
di perusahaan Ratih Santos.
Karin tengah sibuk dengan persiapan meeting hari ini bersama salah satu perusahaan maju. sejenak ia ingin melupakan masalahnya dengan cara menyibukkan diri. bahkan ia menolak tawaran jazzy untuk membantu nya, walau sesekali Karin bertanya pada jazzy jika ada hal yang belum ia mengerti.
tok...tok.. tok.. pintu ruangan di ketuk.
"masuk" jawab Karin.
"nona ada paket bunga..." lapor jazzy.
"dari siapa?" tanya Karin.
"tidak ada nama pengirim nona" jawab jazzy.
"letakkan di meja saja" ucap Karin.
jazzy pun meletakan Bunga itu di meja santai lalu ia izin untuk kembali ke ruangannya.
dalam pikiran Karin terbersit bahwa Zaky lah sang pengirim bunga, jadi di biarkan lah bunga itu tetap di meja. namun tak berapa lama kemudian ada pesan masuk ke ponsel karin.
*sudah kau terima?* bunyi pesan tersebut yang berasal dari nomer Bima.
Karin diam sejenak. ia pun segera bangkit dari kursi untuk melihat Bunga itu.
"apa Bunga ini dari Bima?" tanya Karin pada dirinya sendiri.
lalu Karin melihat ada secarik kertas yang terselip pada beberapa himpitan bunga. Karin pun mengambilnya lalu membaca pesan yang terdapat pada kertas tersebut.
-good morning Friend... have a nice day- pesan pada kertas tersebut.
senyum di bibir Karin mengembang. dia senang di saat dirinya membutuhkan teman Bima selalu ada.
tak lupa Karin membalas pesan Bima dengan jepretan foto Bunga dengan caption -too-. dari sebrang Bima menerima balasan dari Karin sambil tersenyum licik.
"pilihan ada di tangan mu Karin..." desis nya.
kembali pada posisi Karin.
pesan yang dia kirim hanya di baca oleh Bima. tak ingin membuang waktu Karin menempatkan bunga itu di meja kerja nya lalu mengerjakan pekerjaan seperti sebelumnya.
telepon kantor berbunyi, Karin segera mengangkatnya.
"Nona, mereka sudah datang" lapor jazzy.
"aku akan segera ke aula" jawab karin.
di markas black dragon.
dari semalam lelaki itu terus berlatih tanpa henti sampai sampai tangannya terluka. rasa ingin meluapkan amarah dari pada ia membuat kekacauan baru di hadapan kekasih juga sepupunya. hari ini dia berniat untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa biang keladi di Balik semua ini.
"king... istirahatlah.." ucap salah satu anak buah jack sambil menyodorkan minuman dingin dan sebungkus roti untuk Jack.
"aku tidak butuh itu..." jawab Jack dengan erangan, ia menepis kasar makanan yang di berikan anak buahnya.
"king ada masalah...?" tanya anak buahnya lagi.
"intai pergerakan Bima, dari Satria permada sekarang!" perintah jack.
tanpa menunggu aba aba lain anak buah Jack segera masuk kedalam ruangan pengintai.
"akan terbongkar segala kebenaran yang ada..." ucap Jack.
"sudah ku duga jika kau tidak akan pernah menerima hubunganku dengan Karin" imbuhnya lagi.
tak lama kemudian pintu markas terbuka. seorang lelaki paruh baya muncul dari ambang pintu. langkahnya tenang sampai sampai tak mengeluarkan suara. tapi telinga Jack mudah peka. ia menyedari ada seseorang yang datang dia juga tau siapa yang datang.
"ada apa pa..? tanya Jack tanpa menoleh.
"bagus... kau sadar akan kedatangan papa.." jawab lelaki tersebut yang tak lain adalah topan.
"mengapa kau dan nata tidak pulang, kalian juga tidak pergi ke kantor, salah satu dari kalian tidak ada yang menjawab panggilan papa atau pun mama. apa ada masalah di markas?" tanya topan.
"tidak, maaf pa hp ku lobet" jawab Jack masih dalam posisi yang sama.
