Suamiku Musuh Bebuyutan Ku

Suamiku Musuh Bebuyutan Ku
bukan siapa siapa


__ADS_3

Sudah tiga hari Karin mendekam di dalam kamar. Tiga hari pula ia mengundur bahkan Sampai menyuruh jazzy untuk mengerjakan pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya. Padahal renovasi kantor telah selesai satu Minggu yang lalu. Sakit yang ia rasakan terlalu larut untuk terus di ingat. Membuat luka itu bukan semakin sembuh tetapi malah semakin menganga lebar. Karin hanya keluar kamar di saat ia haus atau lapar. Setelah apa yang dia mau di dapat ia akan kembali ke kamarnya. Mengurung diri tanpa peduli banyaknya bujukan bujukan dari siapa saja.


Bi Ina tau ada yang tidak beres dengan sifat dan tingkah laku Karin setelah sore itu. Ada rasa khawatir yang selalu menghantui bi Ina setiap kali ingin meninggalkan rumah. Belanja pun ia tak nyaman karena takut Karin kenapa napa. Bi Ina juga yakin ini semua pasti ada hubungannya dengan cinta dan laki laki yang pernah datang kerumah beberapa bulan lalu. Hal itulah yang semakin membuat bi Ina maupun Bu Tuti tak tega meninggalkan karin sendiri. Orang sakit hati apalagi karena perbuatan orang yang dia sayangi bisa saja melakukan apa pun termasuk melakukan hal hal yang berbahaya.


Jam sudah menunjuk pukul 09.00 dan gadis itu baru bangun dari tidur. Matanya sebab dan memerah. Hidungnya tersumbat akibat terus terusan menangis. Benci rasanya kala tak dapat mengontrol diri sendiri padahal dirinya itu sering menghibur diri dengan menonton Vidio lucu atau film horor. Tapi daya apa yang di miliki gadis itu. Semua hal yang membuatnya teralihkan dari kejadian beberapa hari lalu tidak ada yang berhasil. Yang tambah membuatnya kesal dengan diri sendiri adalah sebab di matanya tak kunjung mereda padahal dari kemarin ia sudah tak menangis dan terus berusaha gembira.


Sama hal nya dengan hari ini, setelah mandi Karin bergegas turun ke lantai dasar untuk menemui bi Ina dan bi Tuti. menghilangkan perasaan sedih. Karin percaya memakan makanan manis dapat berfungsi baik untuk memulihkan keadaan. hari ini ia ingin membuat kue brownies coklat. dia juga berusaha menampilkan senyum terbaik kepada bi Ina dan bi tuti atau siapa pun yang dia jumpai nanti.


"bibi... ayo buat kue brownies pliss..." ucap Karin setelah sampai di lantai dasar.


bi Ina yang kala itu masih mengelap meja makan sedikit terkejut tapi tak lama setelah itu ia tersenyum pada Karin. anak gadis itu memang berbeda. mengurung diri selama tiga hari untuk merendam rasa kecewa dan amarah. lalu kini gadis itu tersenyum manis di depannya. mencoba membuat dunia mengatakan bahwa dia baik baik saja. padahal bi Ina tau sakit hati Karena cinta bukan hal yang mudah di sembuhkan.


"oke non... siap tapi, non Karin makan dulu bibi sudah masak tadi" jawab bi Ina.


"bibi masak apa?"


"nasi goreng telur. sudah dari tadi non tapi kalau nona mau makan bibi panaskan dulu ya?"


"ohh... gak usah bi. nanti kalau di panaskan dulu lama, Karin makannya juga lama deh. gini bi Ina kalau belum makan, makan dulu saja, tapi kalau sudah bibi cek bahan bahan buat brownies sudah ada atau belum"


"bibi sudah makan, kalau begitu bibi langsung cek bahan bahan nya ya non"


"iya..." jawab Karin. tubuhnya mulai bergerak untuk mengambil beberapa centong nasi goreng yang sudah di siapkan di atas meja makan.


