Suamiku Musuh Bebuyutan Ku

Suamiku Musuh Bebuyutan Ku
malam pertama.


__ADS_3

kata penutupan telah di sampaikan oleh pihak keluarga baik dari pihak laki laki atau pihak perempuan. pesta yang di lakukan di sebuah gedung hotel milik keluarga hartanto pun di bubarkan. para tamu yang berstatus sebagai rekan bisnis, teman atau kenalan dari pihak mempelai memutuskan untuk pulang kerumahnya masing masing. sedangkan pihak keluarga sendiri memutuskan untuk menginap di hotel itu. berbeda lagi dengan kedua mempelai. mereka memutuskan untuk menginap di apartemen nata. sengaja agar tak ada yang menganggu malam pertama mereka.


"Nat... kita salah kamar ya?" tanya resa ragu.


kini mereka telah sampai di apartemen milik nata. sengaja ingin membuat kejutan untuk resa. kamar bernomer 142 itu terlihat biasa dari luar tapi jangan salah ketika melihat dalamnya.


dekorasi dengan lampu hias berwarna kuning di padukan dengan bunga hias berwarna putih. di tambah taburan kelopak bunga berwarna merah dan putih di sepanjang lantai hingga tempat tidur. hiasan dinding yang terdapat sebuah tulisan "welcome newlyweds".


resa takjub dengan itu semua tapi terselip juga rasa takut yang entah datang dari mana. senyum manis terukir tipis di bibirnya yang masing menggunakan lipstik berwarna merah samar.


"kejadian itu tidak akan terulang lagi... aku tidak akan pernah meninggalkan mu" ucap nata lirih, tangannya sudah melingkar manis di pinggang ramping resa.


gugup yang tengah resa rasakan. tidak pernah sekalipun ia berada di satu ruangan remang remang bersama seorang lelaki yang baru ia kenal. bahkan lelaki ini telah resmi di mata agama dan negara sebagai suaminya.


"ak... aku ke ke kamar mandi dulu" ucap resa gugup. tak menunggu jawaban dari nata, resa segera lari meninggalkan suaminya sendiri.


nata tersenyum melihat tingkah resa. selain dewasa ternyata resa bisa salah tingkah.


di hotel keluarga hartanto.


gadis itu tengah merasakan dinginnya angin malam. dengan setelan gaun yang dia kenakan di acara pernikahan sahabatnya dia masih kokoh berdiri di hamparan taman bunga yang terletak di bagian samping hotel. angin malam hari ini seperti memberi bertanda buruk. terlalu dingin sampai menusuk tulang.


"he... dingin" tegur seseorang.


Karin menoleh, ia mendapati seorang lelaki berjas hitam tengah berdiri dan membenahi kancing pergelangan tangan.


"bim... Lo belum balik?" tanya Karin


"zaky nyuruh gue nginep di sini" jawab bima singkat. "eh Rin Lo ada nomer nya Tania gak?" sambung Bima.


Karin menyipitkan matanya, memberi tanda bahwa ada sebuah pertanyaan yang hinggap dalam kepalanya. namun juga terselip rasa syukur karena doanya di kabulkan. walau belum benar benar terjadi tapi pernyataan Bima sudah memberinya titik terang.


"em... ada udang di balik gedung kah?" tanya Karin dengan nada bercanda.


"udah... gue minta dulu, jangan bilang bilang" Bima mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Karin.


"em... oke, gue kirim sekarang" jawab Karin. ia segera merogoh dalam tas berwarna putih lalu menekan nekan benda pipih yang sengaja dia ambil. "udah" ujarnya.


"oke makasih, gue balik ke kamar. Lo jangan lama lama disini dingin anginnya. gak kayak biasanya" ujar Bima terdengar seperti peringatan.


"hm"


Karin kembali masuk dalam lamunannya. bayangan mamanya tiba tiba muncul tanpa aba aba. rindu sangat rindu. hampir genap lima bulan mamanya pergi dan tak akan kembali.


