Suamiku Musuh Bebuyutan Ku

Suamiku Musuh Bebuyutan Ku
keputusan


__ADS_3

Di kediaman keluarga santos.


Karin dan Samson disibukan dengan segala persiapan untuk di bawa ke Singapura. Jadwal penerbangan pukul 00.30 dan sekarang masih menunjuk pukul 23.42. masih ada waktu sekitar 45 menit lagi. Barang barang bawaan Samson telah siap walau tak terlalu banyak ia mengantisipasi agar tak ada dokumen dokumen penting yang tertinggal.


"Bulan depan ulang tahunmu yang ke 22 tahun. Kapan kasih mantu ke papa?" tanya Samson iseng.


"Heh papa, pacar aja Karin belum punya ini malah di tanya mantu. Belum mikir pa... Tapi kalau calon pacar sih kayaknya ada heheh" jawab Karin asal.


"He... Ayo siapa yang bisa menaklukan hati queen nya white crocodile?" Tanya Samson sambil tersenyum penasaran.


"Emm... Ada deh pa nanti ya kalau jadi, jadian Karin kasih tau deh ke papa" jawab Karin ikut tersenyum geli mendengar jawaban nya sendiri.


"Ah papa sudah nanti telat loh udah jam dua belas ini pa..." Ingat Karin saat melihat jam tanganya menunjuk pukul 23.55.


"Iya, kamu sih ngajak ngobrol" celoteh Samson.


"What Karin? Bukan nya papa yang tiba tiba mbahas mantu" jawab Karin tak terima.


"Iya iya papa bercanda kok" jawab Samson.


"Oh jadi papa bercanda dong minta mantunya" ucap Karin membuat senyum Samson memudar.


"Oh ya tidak" jawab Samson cepat.


Setelah perdebatan cukup menggelikan antara papa dan anak, mereka pun segera berangkat menuju bandara diantar sopir pribadi Karin. Dengan berat hati lagi Karin harus melihat orang tua satu satunya yang dia punya pergi untuk bekerja.


Tak berapa lama kemudian pesawat pun sepas landas. Nampak dari kejauhan Karin masih menunggu di area penerbangan setelah mendapat izin dari penjaga. saat di dalam mobil Karim, tiba tiba ingin bekerja. dengan bekal ilmu yang dia dapat saat S1 dulu.


"apa aku ikut kerja aja ya di perusahaan cabang papa di Indonesia lagian perusahaan itu kan di pegang orang kepercayaan papa, pasti gak apa apa kalau aku memintanya" bersit Karin dalam hati.


Masih dalam lamunannya, tanpa sadar Karin sudah sampai rumah. Ia segera turun lalu bersiap tidur. Namun, matanya sulit di ajak kompromi terfikir untuk mengambil alih perusahaan milik papanya di Indonesia membuatnya sulit tertidur.


Lama menunggu akhirnya Karin pun terlelap mungkin karena lelah dengan agenda hari ini yang banyak membuang tenaga dalam hatinya terutama di saat Zaky menyatakan apa yang dia pendam selam ini. Ternyata pertemuan singkat yang sering kali mebuat Karin terjatuh membuat lelaki yang juga di cintai Karin itu jatuh hati balik ke Karin.


Pagi hari yang cerah mambuat karin bersemangat untuk memasak sarapan pagi hari ini. Ia sangat ingin membawakan makanan yang dia masak lebih dari 3 jam itu untuk anak buahnya yang berada di markas.


"Ya tuhan non masak nya banyak banget..." Kaget bi Ina.


"lagi pengen berbagi Bi sekali kali kan" jawab Karin tersenyum ria.


"Lah ini kok udah selesai semua non bibi bantu apa?" Tanya bi Ina melihat semua hidangan telah usai di masak.


"Bibi bantu in Karin bungkus makanan ini ya, eh tapi bibi cicipi dulu deh enek gak" jawab Karin.


"Hokeh non" jawab bi Ina. Ia mulai mencicipi masakan yang di buat Karin.


Matanya melotot lalu menjilati jarinya satu persatu.


"Huh wenak non, non Karin belajar masak sama siapa sih enak banget Jan top markotop" ucap Bi Ina memuji masakan Karin.


"Ah yang bener enak bi" Karin mencoba masakanya sendiri.


