
sesampainya di rumah karin mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur seperti biasa. sebelum mata nya bener bener tertutup pintu kamar di ketuk.
"yah siapa?" tanya Karin.
"papa sayang" jawab Samson dari luar.
Karin beranjak dari posisinya untuk membukakan pintu. terlihat seorang lelaki yang berdiri dengan setelan baju yang sama seperti tadi.
"ada apa pa?"
"sayang besok papa harus kembali ke Singapura. barusan papa di telpon asisten papa bahwa lusa ada meeting dadakan."
"ah papa... katanya minggu depan balik ke Singapura" rengek Karin.
"maaf in papa ya" samson mengelus lembut rambut putrinya. "besok pagi papa langsung berangkat ke bandara" sambungnya.
"iya pa... oh iya ada yang perlu Karin bantu?"
Samson menggeleng. "semua sudah siap" akhir Samson mengecup dahi Karin. lelaki paruh baya itu berjalan menjauhi pintu coklat itu. ia menuruni anak tangga Lalu masuk ke dalam ruang kerjanya. entah apa yang di lakukan. mungkin siap siap.
sedangkan Karin masih termenung di dalam kamar pikirannya melayang terbang entah kemana layaknya layangan putus. malam semakin larut. Indra penglihatan gadis itu perlu di istirahatkan.
baru beberapa detik terlelap ia di bangunkan oleh dering ponsel yang nyaring. nyawanya susah terlanjur traveling entah kemana. butuh waktu untuk membangunkan gadis itu lagi. tapi si penelpon tidak semudah itu menyerah. ia kembali menghubungi Karin sampai akhirnya gadis itu mengangkatnya.
"ya siapa..." jawab Karin malas.
"perlahan tetapi pasti, kau akan hancur sama seperti ku..." sebuah desisan halus bernada mengancam keluar dari sebrang.
mata Karin seketika terbelalak. suara ini sangat sulit ia kenali. desisannya terdengar halus tapi mematikan, jika ini memang dari musuhnya itu tidak mungkin. kebanyakan pimpinan mafia itu adalah lelaki tetapi suara ini seperti perempuan. Karin tak ingin bertidak gegabah. ia takut jika dia menyebutkan siapa jati dirinya, musuh yang satu ini berasal dari saingan perusahaan mamanya.
"siapa anda?!" jawab Karin dengan nada tegas.
"tidak penting siapa aku, yang penting tujuanku akan segera tercapai..." desis nya lagi. panggilan pun terputus sebelum Karin sempat bertanya lagi. penelpon itu meninggalkan rasa penasaran yang amat besar di benak Karin.
"jangan kau salah langkah, mungkin aku belum mengenalmu tetapi saat aku tau kau siapa tidak akan pernah ku ampuni dirimu karena sudah berani meneror ku." umpat Karin geram. ia meremas ponselnya.
masih di tinggalkan rasa penasaran ponsel Karin tiba tiba berdering lagi. karena mood nya belum membaik, Karin langsung mengangkat telepon itu tanpa tau apa si penelpon.
"anda masih ingin meneror saya?" bentak karin.
"maaf nona mengganggu malam anda..." jawab jazzy dari sebrang.
menyadari ia salah orang Karin berusaha tenang. "maaf Mba jazz saya kira teman saya"
"tidak apa nona"
"ada perlu apa mba malam malam telpon saya? apa ada hal penting?"
"nona uang perusahaan menghilang, seluruh gaji tukang bangunan menghilang." lapor jazzy dengan nada ketakutan.
Karin terbelalak. " kok bisa, siapa yang memberi laporan ini?"
"manager keuangan, dia bilang uang gaji yang dia sediakan untuk besok menghilang"
"dimana ia meletakkannya?"
__ADS_1
"di kotak keamanan"
" selain kita siapa yang tau sandi pintu itu?"
