
Seminggu telah berlalu begitu cepat. dalam waktu tujuh jam lagi acara besar itu akan segera terlaksana. terjalinnya sebuah ikatan suci di antara karin dan Zaky. acara pernikahan Karin dan Zaky di percepat mengingat tujuan utama keluarga Hartanto yang ingin melindungi keluarga Karin. mengingat pula teror teror yang masih menjadi kemungkinan untuk kembali datang tanpa undangan. Acara pernikahan yang seharusnya terlaksana dua Minggu lagi akhirnya di ajukan menjadi satu Minggu dari hari lamaran. alasan utama di balik pernikahan ini masih di sembunyikan dengan rapat oleh keluarga Hartanto dari keluarga Santos.
Dua keluarga itu baru saja sampai di sebuah vila berlantai dua yang mungkin akan di tempati Karin dan papanya. setelah mengantar Karin dan papanya, keluarga Hartanto melanjutkan perjalanan yang hanya menempuh jarak seratus meter dari vila yang di sewakan untuk keluarga Karin. Persiapan telah siap jauh jauh hari sebelum pihak Zaky menunjukan tempat yang akan di jadikan Pesta pernikahan. mereka telah menyiapkan dari tempat pesta sampai penjaga yang akan mengintai pergerakan setiap orang yang datang.
"pa... apa ini tidak terlalu keterlaluan untuk Karin, kita di perbolehkan membawa beberapa pembantu dan supir sementara keluarga Karin tidak?" tanya Zaky tiba tiba setelah baru sampai vila tempatnya menginap.
"ingat ky... papa tidak menemukan nama John sandres di perusahaan mana pun, kemungkinan dia bekerja sebagi supir atau tukang kebun di suatu rumah. tapi untuk Andreas sandres, papa sudah menemukan tempat kerja nya. dan perusahaan yang menjadi tempat kerja Andreas tidak papa beri kabar tentang pernikahan ini" jelas topan.
"tapi pa... ini keterlaluan" tepis Zaky.
"sayang... papa mu tau yang terbaik, lagi pun kita juga telah mengerahkan beberapa orang yang akan membantu Karin di villa nya kok" sahut Sarah. "sekarang kamu istirahat besok pagi pagi sekali sudah banyak acara yang harus kamu hadapi" lanjutnya.
"ck... oke..." jawab Zaky seperlunya setelah itu ia meninggal kedua orang tuanya menuju lantai dua.
sementara vila satu lantai yang tak jauh dari vila Zaky, dua sejoli yang baru Merasa aman itu kembali di ganggu oleh beberapa pesan aneh. baik itu di ponsel milik nata atau resa. yang semakin membuat mereka ketakutan adalah nama Raina yang tak lain adalah ibu resa tercantum dalam pesan itu.
*menghindarlah sejauh mungkin, keluarga istri mu juga keluarga mu kan?*
*dunia ini terlaku sempit jika kau mengandalkan kecerdikan ku*
*hati hati... jaga ibu mertua mu baik baik*
tiga pesan itu terkirim dengan bentuk serupa dan waktu yang bersamaan. kebahagiaan yang seharusnya mereka dapat harus di tunda terlebih dahulu. Teror yang sudah lama hilang ternyata masih dapat kembali lagi terlebih teror itu tidak salam alamat.
"heh... kalian buruan tidur, bukanya besok kalian repot mengurus pernikahan Zaky dan karin" Tegur Raina tiba tiba.
nata dan resa sama sama terkejutnya di buatnya.
"e... iy iya mah" jawab resa dan nata gelagapan. mereka berdua pun bergegas ke kamar di ikuti Raina yang pergi ke kamarnya sendiri.
"Nat... aku mohon malam ini biarkan aku tidur bersama mama... aku takut Nat..." ucap resa di ambang pintu kamar nya.
nata mengangguk paham perasaan apa yang menerpa istri nya itu.
"tetap lah tenang sudah ku bawa beberapa body guard yang stay di sekitar vila ini" ingat nata. ia pun mengantar resa mendekati kamar mama mertuanya.
pagi telah beranjak, siang semakin mendekat. Pesta itu di meriah walau hanya sedikit tamu undangan yang hadir karena ketatnya penjagaan. gedung di pegunungan menjadi tempat Karin dan Zaky mengumbar kebahagian. ikatan suci yang telah lama ingin mereka jalin akhirnya lahir di saksikan lebih dari dua ratus orang. beberapa sua foto telah mereka ambil bersama dengan keluarga dan para sahabat. tak lupa mereka juga menyempatkan diri menyapa tamu.