"ada apa dengan mu?" tanya topan Seraya membalik paksa tubuh putranya.
karena sedikit terkejut, Jack tidak dapat memberontak. alhasil wajahnya yang babak belur berhasil di ketahui papanya.
topan sendiri yang melihat wajah putranya bingung.
"apa yang terjadi kepada mu? siapa yang berani melakukan ini.." tanya topan.
Jack menjawab hanya dengan gelengan kepala. dia tak mengeluarkan penjelasan sedikit pun.
"dimana nata?" tanya topan matanya clingak clinguk ke sana kemari.
"ada masalah di antara kalian?" tanya topan terus mendesak.
lagi lagi Jack tak mengeluarkan kata kata hanya anggukan saja.
"ada apa dengan kalian ini?! satu keluarga, satu anggota tapi berkelahi sampai seperti ini" bentak topan.
"masalah ini akan segera berakhir pa... biarkan aku dan nata merendam amarah masing masing terlebih dahulu" jelas Jack.
"terserah pada kalian" akhir topan. ia memilih pergi meninggalkan markas.
perusahaan satria permada.
resa yang biasanya berlaku aktif di kantor hari ini dia terlihat berbeda. pikirannya susah fokus untuk berkerja padahal setumpuk berkas berkas penting terpampang nyata di depan matanya. resa hanya membolak balik kertas kertas di hadapannya.
"huh... kenapa hari ini otak ku lemot..." tanya resa pada dirinya sendiri sambil memukul mukul kepalanya pelan.
pikirannya malah teralihkan oleh sifat tuannya akhir akhir ini yang selalu bertanya hubungan dirinya juga CEO Hartanto pusat. padahal setahunya sahabatnya lah yang menaruh hati pada CEO itu.
"mengapa tuan Bima bertanya hal itu pada ku, dia kan tau sendiri jika aku tidak pernah bertemu dengan CEO Hartanto pusat kecuali saat ada meeting" ucap resa sambil menggaruk garuk kepala yang tidak gatal.
"apa aku telpon Tania aja ya... semoga dia tidak sibuk" ucap resa lagi seraya menekan nekan ponselnya.
panggilan pun tersambung.
"halo res... ada apa telpon?" tanya Tania dari sebrang.
"halo Tan... em gue mau tanya, apa ada masalah sama bos Lo?" tanya resa.
"em... gue gak tau karena hari ini dia gak masuk kerja" jawab Tania.
"oh ya sudah ku kira ada hal buruk yang terjadi sama bos Lo" ucap resa menimbulkan rasa penasaran di hati Tania.
"memang ada apa sih res, kasih tau gue dong..." tanya Tania penasaran
"eee... itu bos gue aneh akhir akhir ini, masak dia selalu nanya gue ada hubungan apa sama bos Lo kan aneh" jawab resa.
"lah iya ya kok aneh, Lo kan kenal sama tuan Zaky dari gue" jawab Tania ikut penasaran.
"hah... yaudah lah ya gue lanjut kerja" ucap resa mengakhiri panggilan.
__ADS_1
sejenak dia mencerna ucapan tania juga bosnya tapi tetap saja jalan yang di dapat hanya jalan buntu.
beberapa saat resa melamun, namun lamunan itu buyar saat telepon kantor berdering. resa segera mengangkatnya. ia terkejut dengan laporan yang di berikan asisten sekretaris.
"bukanya hari ini tidak ada jadwal meeting?" tanya resa.
...
"apa? beliau datang sendiri?" tanya resa.
...
"baik minta beliau untuk tunggu sebentar" jawab resa. sesegera mungkin ia berlari keruangan bosnya.
"permisi tuan, ada tamu" lapor resa.
"siapa?" tanya Bima tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.
"tuan Zaky dari PT Hartanto pusat, beliau datang sendiri tuan" lapor resa.
Bima tersenyum miring mendengar laporan dari resa.
"persilahkan dia masuk" jawab Bima.
"baik tuan" jawan resa.
Zaky berjalan menuju ruang CEO dengan langkah penuh penekanan. Zaky memang menggunakan jas kantor seperti biasa bedanya sebelum berangkat ke perusahaan satria permada ia tak mampir ke perusahaan nya sendiri.
