
tanpa kabar pasti membuat hati seseorang yang menyayangi atau di sayangi oleh kita merasa cemas. hati dan pikiran mengambil perkiraan yang tak sama. terkadang negatif terkadang juga positif, sungguh derita orang jatuh cinta.
sudah lebih dari tiga hari Karin tidak ada kabar. begitu pun Bima. kompak tidak ada kabar, hilang bersama dalam kalbu tebal. siapa yang tidak menaruh curiga? pasti banyak anggapan miring tentang keduanya. tapi tidak dengan lelaki satu ini. intuisinya tidak pernah roboh hanya dengan adanya dugaan dugaan baru dari karyawan karyawati kantor Karin mau pun Bima.
huft....
Zaky menghela nafas kasar. jalan buntu lagi yang dia dapat. ingin rasanya ia mengabari papa Karin tapi hal itu ia urung kan. ada rasa takut jika Karin tidak bersama papanya atau papanya tidak tau tentang putri tunggalnya, akan ada anggapan buruk dari Samson untuk Zaky.
"baik terimakasih mbak jezz... nanti kalau ada kabar tentang Karin tolong hubungi saya ya" ucap Zaky lesu. ia segera berjalan menuju pintu utama kantor Karin.
hanya ada bisikan rasa kasihan yang jazzy simpan dalam hatinya. peringatan dan ancaman dari Samson membuatnya enggan buka mulut. walau dia sendiri tidak tau apa yang terjadi pada Karin. bos besar nya itu hanya memperingatkan jika ada orang yang mencari putrinya katakan tidak tau. saat dia bertanya pun jawabannya sungguh aneh "kerjakan saja pekerjaan Karin selama beberapa Minggu ke depan" jawab samson saat pertanyaan itu terlontar.
berjalan dengan gontai menuju parkiran mobil. kembali pikirannya berkecamuk kala membaca pesan singkat dari nata.
*belum ada kabar juga dari Bima* bunyi pesan itu.
tak ingin menambah keraguannya lagi tentang Karin, Zaky segera melajukan mobilnya kembali ke perusahaan nya. namun ketenangan itu tak berlangsung lama. pikiranya tertuju pada charla. Pasti gadis itu berbuat sesuatu pada Karin. pikirnya.
di rumah sakit keluarga Santos.
remang remang cahaya putih tertangkap oleh penglihatan gadis itu. di susul suara pembicaraan dua orang lelaki dewasa. entah sudah berapa hari dia tak sadarkan diri. setelah operasi itu keadaanya semakin menurun. dan hari ini ia baru membuka mata.
"emmm" dehemnya sekuat tenang.
"Karin sadar..." bisik seorang lelaki yang masih terdengar di telinga karin.
terlihat dua lelaki yang usianya seumur itu berdiri secara bersamaan. salah satu lelaki yang mengenakan kaos berkancing menatap sendu putrinya yang baru bangun dari Koma. ini adalah kali ke dua tubuh putrinya itu tak dapat menerima peluru yabg masuk dalam tubuhnya. banyak peluru yang menembus tubuh Karin tapi ada juga yang malah mendiami tubuh itu sampai pada akhirnya keadaan koma lah yang harus di terima.
"papa... maaf kan Karin..." bisik Karin sekuat tenang. ia masih mencoba untuk mengembalikan nyawanya yang telah lama bermimpi indah.
"hai anak papa tidak selemah itu... dia seorang queen. memilik banyak anak buah yang tunduk dan patuh pada nya. pemimpin anggota mafia besar di negara ini... anak papa hebat" Samson menyapu air mata yang mulai menetas di sudut mata karin.
melihat drama ayah dan anak ini, Erlangga hanya diam. tersenyum tipis setelah melihat beban pikiran yang telah lama di pikul mantan king nya ini tepas. bersamaan dengan itu dering ponselnya membuyarkan lamunannya juga drama yang terjadi.
