
Sore itu verel tengah sibuk dengan layar komputer di depannya yang menyediakan beberapa gambar potret seorang laki laki. tidak ada yang aneh dari foto itu dan itu juga yang membuat verel merasa jengkel. berhari hari dia sia siakan hanya untuk menanti sebuah kebenaran atau sekedar petunjuk baru tapi nihil, tidak ada yang dia dapat sampai sekarang.
Beberapa kali verel mengezoom foto foto itu tapi tetap saja tak ada yang dia temukan selain benda hitam yang terselundup di kantong celana lelaki di foto yang tak lain adalah Zaky. benda hitam yang terlihat hanya sedikit saja telah mampu membuat otak verel menemukan jawabannya. sebuah senjata api yang menampilkan gagangnya saja. verel sudah yakin jika Zaky bukan sekedar CEO tapi dia juga menyimpan dunia gelapnya di belakang Karin.
"sialan!" umpatnya. "sudah ku duga dia menjebak Karin dengan kata cinta" lanjutnya.
rahang verel mengeras tangan terkepal, wajah merah menandakan dia tak akan diam saja mengetahui hal ini. padahal belum tentu seseorang yang memiliki senjata api seperti itu adalah penjahat yang di maksud oleh verel sendiri. tapi saat itu verel belum mampu menahan rasa marah dan kecewanya.
Sebuah tepukan agak keras di bahu verel membuat laki laki itu terperanjat dengan segudang amarah, rasa ingin menonjok pipi orang yang berani menepuk singa yang sedang marah. tapi saat dirinya membalikkan badan matanya melotot. tak disangka laki laki besar tinggi itu sudah berdiri tegap di hadapannya.
"om... ada apa?" tanya verel Setengah terbata.
"seharusnya saya yang bertanya, kamu kenapa ada di sini. ada tugas dari Karin?" tanya lelaki tersebut yang tak lain adalah Samson.
"e..enggak om, lagi cek cek markas" dengan kelincahan tanganya, dia dapat dengan mudah mengganti layar komputer.
"cari tau tentang Zaky?" tanya Samson yang berhasil membuat verel henti jantung. "tak perlu lagi kau cari tau tentangnya kerena aku dan Karin telah mengetahui segalanya, bukan lagi sebuah dugaan" bohong Samson
"oh tidak om" jawab verel bohong.
"tidak perlu, om tau semuanya. Zaky adalah menantu om dan akan seperti itu sampai nanti. ikhlaskan Karin bahagia, saya mohon" ucapan Samson bak petir bagi verel. bukan lagi sebuah sindiran tapi kata kata mutlak yang di layangkan untuk dirinya.
"iy... iya om" jawab verel lalu pergi meninggalkan markas dengan rasa tak enek di hati. entah kata kata dari Samson yang menyakitkan atau rasa bersalah pada tindakan nya yang membuat dirinya merasa seperti itu.
Samson menatap punggung pemuda yang selalu ada di sisi Karin selama ini. begitu rapuh punggung itu nampaknya karena yang di inginkan tak sesuai ekspektasi. biarlah nanti dia mendapat yang jauh lebih baik. pikirnya.
Angin sore telah berganti malam. memang bukan orang biasa lelaki itu. dia masih mencoba untuk menyelediki lebih lanjut tentang siapa Zaky sebenarnya. ada rasa aneh ketika ayah kandung dari Karin mengatakan bahwa dia dan putrinya telah mengetahui segalanya. verel masih berpendapat Karin belum tau tentang siapa suami.
"sudah ku yakini kau akan kembali, padahal tadi yang menegurmu adalah mantan pemimpin white crocodile sendiri" ucap James saat mendapati verel mendekati komputer.
"demi kebaikan queen!" jawab verel santai.
"sungguh? bukan ego?"
"maksud mu?"
"hampir semua nya tau kalau kau pernah memilik rasa kepada queen, dan itu melanggar aturan white crocodile!" ucap James penuh penekanan.
"punya pasal apa kau dengan aku? terlihat jelas kau tengah mencari gara gara" James berhasil membuat verel naik pitam. "bukanya kau yang setuju dengan ini semua, kau hanya meminta untuk tidak ada perseteruan di antara kami saja, tapi sekarang kau cari masalah!" sambungnya dengan nada tinggi.
"kerena aku merasa percuma... king sudah tau kemauan mu dan jika dia memberi tau queen semua tak akan sama. white crocodile akan terbagi menjadi dua dan itu sulit di satukan" james menatap yakin pada verel.
mendengar perkataan James, verel menunduk diam. apa yang di katakan James bukan hanya sebuah ancaman tapi semacam ramalan jika dia tak dapat mengatur keinginanya yang akan menghancurkan segalanya. termasuk anggota white crocodile yang telah terbentuk sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.
__ADS_1
Di kegelapan lampu temaram yang sengaja di hidupkan menandakan bahwa penghuni rumah telah beristirahat. membuat wanita itu percaya dengan keadaan dan memutuskan untuk keluar kamar dengan mengendap endap.
Sebelum ia bener bener menutup pintu kamar, matanya yang teduh menatap sendu wajah manis di ranjang sana. sudah berkhianat kah dia malam ini?. dengan berniat keluar rumah tanpa memberi tau lelaki yang tidur di sana? entahlah nanti saja ia pikirkan.
