
berkumpul seakan telah menjadi satu keluarga yang bahagia. tak ada raut kesedihan di dalam rumah megah itu. semua sama dan setara, dari Karin mau pun resa. walau keinginan akan keutuhan keluarga kembali hadir di tengah tengah kebahagiaan itu. tapi itu tak mungkin dan semoga akan segera tergantikan. sering berkilah agar terlihat baik baik saja tak membuat Sarah merasa puas. ia tetap menginginkan kembalinya sang putri tercinta.
semua berkumpul bercerita agar dapat memecah keheningan, menghilangkan rasa resah akan ada nya teror yang kembali di lakukan oleh seseorang yang masih misterius itu. Zaky sekali kali berbisik pada nata yang duduk tepat di samping nya. sementara nata terlihat acuh dengan itu semua. menurutnya kini mereka tengah dalam kondisi yang tak memungkinkan untuk bertidak sembrono. satu kesalahan dapat memicu sebuah kecurigaan di antara topan dan Sarah terlebih sekarang Karin juga ada di sana.
"Zaky... kamu kenapa?" tanya Sarah yang sedari tadi melirik gerak gerik putranya.
seketika semua mata tertuju pada nya.
"oh gak ma... tadi itu aku liat Karin bawa kantung plastik, di mana sayang?" Zaky mencoba untuk mengalihkan perhatian.
"eh? bentar... kayaknya tadi aku bawa ke dapur deh buat di potong Potong sama bi sari" Karin sedikit terkejut dengan ucapan Zaky yang sangat terlihat mengalihkan perhatian banyak orang. lelaki yang duduk tak jauh darinya itu seakan menahan rasa takut.
mendengar jawaban Karin, Zaky segera menetralkan suasana kembali seperti sedia kala. semakin dia terlihat panik semakin terlihat pula kebohongan kebohongan yang dia simpan rapi bersama nata dan resa.
tak lama setelah itu suasana kembali netral, Bi sari muncul dengan membawa loyang yang berisi potongan potongan roti yang Karin bawa tadi.
senang rasanya semua orang menikmati roti yang di bawa. karin tak penasaran lagi dengan rasa roti yang di buat bersama bi Ina dan bi Tuti seharian dan hasilnya tak menghianati kerja keras nya. kue yang sempat kebanyakan tepung itu akhirnya kembali ke rasa semula nya bahkan rasanya lebih manis dari adonan sebelumnya.
"kayaknya Tante harus belajar lagi deh sama Karin, ya kan res..." Sarah terlihat bahagia dengan keadanya sekarang.
"iya Rin... nanti kapan kapan ajarin gue ya, kalau kita udah jadi satu keluarga gimana kalau kita adakan kompetisi memasak nanti yang jadi juri para jantan jantan hahha" tawa renyah itu keluar begitu saja dari mulut resa. memang pertemuan pertamanya bersama Sarah telah membuat keduanya seakrab ibu dan anak.
"ah jantan itu hanya bisa makan tanpa peduli bagaimana rasanya" celetuk Sarah yang membuat tiga pria di hadapannya merasa tertantang.
"oh Baiklah, setelah nanti Zaky menikah kita buat tantangan, masakan siapa yang paling enak di keluarga ini. nanti biar pada pekerjaan di rumah ini yang menjadi jurinya" topan tak mau kalah telak begitu saja.
"kita terima tantangan itu" baik Sarah, resa maupun karin bersama sama mengepalkan tangan mereka ke udara.
seketika suasana menjadi ramai. gelak tawa dan suara ceria mereka memenuhi ruang tamu. tawa itu terdengar Sampai telinga mereka yang menanti suara tawa dari nyonya besar meraka yang lama tak tertawa sekeras itu setelah perginya nona muda mereka.
senyap seketika ketika saat satpam yang bertugas membuka kan gerbang mengetuk pintu rumah. sorot mata lelaki berusia setengah abad itu seperti mencari seseorang. mata nya berbinar kala menjumpai seorang lelaki muda yang memakai kemeja berwarna biru tua.
"tuan ada paket..." ujar pak Septo pada nata.
"untuk?" jawab nata, dia mulai berdiri lalu jalan mendekat ke arah pak Sapto.
"katanya untuk pengantin baru" jawab pak Septo seadanya karena jawaban itu juga yang keluar dari mulut seseorang yang mengantar kan kardus kecil yang di bungkus kertas kado berwarna hitam tanpa corak.
sebelum menerima kotak itu, nata berbalik menatap resa dan Zaky secara bergantian. perasaan aneh kembali berkecamuk dalam hatinya. dia takut kotak itu adalah embel embel untuk mengirim teror selanjutnya.
lama nata menatap Zaky Sampai Zaky juga tak tau harus bagaimana. tak mungkin ia meminta nata untuk menolak paket tersebut. ia khawatir mama, papa serta kekasih nya merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan. akhirnya Zaky memutuskan untuk mengangguk pelan.
berat hati rasanya nata harus menerima kotak itu, tapi ia juga paham maksud Zaky. mereka kini ada berenam bukan bertiga. bisa saja mereka malah curiga dengan gelagat aneh dirinya maupun Zaky.
