
Gundah rasanya, sudah hampir tiga hari Zaky, nata dan resa dalam keadaan resah. sampai sekarang mereka belum tau siapa si peneror yang tau banyak tentang nata. sudah hampir tiga hari pula teror terus di kirim entah itu ke kantor atau langsung ke rumah. bahkan pernah di suatu hari saat nata dan resa menikmati sunset di atas gedung kantor, ada seorang OB yang mengantarkan sebuah kertas putih yang di ikat pita merah. di dalam kertas tersebut tertulis.
-aku rindu adik kecil perusak kebahagian ku-
tulisan itu berwarna merah darah sama persis dengan apa yang resa lihat di bathtub apartemen.
Dan kini Zaky juga bingung hubungannya dengan Karin lebih renggang karena ia terlalu fokus mencari tau siapa di balik ini semua. bingung nya juga bercampur rasa takut. takut akan ada sesuatu yang membuat kekasih hati nya itu ketakutan atau tersakiti. bahkan masalah teror yang menimpa Karin Beberapa Minggu lalu masih menjadi pertanyaan, walau pun Karin sudah mengatakan tidak ada teror lagi.
Di tengah tengah ruangan ber-AC itu Zaky tengah frustasi. ia mengacak ngacak rambutnya sembari terus berfikir agar Karin tidak mendapat imbas ini semua. walau dia tau teror ini di tunjukkan untuk nata. tapi perasaan takut itu kini malah bertambah.
Tiba tiba pintu di buka tanpa adanya ketukan permisi. ia menduga jika itu kelakuan nata dan dugaannya benar. lelaki yang kini tengah berdiri di ambang pintu sembari menatap Zaky heran. kondisi yang acak acakan dan setumpuk kertas di meja membuat nata bertanya tanya. yang seharusnya di posisi Zaky adalah dirinya tapi mengapa seakan akan rasa takut Zaky melebihi dirinya.
Sosok Zaky yang tegas dan berwibawa kini telah berubah seperti orang terkena sakit jiwa. tubuh lebih kurus dari sebelumnya. wajahnya pucat tubuhnya pun lemas.
"sudah ku putuskan..." ucap Zaky tiba tiba.
"apa? keputusan atas apa?" tanya nata yang juga ikut penasaran.
"gue mau lindungi Karin sepenuhnya"
"dengan?"
"jauhin dia dari masalah sekarang, sebelum anak buah gue laporan tentang teror itu. gue gak akan kasih penjelasan apapun sama Karin"
"maksud Lo? putus?"
"iya... tapi sedikit pun gak akan gue biarin dia celaka, gue bakal kirim akan buah gue buat ngawasi Karin kemanapun ia pergi." terang Zaky.
"gue malah takut dia kecewa, Karin tu udah berharap lebih sama Lo ky... dan karena masalah ini Lo putusin dia? jangan bego. cewek bisa ngapain aja kalau dia sakit hati dan gue takut Karin malah benci dan akan ngerusak akal sehatnya." nata memberi nasehat.
"gak akan, setelah masalah ini selesai... gue mau ngelamar dia di depan papanya" ucap Zaky mantap.
nata tersenyum. seakan akan Zaky tengah menyiapkan sebuah kejutan di balik sebuah rasa sakit yang akan timbul nantinya. hanya tinggal menunggu waktu semuanya akan kembali dan tak ada lagi rahasia yang di tutup tutupi.
"Good luck bro..." ucap nata seraya menepuk pundak Zaky pelan. nata melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Zaky. sebenarnya ada urusan lain yang membuatnya rela menyisihkan waktu untuk kemari, tapi ah sudahlah. melihat kondisi Zaky yang membaik hal itu juga telah membuatnya lega.
Sementara Zaky masih duduk santai di atas sofa yang terdapat di dalam ruang kerja itu. memikirkan dari mana ia nanti berbicara pada Karin tentang masalah ini. sebenarnya ia tak ingin membuat kekasih hatinya itu sedih apalagi itu karenanya. tapi mau bagaimana lagi? keadaan tidak memungkinkan dirinya untuk terus berdekatan dengan Karin. ia juga yakin bahwa peneror tidak hanya mengincar nata dan resa tapi seluruh keluarga. takut jikalau Karin akan mendapat imbas buruk padahal dia tidak tau apapun.
Jari itu mulai Menari di atas layar ponsel. mencari sebuah kontak nama lalu memencet tombol untuk panggilan. masih memanggil sampai beberapa detik tulisan di layar berubah menjadi 'berdering'. sedikit lama dan pada akhirnya panggilan pun di jawab dari sebrang.
__ADS_1
"sayang? kenapa kamu telpon di jam sibuk seperti ini?" tanya Karin dari sebrang.
