
Suster bergegas mengambil salah satu ranjang kosong dan langsung membawa Bima ke ruang ICU.
Karin menunggu sendiri sebab dia menyuruh dua anak buahnya menunggu di mobil. Dengan perasaan cemas rintih doa terdengar dari mulutnya. Perasaanya campur aduk antara menyesal, sedih juga kesal.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan. Wajahnya terlihat sumringah di campur rasa ingin tau yang besar.
"Dok Gimana keadaan temen saya" tanya Karin.
"Syukurlah nona teman anda baik-baik saja" jawab dokter Rudi dengan senyum.
"Hah syukurlah..." Ucap Karin lega.
"Apa saya boleh tanya, bagaimana tuan muda bisa mendapat luka seperti itu?" Tanya dokter hati-hati sebab setau Rudi tidak ada kecelakaan atau apapun yang bisa menyebabkan luka bakar dan sayatan secara bersamaan, kecuali siksaan.
"Apa papa membayar dokter untuk menjadi wartawan?" Tanya Karin dingin.
Jujur saja dia khawatir identitas keluarga nya yang keturunan mafia menyebar. Sebab ayahnya pernah mengatakan jika lawan mengetahui latar belakang kita akan menjadi hal yang mudah untuk menyerang.
"Ba... Baik nona"
"Mm.. apa saya boleh masuk?" Tanya Karin suara menghangat kembali.
"Ya nona silahkan" jawab dokter Rudi.
"Saya permisi nanti akan ada dokter pengganti karena sift saya sudah hampir habis" lanjut dokter Rudi.
"Hm" jawab Karin. Dia masuk ke ruangan. Melihat keadaan Bima yang terbaring tanpa baju atasan. Luka nya di tutup perban saking parahnya.
"Apa yang Lo lakuin la...? Yang pantas dapet Luka ini Tina buka verel..." Rintih Karin masih menyalahkan dirinya.
Tanpa di sadari Karin, ternyata Bima sudah sadarkan diri. Dia sengaja menutup mata menahan perin yang ada di badanya ternyata ini yang dia dapat. Rintihan rasa bersalah dari sang pujaan hati.
"Saya baik-baik saja queen.." ucap Bima tersenyum.
Karin terkejut mendengar suara Bima.
"Dengar ini rumah sakit bukan di markas cukup panggil aku Karin!" jawab Karin. Dia berjalan mendekat ke arah Bima berbaring.
"Ok... Lo yang nyakitin gue dan Lo yang nangisin gue.. pemandangan langka queen" jawab Bima beserta ledekan.
"Ih gini-gini gue masih punya hati tau" elak Karin. Karin memukul pelan lengan Bima yang di perban.
"Awww.. sakit!" Rintih Bima.
"Up sorry.. sakit ya makannya jangan macam-macam" ucap Karin sedikit mengeraskan pukulanya pada Bima.
__ADS_1
"Hahhh iye-iye" jawab Bima di iringi tawa.
"sakit ini seketika lenyap di bawa oleh senyummu" batin Bima.
Saat tengah asik mengobrol Karin mendapat sebuah panggilan telepon dari sang ayah.
"Ya pa ada apa?" Tanya Karin.
"Papa mau ngomong sesuatu sama kamu. Kami pulang sekarang bisa nak?" Ucap Samson dari sebrang.
"Oh iya pa bisa kok" jawab Karin. dia segera berpamitan pada Bima.
"Oy gue mau pulang dulu biasa di suruh sama bokap" ucap Karin.
"oh dasar anak bokap hahaha" ledek bima.
"Oke dah sana perawatnya cantik-cantik kok di sini gue betah hiya hahah" lanjut bima masih diiringi gelak tawa yang semakin keras.
Karin segera pergi dari rumah sakit milik keluarganya itu. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hari ini sungguh aneh baginya. Untuk pertama kalinya dia menghukum seseorang lalu mengkhawatirkan orang itu.
"Sumpah kayaknya otak gue kejedot deh tapi gue kayak ga kejedot tu.." ucapnya berbicara sendiri.
