
Bima membanting stir, dia pun menabrak pohon tepi jalan.
Dahinya membentur stir mobil. Bagian depan mobilnya juga ringsek. Orang orang yang melihat kecelakaan tunggal yang terjadi segera menolong pengemudi dan melarikanya ke rumah sakit karena tak sadarkan diri.
Di kediaman resa Dinda.
Selesai Mandi resa segera berbaring di atas tempat tidurnya.
"Hari ini sungguh melelahkan..." Ucapnya seraya mijat mijat pelipisnya.
Tok...tok... Pintu kamar di ketuk.
"Ya...?" Jawab resa dari dalam.
"Mama sa.." jawab Raina mama resa.
Resa bangkit dari posisi tidurnya. Ia pun membukakan pintu kamarnya.
"Makan gih keburu dingin" ucap Raina lembut.
"Resa sudah makan ma... Em resa nemenin mama makan saja ya mama pasti kesepian" jawab resa sambil memegang tangan mamanya.
"Uuu... Anak mama... ya sudah ayo temani mama makan" setuju Raina.
Senyum manis terukir di bibir. Walau hanya berdua bersama ibu tercinta lengkapnya keluarga sudah di rasakan resa. Setelah meninggalnya sang ayah 2 tahun lalu di susul meninggalnya sang suami 3 bulan lalu. Kebahagian masih dapat di rasakan resa karena hadirnya sang bunda.
Dertt...dertt
Sebuah panggilan masuk ke ponsel resa. Tertera nama 'tuan Bima' resa segera mengangkatnya.
"Astaga... Rumah sakit mana?" Tanya resa yang mendengar kabar mengejutkan Dari seberang.
"Baik saya akan segera kesana" jawab resa mengakhiri panggilan.
"Ada apa sa.. kok kamu panik begitu" sahut Raina saat melihat raut wajah putrinya berubah setelah menerima panggilan.
"Ma tuan bima kecelakaan, sekarang dia di bawa ke rumah sakit pelita jaya" jawab resa.
"Ya sudah kamu siap-siap, mama juga mau ikut boleh kan?" Ucap Raina.
Resa hanya mengangguk lalu segera berlari ke arah kamar. Selesai siap siap resa segera keluar dan kebetulan taxi online yang ia pesan sudah sampai.
Rumah sakit pelita jaya.
Resa segera menghampiri suster yang berjaga di tempat administrasi.
"Sus ruang rawat atas nama tuan Bima Saputra permada dimana?" Tanya resa.
"Sebentar saya check terlebih dahulu ya mbak" jawab suster tesebut.
"Blok melati nomer 2 mbak..." Lanjut suster tersebut.
"Baik terimakasih sus" jawab resa. Dengan setengah berlari resa menggandeng ibunya.
Sesampainya ke tempat tujuan, resa mendapati dua orang bapak bapak yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Pak saya resa orang yang bapak telpon tadi" terang resa.
"Oh ya mbak, silahkan masuk" Jawab salah satu bapak.
"Dan ini ponsel yang kami temukan" ucap lelaki satunya lagi.
"Oh iya mas" jawab resa mengambil ponsel Bima dari tangan lelaki itu. Ia segera menghubungi anggota keluarga Bima di daftar panggilan tapi tak ditemukan. Karena Bima jarang melakukan panggilan kepada papa ataupun mamanya. Akhirnya resa memilih menghubungi kontak nomer bertulis Karin Santos. Sebab panggilan itu tepat di bawah panggilan atas namanya. sebenernya resa bingung mengapa bapak bapak yang membantu Bima malah menelponnya padahal panggilan dari Karin Santos berada di atas, ah mungkin mereka panik jadi asal pencet.
Di kediaman keluarga santos.
Karin terus mondar mandir kekanan dan kekiri membuat yang memperhatikan pusing, siapa lagi yang mau memperhatikan dan mau mengepoi kegiatan Karin kalau bukan bi Ina.
"Nona duduk lah bibi pusing liat nona mondar mandir terus" ucap Bi Ina mengingatkan.
"Bi perasaan Karin ngak enak sejak pulang tadi, ada apa ya Bi? " tanya Karin lalu memutuskan duduk di samping bi Ina.
"Yo mana bibi tau, tapi non biasanya kalau perasaanya sering berubah ubah ada seseorang yang dekat di hati nona sedang sakit atau membutuhkan bantuan" jawab bi Ina.
"Sungguh bi?" Tanya Karin.
"Yo setau bibi begitu" jawab bi Ina.