Nikmat. hanya kata itu yang tercantum di lidah Karin saat merasakan sesuap sendok nasi goreng telur. walau lidahnya sedikit berkilah bahwa masakan bi Ina tak seenak masakan mamanya. Karin tetap bersyukur. dengan begitu lidahnya masih lekat dengan masakan mamanya.


"non... tepung, coklat dan telurnya habis" lapor bi Ina saat nasi di piring Karin masih tinggal beberapa suap lagi.


"hm? oh iya bi nanti biar karin saja ke supermarket sekalian cari udara" jawab Karin tanpa beranjak dari kursi.


"loh biar bibi saja. nona tunggu di rumah" kilah bi Ina.


"biar saya saja. kan sudah saya bilang sekalian cari udara bi... refreshing gitu sekalian heheh" Karin tetap bersikuku dengan cengengas cengenges.


bi Ina hanya mengangguk lalu melipir lagi pergi ke dapur.


Rasa bersalah, gundah, tak tenang, khawatir bercampur aduk di hati laki laki itu. tiga hari sudah berlalu dan teror masih berdatang. tapi ia juga bersempat diri untuk bersyukur karena hari ini tidak ada laporan nata atau resa tentang teror itu. namun tetap saja, ia takut teror itu beralih ke Karin. bimbang rasanya. ia terus berfikir apakah yang di lakukan itu benar atau malah memperburuk suasana?


Lelah, lelaki itu berjalan gontai mengelilingi koridor yang mulai sepi. semua karyawan pergi melipir ke kantin atau ke restoran terdekat hanya untuk mengisi hak perut. kepala barat yang membuat dirinya seperti orang mabuk yang tengah berjalan.


brukk...


Tak sengaja bahu nya bersenggolan dengan bahu orang lain yang membuat beberapa tumbuk buku dan kertas berjatuhan dari tangan seseorang yang dia tabrak. sesegera mungkin lelaki itu membantu orang yang di tabrak tapi apalah daya nya. kepala itu semakin berat dan membuatnya jatuh ke lantai walau kesadarannya masih di awang awang.


"tuan Zaky... tuan tidak kenapa?"

__ADS_1


Suara wanita yang di kenalnya itu masih terdengar jelas di telinga. tapi pandanganya kabur, ia tak dapat melihat jelas siapa wanita yang berteriak di atasnya itu.


Sekuat tenaga Tania memapah tubuh kekar Zaky menuju lift. untung saja ada OB yang tak sengaja melintas. Tania pun meminta bantuan OB itu untuk memapah tubuh Zaky ke lift Sampai masuk ke mobilnya. di tengah perjalan menuju rumah sakit terdekat mata Tania tak hentinya memancarkan bentuk rasa khawatir. tak pernah terjadi bahkan melintas di benaknya seorang CEO Hartanto prajaya pusat pingsan seperti itu.


Sesampainya di rumah sakit, tania di bantu beberapa suster untuk membawakan kursi roda untuk Zaky. gundah rasanya kala harus menunggu di kursi tunggu. sebenarnya Tania ingin menghubungi Karin tapi ia mengurungkannya. Karin, ia yakin saat ini Karin juga tengah sibuk. ia tak mau membuat pekerjaan Karin terganggu hanya karena telpon dari nya. tapi Zaky... bagaimana dengan laki laki ini?


seorang wanita keluar dari dalam ruangan yang membuat Tania sedikit terkesiap.


"dok bagaimana dengan keadaan bos saya?" tanya tania.


"beliau hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran. saya sudah buatkan resep vitamin dan obat tambah darah untuk berjaga jaga" jawab dokter wanita itu.


baru saja tania handak menerima secarik kertas yang di sodorkan dokter tersebut, mereka berdua malah di kagetkan dengan pintu ruangan yang di bukan secara tiba tiba. muncul seorang lelaki yang berjalan tertatih tatih dari balik pintu. ia masih memegang kepalanya dengan cengkram kuat.


