
Di markas white crocodile.
Gadis itu bersula dengan minumannya. Dengan senyum manis dan wajah kemenangan yang berseri.
"Lanjutkan pesta meriah ini aku akan keluar sebentar untuk membeli makan malam kita semua" ucap charla seraya meninggalkan anak buahnya yang mulai mabuk.
"Ikut lah dengan ku.." ucap charla menarik tangan verel.
"A..aa.. Baiklah" jawab verel terkejut.
Verel dan charla menuju sebuah restoran. Charla yang mengendari mobil terlihat senang sampai sampai tak dapat mengontrol laju kecepatan mobil yang ia kendarai.
"La kurangi kecepatan mu atau polisi akan mengejar mobil ini" ingat verel pada charla.
"Ah baiklah kau sangat penakut" ejek charla.
"aku hanya takut kau kenapa napa la... sadarlah perasaan itu ada.." Batin verel.
Sampailah mereka di restoran tradisional Park salah satu usaha milik keluarga Bima. Restoran dengan nuansa kebudayaan Indonesia ini sangat memanjakan pengunjung yang datang. Bersuguhan sejarah dari kebudayaan hingga kemerdekaan Indonesia ada di restoran itu. Di tambah dengan suguhan pangan dan minuman yang sangat khas dalam negri.
Mereka berdua pun masuk dan di sambut oleh pelayan di sana.
"Wah mereka ramah apa karena ada anak bos disini" ucap Karin melirik Bima.
"Oh tentu saja ... Bukan tapi karena aku memang tampan jadi mereka berusaha mencari perhatianku" balas Bima pede.
"Seperti nya kau tak pernah di puji sampai sampai memuji dirimu sendiri hahah" ejek Karin.
"jika kau memuji ku seperti apa yang ku harapkan percayalah aku tak akan tidur selama seminggu" balas Bima dalam batin.
"Jika aku menunggu pujianmu pasti pujian itu berbanding terbalik dengan apa yang ku katakan" balas Bima dengan suara.
"Haha kau pandai juga" imbuh Karin.
Mereka memilih duduk di luar restoran Karena tempat itu sepi jadi mereka bisa berbincang dengan serius. Bima yang berstatus anak pemilik restoran itu tak mau di samakan dengan orang lain, segala kenyamanan harus melimpah padanya.
"pesan apa ya kok aku jadi bingung..." Ucap Karin sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Bagaimana kalau ayam bakar saja.." usul Bima.
"Aaa.. pilihan yang bagus.. ku kira otakmu masih sakit" ledek Karin.
"Pesan ayam bakar lima puluh bungkus di bawa pulang semua..." Ucap Karin pada pelayan yang dari tadi sudah dipanggil.
"Baik.. minumnya?" Tanya pelayan itu.
"Jeruk hangat... Kamu apa Bim?" Ucap Karin.
"Sama" jawab Bima singkat.
Setelah pelayan itu pergi, Karin dan Bima mulai membicarakan hal serius terkait masalah yang di ciptakan charla kerena amarah dan rasa tersudutnya.
"Kau bilang mereka melacak markas kita? Lalu bagaimana jika mereka menemukannya" tanya bima dengan suara mengecil.
__ADS_1
"Kau tak usah pikirkan itu... Apa kau meragukan rencana queen mu ini?" Jawab Karin balik bertanya.
"Aku hanya memastikan kau tidak bertindak gegabah seperti kemarin" elak Bima.
Pesanan jeruk hangat mereka pun datang. Karin dan Bima segera menutup pembicaraan mereka. Jujur saja anggota keluarga Bima belum ada yang tau jika putra keluarga mereka adalah anggota mafia yang terbilang kejam. Bima sengaja tak mengatakannya pada keluarga sebab ia takut akan memunculkan perdebatan dan kekhawatiran orang tuanya.
Pelayan pun pergi. Karin dan Bima melanjutkan kembali perbincangan mereka.
"Aku tak menyangka kau sekejam itu..." Ucap Bima.
"Aku saja bisa manghajar sahabatku sampai pingsan.. apalagi dengan adik seorang musuh..." Bangga Karin.
"Ya kau benar kau memang menghajar sahabatmu hingga dia masuk rumah sakit tapi tangisan itu tidak tertinggal kan??" Ledek bima.
Seketika mata Karin melotot. Ingin rasanya dia menampar mulut lamis milik Bima tapi ia tahan karena sedang berada di restoran. Balasan atas ucapan Bima tadi adalah sebuah pukulan pada lengan yang meninggalkan rasa nyeri apalagi luka tiga hari lalu belum terlalu kering.
"Aww... Hai sakit lah" ucap Bima memegangi lengannya.
Tawa Karin keluar dengan sempontan terdengar sangat menggembirakan siapapun yang mendengar. Tapi tawa itu tiba-tiba berhenti kala tatapan Karin fokus pada orang yang baru datang dan duduk di belakang Bima.
"Ada apa dengan mu...apa kau menelan lalat? Ah tapi tidak mungkin restoran ini kan bersih" celoteh Bima.
"Diam lah... Lelaki itu sepertinya aku pernah bertemu dengannya tapi dimana..?" Tanya Karin pada dirinya sendiri.
"Siapa?" Tanya Bima. Karena penasaran ia pun menoleh ke belakang. Dua orang lelaki yang sama sama tampan tengah duduk dan melihat isi menu. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Zaky dan nata. Bima yang tak tau jika sebenarnya lelaki berhoody hitam itu adalah king Black dragon hanya diam dan acuh.
"Aku ingat dia yang menabrakku waktu itu kan" ucap Karin seraya mengangkat jari telunjuknya.
"Sebelum aku bertemu dengan mu dan Tina brengs*k itu" jawab Karin dengan nada kesal kala mengingat kejadian memalukan itu.
