Suamiku Musuh Bebuyutan Ku

Suamiku Musuh Bebuyutan Ku
perubahan sifat


__ADS_3

Di perusahaan satria permada.


"Kenapa kau tak pernah menunjuk foto CEO perusahaan yang akan kita ajak kerja sama?" Gerutu Bima pada resa.


"Maaf tuan, perusahaan P.T Hartanto prajaya pusat sudah sangat terkenal, apa mungkin tuan tidak pernah mengenal ceo nya." bantah resa.


"Aku memperkerjakan mu untuk membantu ku bukan membantahku" suara Bima memenuhi lobi perusahaan.


Resa yang terkejut dengan kelakuan Bima yang tak seperti biasa hanya diam, dia paham jika saat ini kondisi hatinya memburuk.


Dikediaman keluarga santos.


Karin baru saja keluar kamar. Jati dirinya sebagai perempuan keluar pada sore itu. Dia sangat ingin membuat brownies tanpa bantuan siapa pun. Untuk mengumpulkan bahan bahan, Karin mulai menelusuri dapur. Di depan lemari es yang ia buka tiba tiba Karin menggelengkan kepalanya. Bi Ina yang melihat Karin hanya diam sesaat lalu melototkan matanya.


"Maaf non bibi belum belanja jadi kulkas kosong, bibi Kira nona akan tidur di apartemen malam ini" ucap Bi Ina saat teringat bahan bahan pangan habis.


Huft.... Karin menghela nafas.


"Baiklah lah... Ini masih pukul empat aku akan ke supermarket terdekat saja" ucap Karin.


"Oh tidak usah non biar bibi saja yang pergi" cegah Bi Ina.


"Ah sudah lah Bi lanjutkan dulu bersih bersihnya biar Karin ke supermarket" bela Karin.


"Baiklah non" jawab bi Ina.


Karin pun bergegas pergi menuju supermarket terdekat. Hatinya riang kembali kala hobinya terlaksana setelah berbulan bulan pensiun. Tapi tetap ada raut kesedihan pada wajah nya yang cantik, teringat seorang ibu yang selalu mendampinginya menjadi masalah besar pada mood nya.


Sesampainya di supermarket Karin segera mengambil ranjang belanja. Tak butuh waktu lama ia memilih milih bahan karena ia sangat hafal tempat dan bahan apa saja yang di butuhkan.


"Nah sekarang tinggal telur" ucap Karin sambil melihat isi tas belanjaan.


Karin berjalan lagi mencari pramuniaga untuk membantunya menakar kiloan telur yang akan dia beli. Setelah mendapat apa yang di cari Karin menuju meja kasir. Namun tiba tiba ada suara yang membuat dirinya terkejut saat tengah mengantri.


"Hai kau..." Ucap seseorang dari samping karin. Karin yang merasa di panggil pun memalingkan wajahnya.


"Hai, ada keperluan apa kau kemari?" Tanya Karin pada orang tersebut yang tak lain adalah Zaky.


"Hahah camilanku di rumah habis jadi aku ingin membelinya di sini dan ternyata ada kau... Jodoh itu gak kemana ya" ucap Zaky.


Karin yang mendengar kalimat terakhir yang di ucapakan Zaky hanya tersenyum. Pipinya menghangat secara tiba tiba padahal itu tak pernah terjadi padanya.


"Haha kau bisa saja..." Jawab Karin.


"Mmm... Apa kau ada waktu setelah ini kita berbicara sebentar boleh kan?" Tanya Zaky.


"Em.. baik lah tapi janji hanya sebentar" jawab Karin.


"Oke.." jawab zaky.


Setelah mereka membayar total an belanjaan Karin dan Zaky memilih duduk santai di warung pedangan kaki lima sambil meminum jus yang mereka pesan.


"Kau ingin membicarakan apa?" Tanya Karin.