"hanya kita bertiga, anda, saya dan intan"
"baik kita urus ini besok, mba jazz jangan pernah beritahu papa jika hal ini terjadi. aku tidak mau papa memikirkannya."
"baik nona" panggilan pun terputus.
Karin berusaha tenang. ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil mengacak ngacak rambutnya frustasi. ancaman tadi ternyata bukan main main. terbukti jika ancaman itu asli dengan adanya laporan dari jazzy. anggapan yang mengatakan jika nomer itu salah sambung langsung ia tepis jauh dari pikirannya.sekarang hanya diam duduk termenung rasa kantuk kembali ke mata Karin. perlahan tetapi pasti matanya tertutup masih dengan posisi terduduk.
sampai tak sadar mentari telah menampakan diri. menerangi bumi agar para insan kembali melakukan kegiatan mereka yang telah menunggu. begitupun Karin. karena perasaanya campur aduk ia sedikit telat bangun. sesegera mungkin ia bebersih diri. tak lupa ucapan papanya kemarin malam.
"papa udah mau berangkat?" tanya Karin seraya berlari kecil menuruni anak tangga.
"iya sayang, setengah jam lagi pesawat akan lepas landas. kamu mau kemana?" Samson heran melihat anaknya dengan setelan rapi. bukanya selama beberapa bulan kedepan putri nya itu akan bekerja di rumah mengingat perusahaan sedang di bangun lagi.
"eee .. ke kantor lah pa..." jawab Karin berusaha yakin.
"bukanya kantor kamu lagi di renov sayang"
"iya... tapi hari ini ada pertemuan mendadak pa" Karin mencoba mencari alasan.
"berarti hari ini gak nganter papa bandara?"
"maaf pak... untuk kali ini Karin gak bisa ikut... maaf ya pa.." jawab Karin, sebenarnya ia sangat ingin mengantar papanya ke bandara tapi masalah kantor akan membesar jika tidak kunjung di bereskan.
"iya gak apa apa papa paham kok, dah papa berangkat... bye sayang" akhir Samson mengecup puncak kepala Karin.
mereka pun berpisah di halaman rumah. saat situasi aman dari pandangan papanya, Karin mempercepat laju kendaraannya agar cepat sampai di kantornya.
sesampainya di parkiran Karin melihat ada dua wanita yang berdiri di samping mobil berwarna hitam. mereka terlihat berdebat. salah satu dari perempuan itu membawa buku kecil dan tas bahu.
"ada apa ini?" tanya Karin saat sudah mendekat ke dua perempuan tersebut.
"nona..." jawab mereka bersamaan.
"sepertinya gaji para tukang di maling nona" lapor salah satu wanita yang memegang buku kecil yang tak lain adalah intan manager keuangan.
"kok bisa Tan? bukannya sudah di password?" tanya Karin.
"saya juga tidak tau nona, yang masih bekerja di perusahaan hanya sedikit orang dan beberapa cctv sengaja di matikan jadi kita sulit mencari pelaku, tapi nona beruntung nya saya tidak meletakkannya semua gaji tukang di lemari keamanan. ada beberapa yang masih tersimpan di bank kantor" jelas intan.
"baik saya akan coba cari cara agar semua tukang mendapat hak nya" jawab Karin ia berjalan menuju mobilnya lagi lalu bergegas keluar dari gerbang perusahaan.
dua perempuan yang sempat berdebat tadi masih diam di tempat. mereka menatap kagum pada Karin. seorang perempuan yang baru saja terjun ke dunia bisnis itu sangat patut di jadikan contoh. dia tak lari dari tanggung jawab nya sebagi seorang pemimpin.
"nona Karin sangat mirip dengan nyonya Ratih ya.." ucap intan. matanya masih mengikuti ekor mobil.
