
tepat hari ini hampir seluruh karyawan karyawan dari perusahaan Ratih Santos melakukan pekerjaan mereka secara daring. pembangunan lanjut yang di lakukan di perusahaan membuat mereka harus terus bekerja walau tak melakukan tatap muka. dari meeting bahkan penyerahan berkas di kirim melalui email.
Karin duduk manis di antara tumbuh tumbuhan hijau nan asri. halaman belakang rumah menjadikanya lebih rileks saat menjalankan pekerjaan. ia juga lebih fokus bekerja di banding bekerja di kantor. udara alami yang di suguhkan juga membuat Karin termanjakan. yang lebih utama dan paling Karin senangi adalah ia tak harus mandi untuk bekerja. tidak harus juga berpakaian rapi dan menenteng tas kemana mana. ia cukup mengenakan kaos oblong dengan celana pendek untuk bekerja. Karin tergolong wanita rumahan yang gak suka mandi. bahkan Karin sering sekali tidak mandi saat harus ke markasnya sebagai charla.
"makasih ya Bi" ucap Karin saat bi ina meletakan jus jambu di meja.
"iya sama sama non" jawab bi Ina. namun bi ina tak langsung pergi ke dapur. diam termenung dan sambil menatap layar laptop. sekilas bibirnya bergerak kecil membaca tulisan halus di layar cerah itu. tak lama setelah membaca tulisan itu bi Ina memegang kepalanya.
Karin melirik bi Ina. "bibi kenapa?"
"duh non bibi bingung begituan kerjaan anak zaman sekarang kok Bikin pusing" jawab bi Ina memijat mijat kepalanya.
"hahaha bik...bik ada ada aja" Karin terkekeh.
bi Ina tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam rumah. sedangkan Karin menatap bi Ina sampai tubuh besar tinggi itu menghilang. entah dari mana senyum tipis terukir di bibir.
melamun lama sampai dering ponsel membuayarkan lamunan tidak masuk akal itu. nama "Zaky alfahri♥️" terpampang di layar ponselnya.
"Zaky? huh secinta itukah dia dengan ku?" Karin tersenyum. bukannya Karin merasa pede dengan tingkah Zaky hanya saja Karin merasa Zaky terlalu peduli dengannya. dari zaman awal pacaran sampai hampir dua bulan pacaran setiap jam lelaki itu selalu menghubunginya.
"halo by... kamu lagi dimana?" tanya Zaky dari sebrang.
"aku di rumah, ada apa sayang?"
"oh pantes aku ke kantor kamu, sepi karyawan tapi banyak tukang bangunan. kantor kamu jadi di renov lagi ya"
"iya jadi, ada apa kamu telpon tiba tiba?"
"nanti malem kamu ada janji gak?"
"gak ada"
"oke nanti aku jemput jam tujuh ya by... ajak papa mu sekalian bye.." Zaky mematikan panggilan.
Karin menatap heran ponselnya sembari mengedipkan mata heran dengan ucapan Zaky. apa lagi ini? apa dia akan di pertemukan lagi dengan keluarga Zaky? dan papanya? untuk apa? pikir Karin.
beralih ke seorang perempuan yang sibuk mondar mandir mencari kepastian pekerjaannya sungguh rumit. harus bertanya ini itu ke pada Sang tuan. hari ini adalah hari pertama timnya mengerjakan tugas kerja sama dengan perusahaan Ratih Santos. siapa lagi jika bukan perusahaan satria permada bersama sang asisten resa Dinda.
baru saja duduk perselian detik ponselnya berbunyi nyaring. nyaring itu membuyarkan konsentrasi gadis berambut poni yang ia japit menyamping.
huft...
nafas lelah itu meluncur bebas melalui mulutnya.
"ada apa Nat?" tanyanya.
"res nanti malam kamu mau kemana?" tanya nata dari sebrang.
"mungkin istirahat diam aja di rumah"
"aku mau ngajak kamu makan malam bereng keluarga. ikut ya?"