"mama Karin rindu... mama karin pengen banget kenalin mama sama satu lelaki, Karin sayang dia ma..." bisik Karin dalam hati sambil menatap langit yang mendung tanpa ada gemerlap bintang juga cahaya rembulan malam.


"by... nanti masuk angin" ucap seorang lelaki yang langsung menangkupkan jas Hitamnya ke tubuh Karin.


Karin pun menoleh. wajah lelah itu terlihat pucat. memang bukan mereka berdua yang merasakan lelah pasti semua orang yang ikut campur tangan dalam pernikahan meriah itu lelah.


"yang...kamu belum tidur" ucap Karin menyapu lembut wajah pucat zaky.


"kamu juga belum" jawab lelaki itu.


"perasaan ku gak enek ada apa ya... tiba tiba kangen mama, angin nya lebih sejuk dari biasanya padahal ini di kota. yang... nata sama resa dimana?" tanya Karin pada akhirnya.


"resa sama nata milih nginap di apartemen nata, kenapa?"


"enggak" Karin menggeleng pelan.

__ADS_1


"yaudah yuk masuk" Zaky menggandeng pelan tangan Karin.


Karin hanya pasrah, ia mengikuti langkah Zaky.


sama seperti Bima, walau Karin bukan keluarga Hartanto tetapi Sarah mama Zaky meminta karin untuk menginap di hotel dari pada pulang toh hari sudah menunjuk dini hari. bukan hanya Karin, Tania juga menginap di hotel itu. Karin memilih untuk tidur satu kamar dengan tania agar dirinya semakin dekat dengan sahabat barunya.


"aku antar sampai sini aja ya?" tanya Zaky saat pintu lift terbuka sesuai dengan letak kamar Karin.


"iya dah sana kamu istirahat, cepek juga kan" jawab Karin. "oh iya jas kamu?" Karin menyodorkan jah hitam milik Zaky yang sempat terpasang di bahunya.


"bawa aja, besokkan kamu pulang sama aku" jawab Zaky. lalu menekan Tombol.


nampak dari ambang pintu yang Karin bukan, ia melihat Tania, ia sedang asik memainkan ponselnya. sesekali gadis itu tersenyum dan terlihat menghentak hentakkan kakinya. sepertinya ada sesuatu yang terjadi di dalam benda pipih itu.


"kamu kenapa Tan?" tanya Karin, jujur saja Karin merasa geli saat melihat tingkah Tania yang baru ia ketahui.


"eh Karin, maaf aneh ya? ini Li aku liat Vidio kucing lucu tauk" jawab Tania masih terkekeh, menyodorkan ponselnya.


memang Tania sedang melihat sebuah Vidio lucu tentang hewan yang menjadi primadona kebanyakan orang itu. dengan bumbu musik yang mengiringi gerakan kucing dalam Vidio semakin menambah kesan lucu. bukan hanya Karin yang menahan tawa melihat tingkah kucing dalam Vidio, Tania saja yang hanya mendengar suaranya ikut terkekeh.


"nih kamu tonton sendiri dulu ya, aku mau cuci muka" ujar Karin seraya menyodorkan ponsel Tania pada pemiliknya.


tania mengangguk lalu melanjutkan acara nonton nya.


sebenarnya ada rasa kecewa dalam hati Karin. ia sangat berharap bahwa Tania tertawa karena chatting, atau bertukar gombal dengan Bima, tapi nyatanya dia tertawa karena Vidio kucing yang memang lucu. ah sudahlah akan tiba saatnya nanti. Karin berusaha menerima keadaan.


kamar 142.


resa tengah asik menggosok gosok mukanya yang masih di hiasi oleh make up, walau sudah tipis tetapi resa tetap ingin wajahnya kembali seperti semula. mamanya pernah berpesan sebelum tidur cuci muka dulu Sampai bersih supaya tidak ada jerawat yang bermunculan.


sesekali resa melirik tempat bath up yang di tutup dengan kain putih menerawang. rasa nya ada sesuatu yang menarik perhatiannya tapi entah apa itu. selesai membersihkan muka resa mengambil handuk kecil yang dia gantungkan di tembok balik pintu. saat hendak keluar dari kamar mandi lagi lagi pandangannya teralih ke arah bath up itu.