"selamat datang tuan Zaky..." sapa Bima saat Zaky mulai memasuki ruangannya.
"terimakasih tuan Bima" jawab Zaky. tanpa di suruh Zaky langsung duduk di depan meja kerja Bima.
"terimakasih atas apa?" tanya Bima pura pura tidak tau.
"oh tunggu apa yang terjadi pada wajah anda?" tanya Bima basa basi
"atas masalah yang anda berikan, dan luka ini bukan urusan anda" jawab Zaky.
Bima bangkit dari duduknya. ia berjalan mendekati Zaky lalu mendekatkan mulutnya pada telinga Zaky.
"oh... terimakasih kembali telah menerima masalah yang saya berikan kepada anda" bisiknya mendesis.
tak terima dengan kelakuan Bima, Zaky pun ikut berdiri. dengan geram ia mencoba bertanya pada Bima.
"apa maksud anda mengirim Vidio itu kepada Karin?" tanya Zaky.
"oh... kekasihmu marah ya... bagus.. karena itu yang aku inginkan" jawab Bima.
"tunggu... kau kaget ya dari mana aku tau jika kau dan Karin memiliki hubungan spesial..." desis Bima lagi.
"tidak... aku tidak terkejut sama sekali.. itu pekara yang mudah di pahami... kau memasang penyadap suarakan di kantor Karin" tebak Zaky.
"hahaha ternyata kau tau... lalu apa salahnya jika saya mengirim Vidio kelakuan bej*t anda pada Karin? Anda sangat takutkan kan kehilangan perempuan itu" ucap Bima.
"seorang lelaki yang sudah memiliki pasangan, menatap wanita lain dengan nafsu" tuduh Bima.
"saya yakin wajah anda terluka karena sepupu anda sendiri kan.." ujarnya lagi.
"saya tidak serendah itu!!" bentak Zaky. ia tak kuasa menahan amarahnya lagi.
"Anda akan mendapat luka yang sama seperti saya" ucap Zaky.
Zaky melayangkan pukulan kasar pada pipi Bima. tak puas dengan itu. Zaky melanjutkan aksinya dengan membabi buta. tak peduli dimana ia berada sekarang. Bima yang mendapat perlakuan seperti itu tak mau kalah, sebisa mungkin ia mencari celah agar dapat membalas serangan zaky. sampai beberapa menit perkelahian para satpam dan penjaga memasuki ruangan Bima untuk melerai keduanya.
para satpam dan penjaga tau ada kegaduhan di ruangan bosnya setelah mendapat laporan dari mengintai CCTV.
di parkiran mobil Zaky mengacak ngacak rambutnya sendiri karena frustasi. ia sangat terlihat bodoh di hadapan Bima.
"seharusnya kau tidak melakukan itu ky... Lo udah rekam semua suara Bima, dan itu cukup untuk menjadi bukti" Zaky mengutuki dirinya sendiri.
ia masuk kedalam mobil lalu pergi tanpa tujuan. sebenarnya ia berniat ke apartemen nata, tapi hal itu ia urungkan kerena merasa itu akan memperburuk suasana. ia akan menunjukan rekaman suara tersebut saat nata dan Karin ada di hadapannya.
di sebuah apartemen nomer kamar 142.
"astaga... kenapa sakit sekali" ucap seorang lelaki yang baru bangkit dari duduknya. tanganya mencengkram kuat bagian dada kirinya.
lelaki itu berusaha kuat dan duduk secara perlahan, hal itu sering terjadi saat ada firasat buruk tentang keluarga atau seseorang yang dekat di hatinya. sebisa mungkin nata meraih ponselnya di atas meja.
ia menekan sebuah nama lalu melakukan panggilan.
"Om... ada terjadi sesuatu di rumah?" tanya nata.
"tidak, nata... Om minta agar kau dan Zaky segera berbaikan jangan bertindak seperti anak kecil" ingat topan.
"iy... iya om" jawab nata masih memegangi dadanya.
dia berjalan perlahan untuk mengambil air lalu meneguknya hingga habis. setelah itu rasa sakit di dadanya sedikit berkurang. nata masih menata nafasnya, ia memilih duduk di pinggir tempat tidur nya.