Setelah lama menunggu akhirnya pesanan mereka datang bersamaan dengan pesanan dua lelaki yang di lihat Karin tadi. Karena Karin belum membayar total pesanannya ia pun masih duduk di tempat nya. Sementara dua lelaki tadi sudah pergi terlebih dahulu.
"Totalnya satu juta lima ratus tiga puluh ribu.." ucap pelayan itu.
Mendengar jumlah yang di sebutkan sang pelayan Karin mulai mengeluarkan kartu kredit nya dalam dompet. Tapi tak disangka Bima menghentikannya.
"Hai apa kau bodoh memberinya totalan makanan yang dia pesan.. apa kau ingin menghinaku di sini... Kau lupa aku ini siapa? Jaga batasanmu pelayan" maki Bima pada pelayan tersebut.
Mendengar teguran anak bos nya pelayan itu hanya diam. Menurutnya dirinya benar karena menjalankan pekerjaannya sebagai pelayan di bagian kasir.
"Bim dia gak salah.. dia kerja di sini tak memandang siapa pun yang datang.. dan ingat disini kau sebagai pembeli bukan anak bos" ingat Karin.
"Tapi Lo Sahabat gue..." Elak Bima.
"Mau aku sahabat, adik, atau kekasih mu kau tidak bisa semena-mena seperti itu" jawab Karin seraya menyodorkan kartu kredit nya pada pelayan yang menunduk ketakutan.
Mendengar ucapan Karin hati Bima seketika dingin. Tuturan yang di berikan Karin padanya sungguh memuaskan hati. Membuat dirinya menyunggingkan tipis senyumnya.
"entah bagaimana ini Rin... kau membuat perasaan ini semakin nyata adanya" Batin Bima.
Setelah selesai melakukan pembayaran mereka pun segera kembali ke mobil. Karin yang baru selesai menata box makan di bagasi mobil tak menyadari jika ada seseorang di belakangnya. Karin pun berjalan mundur untuk menutup pintu bagasi dan tak sengaja menabrak lelaki itu.
"Aaa...!" Teriak karin saat dirinya hampir jatuh.
__ADS_1
Tubuh Karin di tahan oleh lelaki itu yang ternyata adalah Zaky. Tanpa disadari mata mereka beradu untuk yang kedua kalinya. Bima yang terkejut mendengar teriakan Karin langsung berlari ke belakang mobil dan melihat kondisi Karin yang jatuh pada pelukan orang lain. Rasa hatinya pun seperti teriris iris namun masih coba dia tahan.
"Kau tidak apa-apa" ucap Bima tegas.
Terkejut dengan suara Bima yang terdengar seperti membentak membaut Zaky melepaskan pelukannya. Membuat Karin jatuh terduduk dengan posisi tangan tertindih tubuhnya. Mengakibatkan tangannya berdarah.
"Aww... Sakit kalau gak niat nolong gak usah nolong" ucap Karin kesal.
"Rin Lo gak pa pa?" Tanya Bima seraya membantu Karin berdiri.
"Maaf saya terkejut.." jawab zaky.
"Astaga tangan mu berdarah..." Lanjutnya seraya memegang tangan Karin yang terluka.
"Sebentar saya ambilkan kotak p3k terlebih dahulu." Ucap zaky. Dia pun menuju mobilanya yang ternyata terparkir di samping mobil karin.
Dengan hati hati Zaky mengoleskan alkohol untuk membersihkan lukanya lalu di susul obat merah dan ia akhiri dengan menutup luka itu dengan hansaplas. Karin yang di beri pertolongan pertama hanya diam, bahkan dia tidak merasakan sakit sedikit pun. Sedangkan Bima yang melihat mereka berdua merasakan hawa panas di sekujur tubuh nya.
"Jika lukanya masih sakit tiga hari kemudian atau bertambah parah silahkan hubungi saya" ucap zaky menyodorkan sebuah kartu pada Karin.
"Ini kartu nama saya di sini tertera nomer pribadi dan nomer kantor silahkan di hubungi jika memerlukan bantuan" ucap zaky ramah.
"Ky ayo urusan gue udah selesai" ucap nata yang baru datang.
"Oh iya baik lah...permisi" jawab zaky.
"Ah iya terima kasih ya.." ucap karin tersenyum manis pada Zaky.
Setelah mobil Zaky dan nata pergi, Bima mulai mendekati Karin yang tersenyum sendiri tanpa alasan.
"Jangan seperti orang gila hanya karena di tolong dia.." ucap Bima menyembunyikan rasa cemburunya.
"Ah kau hanya iri..." Jawab Karin.
Karin dan Bima pun kembali ke markas. Takut yang di beri janji kelaparan karena terlalu lama menunggu.
Sesampainya di markas charla segera memberikan makanan yang dia bawa kepada anak buahnya. Dia pun juga mengambil satu bungkus makanan tapi ia bawa ke dalam ruangan priv. Dengan wajah masih mengukir senyum charla melahab habis makanan nya. Ia pun bersiap untuk tidur setelah merasa kenyang.
"Sepertinya kau senang sekali saat bertemu lelaki itu... Apa dia terlihat istimewa dimata mu?" Suara verel membuat mata charla yang mulai menembus mimpi terbuka kembali.
"Ada apa dengan pertanyaan mu? Aku hanya merasa dia baik dan lembut didepan orang yang tak dia kenal" jawab charla cuek.
"apa aku kurang baik di depan mu la..." Tanya verel dalam batin.
Tak ingin menjawab dengan suara penyataan charla, verel memilih beristirahat di tempat tidur khusus untuknya.
Sementara di tempat lain.
.
.
Selanjutnya...
__ADS_1