"Aku hanya ingin membicarakan kerja sama ku bersama kekasihmu, entah karena dia masih marah karena peristiwa kemarin atau ada hal lain sehingga dia memutuskan kerja sama yang di ajukan terlebih dahulu. Aku hanya minta tolong jelaskan padanya, pada saat itu aku hanya berniat menolong mu" jelas Zaky.


"Kekasih? Siapa? Aku tidak memiliki kekasih sama sekali" ucap Karin.


"Lalu lelaki kemarin siapa?" Tanya Zaky.


"Oh dia yang kemarin bersama ku? Dia sahabatku sejak kami remaja" terang Karin.


"apa dia cemburu? tapi dia sahabatnya, apa mungkin lelaki itu diam diam menaruh hati pada gadis ini?" Tanya Zaky dalam hati.


"Hai ada apa kau diam?" Tanya Karin.


"Ha.. tidak, oh iya kita belum saling berkenalan kan? Kenalkan nama ku Zaky alfahri Hartanto biasa di panggil Zaky" ucap Zaky sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Karin Evelin Santos, biasa di panggil Karin" jawab Karin sambil membalas uluran tangan zaky.

__ADS_1


"Baik jika hanya itu aku mau pergi hari sudah semakin gelap kan" izin Karin.


"Iya baiklah... Hai Karin jangan lupa simpan nomer ku yang kemarin" teriak Zaky saat Karin sudah hampir masuk ke mobilnya.


"Oke" jawab Karin seraya mengangkat tangannya seperti 👌.


Zaky yang menatap kepergian Karin meninggal kan senyum manis. Rasa gembira saat mendengar ternyata Karin tak memiliki kekasih membuatnya lupa kalau hari sudah hampir berganti malam.


Di perjalanan Karin masih memikirkan ucapan Zaky. Ia tak menyangka hanya karena kejadian kemarin Bima sampai membatalkan kerja sama yang dia buat bersama perusahaan Hartanto.


"Apa yang ada di benak nya? Sifat nya semakin aneh dan tidak terkontrol" gerutu Karin tangan kirinya memijat mijat kepala.


Sesampainya di rumah Karin meletakkan belanjaannya di meja dapur lalu menyuruh Bi ina memasukkannya dalam kulkas.


"Nona tidak jadi membuat brownies?" Tanya bi Ina.


"Tidak bi, besok saja aku lelah" jawab Karin. Ia langsung menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar.


Karin yang sangat penasaran dengan perubahan sifat Bima akhirnya mengajak Bima bertemu di cafe roses yang pernah Zaky ceritakan padanya. Malam ini ia ingin tau alasan mengapa bima berubah menjadi anak kecil seperti itu. Ia juga menghubungi Zaky agar masalah cepat selasai. Dengan harapan tidak ada lagi yang salah faham dan kecewa.


Malam pun tiba, Karin keluar kamar dengan dandanan rapi. Dengan menenteng tas selempang kecil berwarna hitam membuat penampilan nya lebih terkesan serasi. Tak lupa Karin berpamitan pada kepala pengawal yang berjaga untuk tidak mengunci pintu gerbang sebelum dia pulang. Setelah di angguki pengawal itu Karin pun segera melaju keluar gerbang dengan mobilnya.


Sesampainya di cafe roses, Karin mendapati ada seorang lelaki yang tengah duduk seperti menunggu seseorang. Dengan langkah perlahan Karin memastikan jika dugaannya itu benar. Ternyata Bima lebih dulu sampai dari pada dirinya.


"Hai Bim udah lama nunggu?" Tanya Karin berjalan mendekati kursi yang di duduki Bima.


"Hai Rin akhirnya Lo Dateng juga, gue kira Lo mau ngeprank gue" ucap Bima.


"Ya sorry... Padahal tadi gue udah cepet cepet Lo" jawab karin.


"Ya lah gak pa pa, oh iya gak biasanya Lo ngajak gue makan malam di luar. Ada apa kayaknya ada udang di balik batu nih" ucap Bima.


"Ah nanti aja deh kita makan atau ngobrol ringan dulu, Lo belum pesan minum atau makan kan?" Tanya Karin.