"Ih iya Bi lumayan rasanya heheh... jadi kangen masak sama mama" ucak Karin bernada sedih di akhir kalimat.


"Udah kapan kapan masak sama bibi, nyonya pasti senang banget non Karin bisa masak seenak ini" jawab bi Ina mengalus punggung Karin pelan. Ia juga bisa merasakan apa yang Karin rasakan, kehilangan seseorang yang selalu ada dalam kehidupan kita pasti menjadi ujian terberat yang akan di alami oleh semua orang tak terkecuali Karin.


"Iya Bi makasih ya..." Jawab Karin memeluk bi Ina. Karin memang di katakan dekat dengan bi Ina dari pada asisten rumah tangganya yang lain. Sejak masih kecil bi Ina lah selalu ada di sampingnya sebagai pengganti mamanya saat sedang bekerja.


Karin dan bi Ina segera memeking semua makan makan yang di buat karin kedalam kardus. Bi Ina tak henti hentinya menyolek makanan yang di buat Karin karena rasanya yang sangat cocok di lidah.


"Bi kok di colek terus sih, apa seenak itu?" Tanya Karin yang belum menyadari masakanya memang enak.


"Hehehe maaf non, ini itu enak banget Lo. Lidah bibi belum pernah keseleo jadi masih sehat hahah" kekeh bi Ina.


Karin menjawab dengan gelak tawa yang tak kalah keras sampai sampai asisten rumah tangganya yang lain ikut tersenyum melihat tingkah keduanya.


Ada sekitar 25 box makan yang sudah siap. Dengan isian sederhana berupa ayam goreng dan sambel terong yang pernah mamanya ajarkan. Karin sengaja membuat separuh dari jumlah anak buahnya karena banyak anak buahnya yang nedapat perkejaan diluar markas.


Usai dengan masalah makanan Karin segera menganggut 25 box itu kedalam mobil di bantu para body grandnya, ia juga tak lupa menyisakan makanan untuk para pekerja di rumahnya, terutama bi Ina. Karin melajukan mobil nya menuju markas dengan kecepatan santai.


Sesampainya di markas charla memanggil beberapa anak buahnya untuk membantu dirinya Mengeluarkan box makanan juga kardus minuman mineral.

__ADS_1


Setelah mendapat perintah dari charla untuk mengambil makanan di box tersebut seluruh anak buahnya yang berada di markas melahap dengan cepat makanan tersebut.


"Enak apa doyan?" Tanya charla saat melihat reaksi anak buah nya terhadap masakannya. Ia sendiri menyantap makanan nya secara biasa saja.


"Queen ini enak banget" jawab salah satu anak buah charla, yang membuat charla tersenyum.


"Queen beli di mana?" Tanya anak buahnya yang lain.


"Enak aja beli, gue yang buat" jawab charla tak terima.


Seketika ekspresi anak buahnya berubah tegang dan tak percaya. Seorang queen yang terkenal kejam bisa memasak hidangan seenak ini.


"Queen ini daging ayam atau manusia? Tanya Deon hati hati.


Bukan nya marah charla malah tertawa terbahak bahak.


"Pengan tau itu Daging apa? Itu daging alien! Eh nalar Lo di mana emang ada paha manusia sekecil itu bodoh" jawab K


charla menyurutkan tawanya.


"Iya juga" ucap Deon lirih.


Usai makan seluruh anggota white crocodile yang berada di markas pagi menjelang siang tersebut melaksanakan latihan rutin. Menembak, bermain pedang, memanah dan lain lain. Sementara charla sendiri memilih untuk latihan berpedang.


Dalam kondisi tidak fokus karena memikirkan Bima juga penyataan Zaky kemarin membuat tanganya terluka akibat salah perhitungan. Charal memang tak terlalu memperhatikan luka tersebut karena hal itu sudah menjadi hal yang biasa untuknya.


"Queen fokus" ingat Deon yang menjadi lawan main charla.


"Iya sory" jawab charla mengagetkan Deon. Sebab selama ini charla tidak pernah menerima jika dirinya di ingatkan, pasti ia akan balik menyalahkan lawannya. Tapi hari ini Charla bukan lah charla yang kejam melaikan Karin yang terlihat lemah.


"Lebih baik queen istirahat biar aku latihan bersama Anjas" ucap Deon.