"tuan Zaky pelan pelan..." seru tania. dengan cekat tania meraih tangan Zaky lalu melingkarnya di bahu kecilnya.


"saya baik baik saja" lirih Zaky.


"tuan kita tebus obat terlebih dahulu. baru kita kembali ke perusahaan tapi saya saran kan tuan makan siang terlebih dulu"


Zaky hanya mengangguk pelan. lalu berjalan meninggalkan dokter yang masih berdiri seraya tersenyum melihat keduanya. pasti dokter itu mengira bahwa Tania dan Zaky adalah sepasang kekasih bukan hanya sekedar atasan dan bawahan.


Telatennya gadis itu memapah butuh Zaky yang tidak ringan. lalu membantunya masuk ke mobil di lanjut dengan membawanya ke apotek. andai dia bukan Tania melainkan Karin pasti dengan senang hati Zaky menerima bantuannya. tapi ah sudah lah kini kondisi nya sedikit membaik kerena tania.


"tuan saya turun sebentar. menebus obat tuan yang sepertinya tuan memang membuatkannya." ucap tania sebelum keluar dari mobilnya.


"tapi tuan masih lemas"


"saya ikut!" Zaky sedikit menaikan volume suara nya.


"ba..baik tuan"


Tania segera keluar dari mobil lalu ia beralih ke sebrang untuk membantu Zaky keluar dari kendaraan roda empat itu. tapi sayang Zaky sudah keluar terlebih dahulu. dia bersender di dekat pintu mobil yang masih terbuka. melihat itu Tania segera memapah Zaky lagi tapi lelaki itu begitu egois. ia menolak saat tangannya akan di lingkarkan di bahu kecil Tania.


"saya berat" ucapnya lirih.


mendengar itu Tania hanya menghela nafas kasar. memang berat tapi setidaknya tubuhnya itu masih kuat menahan beban sebesar Zaky. dia bukan wanita lemah. jika memang dia lemah bukankah dia sudah tersungkur kala memapah Zaky keluar dari rumah sakit tadi. sudah lah tak ada guna nya kesal sendiri seperti itu. melihat lelaki yang berjalan di belakangnya tampak lemah, hati Tania kembali tergerak. tanpa bicara ia mengapit tangan kekar Zaky.


Zaky sedikit terperanjat dengan tingkah Tania tapi ia juga paham apa yang di rasakan Tania. melihat dirinya yang begitu lemah pasti membuat perempuan itu iba.


satu persatu tangga mereka lewati. walau jumlah anak tangga hanya tiga buah tetapi rasanya Tania sedang menaiki tiga puluh anak tangga. dengan sabar ya ia menunggu langkah Zaky yang begitu lamban sampai tangga paling atas.


Saat mata Zaky dan Tania sama sama menunduk mereka mendapati sepasang kaki yang beralas sepatu putih tengah berdiri tepat di depan mereka. perlahan Zaky dan Tania mendongakkan kepala. mereka berdua sama sama melototkan kan mata. memandang tak percaya siapa seseorang yang berdiri memandang mereka lekat.


seorang gadis berhoodie putih dan celana jeans hitam di tambah rambut yang di Gelung ke atas itu berdiri tepat di depan mereka dengan mata berkaca. lirih ia ucap kan kata.

__ADS_1


"seperti ini konsepnya, ya?"


Zaky semakin terperanjat kala gadis itu mundur beberapa langkah. muka nya merah menyala menandakan ada amarah yang masih tersimpan di otak dan hatinya. gadis itu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


sementara tania yang menyadari siapa wanita itu, langsung melepas tangan Zaky dengan kasar. ia berusaha mengejar gadis itu dan akhirnya dapat.


"tuan Zaky sakit... saya mohon kamu jangan salah paham" ucap tania memohon.


"dia bukan siapa siapa saya lagi... Tania. jangan tusuk seorang wanita melewati perasaannya ya, lain kali. sakit Tan dan luka itu tidak terlihat. kadang obatnya pun tak dapat di temukan" ucap gadis itu yang tak lain adalah Karin. ia mengelus pelan bahu Tania lalu masuk kedalam mobil.