Dert...dert..derrt... Sebuah panggilan di ponsel karin. Bertulis nama bima sombong.
__ADS_1
"ada apa dia menelepon ku?" batin Karin. Ia pun segera mengangkat panggilan itu.
Terdengar suara perempuan yang tengah menelponnya dengan nada tegang.
"Apa?!! Bima kecelakaan?" Tanya Karin terkejut setelah mendengar kabar dari sebrang.
"Oke aku akan segera kesana" panggilan pun di matikan.
"Bi malam ini Karin tidak pulang teman Karin kecelakaan" pamit Karin.
"Iya non hati hati di jalan" jawab bi Ina menatap kepergian Karin.
Sesampainya di rumah sakit pelita jaya Karin segera menuju ruangan yang di sampaikan resa lewat telpon.
"Bagaiman keadaan Bima" tanya Karin saat mendapati seorang perempuan di depan kamar rawat Bima.
"Anda Karin Santos?" Tanya perempuan itu yang tak lain adalah resa.
"Iya saya Karin, kamu resa kan dan dia siapa" tanya Karin menunjuk ke Raina.
"Saya ibunya resa" jawab perempuan paruh baya itu.
"Oh" jawab Karin singkat.
"Lebih baik anda segera menemui tuan Bima" ingat resa.
Karin mengangguk setuju lalu segera masuk keruangan Bima.
Seorang lelaki tengah berbaring di atas ranjang dengan menutup matanya. Perban yang menempel di kepalanya membuat Karin merasa bersalah.
"apa ini karena gue?" Tanya Karin dalam hati.
"Ha... Lo Dateng ternyata" lirih Bima saat mengetahui Karin datang.
"Bim... Maaf in gue ini pasti salah gue kan?" Ucap Karin mendekat keranjang Bima.
"I oke... Lo gak perlu merasa bersalah, yang nabrak in mobil ke pohon gue kok jadi Lo gak salah apa apa" jawab Bima mencoba menenangkan sahabatnya.
"Tapi Lo nabrak in mobil karena kesal kan sama gue" ucap Karin lagi.
"Udah gue baik baik aja kok liat ini" jawab Bima seraya merentangkan tangan.
"Oh ia resa udah pulang belum? Tanya Bima.
"Astaga gue lupa..." Jawab Karin segera bangkit dari duduknya. Ia hendak memanggil resa dan ibunya untuk masuk.
"Hai sa... Makasih ya Lo peka sama gue" ucap Bima setelah resa dan ibunya masuk ke dalam ruangan
"Memang saya melakukan apa tuan?" Tanya resa.
"Gak usah pakai bahasa formal kita di luar jam kantor kok ini."
"oh ya Lo udah bawa dia ke gue." sambung Bima, mata nya Melirik kearah karin. Tapi yang di lirik tidak menunjukkan respon apa apa.
"Iya sama sama tuan eh maksudnya Bima."
"Ya udah saya pulang dulu kasihan mama pasti udah ngantuk" sambung resa.
"Ya baik lah... Hati hati di jalan" pesan Bima.
"Ya Bim" jawab resa setelah sampai di depan pintu.
Setelah kepergian resa dan ibunya, karin dan bima hanya berdua di dalam ruang rawat.
"Apa Lo mau tidur di sini?" Tanya Bima.
"Kayaknya" Jawab Karin singkat.
"Yaudah Lo istirahat gih gue juga mau istirahat" ucap Bima lagi.
"Ya ini juga mau tidur" jawab Karin menjelujurkan kakinya di sofa ruangan tersebut.
Langit masih terlihat gelap, diiringi suara jangkrik yang saling bersahutan. Karin di kejutkan dengan getaran ponsel nya.
"Emm... Siapa sih nelpon jam segini" gerutu Karin seraya mengangkat panggilan tersebut.
"Ya ada apa" ucap Karin.
"Queen markas ks. 3 di serang" lapor James. James menghubungi nomer charla bukan nomer Karin, terdapat dua nomer ponsel yang Karin miliki. satu miliknya dan satu milik dirinya yang lain yaitu charla.
__ADS_1
"Hah apa? Sungguh pengecut yang menyerang di waktu seperti ini" gerutu charla.
"Baik kau bawa anak buah yang lain ke apartemen ku. Disana terdapat komputer hitam. Cari file dengan nama plan 1. Di situ ada pengendali bom yang sudah ku pasang di ks. 2, dan Ks. 3. Aku akan segera menyusul." Perintah charla.
