Suamiku Musuh Bebuyutan Ku

Suamiku Musuh Bebuyutan Ku
mengurungkan niat


__ADS_3

Bima berjalan dengan mantap mendekati Zaky dan nata yang masih memaku di tempat. sesekali mereka saling melempar pandang sebelum menyelesaikan langkahnya.


"sebuah pertanyaan selalu membutuhkan jawaban bukan pandangan aneh" tegas Bima.


"bim... kita akan jelaskan tapi tidak sekarang" jawab Zaky.


"karena apa? kau takut kehilangan Karin?" cerca Bima.


"ini bukan waktu yang tepat... nanti saat yang sangat tepat di mana semua nya bisa menerima"


"menerima apa? siapa kalian?" Bima menyelidik dalam.


hening beberapa saat sampai pada akhirnya suara Karin menghentikan sebuah jawaban yang hendak keluar dari mulut Zaky.


"sayang... kamu... eh ada Bima sama nata ih ya Nat tadi resa cari kamu" ucap Karin.


"oke" jawan nata singkat lalu pergi meninggalkan Bima dan Zaky yang saling menatap berbicara dengan bahasa kalbu yang hanya angin yang tau.


"kalian... bim Lo gak mau istirahat?"


"gue tunggu jawaban Lo!" tegas Bima pada Zaky lalu pergi begitu saja.


mendengar jawaban Bima Karin sedikit bingung. ia tak tau masalah apa yang tengah menghampiri mereka lagi.


"ada apa sih kok dia gitu?" tanya Karin penasaran.


"gak ada kok... kita istirahat aja yuk" jawab Zaky berusaha tenang.


Hari terus berlanjut dengan keraguan yang terus menghantui kehidupan Hartanto, terlebih dalam kehidupan sang putra yaitu Zaky. masih ia simpan rapat tentang siapa keluarganya yang sesungguhnya di hadapan Karin. ia takut Karin tak dapat menerima itu. begitupun sebaliknya. ada yang Karin sembunyi kan dari Zaky tapi ia juga ragu mengatakannya.


makan malam hari itu terasa berbeda. dengan kehadiran nata dan resa yang masih menetap di sana sampai rumah peninggalan orang tua nata selesai di renovasi. Zaky dan Karin berencana untuk tetap tinggal di rumah Zaky yang sekarang mengingat teror dan juga keadaan orang tua Zaky yang sudah tak lagi muda.


meja makan itu masih terdengar sepi. belum ada pembicaraan satu sama lain kerena mereka masih sibuk dengan hidangan yang tersedia. sesekali kode dari topan untuk Zaky ia luncurkan namun anak itu tak kunjung paham dan mengerti.


"Nat gimana kalau di lihat lihat rumah peninggalan papa dan mamamu bagus gak?" tanya Sarah memecah keheningan setelah makanannya habis.


"bagus kok ma... malah mirip mansion sih kalau aku saking besarnya rumah itu" jawab nata yang juga sudah selesai makan.


Sarah mengangguk angguk. sebenarnya dia sudah tau sebasar apa rumah peninggalan adik ipar nya itu. tapi karena ingin memecah keheningan ia mengambil pembicaraan ini karena di ingat juga teror yang mereka hadapi selama ini juga karena harta di rumah itu kan?.


Hari hari kini telah berlalu. kegiatan di keluarga Hartanto sudah kembali normal. Belum ada teror teror yang berdatangan seperti satu Minggu lalu. bahkan sampai sekarang Zaky masih menyimpan rahasia besar tentang keluarganya. sampai kapankah lelaki itu lelah dengan segala rahasianya? hal serupa pasti di rasakan Karin juga.


"yang... nanti kamu jemput aku atau enggak?" isi notifikasi itu dari nomer Karin.


"iya aku jemput tunggu ya... 30 menit lagi Sampek" jawab Zaky segera.


Semburat senyum terukir manis di ujung bibir Karin begitu pun Zaky. rasanya sungguh berbeda jika di bandingkan dengan masa mereka pacaran. hanya sibuk bekerja dan memetik lelah di malam harinya. jarang komunikasi juga kerap mereka alami. tapi sekarang tinggal serumah bahkan satu kamar membuat rasanya berbeda.