Charla menurut perkataan Deon, ia meletakan pisau panjang nya ke tanah yang kemuadian di ambil oleh salah satu anak buahnya yang di duga itu adalah Anjas. Charla berjalan menuju ruangan priv lalu membaringkan diri di kasur empuk ruangan tersebut.


"Hai Lo kenapa sih la... Gak fokus, tunduk sama anak buah Lo sendiri argh.... Gila Lo" gerutu charla pada dirinya sendiri.


Charal menatap meja kerja verel yang biasanya sering di jadikan tempat kerja juga tempat tidur. Mata charla menangkap secarik kertas di atas meja kerja tersebut. Ia pun segera mengambilnya.


Di kediam keluarga permada.


Seorang lelaki nampak sedang duduk santai di sofa sambil menonton acara di televisi. Ia mulai tersenyum senyum sendiri menonton acara yang di sukai. Tanpa sadar Seorang lelaki tengah berdiri tepat di belakangnya.


"Kenapa kamu tidak ke markas?" Tanya lelaki tersebut yang tak lain adalah Erlangga.


Walau Erlangga hanya paman bima tetapi kendali hidup Bima ada di tangannya. Hal ini terjadi sekitar 8 tahun lalu kala Bima tak sengaja menemukan sebuah jubah hitam di laci kerja paman nya yang saat itu beradu di perusahaan cambang permada yang lain. Erlangga tak memiliki seorang anak, ia pun menawarkan Bima untuk bergabung di dunia mafia milik bosnya.


Orang tua Bima sendiri sebenarnya ada dalam satu rumah bersama Bima dan Erlangga, Erlangga tinggal bersama kakaknya kerena perceraian nya 9 tahun lalu. Kakak dan kakak iparnya tak pernah mengetahui jika adik mereka serta anak mereka masuk dunia hitam dan keji. Alasan Erlangga sendiri masuk dunia mafia. Agar dia dapat melupakan sang istri.


"Karena aku keluar dari white crocodile" jawab Bima enteng.


"Apa? Om masukin kamu kesana kerena kemauan kamu sendiri dan kau sudah bersumpah untuk hidup berdampingan dengan dunia hitam itu seumur hidup. Kau tau kan apa yang akan terjadi jika kau keluar dari anggota white crocodile?" Tanya Erlangga.


"Aku tau, kematian" jawab Bima tanpa menoleh.


"Bima!" Bentak Erlangga. Ia akan melayangkan tangannya kearah Bima. Tapi di hentikan sebuah suara.


"Om!" Teriak seseorang tersebut yang tak lain adalah Karin. Untung saja pada saat kegaduan itu orang tua kandung Bima tidak beradu di rumah. Mereka mendapat pekerjaan ke luar kota untuk beberapa Minggu.


Erlangga menoleh kebelakang. Mata melotot hingga hampir keluar saat menyadari queen white crocodile berada di rumah kakaknya.


"Karin..." Ucap Erlangga.


"Om, apa yang om lakukan?" Tanya Karin.


"Ada perlu apa kau kemari?" Sela Bima.


"Bima jaga ucapanku! Karin silahkan duduk" ucap Erlangga mendinginkan suasana.


Karin pun mengangguk lalu duduk di kursi tempat Bima duduk tadi. Suasana menjadi dingin kembali kala tatapan Karin berubah menjadi tatapan tajam milik charla.


"Tak perlu kau layangkan tatapan seperti itu, jika kau ada urusan dengan ku tak perlu bawa bawa om Erlangga" lunjak Bima.

__ADS_1


Erlangga yang mendengar keponakannya sudah berani melunjak kepada anak mantan king nya yang sekarang menjadi queen white crocodile pun melotot kan matanya.


"Bima!" Bentak Erlangga.


"Tidak apa apa om" ucap Karin.


"Bim apa kita bisa ngomong berdua bentar aja" ucap Karin. Nada suara melembut.


"Hm.." jawab Bima. Ia melangkah keluar rumah menuju taman terdekat dari rumahnya di ikuti oleh Karin.


Sesampainya di taman, Bima memilih duduk di kursi yang terletak di bawah pohon yang lumayan rindang. Karin mengikuti langkah Bima, aura dingin yang selama ini tersembunyi akhir keluar sore ini.


