
Di markas white crocodile.
Charla masuk kedalam markas tanpa permisi atau memberitahu anak buahnya terlebih dahulu. Wajahnya terlihat pucat dan seperti tak bertenaga. Tak ingin kemana mana charla masuk kedalam ruangan priv lalu menguncinya. Para anggota white crocodile yang melihat hanya menatap heran tak berani bertanya bahkan berbisik. Kondisi seperti ini lah yang di takutkan oleh anggota white crocodile sebab setiap ada yang mengganggu charla nyawa mereka yang akan terancam.
Tanpa sadar hari sudah semakin sore namun charla tak kunjung keluar dari ruangan itu, entah dia sudah makan apa belum anak buahnya tak berani mengetuk pintu. Salah salah akan membangkitkan iblis yang tertidur dalam diri charla. Tak berapa lama kemuadian verel datang dengan setelan jas yang masih melekat, ia berniat ingin masuk ruangan priv tapi tiba tiba di tahan oleh anak buah charla yang lain.
"Queen sedang ada di dalam lebih baik diam saja sampai dia keluar sendiri" ucap James mengingatkan.
"Queen? Sejak kapan dia kemari?" Tanya verel.
"Sejak tadi pagi, kami kira akan ada tugas baru tapi setelah queen masuk dia tidak keluar sama sekali" jelas James.
Verel hanya menjawab dengan anggukan pelan. Dengan keberanian yang dia tabung dari kemarin malam mambuatnya nekat mengetuk pintu rungan itu.
Tok...tok... Tok...
"Cha... kamu ada di dalam? Tolong bukakan pintu ini" ucap verel menahan takut.
"Jangan pura pura polos bodoh kau punya kuncinya!" Jawab charla dingin. Suaranya seperti tepat di belakang pintu yang tertutup.
"Oh sorry aku lupa" ucap verel mencari sebuah kunci di sakunya.
Setelah verel masuk dia mendapati charla sedang duduk bersender di dinding tempat tidurnya. Dengan tangan yang memutar mutar ponsel charla melayangkan tatapan tajam pada verel. Bukannya takut verel malah tersenyum manis ke arah charla. Tak ingin mengganggu mood charla, verel memilih duduk di meja kerjanya sambil memeriksa berkas berkas yang dia bawa.
Dert...dertt...
Sebuah panggilan masuk ke ponsel verel.
"Ya sa...?" Jawab verel.
"Meeting? Ini sudah lewat jam kantorkan?" Sambung verel.
"Ya sudah aku akan segera kesana" akhir verel. Sebelum meninggalkan rungan priv, verel membuka Leci untuk mengambil beberapa berkas. Tanpa di sadari, dia menjatuhkan sebuah buku kecil. Karena tergesa gesa ia tak sempat merapikan kertas kertas yang jatuh.
Charla yang melihat kebiasaan verel masih sama seperti biasanya, hanya menghela nafas panjang.
"Apa kau bisa rapi sedikit?" Tanya charla tanpa memindahkan pandanganya dari layar ponsel.
"Sorry queen, aku buru buru... Bye.." ucap verel seraya berlari kecil kearah pintu.
"Dasar kebiasaan.." gerutu charla. Sebenarnya dia lebih penasaran dengan buku kecil berwarna coklat yang di jatuhkan verel. Dia rasa tidak pernah memiliki atau melihat verel membawa benda itu masuk kedalam ruangan pribadi mereka.
Sesegera mungkin charla mengambil kesempatan untuk mendapatkan apa yang dia incar. Tanpa ragu charla membuka buku itu. Hampir mirip dengan buku diary tapi buku ini lebih kecil dari ukuran biasanya. Ia baca satu persatu diary milik sahabatnya, dia sadar hal itu tidak sopan tapi rasa penasarannya lebih besar dari pada rasa sopan nya kala itu.