"maaf by... oh ya cuma mau tanya..."
"apa...?"
"nanti kamu lembur atau gak?"
"gak... nanti aku pulang seperti biasa. kenapa?"
"nanti kita ketemuan ya... aku kangen. di cafe biasa oke!" ucap Zaky. ia tak menunggu jawaban dari karin. sambungan telpon pun di putus olehnya.
sementara karin keheranan. ia menatap layar ponsel yang telah kembali ke layar menu. aneh rasanya sifat laki laki yang di sayangi itu. seperti ada sesuatu yang coba laki laki itu sembunyi kan.
Sementara di sebuah halaman luas setelah melewati pagar besi yang tinggi dan ada bagian runcing di bagian atas pagar, dua lelaki itu berjalan santai memasuki sebuah gudang besar yang terdapat tumpukan kayu dan besi di depannya. gudang itu nampak terbengkalai. terlihat dari banyak nya semak belukar yang tubuh panjang di area sekitar bangunan itu juga karat karat yang menyelimuti besi yang terdapat di bagian atap gudang tersebut.
"bagaimana langkah selanjutnya? apa kau ingin kita langsung menghabisinya saja?" tanya seseorang laki laki berpakaian serba hitam dengan topi bundar di kepalanya. dia juga mengenakan jubah hitam. logo harimau putih dengan gambaran asap biru pada bagian jubah belakangnya.
"tidak, lakukan terus teror itu hingga dia jera. hancurkan keluarga hartanto yang masih tersisa, tapi ingat berhati hati lah. mereka juga bukan keluarga biasa. sama seperti mu, mereka juga keluarga mafia" jawab salah satu laki laki yang tadi berjalan beriringan memasuki gedung tua itu. Andreas begitulah nama nya di kenal oleh sebagian orang. laki laki bertumbuh tinggi besar berkaos hitam itu mengebulkan asap rokoknya.
"kau mengatakan kepada ku jika anak itu menghancurkan keluarga mu. karena dialah kau tidak mendapat warisan dari ayah kandungmu sendiri. aku masih ingin tau dari mana kau mendapat uang untuk membayar ku? tiga ratus juga bukan uang yang kecil" selidik lelaki berjubah itu.
laki laki berjubah itu tersenyum menyeringai menampakan satu gigi masnya.
"akan kalian dapatkan apa yang kalian inginkan" ujarnya lalu pergi begitu saja.
Lelah rasanya. sebentar lagi hari akan berganti malam di mana senja mulai pamit, tapi yang di tunggu tak kunjung datang. lama hampir satu jam lamanya gadis itu duduk di salah satu bangku cafe itu. sendiri menanti sang pemberi janji. lama Sampai sampai ada niatan untuk melipir pergi membawa rasa lelah ini ketempat paling nyaman. tapi dia urung kan karena ada sebuah tangan yang memegang pundaknya dari belakang. terkejut rasanya. tapi itu semua tak berarti kala menjumpai orang yang tunggu tunggu akhirnya tiba.
"lama banget... jamuran aku di sini" rengek Karin.
"maaf macet tadi kan jam pulang kantor by..." jawab Zaky sambil mengelus lembut kepala Karin.
"hm... ya udah gak pa pa. kamu ngajak aku kesini kenapa?" tanya Karin.
zaky hanya diam. menatap teduh wanita di depannya. ada rasa tak tega harus mengatakannya sekarang tapi di lihat dari teror yang terus berdatangan, Karin bisa saja terancam.
"yang... kok malah diam" Karin mengguncang kecil tangan zaky.
"eh? iy... iya. gini aku mau ngomong sesuatu yang mungkin kamu bakal benci sama aku tapi aku mohon aku lakuain ini demi kebaikan kamu. kamu percaya kan sama aku?" ucap Zaky menatap dalam mata coklat Karin.
__ADS_1
"kok jadi serius begini, aku kira kamu ngajak aku ke sini cuma karena kangen" Karin masih biasa menanggapi ucapan Zaky dengan candaan.
sakit dan melukai diri sendiri jika dia harus mengatakannya tapi tak apa itu masih masalah kecil. tinggal menunggu jawaban Karin setelah di mengucapkan kalimat ini.
"kita... sampai di sini ya by..." ucap Zaky ragu.
kaget memang ada tapi yang terlintas di pikiran Karin ini hanyalah sebuah permainan.
"kamu nih... jangan bercanda. apa yang sampai di sini. ya emang kita sampai di sini terus nanti pulang sendiri sendiri, aku tau it..." kalimat berhenti, jari itu kini telah menutup rapat semua kalimat yang akan di ucap kan Karin.