Panggilan pun terputus. Karin segera bergegas pergi tanpa memberi tau Bima yang masih dalam mimpi. Senyum licik terukir jelas pada wajah gadis itu.
"tak ku sangka penantian ku akan segera tiba..." Ucap Karin mendesis kala mengandarai mobilnya. Matanya melirik jam tangan yang masih menunjuk pukul 02.45.
Sesampainya di gerbang apartemen Karin melihat montor montor milik anak buahnya terparkir dengan sempurna.
"Bagus... Tidak ada yang curiga" desis Karin. Ia pun memasukkan mobil nya ke halaman apartemen.
Kamar 106.
"Kita harus menunggu queen karena perintah ada di tangannya" ucap james mengingatkan teman temannya untuk tidak gaduh.
Tak berselang lama pintu kamar apartemen pun terbuka, gadis dengan setelan rumahan yang menggunakan masker.
"Aktifkan cctv yang berada di ks. 3" perintah gadis tersebut yang tak lain adalah Karin/charla.
"Siap queen" jawab Deon.
Charla, Deon dan James dengan teliti mengawasi pergerakan orang orang yang mencoba masuk ke salah satu markas mereka. Terlihat semua orang yang berada pada layar komputer mengenakan pakaian serba hitam di tambah logo bagian belakang jubah bergambar naga hitam.
"Dengar jika mereka mulai bergerak kedalam aktifkan bom yang sudah ku pasang" perintah charla.
"Baik... Queen" jawab mereka serempak.
"Queen sepertinya markas akan di bakar" lapor Deon yang melihat orang orang tersebut menyiramkan sesuatu pada dinding markas.
"Biarkan saja hitungan mundur ledak kan markas itu..." Perintah charla lagi.
"Tiga...dua...satu... Lepas..." Ucap charla.
Deon pun menekan tombol "enter" pada komputer dan...
Di tempat lain.
"King tidak ada pergerakan di markas ini" lapor salah seorang pria.
"Apa kalian yakin ini markas white crocodile?" Tanya Jack pada salah seorang suruhan papanya.
"Ya kami yakin" jawab salah satu lelaki bertubuh tegap.
"Kalau begitu bakar saja tempat ini" perintah Jack.
"aku yakin kau sedang tidur..." Bisik Jack dalam hati.
"Siap" jawab semua anak buah Jack.
Beberapa orang menyiramkan bensin pada dinding markas yang di duga milik white crocodile sementara yang lain menyiram bagian halaman dan sekitarnya.
" Apa kau yakin akan membakar tempat ini?" Tanya nata. Nata tak menggunakan nama samar karena dia pandai mengelabuhi musuh, sudah berkali kali dia dalam bahaya karena namanya di ketahui tapi dia juga berkali kali selamat karena memutar balik fakta tentang namanya.
"Ya aku hanya cari amannya, kalau pun ini bukan markas white crocodile itu bukan urusan kita tapi jika ini markasnya itu akan menjadi keuntungan bagi kita" jawab Jack panjang lebar.
Selesai dengan tugas mereka jack menyuruh sebagian orang untuk berdiri di teras markas sementara yang lain mengawasi dari belakang. Tapi tiba tiba...
Dhomm...dhommm...dhom....
Ledakan demi ledakan muncul secara tiba tiba. Jack yang saat itu dalam keadaan lengah terkaget, dia tak menyangkan bahwa musuhnya lebih cerdik dari pada dirinya. Jack, nata dan beberapa orang lainnya yang berdiri bersama nya tadi mengalami luka yang lumayan parah di tambah efek bensin yang dia tuangkan terlalu banyak menimbulkan ledakan semakin besar.
Sebisa mungkin Jack, nata dan beberapa orang yang tersisa kembali ke mobil.
"Semua aman?" Tanya Jack.
"Tidak anak anak yang lain di dalam dan gue yakin mereka mati" jawab nata yang menyadari ledakan itu terlalu besar, tidak mungkin anak buahnya yang ada di dalam selamat.
"Argh... Dia lebih pandai dari kita" ucap Jack menahan rasa sakit pada tubuhnya.
"Lebih baik kita kerumah sakit terdekat terlebih dahulu luka mereka lumayan parah" ingat nata.
Nata dan Jack membawa orang orang yang masih selamat ke rumah sakit terdekat agar mendapat pertolongan, kebetulan luka nata tak seperah Jack dan beberapa anak buahnya jadi dia bisa membawa mobil menuju rumah sakit.
Di kamar 106.
.
.
__ADS_1
selanjutnya...