"em... dia ada bersama ku... kami sedang ada bisnis ke luar kota kak" jawab Erlangga, ia mulai melangkah keluar kamar rawat Karin.
mendengar kata "kak" dari mulut Erlangga Karin yakin yang menelpon adalah orang tua Bima. mengingat Erlangga, Karin juga mengingat Bima. dia yakin pada saat itu bukan hanya dirinya yang bertembak. Karin sangat ingat sebelum dirinya yang menjadi sasaran peluru. Bima sudah banyak mengumpulkan tenaga demi dapat melindungi Karin.
"pa... gimana keadaan Bima?" tanya Karin langsung pada intinya.
"dia belum sadar... Bima kehilangan banyak darah tapi bersyukur tim medis mendapat darah dari rumah sakit umum jadi Bima bisa segera di selamatkan. bima koma sama seperti mu bedanya kini dia belum bangun dan kau sudah" jawab samson.
Karin mengangguk paham. rasanya ia sangat ingin melihat sahabatnya tapi sayang, baru sedikit bergerak saja punggung nya terasa sakit. Pasti luka jahitannya belum terlalu kering.
sebuah nama terlintas dalam benaknya. nama yang selalu menemaninya saat di alam mimpin.
"pa hp Karin mana?"
"ada di laci... mau hubungin Zaky?"
karin mengangguk.
"rahasiakan keadaan mu darinya. papa belum yakin dia bisa menerima mu jika tau kau adalah seorang leader mafia."
"Karin mengerti" Karin langsung membuka laci meja kecil yang berada tepat di samping ranjangnya. sedikit susah untuk bergerak tapi tak apa dari pada menimbulkan rasa cemas. Karin memilih menghubungi Zaky lewat via chat. dia takut nada suara yang lemah menjadi pusat perhatian kekasihnya itu.
__ADS_1
*maaf ya... gak pernah hubungin kamu, maaf juga bikin kamu cemas. ini aku lagi berlibur ke vila papanya Bima.*
*kok baru ngabarin?* tanya zaky. ia bersorak akhirnya Karin memberitahu keadaan dan posisinya.
*susah sinyal sayang maaf ya...*
*liburan kemana kok aku gak di ajak*
*di daerah Z, maaf gak ngajak soalnya om Arno ngajaknya dadakan. aku aja belum sempet mandi waktu Bima jemput aku di rumah* Karin tetap mencari alasan.
*waktu di perjalanan kan bisa*
*aku lupa, asik ngobrol sama tante zeni*
*aku jemput sekarang* pesan jawaban yang baru saja di kirim Zaky membuat Karin melotot kan matanya. sekarang bagaimana ini? gumamnya.
"sayang gak usah, gak enak sama keluarga nya Bima kalau kamu nyusul. lagian papa juga yang minta aku gabung sama mereka. aku gak mau papa kecewa dan aku juga gak mau keliatan manja harus nyuruh pacar nyusul* elak Karin.
*ini kemauan aku, kamu gak nyuruh aku nyusul nanti biar aku yang ngomong ke Bima. kamu tinggal share lock aja* Zaky masih bisa mendesak.
*jangan dong... gak enak sama om Arno, sayang kamu percaya sama aku kan. ini kemauan aku... kamu diam tunggu aku pulang Beberapa hari lagi* tolak Karin.
*oke... aku kangen kamu, aku pengen kita Vidio Cell* pinta Zaky.
*sinyalnya susah* jawab Karin. ia sudah mulai lelah menjawab kemauan zaky. dia tau Zaky seperti ini mungkin saking khawatir nya atau rindunya, tapi baginya itu sebuah gangguan. walaupun dia senang Zaky seperti itu.
huft...
Karin menghela nafas kasar setelah mematikan data seluler nya. ia tak ingin lagi berdebat dengan Zaky. staminanya belum terkumpul semua.
"papa kenapa?" tanya Karin.
"mungkin papa gak bisa nemenin kamu samapi keluar rumah sakit, papa harus kembali ke Singapura sayang..." jawab samson, ia berjalan mendekat ke arah putrinya.
Karin membuang muka saat tangan kekar papanya mau menyentuh pipi halus miliknya.
"sepenting itu pekerjaan papa?"
"papa minta maaf, sudah lebih dari tiga hari papa di Indonesia. papa punya tanggung jawab sayang" Samson kembali mengelus rambut Karin.