__ADS_1
"oh oke aku ikut"
"nanti aku jemput jam tujuh. ajak mama mu sekalian"
"mama? ada apa nat"
"ah sudahlah ikuti saja apa mau ku"
"iya... udah sana kerja lagi, aku juga mau lanjut kerja"
"oke calon my wife"
"hm" panggilan pun terputus.
yah itulah cara resa dan nata berkomunikasi. mereka tidak ingin bergaya layaknya anak zaman sekarang yang harus memanggil dengan panggilan sayang seperti apa yang di lakukan Zaky dan Karin. mereka mengedepankan kedewasaan dalam berhubungan mengingat status resa adalah janda juga. tapi itu bukan berarti nata dan resa tidak saling sayang. mereka menunjukan kasih dan sayang nya dengan cara mereka sendiri. terlebih resa ia tak terlalu peduli dan cuek terhadap nata, namun hal itu kembali tak bisa menyimpulkan jika resa tidak menyayangi nata. lelaki yang telah membuat hatinya luluh setelah kepergian suaminya tiga bulan lalu.
Karin menghambur memeluk papanya yang tengah konsentrasi dengan layar laptop di depannya. Karin membolak balik wajah papanya seraya mencium wajah muda lupa usia itu. senyum dan rasa senang tergambar pada wajah putri kecilnya telah tumbuh semakin dewasa.
"ada apa Karin, papa pusing liat kamu"
"pa nanti malam Zaky ngajak aku makan malam sama keluarganya. papa ikut ya. papa bisa kenalan sama orang tua Zaky begitu pun sebaliknya"
"papa malas sayang"
Karin memonyongkan bibirnya kedepan. dengan lirikan tajam miliknya membuat sang papa mau menuruti apa keinginan nya.
"baik papa akan usahakan menghilangkan rasa mager ini" ucap Samson akhirnya membuat Karin tersenyum lagi.
"Karin sayang papa" ucap Karin. kecupan hangat mendarat di pipi Samson. Karin berlari keluar dari ruang kerja papanya.
langit semakin gelap di makan waktu yang terus berjalan tanpa henti. jika berhenti apa jadinya. ah sudahlah jangan di pikir. gadis itu menggunakan dress warna merah maron dengan rambut di Gelung. tas dan sepatu dengan warna senada. polesan make up natural dan sepasang anting bergelayut seiring berjalanya langkah kaki menuruni anak tangga. di bawah sudah ada lelaki gagah yang menunggu sang tuan putri yang tak lain adalah Samson. sedangan lelaki lain sedang duduk santai di ruang tamu yang tak jauh dari tangga itu. termenung tanpa dapat berkedip. nafasnya saja hampir berhenti. anggunnya Sang calon ratu di keluarganya membuatnya berhenti jantung.
"Karin... om mari" lelaki itu mempersilahkan sang raja dan putri untuk keluar terlebih dahulu. walau ia tamu hal itu Sama sekali tak dapat mengganggunya.
sesampainya di sebuah halaman restoran ternama berhentilah kendaran roda empat dengan sempurna. turunnya Sang gadis yang di gandengan dua lelaki membuat nya menjadi pusat perhatian. jujur saja gadis itu sedikit enggan untuk menerima dua uluran lengan dari sosok berbeda. tapi untung saja semua itu tak bertahan lama.
Karin berlari melepas gandengan tangan yang bergelayut di lengannya. ia berlari kecil menghampiri dua pasangan yang hendak masuk ke kedalaman restoran tersebut.
"resa..." panggil Karin.
yang di panggil pun menoleh, mencari sumber suara yang ia rasa telah memanggil nama nya. mata gadis itu menangkap seorang gadis yang berpenampilan elegan. ia juga terperanjat saat menyadari baju yang di gunakan itu senada. dari model dan warna, hanya saja resa mengurai rambut sambil menenteng tas warna putih.
"Karin..." jawab resa.
"kalian juga disini?" tanya Karin saat sudah mendekati resa.
"iya katanya keluarga nata ingin bertemu dengan ku"
"sungguh... astaga semoga kita bisa iparan ya" Karin menatap seorang perempuan yang berdiri di belakang resa. "Tante..." sapa Karin ramah pada seorang perempuan yang tak lain adalah Raina mama resa.
Raina hanya menjawab dengan anggukan kecil.
__ADS_1
"ya sudah kita masuk bareng bareng aja" sahut nata saat melihat Zaky dan seorang lelaki telah mendekat.
mereka berenam berjalan beriringan memasuki sebuah restoran. berjalan menuju ruangan VIP yang sudah di boking oleh keluarga Zaky.