Dua mempelai berjalan beriringan dengan baju putih bersih menawan. gaun Karin yang panjang membawa rentetan taburan bunga merah yang sengaja di taburkan untuk menyambut kedatangan penggantinya. tak ada beban yang terlihat di antara keduanya begitupun keluarga mereka. terlebih Samson dan topan yang mengetahui siapa menantu mereka masing masing.
Sedikit ada keraguan di hati Samson tentang pernikahan ini. ia merasa seperti ada yang aneh dengan pernikahan yang nampaknya buru buru. dia juga merasa akan ada hal buruk yang terjadi kepada Karin setelah pernikahan ini. kemudian munculah sebuah keinginan di benak Samson. ia berencana untuk tetap di Indonesia mendampingi karin Sampai satu bulan pernikahan mereka.
Zaky sesekali melempar senyum nakal pada Karin yang tengah fokus pada tamu. ia juga tak segan mencolek lengan Karin tanpa ragu di hadapan pada tamu. tingkahnya ini lah yang membuat Karin sedikit malu dan risih dengan tindakan Zaky yang menurutnya berlebihan. tapi itu tidak membuat nya marah, malah membuat Karin kagum dengan lelaki yang ternyata sangat humoris itu.
"terimakasih... kamu mau menerima ku lagi di hidup mu" bisik Zaky.
"seharusnya tidak... tapi karena aku kasihan ya sudah... terpaksa" jawab Karin asal.
"jadi kita menikah karena terpaksa?"
Karin mengangguk.
"kamu sebenarnya sudah tidak cintai ku lagi?
Karin mengangguk lagi sembari menahan tawa.
Zaky terdiam, benarkah apa yang di katakan Karin itu? jadi sedari tadi dia bahagia ternyata dia bahagia sendiri tanpa ada Karin yang ikut bahagia? tiba tiba ada sakit layaknya tertancap belati di dadanya. sesak Zaky menahan dengan pandangan kosong ke depan dan tiba tiba...
"hihihihi... bercanda sayang ya kali aku mau nikah kalau cuma terpaksa... aku tu cintaaaa.... banget sama kamu" ucap Karin sembari berbisik.
Tapi kata kata karin tidak dapat mengubah ekspresi Zaky. dia tetap diam dan tak memberi respon apa pun. hal itu membuat Karin merasa gagal. Karin mencoba mengatakan hal serupa dengan nada sedikit kencang.
"aku tu cintaaa banget sama kamuuuu dengar gak sih!" serunya.
semua tamu undangan bahkan sampai pihak keluarga pun menoleh ke asal suara.
tak mau kalah begitu saja, Zaky yang dari tadi sebenarnya menahan diri agar tidak terpancing candaan Karin, akhirnya pancingan itu berhasil mendapat mangsanya.
"aku tau... kamu cuma Pengan buat aku kaget kan!" balas Zaky.
Bukannya gaduh, tamu undangan yang juga kebanyakan pengusaha besar malah menertawakan tindakan mereka. jarang jarang ada pengusaha muda seperti Karin dan Zaky yang tidak memperdulikan image mereka. apa pun yang terlihat dan di perlihatkan apa adanya.
Melihat hal konyol yang di lakukan anaknya, Samson dan topan secara bersamaan saling berpandangan. lalu Samson tanpa ragu mendekatkan wajahnya ke telinga topan sembari berkata.
"didikan mu?"
__ADS_1
"anakmu yang memulai duluan" jawab topan singkat.
"anak kita" ucapan Samson membuat topan terperanjat. dengan bersamaan mereka mengumbar tawa yang selama ini terpendam di balik tatapan tajam keduanya di dunia hitam yang pernah mereka pimpin.
Melihat tawa sang suami bersama besannya membuat Sarah yang tengah duduk bersama resa dan Raina ikut tersenyum. Sarah kenal baik suaminya itu yang selalu menutup diri kepada orang lain, jangankan membuka tali pertemanan mengulum senyum saja jarang topan lakukan. tapi lihatlah betapa bahagianya suamianya itu bersama besan barunya tanpa sadar siapa sebenarnya besan tersebut.
Tak jauh dari sana Bima menatap Zaky dan Karin yang tengah bahagia di atas pelaminan. harus ikut bahagia atau ikut sedihkah dia saat ini? sangat ambisius jika dia menampakan sedihnya di tengah tengah ramainya acara. sesekali Bima menutupi sedihnya dengan bersula ria beberapa kali dengan tamu lain yang mungkin ia juga mengenal nya. sesekali ia juga tersenyum pada Karin yang saat itu juga melihatnya. tersenyum semanis mungkin untuk mengatakan bahwa di baik baik saja dengan kondisi saat ini.