"Belum gue mau couple sama Lo kayak biasa" senyum Bima.


"Ya udah sana Lo pesan pokoknya gue sama kayak Lo" sahut Bima.


"Oke"


"Mbak..." Panggil Karin pada pelayan cafe.


"Ya ingin pesan apa?" Tanya pelayan cafe.


"nachos tiga and milk shake choco tiga, oke" ucap Karin. Karin sengaja memesan tiga karena dia juga ingin Zaky memakan makanan dan minuman yang sama dengannya dan Bima.


Bima yang mendengar jumlah pesanan Karin merasa heran, hanya mereka berdua di meja itu lalu untuk apa pesan tiga makan dan minum?. Tak kuasa menahan rasa penasarannya Bima akhirnya memberanikan diri bertanya.


"For who? Kita hanya berdua lalu kenapa kau pesan tiga" tanya Bima.


"Mmm... From.. Secret guest" jawab Karin seraya tersenyum manis.


Bukannya ikut tersenyum Bima malah mengerutkan dahinya sampai alisnya hampir menyatu.


"Who?" Tanya Bima singkat.


"Itu dia datang..." Jawab Karin sambil menatap belakang Bima.


Bima yang penasaran pun membalikkan tubuhnya. Dia sungguh terkejut melihat siapa yang datang. Ekspresi wajahnya seketika berubah yang tadinya terlihat teduh tiba tiba menjadi dingin.


"Untuk apa dia kau ajak kemari?" Tanya Bima dengan tatapan tajam pada Karin setelah Zaky duduk.


"Aku ingin kalian akur berteman, dan melanjutkan kerja sama yang kau ajukan Bim" jawab Karin.


Mendengar ucapan Karin, Bima semakin tambah marah.


"Hanya lelaki pengecut yang menceritakan masalahnya pada seorang perempuan" ucap Bima, dia hendak meninggalkan meja. Baru beberapa langkah dia berjalan ucapan Karin menghentikan langkahnya.


"Dan hanya lelaki pengecut yang meninggalkan masalahnya di jalan buntu" ucap Karin.

__ADS_1


Ingin rasanya Bima segera berlari dari tempat itu tapi harga dirinya akan rendah di hadapan Karin jika dia melakukannya. Sebuah tangan lembut memegang pergelangan tangan dan menariknya kembali ke meja tempat duduk mereka. Siapa lagi jika bukan tangan Karin.


"Selesaikan masalah kalian malam ini juga, Bima bersifat lah seperti Bima yang ku kenal" ucap Karin mengawali pertemuan mereka.


"Hm" jawab Bima.


"Oke saya minta maaf jika memang menurut kamu.. Bima saya salah. Tapi tunjukan kepada saya salah saya dimana. Saya hanya ingin menambah teman seperti anda" ucap Zaky tatapan nya teduh.


"Zak ee... Gue minta Lo santai sama kita pakai bahasa seperti gue sama Bima aja oke" ingat Karin, jujur saja dia merasa aneh jika bertemu orang yang menggunakan bahasa formal. Apa lagi berbicara seperti itu.


"Oke, Lo gue... Gue kita" jawab zaky mengerti.


"Gue jelasin kenapa gue gak suka kalau kalian bertemu. Satu Lo Rin gue rasa Lo suka cari muka depan dia... Dan buat Lo CEO P.T Hartanto pusat, kayaknya lo mau rebut sahabat gue..." jawab Bima.


Walau jawaban Bima kurang puas di telinga Karin, tetapi dia paham betul bagaimana sifat dasar Bima. Bima Seorang lelaki yang tidak suka apa yang sudah menjadi miliknya di miliki orang lain jadi alasan Bima masuk akal di telinga Karin. Karin juga paham jika rasa takut Bima itu muncul dan agresif di depan Zaky karena mungkin Zaky bisa saja menjadi sahabat barunya.


Pesanan pun datang, mereka akan meneruskan pembicaraan setelah selesai makan.


"Kalian pesan kan ini untuk saya?" Tanya Zaky.


