
Zaky begitupun topan tak dapat melakukan apa pun selain menunggu keluar nya dokter dari dalam ruang rawat. beberapa menit lalu topan telah menghubungi istrinya bahwa dia tak dapat pulang karena Nata harus masuk rumah sakit. lantaran terlalu banyak meminum minuman keras. di tambah nata belum makan apapun.
"gimana keadaan nata?" tanya Sarah yang baru datang.
"masih di Tangani dokter ma... sabar" Zaky beranjak dari kursinya. "karin gak ikut?" tanyanya Kemudian.
"Karin ke rumah papanya, katanya ada urusan"
"jam segini belum pulang?" tanya Zaky sambil melihat layar hp nya yang menampilkan pukul 3 dini hari.
"mungkin masih sibuk Ky, lagian kan dia di rumah orang tua nya sendiri" timpal topan.
Zaky kembali duduk seperti semula di ikuti topan dan Sarah. mereka sempat berbincang bincang ringan sebelum dokter keluar dari ruang rawat Nata.
"keadaan tuan nata sudah lebih baik tuan, nyonya" lapor dokter itu.
"dia sudah sadar?" tanya zaky.
"saya beri obat penenang, kini beliau sedang beristirahat" ucap dokter tersebut.
topan mengangguk angguk lalu di susul kembalinya si dokter keruangan nya.
Sarah dan topan memutuskan untuk beristirahat di kamar yang di sediakan rumah sakit pribadi mereka. Sementara Zaky memilih untuk menemani nata di dalam ruangannya.
pukul 08.05 Zaky, topan dan Sarah telah berkumpul di sisi ranjang nata. menatap iba laki laki yang semakin hari tubuhnya semakin ringkih. terkadang Zaky juga dapat merasakan betapa menderitanya Sorang nata yang dengan sabar menanti resa kembali setelah upaya yang di lakukan.
Zaky mulai beranjak dari duduknya. kemudian laki laki itu membenarkan bajunya agar terlihat rapi.
"mau kemana?" tanya Sarah.
"mau jemput Karin ma... dari semalem aku hubungi hpnya non-aktif terus"
"biar mama saja, kamu di sini temani papa mu. jaga nata nanti mama kembali sambil bawa makanan buat kalian sama Karin sekalian" tawar sarah.
Zaky mengangguk pasrah. sebenarnya dia sangat rindu dengan Karin tapi jika dia tinggal nata sendiri, Zaky Takut mama dan papanya akan kewalahan dengan kondisi nata.
"iya ma..." akhirnya Zaky mengangguk pelan.
Sarah bangkit dari duduk dan keluar ruangan.
Padatnya kota di hari weekend seperti ini terkadang membuat Sarah iri. bagaimana dulu keluarganya selalu bersenang senang walau banyaknya pekerjaan yang menumpuk. dulu tak ada kata sibuk untuk keutuhan keluarga nya.
Sabrina putrinya, kenangan mereka berdua terlintas dalam benak sarah secara tiba tiba. di raihnya ponsel di dalam tas. di tatapnya penuh kerinduan seorang ibu kepada sayang buah cinta.
"nak... kamu pulang dulu, kalau kamu masih ada kamu pasti bakal ketemu kakak ipar kamu" suara Sarah parau dengan sendirinya.
"dia berhasil menjadi putri mama yang paling mama sayang setelah kamu, dia sosok ceria dengan segudang kesibukan" Sarah masih menatap foto putrinya. "tapi kakak ipar mu perlahan berubah semenjak perusahaan papanya akan di pindahkan ke Indonesia, mama senang tapi waktu mama sama dia jadi banyak yang hilang" setetes air mata berhasil jatuh dari pelupuk matanya.
"oh ya... kak Nata juga udah punya loh... malah sekarang istri kakak nata lagi hamil, andai kamu masih ada pasti sebentar lagi kamu jadi tante" Sarah masih meneruskan rasa sakitnya dengan berbicara pada Sabrina yang berbentuk foto dalam layar ponselnya.
tiiitt...
suara klakson mobil dari belakang membubarkan lamunan sarah. Sarah melihat mobil yang ada di depannya telah melaju beberapa meter dari jarak sebelumnya.
Sarah segera memedal gas untuk melaju. di letaknya ponsel dengan layar yang menunjukkan foto sabrina di atas dasbor mobilnya.
rumah besar dengan gerbang tinggi yang masih tertutup membuat Sarah terheran heran. rumah besar yang terlihat tidak ada kegiatan apapun di sana. sepi tak berpenghuni. Sarah hanya dapat melihat pos satpam yang di isi satu orang bertubuh tegap dengan seragam hitamnya.
tiiitt...