Ketika lelah ingin bercerita tak perlu membuka layar kecil ponsel. sekarang mereka bisa berhadapan secara langsung yang bercerita tentang isi hari ini.


Lain hal nya dengan Zaky dan Karin yang masih di jauhkan karena setumpuk pekerjaan. Nata dan resa kini malah telah bersama menikmati angin rose di balkon kamar. sesekali wajah serius terpampang di antara keduanya dan pasti itu tentang teror. ya teror itu seperti janji buaya darat. tak ada kepastian dari kemunculannya memberi harapan dan keluangan yang tak menentu. apa jalan pikir si peneror sebenarnya? yah sudah biar peneror itu kalang kabut sendiri mengatasi jawaban dari korban. layaknya salah sasaran. keluarga mafia yang malah menerimanya teror itu, bodoh atau gila sang peneror?


"Nat... bagaimana Karin?" tanya resa di tengah keheningan.


"itu bukan urusan ku, Zaky suaminya Zaky yang berhak atas itu. kita ikuti saja apa mau Zaky karena terkadang isi otaknya tak dapat di tebak" jawab nata tanpa mengalihkan pandanganya pada hamparan langit sore.


"aku tau itu... tapi yang ku takutkan lain..."


"apa?"


"aku dan Karin sama, sama sama perempuan jadi apa yang ku rasa pasti Karin juga rasa. ingat saat kau tak pernah mengatakan identitas rahasia mu sewaktu kita pacaran? aku merasa tertipu nat... aku sakit hati tapi itu tak terlalu terasa karena kau segera jujur tapi ini Karin. sampai sekarang ia tak tau identitas keluarga suaminya. apa yang akan di rasakan Nat?" tanya resa dengan mata memandang jauh kesana entah apa yang dia bayangkan.


"jangan berfikir macam macam... aku tak suka melihat mu tertekan karena masalah orang lain. nanti akan ku coba berbicara dengan Zaky mungkin kini dia menunggu waktu yang tepat" nata mencoba menenangkan resa dengan merekuh pinggang ramping resa pada pelukan tangan kekarnya.


Sedikit sejuk rasa hati saat mendapat jawaban itu dari sang suami. resa kembali tenang dengan kondisi masih dalam pelukan nata. lelaki itu diam diam romantis juga hehehe.


Masih di sore yang menampakan sedikit senyum matahari yang setia menerangi bumi di masa pergantian. matahari pembawa kegembiraan itu tak dapat merendam amarah lelaki tiga puluh tahunan pada sang istri. padahal baru tadi pagi ia mendapat hal istimewa dari sang istri. amarah di hati tak lagi dapat ia bendung sehingga dengan mudah dan ringannya dia melayangkan tamparan perih di pipi mulus wanita itu. sementara seorang wanita dengan umur sebaya terus mencoba menghentikan aksi lelaki itu.

__ADS_1


"mas udah! mas seharusnya ingat mbak jezz lagi ngandung anak mas!" teriak wanita itu.


"berisik! urus saja suami mu tanpa menganggu rumah tangga ku paham!" jawab lelaki yang tak lain adalah Andreas.


"Sinta... lebih baik kamu pulang, bukanya suamimu sudah jamnya pulang" lirih jezzy.


"tapi mbak... aku gak bis ninggalin mbak bareng lelaki penuh ambisi harta ini" jawab Sinta dengan tatapan tajam mengarah pada Andreas.


plak...


tamparan itu kini beralih pada pipi Sinta. perempuan lembut dengan karisma seorang ibu di dalamnya. sedikit ia bangkit dari rasa sakit akibat tamparan keras dari kakak iparnya. isi kepala yang hanya berfikir soal harta yang fana membuat lelaki itu buta. tak pernah Andreas berfikir bahwa kini tubuh istri nya juga di huni oleh mahkluk kecil yang belum berbalut dosa.


"Sinta! mas udah mas... dia cuma berniat bantu aku. kalau sampai John tau kau kasar sama istrinya. bayangkan bagaiman kecewanya dia" seru jezzy dengan tertatih tatih.


"aku yakin John tidak keberatan kalau tau sifat istri nya yang selalu mencampuri urusan kita." sanggah Andreas. sungguh gila lelaki itu.