"aku sungguh sungguh. sampai di sini saja hubungan kita... Karin I have my own reasons for saying that. mean" ucap Zaky. "tetap jadilah Karin yang sekarang. ceria, penuh kasih sayang, lembut dan bikin orang yang kenal sama kamu kangen, I will always miss our memories. I love you Karin" ucap Zaky seraya mengecup kening Karin dan berlalu pergi.
genting jantung rasanya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Zaky. di tambah tatapannya yang tidak mengandung candaan membuatnya akan pingsan di tempat ramai itu. tangis terus ingin mendesak untuk segera di tumpahkan tapi apakah seorang queen mafia selemah itu hanya kerena cinta? tidak dia harus kuat, perkasa menunjukkan jika di bukan wanita biasa yang menangis hanya Karena cinta.
Karin tersenyum, bukan senyum manis tapi senyum yang seakan membunuh. di menatap lekat punggung Zaky yang masih bisa di tangkap oleh pandangan matanya. tapi seketika bukan tambah kuat melainkan dia malah roboh. ia menunduk menahan segala rasa sakit dalam dada. rapuh bukan perkasa itu yang sebenarnya yang terjadi kepada Karin. selemah itukah dia? hanya karena cinta dia menetaskan air mata di balik kepala yang tertunduk? gila sungguh gila dirinya sekarang. tak ada peluru yang menembus dadanya. hanya seutas kalimat yang menusuk dadanya. dadanya pun tak mengeluarkan darah tapi mengapa rasanya sangat sakit? benci dia dalam keadaan seperti ini.
"mbak... mau pesan apa?" tanya seorang pelayan cafe yang sedari tadi melihat Karin hanya menunduk tanpa memesan apa pun.
tak ada jawaban dari Karin. dengar memang ia mendengar pertanyaan pelayan itu tapi semuanya bubar karena bayang bayang kata kata yang di ucapkan Zaky padanya. menarik nari di pikiran. menjadikan dirinya sebagi hiasan di ingatan Karin padahal itu berupa siksaan.
"mba..." panggil pelayan itu lagi.
kondisi nya sedang tidak baik baik saja. seperti membangunkan singa lapar yang tertidur. pelayan itu mendapat bentakan keras dari Karin.
"diam!!! kau pikir aku budeg... diam!!! anj*** semua!" teriak nya. Karin langsung berlari pergi meninggalkan cafe yang kini pengunjungnya menatap lekat padanya.
tak peduli banyaknya kendaraan yang lalu lalang di jalanan ramai seperti itu. Karin terus menambah kecepatan mobilnya. ia tak tahan lagi. ingin menjerit, ingin menghardik siapa pun yang ada di depannya bahkan Karin tak segan meludahi sebuah mobil yang berhenti di depan mobilnya karena macet. entah ketakutan atau apa pemilik mobil itu segera menepi dan memberi jalan pada mobil Karin.
Sampai di rumah ia tak menyapa siapa saja yang ia jumpai termasuk bi Ina dan bi Tuti yang tengah menunggu karin di depan pintu masuk. Karin tak menjawab sedikit pun ia terkesan acuh dan tak peduli. tatapannya kosong dan terlihat pucat. rambut yang amburadul di terpa angin malam.
sementara bi Ina dan bi Tuti merasa ada yang ganjal dari diri Karin. tapi mereka hanya diam takut akan menambah rusaknya mood Karin saat ini. di simpan nya rapi pertanyaan pertanyaan yang muncul di bantinnya sampai keadaan Karin membaik.
Gadis itu menjatuhkan dirinya ke kasur empuk. lama menahan dan akhirnya ia lepaskan segala beban yang ada di hati dan pikiran. Karin mulai menangis, berteriak bahkan melempar barang barang yang ada di kamarnya. memberantakkan tempat tidurnya sendiri sampai meja rias pun sudah tak berwujud. kini ia tersimpuh di lantai lalu mengacak ngacak rambutnya. tangisnya kian menjadi kala kalimat dari Zaky kembali menari di pikirannya. lelah dengan adegan dramatis itu Karin pun akhirnya tertidur di atas lantai yang penuh berbagai barang yang berjatuhan.
sedangkan tepat di depan kamar Karin, bi Tuti dan bi Ina tengah berdiri di depannya sedari tadi. sejak teriakan histeris Karin terdengar ke penjuru rumah tapi hanya mereka yang mengepoi asal suara yang ternyata dari kamar Karin. mereka tak berani mengetuk pintu walau hanya untuk memastikan saja. mereka memiliki keyakinan bahwa Karin dalam masalah percintaan yang kadang membuat siapa saja bersifat layaknya orang gila. dan kini anak majikan besarnya itu tengah di Landa badai besar bernama patah hati.
.
.
__ADS_1
selanjutnya...