"loh ma... papa di mana?" tanya Zaky yang menyadari tempat duduk yang seharusnya di tempati topan kosong.
"biasalah papamu itu selalu saja ada urusan. mama juga bingung urusannya apa" jawab Sarah sedikit memanyunkan bibirnya. setelah sadar Zaky dan nata tak sendiri Sarah kembali tersenyum ramah. "oh maaf silahkan duduk" sambungnya.
resa dan Karin duduk di kursi yang berbeda bersama orang tua mereka masing masing. sedangkan zaky duduk berdua dengan nata.
pesanan yang di minta telah datangan. sangat banyak sampai memenuhi meja yang tersedia. tapi masing untung ada telat untuk mereka makan. setelah di persilahkan oleh Sarah mereka makan bersama tanpa ada suara. bahkan pertempuran antara piring dan sendok saja enggan mengeluarkan suara.
usai makan Sarah mengawali pembicaraan layaknya seorang pembawa acara di acara acara besar.
"kamu resa adinda ya?"
resa mengganguk malu.
"Tante sudah dengar banyak tentang kamu dari nata. ternyata apa yang dia ucapkan bukan lah kebohongan. kamu memang cantik, sopan dan ramah. dari pandangan pertama tante sudah suka sama kamu. ibumu beruntung memiliki anak seperti mu resa" ucap Sarah melirik Raina di kalimat terakhir.
"tapi maaf... apa nata sungguh sungguh akan melamar anak saya?" tanya Raina hati hati.
"seperti yang nata katakan waktu itu, dia sangat menginginkan anak ibu untuk menjadi istrinya."
"tapi anak saya tidak berstatus gadis lagi... dia sudah pernah menikah dengan seorang lelaki" Raina berusaha jujur agar tak ada pihak yang merasa di rugikan.
"nata sudah mengatakan hal itu pada saya.. sebenarnya itu bukan lah masalah bagi saya, yang penting etika yang saya cari."
"andai seluruh keluarga Zaky tau jika aku mafia pembunuh berdarah dingin apa mereka bisa menerima ku" batin Karin. tiba tiba ia merasa tidak pantas untuk Zaky maupun lelaki di luar sana.
melihat anaknya yang tiba tiba menunduk Samson berusaha menenangkan pikiran anak gadisnya itu. ia paham betul bagaimana dan apa yang di rasakan Karin.
"kau tetap gadis baik sayang... kau jahat karena kau tidak suka... kau sempurna di mata lelaki yang tepat. it's not a problem" bisik Samson.
Karin mengangguk mendengar ucapan papanya. senyum manis kembali tergambar di wajah nya.
"ah saya baru sadar... Karin dan resa sangat serasi. jelas menandakan jika kalian akan menjadi keluarga nantinya" Sarah sumringah melihat Karin dan resa.
sedangkan yang di pandang tersenyum malu.
"maaf tuan saya lupa tidak mengajak anda mengobrol... waktu itu Karin makan malam bersama keluarga Zaky tapi sayang anda tidak bisa datang karena tengah berkerja di luar negri. benar begitu?" Sarah berusaha mencairkan es kutub yang menghalangi dirinya dan Samson. Sarah tak membahas lagi tentang istri Samson karena sudah tai dari Karin di pertemuan sebelumnya.
"benar" jawab Samson singkat.
selasai mengobrol ngobrol ria mereka pun mengakhiri pertemuan itu. malam juga semakin larut. seluruh sendi sangat ingin kembali ke tempat empuk dan nyaman.
Zaky dan nata sama sama mengantarkan pasangan masing masing seperti tadi. saat tengah berjalan menuju parkiran, Samson yang kala itu keluar terakhir dari restoran menabrak seseorang. dari belakang ia tak asing dengan lelaki seumur dengannya itu. karena cepat cepat lelaki yang menabrak Samson tadi hanya meminta maaf tanpa membalikkan badan.
"aku hafal betul tubuh itu... ah sudahlah mungkin orang yang berbeda" ucap Samson menghilangkan anggapan buruk dari kepalanya.
.
__ADS_1
.
selanjutnya...