"Sinta... kamu bisa bangun, alahkah lebih baik untuk saat ini kamu pergi. aku akan baik baik saja tenang lah"


"tapi mbak..."


"Ari sebentar lagi pulang kok, kalau dia pulang lihat keadaan rumah kayak gini nanti dia takut. mohon kerja sama nya ya sin" pinta jezzy.


"aku gak bayangin mas gimana tertekannya Ari ada di rumah dan lihat kamu mukul mbak jezzy seperti itu" ketus sinta.


"tak perlu kau bayangkan karena aku yakin otak mu tidak akan sampai!" sarkas Andreas tanpa membantu Sinta berdiri.


Sinta beranjak dari rumah itu lalu bergegas pulang sebelum anak dan suaminya sampai rumah. pulang dari tujuan baik tapi mendapat perlakuan buruk bukan lah hal yang enak di rasakan. harta yang terus suami dan kakak iparnya buru hanya hal yang tidak kan kekal. di tambah lagi cara mereka mendapat dengan cara meneror seseorang.


"andai kau beri tau aku siapa bos mu akan ku pastikan pipi mu akan tetap mulus" hardik Andreas.


"mau kau apakan bos ku? dia tidak ada hubungannya dengan harta yang kau gali itu"


"jelas ada karena keluarga suaminya lah Yang telah mengambil masa kecilku yang seharusnya indah!" jawab Andreas lalu pergi begitu saja tanpa meninggalkan rasa bersalah.


Jezzy mengontrol pelan nafasnya agar tak terdengar memburu. ia terus mencoba tenang sebelum sang malaikat kecil nya pulang dari tempat les.


"hari ini capek tapi entah kenapa ketika melihat wajahmu rasa capeknya hilang" ujar Zaky menggoda.


"mau minta apa?" jawab Karin ketus.


"loh kok gitu..."


"ya kan kamu biasanya kalau lagi gombal ada maunya... sebut aja selama aku bisa aku lakukan"


"oke... nanti malam jatahnya di tambah biar mama cepet dapat cucu" ujar Zaky yang membuat Karin melotot kan matanya.


"ih kamu... jangan gitu geli aku dengarnya" Karin bergidik entah jijik membayangkan atau memang ia merasa geli.


"heheh bercanda sayang"


"berarti buat cucu nya juga bercanda dong"


"eh kalau itu beneran" jawab Zaky cepat.


masih dalam tawa dan rasa malu yang di tahan tahan tiba tiba mobil mereka di hadang secara tiba tiba oleh mobil lain. dengan cepat Zaky menginjak pedal rem yang membuat mereka berdua tersentak kedepan.


"siapa yang?" tanya Karin dengan wajah takut.


Zaky menggeleng. ia tak tau lagi harus berbuat apa. jalan yang sepi karena hari sudah tak sore lagi. mau menelpon nata atau polisi ia juga takut waktunya tidak cukup di tambah ada Karin di sisinya.


"kamu diam di sini... akan aku coba hadapi mereka" ucap Zaky sebelum pergi meninggalkan Karin.


Karin hanya mengangguk pasrah bukan karena dia takut melainkan pura pura takut. karin mengira itu dari musuh bebuyutannya black dragon. tapi jika di pikir dari mana black dragon tau mobil yang dia kenakan. mobil yang dia tumpangi kali ini milik Zaky tidak mungkin anggota black dragon tau soal itu.


"kau Andreas sandres kan?" tanya Zaky mantap.


"bukan, aku suruhannya" jawab salah satu lelaki yang berdiri paling depan di antara gerombolan pria dia belakangnya.

__ADS_1


"pengecut! melawan satu orang dengan lima orang sekaligus, laki laki atau bencong?" tanya Zaky mengejek.


"banyak omongmu anak muda" jawab lelaki itu. dengan gerakan gesit lelaki itu menyerang Zaky tanpa aba aba.


Karin yang melihat dari mobil segera turun. berniat membantu Zaky yang nampak kewalahan dengan mereka. tapi Karin tersadar sesuatu. gerakan yang di gunakan Zaky sama persis dengan gerakan Jack saat melawannya hari itu. gerakan cepat kaki yang menumbangkan tiga lawan sekaligus. membuat Karin berhenti mematung di dekat pintu mobil.


menyadari ada sesuatu yang mencoba menyerang Zaky dari belakang Karin lantas segara berteriak sekencang mungkin.