"apa ini ada hubungannya dengan Zaky? apa yang terjadi padanya" tanya nata dalam hati.
setelah peraturan nafasnya kembali normal, Nata memutuskan untuk menghubungi Karin. ia mengajak Karin untuk bertemu di sebuah taman dekat kantor Karin. dengan senang hati pula Karin menerima ajakan nata.
sesampainya di taman, nata menunggu kedatangan Karin di tempat parkir. tak lama kemudian sebuah mobil hitam sampai tepat di samping mobil nata. dengan bersamaan nata dan Karin keluar dari mobil masing masing.
"eh kamu sudah datang duluan rupanya" ucap Karin.
"iya aku sengaja menunggu di dalam mobil, dari pada keluar nanti panas bisa belang aku hahaha" ucap nata.
"berarti benar ucapan Zaky jika..." Karin tak melanjutkan kalimatnya. ia sendiri kaget mengapa dirinya menyebut nama Zaky dalam candaannya.
"jika aku seperti perempuan yang takut terkena sinar matahari?" ucap nata melanjutkan kalimat Karin.
Karin menjawab dengan senyuman. sebenarnya ada rasa sesak di dada Karin saat ia mengingat kembali Vidio yang di kirim nomer misterius itu.
"kita bicara di sana" ucap nata menunjuk bangku kosong di bawah pohon yang lumayan rindang.
Karin mengangguk kecil.
tibalah mereka berdua di sebuah kursi taman berwarna putih bersih. bagian tempat duduk kursi itu terlindung oleh terik matahari.
nata mulai menatap serius Karin. apa yang dia rasakan di apartemen tadi sudah cukup membuatnya yakin ada hal buruk yang terjadi pada Zaky. dia juga yakin Vidio itu adalah perantara pemecah mereka bertiga.
"Rin.. aku ingin kau tau," ucap nata mengawali pembicaraan.
"aku salah menilai Zaky, hanya karena aku tersulut emosi masalah ini semakin runyam. aku bersama Zaky sudah sejak kecil, aku tau sifat dasarnya. dia bukan lelaki brengs*k seperti lelaki di luar sana. selama ini dia tidak pernah melabuhkan hatinya pada siapa pun. kau wanita pertama, kau wanita ketiga setelah ibu dan adiknya" jelas nata.
"Wait... wait... apa maksudmu tiba tiba jadi seperti ini, bukan kah kemarin kau yang paling tak terima dengan kelakuan Zaky" jawab Karin heran.
"iya itu kemarin, sekarang berbeda. selama ini aku berfikir menggunakan logika dan akal, aku tak pernah berfikir menggunakan perasaan, tapi tadi saat aku berdiam diri di apartemen... aku mencerna segala sesuatu yang terjadi kemari. sungguh aneh menurut ku jika ada seseorang yang nomernya tak kau kenal tiba tiba mengirim Vidio itu pada bukan?" terang nata.
Karin nampak diam, apa yang di katakan nata ada benarnya. bagaimana bisa ada seseorang yang mengirim Vidio yang menggambarkan Zaky memiliki nafsu besar kepada orang lain, sementara hubungan mereka masih di sembunyikan.
"kau benar... Nat.. lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Karin mulai sadar.
"kita..." ucap nata menggantungkan kalimatnya. matanya teralih pada tempat lain.
__ADS_1
seorang lelaki memakai jas yang sedikit lusuh dan bermasker tengah duduk di sebuah bangku taman. posisinya tepat di bawah sinar matahari yang sangat terik, namun tampak dari posisi nya lelaki itu tidak mempedulikan keberadaanya sekarang.
seketika nata langsung berdiri. ia yakin tebakannya tidak meleset.
"Zaky..." ujarnya seraya langkah pergi menghampiri lelaki itu.
Karin yang melihat reaksi nata tak banyak berfikir ia segera menyusul nata sambil berlari kecil.
mereka berdua berdiri tepat di samping bangku yang di duduki lelaki bermasker itu. ia tampak melamun sampai sampai tak menyadari ada dua orang berdiri di sampingnya.