Tapi bukan Karin namanya jika percaya begitu saja dengan senyuman Bima. tatapan yang semua biasa, berubah menjadi tatapan rasa bersalah. hal itu tidak dapat mengubah ukiran senyum pada bibir Bima. dia tetap menyumbangkan senyum di hari bahagia milik sahabat nya itu.
Tak lama setelah itu Karin kembali di fokuskan pada beberapa tamu yang baru datang padahal hari sudah semakin sore tubuhnya juga sudah lengket tapi meninggalkan tamu di saat seperti ini bukan ajaran dari ayah dan bukan kemauan suaminya juga. Bima yang melihat itu tanpa segan bergegas keluar untuk mencari udara segar.
mata air jernih dari sungai dengan jembatan kayu di ujungnya membuat Bima merasa kan angin siang menjelang sore. sejuk di rasa hidung lalu di salurkan ke rongga pernafasan yang lain. pohon mangga dan pohon kersen yang tumbuh lebat bersama dengan buahnya membuat Bima benar benar termanjakan. dia pun memilih berbaring di bawah pohon kersen. matahari tak berhasil menyengat tubuh karena rimbunnya daun pohon kersen itu.
Bima memilih memejamkan matanya sejenak untuk menikmati semilir udara di area pegunungan seperti ini. jarang ia melihat orang lalu lalang dengan menggenggam ponsel. kebanyakan orang di sini lalu lalang dengan membawa pacul atau arit untuk menggarap kebun. baru saja matanya terpejam. keras ia mendengar suara teriakan seorang wanita dari arah jembatan. Saat itu Situasi tengah sepi, tidak ada seorang pun yang lalu lalang sama seperti tadi. mau tidak mau Bima harus bergerak untuk melihat siapa yang berteriak. butuh bantuan atau sedangan apa wanita itu sampai harus berteriak.
Bima bangun dari posisi rebahan lalu segera bergegas mencari asal suara. langkahnya terus bergerak menyambangi sebuah jembatan kayu dari bambu tak jauh dari posisinya tadi. terlihat dan terdengar gadis itu menggerutu seperti mengutuk dirinya sendiri. sesekali gadis itu juga menyebut nama 'zaky'.
Lama Bima mendengar curhatan gadis itu yang entah pada siapa dia bercerita tapi dari apa yang Bima dengar, Bima tau siapa gadis yang berdiri dengan posisi membelakanginya itu. tak di sangka ternyata ada seseorang yang senasib dengannya di acara pernikahan sahabat nya sendiri. Bima juga tak pernah mengira jika selama ini gadis yang tengah mengomel itu pernah mencintai Zaky bahkan Sampai sekarang.
Bima masih bertahan di posisinya sampai pada akhirnya gadis itu berteriak kencang dengan memutar badan menghadap sungai dengan aliran yang jernih juga tenang.
"sial...! kenapa harus aku!! kenapa di saat seperti ini dunia malah baik baik saja! gak adil tauk..." jerit gadis itu dengan mengecilkan suara di bagian terakhir.
Mendengar itu Bima, memutuskan untuk mendekat kearah gadis itu seraya mengatakan.
"semua orang punya masalahnya masing masing, tapi mereka terlalu pandai menyimpan rapi di dalam hatinya yang sebenarnya sudah hancur. jangan terlalu merasa paling tersakiti jika kau hanya bisa mendengar jeritan hati mu sendiri tanpa membuka lembaran untuk mendengar jeritan orang lain" celetuk Bima.
mendengar ada seseorang menyahut teriakan membuat gadis itu memalingkan wajah. dia sedikit terkejut kala mengetahui siapa yang sekarang berdiri di sampingnya.
"tuan Bima" lirihnya.
"masih muda... masalah cinta jangan di buat stress" Jawab Bima lalu menghadapkan tubuhnya ke arah sungai sama seperti gadis di depannya.
"e.. tuan ada keperluan apa kemari?" tanya gadis itu yang tak lain adalah tania.
"saya mencoba membuka lembaran di hati saya untuk menempatkan masalah orang lain di dalam nya" jawab Bima tanpa mengalihkan perhatiannya dari anak sungai.