Sampai benar benar ia menutup pintu kamar dengan pelan dan berjalan pelan pula menuruni anak tangga. dengan harapan tak meninggalkan suara sedikit pun.
bruk!!
"sial" umpat nya dalam hati. "siapa?" bisiknya dalam hati lagi.
"Karin, itu kamu... papa tau" ucap sosok yang dia tabrak.
seketika matanya membulat sempurna saat mendapati suara pelan tapi menggelegar di telinganya. pelan ia mendongak mendapati wajah datar di atasnya yang tersorot lampu meja.
"mau kemana malam malam seperti ini?"
Karin diam tak tau harus menjawab apa.
lama topan menanti sebelum akhirnya paham tentang keadaan yang ada.
"lanjutkan perjalanan mu, mungkin ada misi penting malam ini bagi mu"
mendengar ucapan datar serta halus dari topan, tubuh wanita itu bergetar hebat.
"papa tau segalanya dari papamu, tak usah kau ragukan papa karena papa akan diam selama kamu belum siap mengungkap identitas aslimu" topan masih dengan ekspresi yang sama.
"jangan pulang terlalu pagi, papa akan sulit mencari alasan jika sampai Zaky tau kamu keluar malam" ucap topan lalu berlalu dari hadapan Karin.
mendengar itu karin pun menganggu. dengan cepat Karin melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Tepat pukul 00.30 Karin telah sampai ke tempat tujuan. tanpa basa basi ia segera memasuki gedung tua itu. pintu ia buka secara perlahan takut ada anak buahnya yang tengah tertidur. ia segera menuju tempat banyaknya komputer yang biasanya di jaga oleh deon.
Seperti dugaan nya, laki laki itu di temani James tengah mengotak atik komputer yang entah eror atau apa, tapi yang jelas dia butuh komputer dan membuat ahlinya untuk keinginan nya sekarang.
"Deon, James..." panggil charla.
Mendengar suara itu, deon mau pun James sama sama terkejutnya bukan main. kini mereka dalam keadaan yang tidak baik.
Charla melangkah pelan mendekati deon dan James yang diam tak menjawab panggilannya. jelas dia melihat jika layar komputer tidak eror tapi tengah dalam keadaan menyala kan CCTV jalan di sekitar kompleks yang tak asing di matanya.
"dapat tugas dari mana kalian, kenapa kalian mengintai kompleks perumahan suamiku?" tanya charla tanpa basa basi lagi.
"tidak queen, kami hanya memastikan queen aman di sana" jawab James cepat.
__ADS_1
Charla tak bisa di bohong, dapat dia lihat jelas segumpal kebohongan menumpuk di mata James dan ketakutan ada di mata deon. tapi itu bukanlah masalah untuk kali ini. dia hanya ingin satu hal.
"kalian jelas mengenal keluarga Hartanto, keluarga suamiku. kini keluarga itu tengah di teror dan aku meminta pada kalian untuk mencari tau siapa meneror itu. paham!" perintah charla.
"siap queen" ucap James dan deon bersamaan.
Dengan segera deon membangunkan anak buahnya yang tertidur untuk membantu nya.
"setelah ketemu kenari aku" lanjut charla.
Deon, anak buahnya serta James mengangguk.
Mendengar ada suara riuh di luar sana, verel langsung keluar dari ruangan priv, yang tadinya dia gunakan untuk istirahat.
Seperti di beri kejut listrik saat melihat wanita berhoodie hitam dengan tudung di kepalanya. nampak sulit di kenali tapi mudah bagi verel mengenali wanita berhoodie itu.
Merasa ada seseorang yang berdiri di belakang nya, spontan dia membalikan badan tanpa aba aba. membuat seseorang yang ada di belakang terkejut bukan main.
"verel? ada perlu apa kau kemari?" tanya charla.
Mendengar suara queennya, deon maupun James sama sama membalikan pandangan. begitu pun pada anak buah deon yang tadi di bangunkan.
"rel? ada apa? kenapa diam?" sambung Karin setelah verel memilih diam beberapa saat.
"aku lelah, aku juga ingin memastikan keadaan markas setelah kau hidup bahagia dan lupa siapa dirimu" ucap verel lebih seperti sindiran.
"kau datang hanya karena kau memilik keinginan kan?" lanjutnya.
"hah? rel come on kau selalu begitu. ada apa? oh kau sedih melihat ku bahagia?" jawab charla tak kalah membuat verel diam terperangah.
tanpa kata lagi Verel segera pergi dari tempat membuat nya panas dingin tapi saat membalikan badan dirinya terkejut kala melihat Samson telah berdiri tegak di depan pintu masuk.
"papa" lirih charla saat mendapati lelaki paruh baya itu.
"sudah ku duga kalian bermasalah lagi..." ucap Samson. perlahan ia mendekati charla dan verel yang membatu di tempat.
"ada apa Cha... rel?" tanya nya. "bukan kecemburuan dan keegoisan kan yang menghancurkan persahabatan kalian?" lanjutnya.
"bukan" lirih verel dan charla bersamaan. "mungkin..." sambung verel lalu pergi begitu saja meninggalkan kan markas.
Bukan bermaksud menjadi pengecut, dirinya hanya tak ingin kemarahan nya tumpah ruah di sini. bukan hanya ia ingat sebuah ego kecil bisa memecah sebuah kelompok besar.
.
__ADS_1
.
selanjutnya...