"gue gak akan salah tebak itu pasti Lo..." ucap nata.
sedikit terkaget lelaki itu pun menoleh, wajahnya yang tertutup masker tidak dapat menjelaskan bagaimana ekspresi wajahnya saat itu tapi yang jelas lelaki itu berusaha menghindar.
dengan cekat nata menarik tanganya lalu membuka masker lelaki itu. dan betapa terkejutnya nata melihat wajah sepupunya.
"Ky... Lo kenapa?" tanya nata khawatir.
luka memar dan sedikit mengeluarkan darah membuat Karin yang melihatnya merasa sedih dan bersalah. seingatnya kemarin nata memukul Zaky tak separah itu.
"yang... kamu kenapa?" tanya Karin mengusap lembut sudut bibir Zaky yang mengeluarkan darah.
Zaky sendiri tak menjawab. sejujurnya dia sendiri bingung dengan sifat nata dan Karin yang tiba tiba baik padanya. padahal kemarin malam saat Zaky berusaha meminta maaf lewat telepon, Karin malah memblokir nomer nya.
"bro siapa yang ngelakuin ini ke Lo?" tanya nata.
"apa gue mukul Lo separah ini" tanya nata lagi.
Zaky hanya menjawab dengan gelengan kepala pelan. lalu ia segera merangkul nata lalu Karin.
mereka bertiga pun duduk di bangku yang tadi di duduki Karin dan nata agar lebih tenang dan santai.
nata mulai menanyakan apa yang dia tanyakan tadi. jawaban Zaky membuat nata terkejut apa lagi Karin terkejut. karin tak percaya dengan apa di katakan kekasihnya itu.
"sungguh?" tanya Karin memastikan.
"by... jika kau tidak percaya, aku punya buktinya." ucap Zaky mulai mengeluarkan ponselnya. lalu Zaky memutar rekaman suara yang sempat ia rekam saat mengunjungi perusahaan Bima tadi.
Rekaman itu menjawab segala pertanyaan yang ada di benak nata juga Karin. nata dan Karin benar benar merasa bersalah. mereka sudah salah menilai Zaky hanya dari sebuah rekaman Vidio. bahkan rekaman itu juga merekam suara saat Zaky dan Bima berkelahi.
"jadi ini perbuatanya" ucap nata saat rekaman berakhir. rahangnya mengeras tak terima dengan kelakuan lelaki yang tak terlalu ia kenal.
"sabar bro, kita selesaikan dengan cara baik baik." ucap Zaky sungguh ini bukan Zaky saat ia menjadi Jack.
"baik baik apa maksudmu? dia sudah membuat kita bertiga gaduh tanpa hal yang jelas. dia juga membuat persaudaraan kita terpecah, lalu mana yang harus di selesaikan secara baik baik?" geram nata.
"kita ajak dia bertemu nanti malam. bagaimana by...?" ucap Zaky menyadarkan Karin dari lamunannya.
"hah... baik, akan ku susun sendiri" jawab Karin sedikit tersentak.
"baik... sekarang lebih baik kita pulang dan nanti malam kita bertemu di cafe yang kemarin kita datangi" ucap nata.
"tapi nata gue gak bisa pulang dalam keadaan seperti ini" jawab Zaky.
"gue yang urus," jawab nata.
mereka bertiga pun pulang ke rumah masing masing.
malam harinya setelah Karin mendapat kabar dari Bima bahwa dia sudah sampai di cafe yang di tentukan Karin, Karin segera menghubungi nata dan Zaky. sesegera mungkin Karin menyusul Bima di cafe itu.
sesampainya di cafe, Karin menghampiri Bima yang tengah menunggu. tampak meja tempat duduk Bima masih kosong. Karin tau Bima akan memesan pesanan yang sama dengannya seperti biasa.
"hai Bim... sory nunggu lama" ucap Karin basa basi.
"iya gak apa apa, oh iya bagaimana kabarmu?" tanya Bima.
"baik... memang kenapa?" tanya Karin pura pura tidak mengerti.
"berarti lelaki itu belum cerita kepada Karin." bisik Bima dalam hati.