Hingga tiba di suatu lebar charla membaca dengan teliti bahkan sampai mengulangnya dua kali untuk memastikan. Matanya melotot secara tiba tiba dan di sambung dengan tanganya yang memegang kepala.
__ADS_1
Markas black dragon.
Seorang lelaki tengah mondar mandir di depan para lelaki berbaju hitam.
"Kita harus susun rencana untuk membalaskan dendam adikku!" Bentak leadernya siapa lagi kalau bukan Jack.
"Aku kira kau melupakan kematian adikmu karena gadis itu" bisik nata.
"Sekarang aku sebagai Jack tidak semudah itu aku mengikhlaskan kematian adikku, tapi entah lah saat aku mejadi Zaky..." Balas Jack masih dengan berbisik.
"Kita susun rencana dan aku mengandalkan kalian, karena kalian yang sudah melacak letak markas white crocodile" sambung Jack, kini suaranya mengeras dan terarah ke anggota rahasia yang di bawa papanya waktu itu.
"Susun strategi, buat denah markas white crocodile yang sudah kalian temukan. Sekarang!!!" Perintah Jack lagi.
"Dan untuk yang lain berlatih lah" sambung nata.
Sore itu kegiatan sangat padat di markas black dragon. Semua di sibukan dengan tugas tugas mereka. Jack yang sebenarnya ingin membalas kematian adiknya kemarin malah disibukan dengan jati dirinya sebagai Zaky. Tapi tak apa hal yang di tunggu akan segera tiba. Hancurnya anggota white crocodile adalah impian Jack selama ini.
Kembali pada posisi verel/Bima.
Usai meeting Bima segera membereskan berkas berkas tanpa bantuan siapa pun. Selesai dengan pekerjaannya, Bima berniat akan kembali kerumahnya tapi tiba tiba ia terperanjat kala mengingat sesuatu.
"Buku itu... Dimana?" Tanya bima pada dirinya sendiri.
"Ya barang ku ada yang hilang, buku kecil berwarna coklat" jawab Bima panik. Buku itu selalu bima bawa saat ia akan pulang kerumah orang tuanya, menginap di apartemen bahkan saat menginap di markas tapi sekarang buku itu tidak ada. Buku itu teramat penting karena menyimpan rahasia tentang perasaanya dua tahun lalu.
"Maaf tuan bukannya saya tidak ingin membantu tapi orang tua saya sudah menanyakan keberadaan saya apa saya di perkenankan untuk pulang terlebih dahulu?" Izin resa sopan.
Resa sendiri adalah janda muda yang di tinggalkan suaminya untuk selamanya karena serangan jantung setelah mereka mengadakan resepsi. Usianya masih 21. dialah anak salah satu pengusaha maju di atas perusahaan Bima. walau begitu resa tak sombong diri sejatinya kekayaan yang pernah ia milik itu bukan dari jerih payahnya melainkan jerih payah kedua orang tuanya. menjadi asisten Bima bukan Bima sendiri melakukan hal itu karena dia kasihan dengan resa, baru merasakan kebahagian beberapa jam setelah itu kebahagiannya di ambil untuk selama lamanya.
"Baiklah... Silahkan pulang ini juga sudah larut malam" jawab Bima.
"Terimakasih tuan..." Akhir resa.
Setelah kepergian resa ada panggilan masuk di ponsel Bima. Nama Karin Santos tertera pada panggilan.
"Ya... Ada apa?" Tanya Bima.
"Bim apa kita bisa bertemu setelah kau selesai meeting?" Jawab Karin dari sebrang.
"Oke... Aku sudah selesai meeting... Kita bertemu dimana?" Jawab Bima.
"Resto Dahlia. Secepatnya" akhir Karin setelah itu panggilan terputus. Bima sesegera mungkin menuju tempat yang di tunjukan Karin.
"semoga dia tidak mengajak lelaki itu..." batin Bima sambil mengendarai mobilnya.
__ADS_1
Sesampainya di resto Dahlia Bima mendapati seorang perempuan berpostur mirip Karin yang duduk banggu berurutan angka 2.