Tania terdiam sejenak. dia paham apa maksud dari Bima. Tania yang baru menyadari itu jadi Malu sendiri dengan tingkah konyolnya itu.
Belum ada tiga langkah dari tempatnya semula, sepatu high heels putih yang tania kenakan terjepit di sela sela jembatan bambu. membuatnya hilang keseimbangan dan akhirnya hup... tangan kokoh itu berhasil menahan tubuh rampingnya.
Kedua pasangan mata itu beradu cukup lama sampai pada akhirnya Bima mengeluarkan suara.
"sudah bisa di seimbangkan?" tanya bima dengan senyuman ramah.
Mendapat pertanyaan seperti itu Tania jadi salah tingkah. secepat mungkin ia berdiri dan hasilnya sama. Ia tetap oleng karena high sepatunya patah membuat tubuh nya masih dalam dekapan tangan kekar Bima. karena high sepatunya patah di saat pesta membuat mood Tania yang dari awal sudah berantakan jadi tambah berantakan lagi. spontan ia mengomeli sepatunya itu lalu dengan kencang ia melempar nya ke sungai.
"dasar sepatu butut, gak bisa jaga image pemiliknya aja" ucap Tania sembari melempar satu sepatunya yang masih bagus terjun ke sungai.
"sepatunya gak salah kamu yang terlalu salah tingkah" sahut Bima tiba tiba. geli rasanya melihat seorang gadis yang sudah lama ia kenal menunjukan sifat yang kekanak kanak seperti itu.
Mendapat teguran itu membuat Tania lebih salah tingkah lagi. kini pipinya menghangat secara tiba tiba di lanjut dengan rasa hangat keseluruh tubuhnya.
"ayo balik ke pesta... sendiri di sini, di culik sama penunggu sungai loh nanti" tegur Bima mengingatkan.
"eh? oh ya" jawab Tania seadanya. dengan tertatih tatih Tania berjalan menyusuri jalanan tanah yang berumput. Beberapa kali ia mengasuh kesakitan karena banyaknya kerikil kecil yang menancap di kakinya.
Melihat Tania yang kesulitan berjalan Bima sedikit tersenyum. bukan tak memiliki perasaan akan tetapi wajah jengkel Tania yang membuatnya tersenyum senyum sendiri tanpa sepengetahuan gadis malang itu.
"perlu saya gendong?" tanya Bima tiba tiba.
"tidak usah, merepotkan" jawab Tania berusaha tersenyum.
Bima tak memaksa kemauan Tania padahal itu perlu bagi Tania, dia hanya sungkan menerima tawaran yang pertama kali di ajukan. apalagi ia tidak pernah mengobrol bersama Bima sebelum nya jika bukan masalah pekerjaan.
Bima Merasakan langkah yang sedari tadi mengikutinya tidak lagi ia rasa. Bima berinisiatif untuk membalikan badan takutnya ada sesuatu yang terjadi pada Tania.
Gadis itu termenung di bawah pohon kersen dengan memandangi buah buah kersen yang merah menawan di atas sana. sesekali terlihat gadis itu menggigit bibir bawahnya. Bima kembali bersimpati untuk bertanya pada gadis itu.
"kamu mau?" tanyanya.
tania sedikit tersentak. di mengangguk kecil sembari menunduk malu rasanya bertingkah seperti anak kecil di hadapan seorang CEO yang muda dan lumayan terkenal seperti lelaki di hadapannya.
"eh tuan mau ngapain?" tanya tania saat melihat Bima menaiki pohon kersen tersebut.
__ADS_1
"katanya kamu mau... kok sekarang malah tanya aku mau ngapain" jawab Bima.
"kita tanya dulu siapa pemiliknya lalu izin tuan..." tania memberi pengertian.
"oh" jawab Bima singkat lalu turun dari pohon.
kebetulan sekali di sana ada seorang bapak bapak yang lewat dengan membawa pacul. Tania yang lihat itu pun kegirangan. siapa tau bapak itu tau siapa pemilik pohon kersen yang sangat ia minati buahnya itu.
"pak... permisi mau tanya" panggil Tania.
"eh iya neng"
"kalau boleh tau siapa pemilik pohon kersen di sana ya?" tanya tania menunjukkan arah pohon kersen yang di bawah masih berdiri seorang Bima.
"oh semua pohon kersen dan pohon mangga di sekitar sungai itu milik bersama neng jadi semua boleh menikmati buahnya" jawab bapak bapak tersebut.