"Oya tadi pagi kan gue nabrak orang apa gara-gara itu ya, eh buset gue kenapa jadi kebayang wajahnya terus ngomong sendiri lagi" lanjutnya.
Di markas black dragon..
"Jack!" Panggil topan. Nadanya sedikit tinggi sebab sedari tadi anaknya di panggil tak kunjung menjawab.
"Ha... Papa" jawab Jack tersadar dari lamunannya.
"Fokus pada tujuanmu, lacak dimana saja letak markas white crocodile" ingat topan pada putranya.
"Iy...iya pa, mereka siapa?" Tanya Jack saat melihat beberapa lelaki berumur 40 tahunan.
"Mereka? Mantan anggota black dragon yang bertugas melacak tempat-tempat rahasia" jawab topan.
"Berikan mereka intruksi, latih mereka kembali, papa akan mengurus mama mu" lanjutnya.
"Mama? Ada apa dengan mama?" Tanya Jack penasaran.
"Dia bersikeras ingin mencari adikmu sendiri papa takut dia salah langkah dan menjadikan situasi ini lebih kacau" jalas topan.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, topan akhirnya meninggal anaknya dan beberapa orang yang di bawanya. Jack juga tak ambil diam, dia segera menyusun rencana dan mulai melatih suruhan papanya.
"aku aman untuk saat ini..." Batin Jack bernafas lega.
__ADS_1
Kembali kepada Karin.
"ada apa papa menyuruhku pulang cepat?" Tanya nya dalam hati.
Hingga sampailah di kediaman keluarga santos. Samson yang sudah menunggu putrinya pulang, memeluk Karin dengan hangat.
"Ih papa kenapa sih?" Tanya Karin melepas pelukan papanya.
"Anak papa masuk dulu gih ngomong di dalam saja" jawab Samson sambil mengacak-acak rambut putrinya.
"Ah papa..." Rengek Karin membenahi rambutnya.
Mereka berdua masuk kedalam rumah bersama. Karin yang begitu manja bergelayut di lengan kekar milik ayahnya. Samson yang melihat tingkah putrinya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
Masuk ke ruang keluarga yang mana dulu pernah menjadi tempat gelak tawa mereka pecah. Namun sekarang telah berubah. Kepergian Ratih begitu cepat dan mendadak.
"Mama... Kakak rindu mama" ucap Karin seraya mengelus sofa tempat biasa mamanya duduk.
"Sudah... Mama sedih liat kamu lemah Rin" ingat Samson.
"Hm.. iya pa" jawab Karin singkat.
"Oya Papa mau ngomong apa sampai menyuruh Karin pulang?" Lanjutnya.
"Sayang.. papa besok akan kembali ke Singapura" jawab Samson hati-hati.
"Haa! Why pa? Why?" Tanya Karin sedikit terkejut dengan keputusan papanya. Dia mengira setelah kepergian mamanya, papanya akan tetap tinggal di sini bersama nya.
"Maafin papa Karin, papa tidak bisa meninggalkan pekerjaan papa lebih lama" jelas samson.
"Pa.. ih papa gak sayang sama Karin. Papa lebih mementingkan pekerjaan dari pada Karin" jawab Karin. Air mata nya sudah hampir tumpah.
"Ck... Tidak sayang.. papa sayang banget sama Karin tapi Karin ngertiin papa ya, papa janji setiap akhir bulan papa akan pulang" ucap Samson berusaha bernegosiasi dengan putrinya.
"Pa... Pindah kan saja perusahaan papa ke Indonesia" jawab Karin.
"Tidak semudah itu sayang memindahkan perusahaan dari negara ke negara lain" jelas samson.
"Ok... Papa egois!" Jawab Karin. Air mata telah tumpah. Sungguh sakit hatinya ketika pekerjaan lebih penting darinya. Akhirnya dia tak kuasa menahan lagi. Dia pergi ke kamar dengan tangis yang terisak.
Samson yang melihat hanya diam saja. Dia sendiri tak memiliki pilihan. Mau tidak mau ini keputusanya. Karin sudah dewasa kelak dia akan mengerti sendiri situasi yang tengah dirinya hadapi.
.
.
__ADS_1
Selajutnya...