"sebelum papa pulang Karin mau di rawat jalan di rumah aja, Karin jenuh di rumah sakit"
"tapi..."
Karin memotong kalimat papanya.
"Karin gak akan Bekerja kok, janji Karin bakal istirahat"
"oke... papa urus semuanya" jawab samson akhirnya. tak mungkin ia menolak kemauan putrinya hal itu mustahil. sikap keras kepala yang dia turunkan pada anak satu satunya ini harus ia tuai sendiri.
akhirnya Karin dan Samson berpelukan. melepas rindu. meski Samson telah pulang beberapa hari lalu, karin hanya dapat melihatnya beberapa jam dari dia bangun dari koma tadi.
tok...tok...
pintu ruangan Karin di ketuk.
__ADS_1
"masuk" jawab samson.
seorang lelaki dengan pakaian biasa masuk ke dalam ruangan Karin. kali ini di tidak mengenakan topeng untuk menyembunyikan identitas nya.
"Bima telah siuman king..." lapor lelaki itu yang tak lain adalah James.
"baik lah" jawab samson. ia hendak melangkah pergi, namun terhenti karena tangannya di tarik oleh karin.
"Karin ikut!" Karin berkata tegas. artinya ucapannya ini tidak bisa di bantah siapa pun.
"hm" jawab Samson. ia meraih kursi roda yang berada di pojok ruangan. perlahan menitah Karin untuk duduk di kursi itu.
ruangan Karin dan Bima tidak terlalu jauh bahkan sangat dekat. tepat di samping ruangan Karin tempat Bima di rawat. di dalam ruangan itu nampak dua orang pria sedang berbincang bincang.
"Bima..." panggilan Karin.
"gimana keadaan Lo?" tanya Bima saat menyadari Karin masuk.
"kebalik seharusnya gue yang banyak kayak gitu..." kilah Karin. "gue udah sadar dari tadi siang dan gue baik baik aja, kalau Lo" sambung Karin.
"hahaha... gue juga baik baik aja kok, cuma dada gue masih nyeri"
Samson dan Erlangga saling berpandangan. mereka tau situasi apa sekarang. Samson memberi isyarat pada Erlangga agar mengikutinya keluar ruang itu. agar dua sahabat yang lama tak bertemu secara nyata bisa bertukar cerita atau masalah yang menjadi atau tanda tanya di pikiran mereka masing masing.
"udah ngabarin Zaky?" tanya Bima tiba tiba.
Karin menangkap ada tatap tak biasa dari sahabatnya ini. sebuah rasa yang harus di paksakan untuk segera lenyap dan musnah. apa lah daya nya yang tak dapat melakukan apa pun demi mengganti rasa sakit itu. hanya pura pura tidak tau dan tidak sadar bahwa ada luka yang terus di balut kapas. Sampai kapan mungkin waktu yang akan menjawab.
"u...udah kok tadi" jawab Karin memaksakan senyumnya. "tapi aku gak ngomong kalau kita ada di rumah sakit, aku ngomong kita lagi liburan sama keluarga kamu" sambung Karin.
mendengar kalimat susulan dari Karin, Bima heran. mengapa dia tidak jujur saja. apa ini karena status mafia mereka berdua? entahlah hanya Karin yang tau.
"kenapa Lo gak Ngomong kalau kita ada di rumah sakit?"
"terus kalau dia nanya 'kenapa' kita harus jawab apa?" Karin balik bertanya.
"jawab sejujur jujur nya Rin, apa yang Lo takutin kalau dia tau kita mafia?" ucap Bima, ia sedikit memelankan suaranya.
"gue takut dia ninggalin gue." jawab Karin spontan. dari mana ia mendapatkan kata kata itu dia juga tidak tau.
deg...
"sampai seperti ini kah rasa cinta mu padanya? kau sangat takut kehilangan Zaky dalam hidupmu Rin.." bisik Bima dalam hati.
"lelaki yang tulus cintanya sama Lo, dia gak akan ninggalin Lo. status, jabatan, rupa pun bisa dia abaikan itu namanya cinta Rin" ucap Bima penuh penekanan.
"gue belum siap." jawab Karin lirih.
hening...
.
.
selanjutnya...
__ADS_1