"oh begitu... terimakasih ya pa" jawab tania menunduk lalu mendekat ke arah Bima lagi. "milik bersama kata bapaknya jadi siapa pun boleh ambil buahnya"
Mendengar itu, tanpa pikir panjang Bima segera menaiki pohon itu. tak lupa ia menitipkan jas nya pada Tania. lincah nya lelaki itu menaiki pohon kersen membuat Tania sedikit terkagum. lantaran Bima bukan orang biasa, dia seorang pengusaha yang nama dan wajahnya tak asing lagi. di tambang Bima tengah mengenakan celana kain yang lumayan pas pasan tapi tak membuat bima terganggu.
Selang sepuluh menit Bima meminta Tania membentangkan jas nya. Tania hanya menurut karena tidak tau tujuan dari perintah Bima. dengan santainya Bima menuang kan buah kersen yang merah merah ke bawah. buah kecil merah itu jatuh tepat di atas jasnya. tania yang Melihat itu terkaget. ia segera menyuruh Bima turun dengan alasan buah itu sudah cukup di makan berdua.
Mendengar itu dari atas, Bima pun turun tanpa pikir panjang. tak lupa Bima merapikan kemejanya baru ia melangkah mendekati ke arah Tania yang nampak hanya menatap nya.
"kok gak di makan, katanya tadi mau" ucap Bima.
"tuan Jaz tuan nanti kotor, maafkan saya sudah merepotkan tuan" jawabnya menunduk.
"ah gak pa pa, masih bisa di cuci kan" tepis Bima. "dan mulai sekarang, kalau gak ada acara kerja atau yang bersangkutan dengan pekerjaan jangan panggil saya tuan, gak enek di dengar" pinta Bima.
"baik tuan... eh Bima" Tania pun bergegas memunguti buah kersen yang telah terkumpul sesekali ia memakan dengan lahap buah itu setelah mendapat isinya ia membuang kulit buahnya. Bima yang tertarik akhirnya ikut mencoba.
Dering ponsel Bima membuat keasikan sederhana itu harus terganggu. nama 'karin Santos' tertera pada layar ponsel.
"iya Rin... ada apa?" jawab Bima.
"bim sebentar lagi acara lempar bunga dan gue gak liat Lo di sini. Lo cepet kesini kalau gak acara ini gak akan berlangsung" jawab dari sebrang.
"apa urusannya sama gue? gak ada hubungannya juga lah Rin" tolak Bima.
"plis lo kesini" pinta Karin lagi.
"ck... yaudah oke" panggilan pun terputus.
Saat bima mengalihkan pandangannya, ia di kejutkan dengan sisa buah kersen yang hanya tinggal tiga biji. dia melihat Tania bahagia dengan apa yang dia dapat. Bima tak suka merusak kebahagiaan orang lain, tapi ini harus.
"Tan... balik ke pesta yuk...udah sorean nih" ucap Bima.
"oh iya Bim... bentar" tania segera melahap habis tiga kersen yang masih tersisa.
"sini saya gendong" ucap Bima.
"eh? loh gak pa pa?"
"dari pada kaki kamu sakit"
perlahan tania menaiki punggung Bima dan hup... tubuhnya terangkat bergerak sesuai dengan langkah Bima. tak lupa Tania menggenggam erat jas hitam milik Bima.
Hitungan telah di mulai tetapi yang di tunggu tak kunjung datang Sampai pada akhirnya ekor mata yang jeli itu menemukanya. jelas terperanjat lah Karin saat mendapati Tania tengah ada dalam gendongan Bima. ia mendapatkan ide untuk melempar bunga ke arah mereka berdua yang tanpa sadar tengah di perhatikan. Karin membisikkan sesuatu pada Zaky lalu di ikuti manik mata Zaky yang mencari keberadaan dua orang yang di bicarakan istri itu.
"...2...1... lempar" seru semua orang yang ada di sana.
Dan... Bima yang memperhatikan bunga yang Karin dan Zaky Lemar mengarah pada Tania yang tengah menunduk dengan cepat menangkap bunga itu yang ternyata... Tania juga menangkapnya. mereka berdua mendapat sorak Sorai dari para tamu undangan.
"cepet nyusul ya..." ucap Karin dari mikrofon.
Bima baru menyadari jika ini semua ulah dan kesengajaan dari Karin dan zaky yang sengaja mereka tunjukkan padanya dan tania. Bima hanya melempar senyum malu dan sesekali melirik Tania yang pipinya memerah.
.
.
selanjutnya...
Maaf kalau banyak yang typo.
__ADS_1