"oh tidak apa apa" jawabannya tersenyum.
tatapan Karin berubah seketika. tatapan tajam dan penuh selidik membuat Bima merasa terganggu.
"ada apa?" tanya Bima.
"Bim... apa maksudmu?" tanya Karin.
"apa... maksud apa yang kau bicarakan" elak Bima bingung.
"tega kau Bim..." ucap Karin.
lalu datang lah nata dan Zaky dari belakang Bima. Bima sendiri tak menyadari kedatangan mereka berdua.
sebuah audio suara yang membuat Bima terkejut bukan main. suara itu adalah suaranya saat ia berbicara dengan Zaky tadi siang. perlahan Bima memutar kepalanya menghadap kebelakang. dirinya kembali di kejutkan dengan keberadaan Zaky dan nata. tapi ekspresi wajah Bima berubah. ia mulai tersenyum licik di hadapan Karin, Zaky dan nata.
"jadi kalian sudah tau segalanya... itu bagus. akan mudah bagiku untuk meminta penjelasan pada mu Karin.." ucap Bima menekan nama Karin.
"penjelasan atas apa?" tanya Karin bingung.
"kenapa kau sembunyikan ini semua dari ku!" bentak Bima. untung saja saat itu pengunjung cafe sedang sepi.
mendengar suara Bima yang langka Karin dengar, ia pun mematung. bulir air mata mulai jatuh dari pipinya.
"kenapa kau Setega itu pada ku Rin..?" tanya Bima lagi, suaranya sedikit melembut.
"karena aku tak ingin membuat mu kecewa Bim" jawab Karin setelah mengatur nafasnya.
"lalu Jika akhirnya seperti ini apa itu tidak lebih mengecewakan dari yang kau duga?" tanya Bima lagi.
"iya... lebih mengecewakan ini dari pada apa yang ku duga, tapi ini salah mu sendri bim... kamu tidak sabar menunggu di saat aku siap mengatakannya padamu. kau cari tau sendiri tentang itu semua lalu apa yang kau dapat sekarang... rasa kecewa kan?" ucap Karin masih berusaha kuat.
Bima menggelengkan kepalanya pelan.
"apa arti persahabatan kita selama ini? apa kau tidak pernah memilik perasaan kepada ku rin... rasa nyaman yang kau berikan... siapa yang harus bertanggung jawab akan semua ini. rasa ini... sakit hati ini siapa yang harus menanggungnya." jawab Bima. kini dirinya juga mulai menitikan air mata.
"ya... aku salah memperlakukan mu selama ini... aku salah... salah akan segala hal yang Ku berikan pada mu... tapi satu yang ku tau jika persahabatan kita tidak akan berakhir hanya karena hubungan ku dan zaky, kita tetap sahabat." jelas Karin.
"benarkah?" tanya Bima.
"iya Bim kita sahabat... kita semua sahabat disini sahabat, gue.. Zaky.. nata dan Lo kita sahabat..."
"plis jangan bertindak bodoh karena perasaan, cinta tidak bisa di paksakan Bim" terang Karin.
hati Bima mulai melunak. ia sadar caranya salah, namun Bima bukan seseorang yang besar ego. dengan kemaunya sendiri ia mau minta maaf pada nata, dan Karin terlebih pada Zaky.
segala misteri yang membuat kekacauan kemarin akhirnya beres. persahabatan karin dan Bima tidak ada yang berubah bahkan sahabat mereka berdua bertambah dengan adanya nata dan Zaky.
selanjutnya...
cara bima memang salah dan Bima sadar akan hal itu. di berani meminta maaf tanpa adanya rasa canggung pada dirinya. Sifat Bima bukan tergolong sifat yang tak tau malu tetapi sifat berani yang sekarang jarang orang punya. mereka terlalu membesarkan kepala karena takut harga dirinya jatuh karena minta maaf, bukan begitu?
malah menurut ku seseorang akan terlihat lebih tak tau malu jika sudah mutlak melakukan kesalahan tetapi ia enggan meminta maaf apalagi menyangkal kesalahannya sendiri dan sifat itu sudah tertanam di sebagian besar masyarakat seluruh dunia...
next... nantikan episode selanjutnya...
__ADS_1
salam dari author:)