kini resa berdiri tepat di depan kain putih itu. ia tak melihat ke dalam bath up, pandanganya fokus pada kain putih yang menutupi tempat bath up tersebut. kembali rasa penasaran nya muncul ketika matanya menangkap tulisan kecil berwarna merah yang berada di dalam bath up tanpa air itu. bersama dengan keberanian yang ia kumpulkan akhirnya resa menyibak kain putih itu.


matanya membulat sempurna. sendi sendi nya terasa tak kuat menahan tubuhnya. tubuh itu juga bergemetar tak karuan. ingin berteriak tapi suaranya tertahan. apa ini? apa yang dia lihat? sungguh di luar dugaannya. sebuah tulisan kecil berwarna merah darah masih basah. dengan tulisan menakutkan "ini sudah saat nya" kalimat itu berputar di kepala resa.


"waaaaaa.... aaaaaa" teriak resa sekuat tenaga.


nata yang tengah duduk manis di atas sofa sambil memainkan ponselnya pun terperanjat mendengar teriakkan istri itu. tunggang langgang nata berlari ke arah kamar mandi. dia segera membuka pintu kamar mandi tanpa memedulikan apa pun.


"res kamu kenapa?" tanya nata panik saat menemui resa berdiri di depan kain bath up dengan badan bergemetar dan mulai oleng.


"i...itu" resa menunjuk arah dalam bath up.


nata yang terheran heran pun mendekat ke arah resa. pandanganya mengikuti arah jemari resa yang menunjuk sesuatu.


reaksi nata hampir sama dengan resa bedanya dia hanya melotot kan mata tanpa merasakan takut berlebihan. dengan teliti ia membaca kembali tulisan berwarna merah dan berantakan itu. ini sebuah ancaman. walau ia tak tau dari mana tulisan itu. memang sebelum ia kemari, ia menyuruh seseorang untuk menghiasi kamarnya. tapi jika orang suruhan nata yang melakukannya itu sungguh tidak mungkin.


"tenang sayang... kita keluar ya..." ucap nata berusaha menenangkan resa.


kini mereka berdua telah duduk tenang di atas ranjang. tak lupa nata menyalakan lampu agar lebih terang juga agar resa lebih merasa aman.


nata menarik nafas nya panjang. ini baru awal sebuah teror yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. harus kah dia jujur akan statusnya? iya harus. jujur saja dia takut akan kata kehilangan yang dalam. kali pertama ini dia jatuh cinta pada seorang janda. niat nya ingin memiliki janda itu telah terlaksana dan sekarang apa? apakah resa akan menerima status nata sebagi seorang mafia? apakah resa bisa menjaga rahasia tentang statusnya dan status Zaky nantinya? yah semoga Saja.


"yang..." nata membelai rambut panjang resa.


resa mendongakkan wajahnya. wajah itu tak lagi pucat seperti tadi. wajah itu kembali berseri dan ayu.


"aku mau jujur... sebenarnya ada sesuatu yang ku sembunyikan selama ini, aku mohon setelah kejujuran ini kau tidak berniat meninggalkan kan ku karena takut atau merasa terancam. aku berjanji akan selalu melindungi mu dalam keadaan apapun" nata menghentikan kalimat panjangnya. memperhatikan manik mata resa yang menahan tanya. ia tau resa pasti akan bingung tapi bagaiman lagi dari pada resa tau bukan dari dirinya atau malah resa akan mendapat ancaman dari musuhnya.

__ADS_1


"kamu ini ngomong apa Lo... kok bikin aku merinding" wajah resa kembali pucat.


"yang terima aku apa adanya ya..." nata kembali mengelus rambut resa.


"apa sih kamu tu" resa memeluk erat tubuh kekar nata.