Sarah mengklakson agar satpam itu segera membukakan nya pintu gerbang.
beberapa saat di tunggu akhirnya gerbang pun di buka. dengan raut wajah terkejut satpam itu langsung menghampiri Sarah.
"Anda siapa?" tanya satpam itu tegas, padahal baru saja mobil Sarah berhenti.
"heh kamu tanya saya siapa?" Sarah tak mengerti.
satpam itu mengangguk dengan tatapan datar.
"panggil nona besar kamu, saya ingin bertemu" ucap Sarah dingin.
__ADS_1
"sudah buat janji?" tanya satpam itu yang semakin membuat Sarah terbengong tak mengerti.
"bisa di pecat kamu kalau berani kurang ajar sama saya" suara Sarah mulai meninggi.
"Hanya menjalan kan tugas" ucapan satpam itu masih datar.
tak kuasa dengan perlakuan satpam rumah Karin yang menurut Sarah tak memiliki tatak krama sama sekali membuat Sarah Benar benar naik pitam. tanpa berkata apa apa, Sarah keluar dari mobil dan langsung berjalan ke pintu utama rumah karin.
Sementara satpam itu hanya diam sembari berbisik kecil pada sesuatu yang terhubung dengan telinganya.
sudah kesekian kalinya Sarah mengetuk pintu. beberapa kali terakhir dia bahkan sampai menggedor pintu itu.
dua orang laki laki bertubuh tegap keluar dari dalam rumah yang langsung menyeret Sarah untuk menjauhi pintu. Sarah yang masih terkejut hanya dapat diam sejenak dan mencerna segala yang terjadi.
"apa apaan kalian ini!" teriak Sarah yang berhasil menghentikan aktivitas dua orang laki laki itu.
dari dalam rumah, bi Ina yang mendengar teriakan dari suara yang familiar baginya langsung berlari kearah pintu utama. di sana dia mendapati Sarah tengah bertengkar dengan dua orang bodyguard Karin.
"heh heh... kalian ini ngapain to ha?" tanya bi Ina.
dua bodyguard di tambah satpam yang masih berdiri di tempat, menatap bi Ina heran. jelas jelas ada penyusup yang mau masuk ke rumah tuan besar mereka tapi bi Ina malah bertanya 'ngapain' sungguh aneh.
"heh lepas, asal kalian tau beliau ini mertuanya nona Karin!" ketus bi Ina yang berhasil membuat mereka bertiga ternganga.
kedua bodyguard itu langsung melepaskan cengkraman tangan pada Sarah dan menundukkan kepala sebagai tanda minta maaf. setelah menghela nafas kasar Sarah mengangguk. kedua bodyguard dan satpam itu kembali ke tempat masing masing.
"nyonya... ada yang lecet?" tanya bi Ina yang mengundang senyum Sarah.
"enggak Ina... ternyata kata Karin benar ya... kamu itu orangnya lucu" ucap Sarah sambil tersenyum manis.
"ah nyonya bisa saja" refleks Ina memukul tangan Sarah pelan.
menyadari tindakannya, Ina menunduk dengan rasa bersalah.
"gak apa apa" ucap Sarah.
bi Ina kemudian mengajak Sarah masuk ke dalam rumah. rumah besar yang masih terlihat sepi membuat Sarah bertanya tanya. bukankan seharusnya rumah ini ramai karena tuan Besar pemilik rumah akan segera pulang.
"kok sepi bi? yang lain mana?" tanya Sarah masih basa basi.
sebelum benar benar pergi, Sarah dengan cepat menarik tangan bi Ina.
"gak usah bi saya disini cuma sebentar kok, cuma mau jemput karin"
mendengar itu bi Ina terbengong cukup lama.
"non Karin? dia gak ada di sini nyonya"
kini Sarah yang terdiam. apa mungkin Karin sudah berangkat ke kantornya? tapi itu tidak mungkin hari ini weekend. oh atau mungkin dia ada di cabang perusahaan papanya untuk ikut mengatur peralihan perusahaan yang di bilang Karin belakang ini? semua pikiran itu memenuhi pikiran Sarah.
"non Karin semenjak menikah jarang banget ke sini, malah saya rasa gak pernah nyonya" celetukan dari Ina berhasil membuat Sarah kembali berfikir.
bukan kah selama ini Karin selalu bilang bahwa dia akan menginap di rumah papanya untuk ikut membantu peralihan perusahaan itu. tapi ini bi Ina mengatakan hal yang jauh dari apa yang telah dia duga.
"belum pernah pulang ke sini bi?" tanya Sarah memastikan.
"iya nyonya, saya kira malah non karin terlalu bahagia di rumah barunya sampai lupa sama saya" ucap bi Ina dengan nada sedih.
"kemana kamu selama ini Rin? kamu bohong ke mama begitu pun Zaky?" semua pikiran negatif berputar riang di dalam kepalanya.