"terimakasih pak... ucapkan terimakasih pula pada pengirim nya" jawab nata seraya mengambil kotak itu dari tangan pak Septo.
__ADS_1
"baik tuan" jawab pak Septo seraya pergi meninggalkan nata yang masih berdiri di depannya.
nata memaku di tempat, ia takut jika sampai om atau tantenya menanyakan kotak yang dia terima. entah jawaban apa yang harus keluar dari mulutnya itu. harus apa dia masih bingung tapi lebih membingungkan lagi jika sampai ia terus berdiri di depan pintu tanpa mengatakan sepatah katapun.
sebuah ide akhirnya muncul di kepala nata. dengan tampang yang terlihat bahagia, nata membalik kan badan. seraya berlalu dari hadapan orang orang yang ada di sana. jelas saja tingkah nata yang berubah membuat Zaky dan resa heran. terlebih topan, Sarah dan Karin.
"paket apa itu Nat?" tanya Sarah penasaran.
Senyum lebar tiba tiba nata pamerkan pada semua orang yang tengah menunggu jawabannya. "biasa lah Tante... pengantin baru" jawab nata seraya melempar senyum nakal pada resa.
semua orang saling melempar senyum geli pada satu sama lain kecuali resa dan Zaky.
"nata ke kamar dulu ya tan... om... Rin" ucap nata seraya melangkah pergi meninggalkan dua manusia yang masih terpaku dan bingung.
tak lama setelah pergi meninggalkan ruang tamu, sebuah pesan masuk ke ponsel Zaky.
*ke kamar gue sekarang!* bunyi pesan itu.
tidak hanya Zaky yang mendapat pesan seperti itu, resa pun juga mendapatkannya. hanya berbeda kalimat saja
*yang... ke kamar sekarang*
resa berpikir sejenak, di beranggapan pesan itu ada hubungannya dengan kotak yang nata bawa masuk tadi. masih dalam kebingungan resa mendapati Zaky meminta izin untuk pergi ke toilet sebentar. kini dia yakin kotak itu lah masalahnya.
langkahnya semakin penasaran kala melihat Zaky juga menaiki anak tangga. semetara di depan pintu kamar resa mendapati suaminya berkelakuan aneh. lelaki yang sekarang mendambat hatinya itu kini berdiri di depan pintu sembari mengawasi langkahnya dan juga Zaky. mimik wajahnya juga menunjukan bahwa di sedang tidak baik baik saja.
"ada apa Nat, Lo gak bisa nantian dulu apa panggil kita nya. gue takut orang orang yang ada di bawah curiga" tegur Zaky.
"gue gak tau harus apa, ini yang lebih bikin gue ngerasa aneh. gue yakin banget ini bukan dari white crocodile." nata menggantung kalimatnya. "biar lebih jelas kalian masuk dulu" lanjutnya.
resa dan Zaky menurut saja. ada benarnya yang nata katakan, tidak mungkin hal yang akan nata tunjukan itu di buka di depan pintu. bisa saja pembantu atau orang rumah tau ada rasa takut dan cemas yang mereka tutupi.
lama menunggu waktu yang tepat untuk meminta izin undur diri. rasa yang tak wajar jika Karin tiba tiba meminta izin pada papa dan mama Zaky, tapi ini sudah cukup larut untuk pergi ke rumah Bima. gundah rasanya tak tau harus melangkah keluar dari rumah itu menggunakan kata apa. tak mungkin juga ia tiba tiba lari tanpa pamit di hadapan Sarah dan topan. sungguh bingung gadis itu sekarang.
tak ada cara lain, Karin harus berani meminta izin pada dua orang tengah baya di hadapannya. walau ragu harus terucap kata kata itu. menyebalkan rasanya ia harus memiliki rasa tidak enek hati.
"om... Tante... Karin pamit terlebih dahulu sudah lumayan malam. Karin juga harus mengantar satu kue lagi ke rumah teman" Karin berkata dengan ragu.
"oh... iya sayang... sebentar Tante panggil Zaky dulu" jawab Sarah.
