masih dengan senyum yang manis. "biar aku sayang yang membawa Nata masuk" lanjutnya.
segala hidangan telah tersaji cantik di atas meja. para penyantap makanan telah duduk rapi di kursi berhadapan dengan pasangannya.
Makan malam biasa yang setiap hari mereka lakukan. tapi tidak dengan laki itu. dia duduk sendiri tanpa manusia di hadapannya. dia merindukan istrinya yang entah kapan akan di kembalikan kepadanya.
.
__ADS_1
.
selanjutnya...