"Zaky awas di belakang kamu!!" teriaknya. untung beberapa saat lalu ia sudah menghubungi polisi.


tapi sayang beribu sayang, belum sempat Zaky menoleh. sebuah benda keras menghantam tekuk lehernya membuat pandanganya rabun dan seketika menghitam.


Zaky yang tak sengaja melihat ke arah mobil terperangah dia mendapati Karin sudah tergeletak di pinggi jalan tanpa ada seorang pun di dekat wanita tersayangnya. Zaky menaruh pendapat Karin pingsan karena ketakutan padahal ada seseorang yang sengaja memukul Karin dari belakang namun orang itu pergi entah kemana.


Bersamaan dengan itu sirene polisi berbunyi dari kejauhan. suara itu lama kelamaan semakin mendekat seperti sengaja di panggil untuk datang ke tempat sepi itu. sekumpulan para pria bertubuh kekar yang tadinya terlihat gagah berani menghajar habis habisan Zaky sendiri, mendadak jadi kalang kabut. mereka pergi meninggalkan Zaky yang panik melihat kondisi Karin yang tak kunjung sadar.


Lelaki itu masih sibuk mondar mandir kekanan dan ke kiri. menggigit ujung kuku sembari menunggu doktor yang tak kunjung keluar dari ruangan. menambah penasaran saja doktor itu. kini Zaky membawa Karin ke rumah sakit pribadi keluarga mereka. entah bayangan apa yang menghantui diri Zaky sampai sampai ia gerak cepat membawa Karin ke rumah sakit.


"ky... gimana keadaannya Karin?" tanya nata yang sempat di hubungi oleh Zaky tadi.


"dokternya belum keluar, semoga dia gak apa apa"


"siapa yang nyerang kalian?"


"anak buah dari kakak Lo, gue juga gak nyangka mereka seberani ini. kalau mereka udah bawa bawa Karin berarti kita harus bergerak Nat"


"gue setuju, gue juga capek di hantui rasa takut dan sebaginya" jawab nata mantap.


seorang pria berkepala botak muncul dari pintu kaca tempat Karin berbaring. wajahnya terlihat sumringah dengan helaan nafas lega.


"bagaimana keadaan nona muda?" tanya Zaky segera.


"tidak ada luka serius di tubuh nona muda hanya saja sedikit memar di bagian tekuk belakang leher mungkin nona muda habis di pukul dari belakang" jawab dokter keluarga Zaky yang tengah bertugas.


"oh jadi Karin pingsan bukan karena ketakutan tetapi karena di pukul?"


"iya tuan muda, tadi sebelum saya tinggal keluar nona muda sudah sadarkan diri di dalam. saya permisi tuan Zaky tuan nata" akhirnya dokter sebut lalu berlalu pergi.


"iya" jawab nata dan Zaky singkat.


mereka berdua segera meluncur masuk kedalam ruangan di mana Karin masih meringis kesakitan sembari memijat mijat tekuk nya yang terasa nyeri.


"sayang..." panggil Zaky dari ambang pintu.


"eh? iya?"


"kamu gak apa apa? masih ada yang sakit?" tanya Zaky menggebu.


"gak kok cuma sedikit pusing aja, eh nata kamu ada di sini juga?"


"iya tadi Zaky heboh sendiri dan minta aku ke sini" jawab nata datar. "yaudah aku pamit dulu" sambungnya.


"iya.." jawab Karin dan Zaky bersamaan.


Zaky menatap iba istrinya yang terus memijat mijat tekuk sedangkan yang di beri rasa iba malah tersenyum senyum sendiri.


"ada yang lucu?"


"ada wajah kamu hehehe" Karin terkekeh melihat wajah khawatir Zaky yang terkesan lucu baginya.


"udah lah... kita pulang aja oke" ujar Zaky menyembunyikan salting nya karena Karin terus menatapnya dengan tatapan menggoda.


"ayok" jawab Karin singkat


.


.

__ADS_1


Selanjutnya...


__ADS_2