"Kau sudah sampai saja" ucap Bima sambil menarik kursi untuk dia duduki.
"Ya karena aku yang mengajak mu" jawab Karin tanpa menoleh.
"Apa kau sudah pesan?" Tanya Bima basa basi.
"Sudah, pilihan mu, ku sama kan dengan pilihanku" jawab Karin masih tanpa menoleh.
"Hm...iya" jawab Bima masih menutupi rasa canggungnya.
Pesanan Karin pun datang. Tanpa basa basi lagi karin segera memakan makanannya begitupun dengan Bima. Setelah makanan mereka habis Karin membuka tasnya.
"Kau mencari ini kan" ucapnya sambil mengeluarkan buku kecil berwarna coklat.
Sontak Bima terkejut buku yang dia cari ada di tangan Karin saat ini.
"Di...di mana kau menemukanya" tanya bima gugup.
"Kau sendiri yang menjatuhkan nya" jawab Karin singkat.
"Aku bukan hanya menemukanya tapi aku juga membaca isinya" lanjut Karin semakin membuat Bima bergemetar. Bukan apa di peraturan white crocodile siapa pun anggotanya apa pun kedudukannya di larang memiliki rasa yang lebih kepada teman lawan Janis apalagi dengan queen mereka. Peraturan itu yang membuat Bima ketakutan saat ini.
"Baik kau sudah tau semuanya... Kau tau alasanku bersikap berlebihan dengan mu, aku juga tau hukuman apa yang harus aku jalani karena menentang peraturan. Silahkan saja hukum aku" ucap Bima serius.
"Bim... Lo gak salah... Gue memperlakukan Lo sama seperti gue memiliki rasa sama Lo, gue tau itu sama seperti gue kasih harapan buntu ke Lo. perasaan Lo ke gue gak salah dan gak akan gue hukum. Lo salah mengartikan dan gue salah bersikap kita sama sama salah dan gue yakin Lo ngira gue punya perasaan lebih ke Lo tapi itu semua salah. Gue nganggep Lo sekedar sahabat. Sorry banget gue buat Lo merasa terbebani dengan sikap gue. Gue minta maaf sekali lagi Bim" jelas Karin menghadap tepat ke arah mata Bima.
"Santai aja gue tau Lo siapa bahkan gue tau siapa yang ada di dalam hati Lo saat ini. Lelaki itu" jawab Bima di iring senyum pahit.
"Bim... Gimana caranya Lo tau itu, Lo bener ada perasaan aneh saat gue ketemu sama dia untuk yang kedua kalinya tapi gue belum yakin sama perasaan gue sendiri" jelas Karin lagi.
"Ya gue tau itu... Tapi Rin saran gue selidiki dia dulu gue takut Lo sakit di akhir nanti" balas Bima.
"Bukunya gue ambil dan gue permisi" izin Bima masih memasang senyum pahit.
Karin hanya menjawab dengan anggukan. Dia sadar akan sifatnya selama ini ke Bima yang memberi harapan pada lelaki malang itu. Tapi dia lega Bima bisa Jujur akan perasaannya yang dia pendam dua tahun lamanya. Jika saja Karin tidak mengambil buku itu pasti rasa sakit di hati Bima akan lebih parah. Karin juga tidak melupakan pesan Bima untuk menyelidiki siapa Zaky dan bagaimana keluarganya.
Sementara posisi Bima yang mengendarai mobilnya menuju tempat tinggal orang tua nya masih dalam keadaan kacau. Jujur saja dia masih belum ikhlas melepas Karin semudah itu setelah dua tahun memendamnya. Kekacauan dalam pikirannya membuat Bima tidak fokus mengarah ke jalan. Dia terkejut saat ada sebuah pick up yang menyalip mobilnya, Bima membanting stir dia pun menabrak pohon tepi jalan.
.
.
Selanjutnya...
__ADS_1