Karin menatap Zaky dalam.


"Kalau bukan buat Lo ngapain di taruh sini?" Jawab Karin balik bertanya.


"Terimakasih" ucap Zaky.


"Oke gue..." Sambung Zaky.


Karin yang mendengar ucapan Zaky pun tersenyum tipis lalu menggeleng ngelengkan kepala pelan. Sedangkan Bima yang melihat Zaky sok polos hanya memutar bola matanya malas.


Mereka makan dengan damai, tak ada suara sama sekali bahkan piring mereka tak mengeluarkan bunyi sedikit pun. Tapi kondisi sepi dan damai itu tak berlangsung lama. Karin terkejut saat tangan Zaky mengusap pinggir bibirnya. Mata mereka saling beradu, Zaky tersenyum sementara Karin sedikit melototkan matanya. Bima yang melihat merasa tak terima dan seperti di permainkan. Seketika Bima menggebrak meja dan pergi tanpa mengucapkan apa pun.


"Bim... Aduh kenapa jadi gini" ucap Karin seraya berdiri lalu mengejar Bima.


"astaga Zaky Lo ngapain sih... gila ya baru aja baikan sama tu anak Lo malah buat masalah lagi..." gerutu Zaky pada dirinya sendiri. Zaky pun pergi meninggalkan tempat itu tak lupa ia membayar semua totalan pesanan.


Sementara Karin berhasil menghentikan Bima. Dia mencoba mengobrol baik baik dengan lelaki yang dia rasa telah berubah 100% itu.


"Hai Lo kenapa? Gue mohon sama Lo jadi Bima yang gue kenal ya..." Ucap Karin penuh harap.


"Gue juga pengen Lo jadi Karin yang gue kenal... Pliss Zaky memang tampan tapi gue gak pernah mau punya sahabat yang suka cari muka Rin.." ucap Bima.


Mendengar ucapan Bima sontak Karin naik pitam. Kesabarannya sudah habis untuk hari ini dan hinaan Bima kepadanya sangat melukai perasaanya.


"Bima!!!" Teriak karin.


Plaakkk... Satu tamparan perih mendarat sempurna di Pipi Bima.


"Lo keterlaluan Bim... Lo arghh..." Ucap Karin di akhiri dengan pukulan pada mobil Bima yang tepat berada di sampingnya.


Tak kuasa menahan amarah dan rasa kecewa Karin hanya bisa menitikkan air mata. Saat itu lah Bima sadar perkataanya sudah melampaui batas. Karin yang kecewa segera pergi menuju mobilnya. Sementara Zaky yang melihat keadaan Karin dari kejauhan hanya diam, jika dia meluapkan amarahnya masalah akan semakin merumit.


Hati Bima menahan sesak melihat gadis tangguh yang dia kenal menangis karena perbuatannya.


"Apa yang Lo lakuin Bim... Lo udah bikin dia nangis Bim.." ucap Bima seraya memukul mukulkan tanganya ke mobil. Ingin rasanya dia menyusul Karin tapi dia tau ini bukan saat yang tepat. Karin hanya butuh ketenangan sementara.


Bima pun meninggalkan restoran itu. Hal yang sama di lakukan oleh Zaky. Walau pikirannya tidak tenang.


Sesampainya di kediaman keluarga santos. Karin berlari menaiki anak tangga dengan pandangan menunduk, tidak ada yang sadar jika dia sudah pulang selain satpam rumah.


Sesampainya di kamar Karin membanting tubuhnya ke atas kasur empuk. Keadaanya yang belum tenang membuatnya ingin sekali menghajar sesuatu. Pilihannya jatuh pada boneka beruang berukuran sedang berwarna coklat yang di berikan Bima pada saat ulang tahunya yang ke 18 tahun. Karin merobek robek boneka itu dengan tanganya sendiri. Setelah puas dengan kondisi boneka yang tak karuan Karin pun tertidur di atas lantai yang di penuhi silikon dari Boneka dengan posisi duduk.


Di markas white crocodile.


.


.


Selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2