"yang... aku hidup dan berdampingan dengan organisasi Hitam" ucap nata langsung pada intinya.


resa yang belum paham maksud pun masih bertahan di posisinya sekarang. "organisasi hitam apa sih, bercandanya kok pekek organisasi an segala" resa mengencangkan pelukanya.


"aku seorang asisten mafia yang banyak di takuti di kalang grup mafia yang lain" ucap nata lagi.


resa yang mendengar ucapan nata spontan langsung mendorong tubuh nata. tubuh itu hanya bergeser sedikit ke belakang. bayangkan tubuh resa yang ramping mendorong butuh kekar seorang nata Aditya alhasil dia lah yang terpental. tapi untung saja dia tidak terjatuh hanya mundur beberapa langkah.


tatapan wajah resa tajam, nata tau wanitanya itu akan marah tapi apa dayanya.


"kenapa kamu gak jujur Nat... dari awal supaya aku dapat mengenal mu, kalau begini bagaimana? apa kau pikir semudah itu menerima teror yang entah datang dari mana? Nat..." resa berbicara dengan nada tinggi.


"maaf in aku ya... aku cuma takut kehilangan kamu... aku takut kamu gak bisa menerima ku dan status ku" ucap nata mencoba meredakan amarah resa. ia berjalan mendekati resa berdiri dan dan segera memeluknya erat. .


"wanita pertama yang ku peluk setelah mama" bisik nata saat resa telah jatuh dalam dekapan hangatnya.


"nat... aku sayang kamu... aku cinta sama kamu, jika seorang pasangan mencari kesempurnaan pada pasangannya apakah itu bisa di sebut sebagai pasangan? bukan kah pasangan harus saling melengkapi? jika seseorang mencari kesempurnaan pada pasangannya lalu apa perannya terhadap pasangannya itu Nat? ajari aku menerima duniamu. ajari aku mengenal status mu. ajari aku atas segala hal yang kau miliki dan begitupun sebaliknya Nat" ucap resa. hatinya kembali dingin setelah merasakan ketulusan dalam diri nata.


"makasih res..." nata mencium puncak kepala resa. nata sudah menebak resa bukan wanita egois yang selalu mementingkan amarah dari pada mendengar sebuah kejujuran.


adegan romantis itu tak berlangsung lama. masih saling mendekap resa dan nata di kagetkan dengan bunyi nyaring yang berasal dari jendela bagian dapur. bunyi yang terdengar seperti pecah kaca.


"apa itu?" tanya resa.


nata menggeleng.


perlahan tapi pasti nata berjalan di depan resa untuk melihat apa yang terjadi. kucing atau tikus ah tidak mungkin apartemen nya bersih tidak mungkin ada tikus bahkan kecoa yang berkeliaran.


"nat... apa itu?" tanya resa saat matanya menangkap sebuah kain putih. nampak dari bentuk kain itu seperti membalut sekepal batu yang lumayan besar.


"kamu diam di sini... akan ku ambil benda itu"


resa menurut saja perintah nata. dia hanya diam berdiri sekitar tiga meter dari benda yang di tunjukan.


sebuah kain yang membalut sekepal batu itu telah berada di tangan nata. tampak samar Samah tulisan merah dari kain berwarna putih itu. dengan ragu nata membuka kain itu di hadapan resa agar tidak ada yang menaruh penasaran. juga agar resa terbiasa dengan hal seperti itu.


"sudah tiba saatnya kan adik" kalimat itu terpampang jelas di atas kain putih dengan tulisan merah darah. bagian kalimat 'adik' di tulis dengan huruf besar. seperti penekanan.


"adik? siapa yang di maksud adik?" tanya resa penasaran.


"aku tidak tau, aku anak tunggal mama dan papa meninggal lima tahun lalu." jawab nata ikut bingung.


"aku juga anak tunggal" resa tambah penasaran.


.


.


selanjutnya....


ih siapa sih yang ganggu malam pertama nata sama resa? kasian kan-_-


tunggu jawabannya di episode episode yang akan up selanjutnya. terimakasih dari author pada para pembaca. maaf jarang up lagi PAT (penilaian akhir tahun)

__ADS_1


__ADS_2