"eh... tidak perlu Tante, mungkin Zaky sedang ada masalah kecil di dalam jadi lama. Karin pamit Tante. selamat malam" ucap Karin. ia menyalami Sarah dan topan bergantian.
kotak itu masih utuh di depan mata mereka. tidak ada ujung yang telah robek atau rusak masih sama seperti sedia kala. tiga pasang mata itu melempar pandang pada satu sama lain memastikan keadaan sudah aman untuk membuka kotak misterius itu. pelan nata mengangguk, memberi isyarat pada Zaky untuk membuka kotak itu.
"tidak mungkin kotak ini dari white crocodile, dari mana mereka tau alamat rumah kita?" tanya nata pada Zaky.
__ADS_1
"Lo bener, anak buah gue juga gak kirim pesan apa pun" jawab Zaky.
dengan keberanian dan rasa penasaran yang semakin kuat Zaky mengambil kotak yang terletak di atas meja. sebelum merobek kertas hitam itu, Zaky mengamati bentuk dan berat pada kotak. sungguh aneh kotak sekecil itu tapi lumayan berat. menambah Beban pikirannya saja. tak mau memikirkan hal itu lagi, Zaky segera menyobek keras yang menutupi kotak itu.
Sebuah kardus berukuran kecil pula yang di tutup menggunakan lakban berwarna hitam. entahlah kekuatan darimana Zaky dapat merobek lakban tersebut dengan satu tangannya. mata mereka membulat sempurna kala mengetahui isi kotak tersebut. sebuah baju seragam tadika yang kumal. ada sebuah benda merah di atas seragam tadika yang hanya bagian baju tanpa celana. terdapat batu bata yang terbalut dengan seragam tersebut.
tangan itu tergerak untuk mengambil kain berwujud baju dengan noda merah darah di atasnya. sebuah kenangan indah terlintas begitu jelas di benaknya. kenangan yang tak mungkin ia dapat lagi. hari dimana di memakai seragam tersebut Pertama kali. wajah senang gembira tergambar pada dua sosok yang sangat ia cintai, tapi sayang sosok itu telah pergi selamanya. hampir 13 tahun lalu mereka pergi dengan kalimat terakhir yang mengatakan mereka akan segera kembali dan nyatanya sampai sekarang mereka tidak pernah menemui lelaki itu lagi bahkan selamanya.
"gue yakin bukan white crocodile yang ngelakuin ini ke kita, tapi salah satu anggota keluarga gue yang kirim teror ini. seragam ini milik gue waktu masuk ke tadika untuk pertama kalinya" ucap nata dengan mata berlinang air.
secarik kertas berhasil di tangkap oleh sorot mata nata yang sudah mengembun dan kabur. tangan kanannya kembali tergerak untuk mengambil secarik kertas itu.
-kita sama sama di tinggal, bedanya anda bahagia saya sengsara!!!- tulis pesan itu.
nata tak mengerti dengan hal itu, siapa yang di maksud dan siapa orang yang mengirim teror ini. sepertinya mereka adalah keluarga, jika bukan mana mungkin orang ini tau alamat lengkap kediaman keluarga Hartanto.
Sementara Zaky dan resa masih mematung. mencerna segala hal yang mata dan Telinga tangkap. tapi sesegera mungkin Zaky merangakul bahu nata yang bergemetar menahan tangis yang ada. lelaki yang kini bahunya ia cengkram tak pernah menangis sedikit pun setelah kejadian 13 tahun lalu. ia terlihat kuat tapi ada apa dengan hari ini? hanya nata yang dapat menjelaskan.
sebuah ketukan membuat pembicaraan ringan dua lelaki ini harus berhenti. saling berpandangan, bertanya tanya siapa bertamu di jam segini? salah satu di antara mereka akhirnya bangkit dan membukakan pintu. matanya menatap heran kala menjumpai gadis yang sangat ia kenal berdiri di depan pintu dengan menenteng plastik putih berukuran sedang. gadis itu tersenyum manis seraya menyerahkan plastik putih itu.
"buatan gue, di cicipin rasanya enak banget kok" ucap Karin tanpa melangkah masuk.
"oh makasih, yaudah masuk dulu" jawab Bima.
"gak usah ini udah malam gak enak di liat tetangga, gue langsung aja dadah..." Karin pergi meninggalkan teras rumah sembari melambaikan tangan.
tak lama setelah itu seorang lelaki keluar dari dalam rumah. ia terlihat menatap sebuah mobil hitam yang melaju dengan kecepatan sedang.
"siapa bim?" tanyanya.
"Karin"
"gak kamu suruh masuk dulu"
"udah tadi, dia bilang udah malem gak enak di liat tetangga" jawab Bima seraya masuk membawa buah tangan Karin tadi.
"apa itu bim?" tanya Erlangga lagi.
"kue, kita coba yuk kayaknya enak dia gak bohong" celetuk bima. setelah itu ia memanggil pembantunya untuk menyiapkan kue tersebut.
.
.
selanjutnya...
__ADS_1