"bukan siapa siapa?" lirih Tania yang masih belum mengerti. "astaga tuan Zaky" dia kembali tersadar dan menghampiri Zaky yang berdiri tanpa ekspresi di atas anak tangga.


"tuan..."


"saya mau kembali ke mobil... antar saya pulang" sahut Zaky tanpa mengubah ekspresi nya.


Kini Tania yang serba salah. posisinya terapit dan bingung yang ada di kepalanya. tania segera mengantar Zaky masuk kembali ke mobil di lanjut ia kembali berlari menebus obat dan vitamin untuk Zaky. ia mempercepat gerak mobil nya setelah urusan nya selesai. ia mengantar Zaky ke rumahnya lalu pergi lagi ke perusahaan. lelah hari ini. antara mental dan fisik sama sama lelah meratapi kejadian tak masuk akal sepanjang hari.


tangis itu pecah begitu saja, tak peduli ada orang atau tidak yang memperhatikan nya. gadis itu berdiri di samping danau. teriak, marah, kekesalan ia lampiaskan dengan cara melempar batu ke arah air. sakit harus menerima bahwa selama ini itu lah yang terjadi. tak pernah menyangka bahwa orang yang sangat ia sayangi Setega itu. terlalu polos kah dia sekarang? Sampai dengan lapang dada ia menerima bahwa lelaki itu mempermainkan perasaannya? bodoh! dia queen tak akan ada rasa maaf untuk segala yang terjadi saat ini.


"brengs**!!! sial laki laki tebal rupa!! luar domba dalem buaya sial!!!" rutukan itu terus keluar dari mulut Karin sampai pada akhirnya ia lelah sendiri.


Setelah melepas apa yang membuatnya sakit dan gondok Karin segera melajukan mobilnya. hatinya kembali tenang setelah umpatan umpatan itu keluar dengan sempurna dari mulutnya. biarlah orang yang mendengar merasa aneh atau menggunjingnya seperti orang gila, ia tak peduli. yang terpenting sekarang adalah telah lepas semua beban pikirannya.


Gerbang itu mulai di buka saat klakson mobil Karin berbunyi dengan nyaring. ia mulai memarkirkan mobilnya di garasi lalu masuk ke dalam rumah tanpa beban. walau habis menangis matanya tak menunjukkan dirinya tengah sedih saat ini.


"nona kok lama sekali?" tanya bi Ina dari dalam.


"oh iya bi... tadi Karin ke temu anjing di jalan jadi berhenti dulu heheh" jawab Karin sambil cengengas cengenges.


"anjing? di mana non?" tanya bi Ina penasaran.


"di apotek tadi waktu ambil vitamin" jawab Karin seraya pergi meninggalkan bi Ina yang masih berdiri di depan pintu.


Menyiksa diri sendiri kerena terlalu memendam luka yang yang dia dapat sendiri. Dari dirinya sendiri lah luka itu terbentuk begitu tebal tapi sayang darah yang di keluarkan ghaib. sehingga orang lain tak tau persisi separah apa luka itu.


Dengan sempoyongan Zaky terus menyeret langkahnya menuju kamar. berat apalagi di tambah kepalanya yang sama sekali tidak mau di ajak kompromi. Sampai pada akhirnya ia berhasil mencapai tangga paling atas. ia harus berjalan lagi untuk menuju kamarnya dan beristirahat. kondisi rumah saat itu sepi entah kemana penghuninya sekarang.


"kenapa harus terjadi? dan kenapa pula hari di saat aku bersama dengan Tania" keluh Zaky sembari membuka pintu kamarnya.


pelan ia melangkah memasuki kamar tersebut. hampir saja ia tak dapat menyeimbangkan diri Sampai terhuyun huyun saat melangkah menuju tempat tidurnya sendiri.


.


.

__ADS_1


selanjutnya...


__ADS_2