Sarah kemudian pamit untuk pulang kepada bi Ina. dia juga memberi pesan pada bi Ina jika karin kesini segera hubungi dia.
Karin bergegas masuk rumah sakit pribadi keluarga Hartanto setelah di beri tau penjaga rumah Zaky. Karin sedikit terkejut setelah mendengar bahwa nata masuk rumah sakit, hal itu yang menyebabkan rumah terlihat sepi.
"sayang..." ucap Karin saat mendapati Zaky berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
"eh kamu... kok ada di sini?" tanya Zaky heran. "mana mama?" sambungnya lagi.
"mama?"
"mama tadi keluar buat jemput kamu kerumah"
__ADS_1
"kerumah siapa?"
"ya rumah kamu lah sayang... bukanya kemarin kamu izin mau pulang kerumah Sendiri"
jawaban Zaky berhasil membekukan langkah Karin.
"kenapa?" tanya Zaky.
"enggk" jawab Karin singkat berusaha menutupi ekspresi tegangnya.
sesampainya di ruang rawat nata, Karin meminta izin untuk masuk sendiri ke dalam. walau setengah curiga, Zaky hanya dapat mengiyakan.
di dalam sana, Karin dapat melihat betapa sakitnya ada di posisi nata saat ini. bertahan dengan tubuh yang mulai tak terurus. bahkan nata seorang pembenci minuman beralkohol nekat menghabiskan dua botol lebih minuman itu. untuk periode pertama itu akan sangat berbahaya.
"Nat..." lirih Karin.
lelaki itu menggeser sedikit tangan yang menutupi matanya. dengan lirikan datar, nata tak menjawab apa pun.
"gue mau ngomong bentar, ini soal resa"
mendengar nama istri di sebut, nata langsung bangkit dari posisi berbaringnya. sementara Karin yang melihat nata kesusahan untuk duduk tak segan segan untuk membantu laki laki itu.
"bagaimana? dimana dia? gimana keadaan dia?" tanya nata cepat.
"gue tau resa ada di mana. dia di sekap di luar kota. kalau tentang keadaan gue gak tau, karena kemarin anak buah gue cuma dapat dimana letak resa. oh ya dia di sekap di salah satu rumah bukan markas atau sejenisnya" ucap Karin dengan nada pelan.
"Lo sembuh dan kita cari bareng bareng, jangan gegabah lagi ya Nat... gue takut kalau resa tau keadaan Lo kayak gini dia malah semakin kepikiran" nasehat Karin sebelum pergi meninggalkan nata yang masih dalam posisi duduk dan termenung.
pelan Karin membukanya pintu kamar rawat. dirinya langsung di kejutkan dengan keberadaan Sarah yang menunggunya tepat di depan pintu.
dengan wajah datar, Sarah melihat Karin dari ujuk kaki hingga kepala.
"Karin... mama mau bicara sebentar" ucap Sarah datar.
mendengar itu Zaky dan Topan saling bertatapan.
"ada apa ma?" tanya Zaky.
"kamu diam" ketus Sarah berhasil membuat Zaky mati kutu.
"karin ikut mama" Sarah berjalan menjauh dari keberadaan Zaky dan topan. ia tak lupa menggandeng tanya Karin dengan tarikan yang cukup kasar.
setelah di pastikan kondisi sudah aman, Sarah menarik nafas dalam. lalu menghembuskan nya secara tenaga. tenang dengan keadaan dan segala rasa kecewa yang membara di dada.
"kamu kemana Karin?" tanya Sarah lebih ramah dari tadi.
Karin diam, mati lah dia. tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia dari rumah papanya karena Karin tau Sarah dari sana dan mencarinya.
"Karin? ada apa?" tanya Sarah lagi.
"maaf ma... kemarin Karin ga jadi kerumah papa, Karin langsung ke cabang perusahaan papa yang ada di kota ini juga" jawab karin lirih
"sebelumnya kamu selalu izin kerumah papamu tapi kata bi Ina kamu gak pernah pulang setelah menikah dengan Zaky! kamu kemana?" Sarah kembali bertanya.
"ke perusahaan papa juga"
"sampai berhari hari?"
"iya ma... pekerjaan di sana banyak banget"
Sarah mengelus rambut panjang karin sambil tersenyum.
"mama gak mau kamu kena masalah sama Zaky gara gara ini, jadi lain kali jujur ya sayang... mama takut kalau Zaky sendiri yang tau" ucap Sarah sebelum mengajak karin untuk kembali ke bilik pribadi rumah sakit itu.
.
.
selanjutnya...
hai teman teman jumpa lagi😁 maaf ya baru up.
__ADS_1
tetep setia sama tulisan ku ya... tanpa kalian aku bukan apa apa😭 yah kok ngesad canda ngesad😂
spam up guys....