"Bahas lah apa yang ingin kau bahas" ucap Bima.


"Bim kenapa Lo kerluar dari anggota white crocodile?" Tanya Karin.


"Rin dengar gue lelah nahan ini semua, kalau pun gue harus nanggung resiko Akibat pilihan gue, gue siap" jawab Bima nada suaranya menghangat.


"Bukanya Lo yang bilang ke gue kalau Lo Bakal ikhlas in gue bahagia walau itu gak sama Lo dan Lo janji gak akan egois tentang perasaan itu" ucap Karin.


"Kapan gue ngomong kayak gitu?" Tanya Bima.


"Mungkin Lo lupa karena Ingatan Lo sedikit hilang, Lo cuma inget waktu Lo kecelakaan kan? Dan waktu di rumah sakit lo tetep mau jadi jadi sahabat gue" Karin mencoba membuat Bima mengingat perkataan nya saat di rumah sakit.


Bima mencoba mengingat ingat kejadian setelah ia kecelakaan tapi kepalanya terasa sakit dan berat.


Arghh... Erang bima. Ia menjambak njambak rambutnya sendiri. Karin yang melihat tingkah Bima menjadi panik.


"Bim... Yaudah yaudah Lo tenang Lo jangan inget inget kejadian itu" ucap Karin berusaha menenangkan Bima.


"Kita bicarakan hal lain aja ya.." lanjut Karin.


Mendengar suara lembut milik Karin membuat Bima mengingat sesuatu, ia juga ingat suara karin saat ia panik. Ingatan Bima perlahan kembali walau belum seutuhnya.


"Ah gue inget... Lo tetep jadi sahabat gue, soal perasaan nanti aja jodoh tuhan yang ngatur" ucap Bima mamaluk Karin erat.


Walau terkejut Karin membalas pelukan Bima yang sangat hangat. Bima juga memutuskan untuk bergabung kembali dengan Anggota white crocodile.


Seminggu telah berlalu. Keadaan Bima juga semakin baik. Kehidupan Karin dan Bima di dunia mafia juga berjalan seperti biasa bedanya sekarang Karin sering membawa hasil masakannya ke markas.


Malam ini Karin dan Zaky ingin bertemu di cafe roses. Karin akan menjawab pernyataan Zaky waktu itu. Zaky yang mendapat kabar dari Karin, sangat bersemangat menuju cafe tersebut.


Karin berjalan perlahan menghampiri meja yang di tempati zaky. Tampak dari wajah lelaki itu sangat berseri menanti jawaban sang pujaan hati.


"Maaf ya telat" ucap Karin.


"Eh iya gak apa apa yang penting kamu datang." Jawab Zaky tersenyum.


Suasana seketika menjadi dingin. Tidak ada pembicaraan antara dua insan yang saling mencintai itu. Dengan ragu Zaky mulai mengeluarkan suara.


"Apa kau Sudah memilik jawabannya?" Tanya Zaky ragu.


"Maaf... Jawaban ku .... Tidak" jawab karin membuat Zaky terkejut.


Wajah berseri milik Zaky kini berubah seperti daun layu. Tapi Zaky menutupi nya dengan senyum pahit. Perlahan ia mengangguk dan berkata.


"Terimakasih kau telah menjawab rasa penasaranku selama ini, terimakasih Karin terimakasih sekali." Ucap Zaky.


"Hari sudah mulai larut aku permisi..." Lanjutnya menahan rasa sesak di dada. Zaky beranjak dari duduknya. Dengan langkah lunglai ia meninggalkan Karin sendiri.


"Maksudku tidak menolak..." ucap Karin sedikit berteriak juga dengan senyum lebar.


Seketika kaki zaky tak dapat di gerakan ia tak percaya Karin menerima cintanya. Perlahan Zaky membalikan Badan dengan sigap Karin memeluk Zaky erat.


"do not listen to the word " ucap Karin mengeratkan pelukannya.


"I'm so sorry" jawab Zaky.


Aksi mereka banyak di tonton pengunjung cafe malam itu, bahkan ada yang merekam aksi mereka sejak Zaky menanyakan jawaban Karin. Semua pengunjuk cafe saat itu bersorak atas kemenangan Zaky meyakinkan hati karin.


selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2