"iya dia bertanggung jawab dan tegas dalam memberi perintah juga saat di perintah" sahut jazzy.
mereka berdua pun tidak ingin berlama lama di parkiran kantor. sinar mentari yang tadinya hangat kini kian memanas dengan berjalanya waktu. menyentuh kulit halus nan mulus milik dua perempuan itu.
sementara Karin masih dalam perjalanan. sempat beberapa waktu lalu ia menghubungi Zaky agar bisa bertemu untuk makan siang juga membahas soal teror telepon yang terjadi tadi malam serta hilangnya uang gaji tukang bangunan. tapi kini Karin bukan berniat untuk menemui Zaky toh ini masih jam 10 pagi.
__ADS_1
sesampainya di tempat tujuan Karin segera melepas pakaian blazer nya lalu mengganti dengan pakaian jubah serba hitam di padukan dengan tali merah menyala di bagian pergelangan tangan. tak lupa topeng dan topi bundar hitam. jika sudah mengenakan pakaian seperti itu kemana lagi karin akan pergi kalau bukan ke markasnya.
charla masuk tanpa permisi. seisi ruangan gelap itu terkesiap dengan kedatangan queen mereka secara tiba tiba. nampak remang remang beberapa orang tengah berhadapan dengan minuman beralkohol.
"saya ada tugas untuk kalian" ucap Chara tegas.
"siap queen.." seru mereka.
"cari tau pemilik nomer ini, setelah itu seret dia kemari dan siksa dia!" ucap charla mengetik beberapa nomer yang tak lain adalah yang kemarin malam menerornya.
Deon berjalan melangkah mendekati komputer yang di kuasai oleh charla. sedikit ia menghafal beberapa nomer belakang yang di tulis charla. 999. beberapa saat kemudian Deon terkesiap saat menyadari bahwa dia tak asing dengan nomer tersebut. ya nomer itu tidak di miliki oleh sembarang orang. nomer ini adalah nomer rahasia yang pernah di pakai Deon untuk membentuk seseorang, walau bukan Deon pemiliknya. deon mendapat nomer tersebut saat dia berkumpul dengan beberapa pembunuh bayaran.
"saya mengenali tiga angka terakhir nomer itu queen" ucapnya.
"siapa?"
"Black killer saya pernah bergabung dalam organisasi itu untuk membunuh dua kelompok killer yang lain" jawab Deon agar bergemetar.
"kau yakin?"
"entahlah queen, tapi Angka terakhir itu masih melekat di otak ku"
"check!" seru Karin.
Deon segera bergerak cepat mengotak ngatik komputer tersebut sampai pada akhirnya wajahnya berubah ekspresi. yang tadinya tegang kini sudah lebih tenang di tambah senyum sinis tumbuh mekar dan hitam.
melihat Deon mengeluarkan ekspresi seperti itu charla ikut senang. itu artinya Deon sudah membawa jawaban pasti tentang dalang dari nomer itu.
"siapa?" tanya charla.
"mereka akan datang" jawab deon. ia menekan nekan ponselnya lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"hm" hanya itu yang di keluarkan Deon sebelum mematikan panggilan.
charla tau Deon akan sangat mudah menemukan hal seperti itu karena memang itu keahlian anak buahnya yang satu ini.
dari pada menunggu charla memilih untuk menemui Zaky di salah satu cafe pilihan mereka. tak lupa charla melepas pakaian mafianya dan berganti seperti pakaian sebelumya.
sesampainya di cafe Karin melihat seorang lelaki yang sudah duduk manis di salah satu bangku cafe tersebut. lelaki yang sangat ia cinta, siapa lagi jika bukan zaky.
"maaf sayang telat" ucap Karin menepuk bahu Zaky dari belakang.
"gak apa apa... oh ya aku udah pesankan kamu makanan loh"
"sungguh, baiklah kita makan dulu saja"
mereka berdua menyantap hidangan yang baru saja di sajikan oleh pelayan. mereka makan dengan tenang, terutama Karin. seperti tak terjadi apa apa padanya.
usai makan....
.
.
selanjutnya...
__ADS_1