
Sementara di tempat lain.
Seorang pria tengah berbaring di atas ranjang tidur dengan mata tertutup, bukan untuk tidur tapi memikirkan gadis yang menabraknya tadi.
"Bro siapa cewek tadi?" Tanya nata yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Gue gak kenal sih sama dia... Tapi gue pernah ketemu sama dia" jawab zaky. Dia pun bangun dari posisi tidurnya.
"Oh jadi Lo udah pernah ketemu.. dimana?" Tanya nata lagi.
"Waktu itu gue beli sarapan buat mama di resto teratai. Gue gak sengaja nabrak dia" jelas Zaky.
"Haha jodoh kalik. Gue yakin waktu itu Lo yang nabrak dia kan?" Ucap nata.
"aamiinn" batin Zaky.
"Ah Lo sama aja sama papa... Gue baru ketemu dia dua kali ini.. apaan jodoh jodoh" elak Zaky padahal dalam hati dirinya merasa senang kala papa dan sahabatnya mengatakan hal spesial antara dirinya dan Karin.
"Oh iya gue tidur di kamar ini aja ya sama Lo.. gue gak tega liat Tante murung terus di bawah" ucap nata.
"Mama? Murung? Kenapa? Apa mama masih curiga kalau Sabrina bukan meninggal karena kecelakaan" tanya Zaky bertubi tubi.
"Eh emang gue tau." Jawab nata seraya menaikan selimut ke atas tubuhnya.
"Ah ****** Lo" ucap zaky. Ia pun memutuskan turun ke lantai bawah untuk memastikan keadaan mamanya.
Terlihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat elegan dengan busana dress coklat tengah menunduk di sofa ruang keluarga. Nampak sebuah beban berat yang tengah dia pikul. Kehilangan seorang anak yang selalu menemaninya kala suami dan putra nya sibuk kini telah tiada. Berbagai fikiran negatif muncul dalam benaknya namun selalu ia tepis.
"maafkan Zaky ma... Zaky penyebab kepergian Sabrina" ucap zaky dalam hati. Lelaki itu masih berdiri di atas tangga dengan tatapan rasa bersalah yang teramat besar.
"ma... Zaky janji tidak akan tinggal diam akan ku balas tetes air mata yang jatuh itu dengan tetesan darah" janji Zaky pada dirinya sendiri.
Akhirnya Zaky memutuskan untuk turun lalu duduk di samping mamanya. Sarah tak menyadari jika Zaky duduk tepat di sampingnya.
"Ma... Mama" panggil Zaky seraya memegang pundak Sarah.
"Em... Ky kamu belum tidur?" Jawab Sarah.
"Apa Zaky bisa tidur kalau mama juga tidak tidur? Ma... Sabrina sudah tenang, mama harus ikhlas" jawab zaky.
"Ky mama sudah ikhlas.. tapi ini berat sayang.. mama perlu waktu" ucap Sarah.
"Oke Zaky paham Ma... Ya sudah mama istirahat, nanti mama bisa sakit" ingat Zaky lembut pada mamanya.
"Baiklah sayang..." Jawab Sarah.
Zaky mambantu mamanya untuk berdiri, ia juga mengantar mamanya ke dalam kamar.
"good night sayang" ucap Sarah seraya mencium dahi putranya.
__ADS_1
"Night ma..." Jawab zaky. Zaky pun keluar kamar. Saat hendak menuju kamarnya Zaky melihat ruang kerja papanya terbuka.
"Dari tadi aku tidak melihat papa apa papa ada di dalam?" Tanya Zaky saat dirinya berdiri tepat di depan pintu masuk ruang kerja.
Tanpa ragu akhirnya Zaky masuk ke dalam ruangan tersebut. Nampak ruangan berantakan. Kertas, map map jatuh berserakan. Mata Zaky menangkap tubuh lelaki yang terbaring di sofa ruang tersebut dengan posisi tangan yang menutup mata.
"Pa.." panggil Zaky pada papanya.
Topan yang mendengar panggilan Zaky segera membuka mata kalau duduk bersender.
"Mama mu sudah tidur ky?" Tanya topan.
"Mama baru saja Zaky antar ke kamar." Jawab zaky.
"Kenapa papa malah tidur sini?" Tanya zaky.
"Papa merasa bersalah pada mamamu... Papa takut jika mamamu benci sama papa nak..papa salah" jelas topan.
"Pa... Mama butuh papa sekarang. Mama butuh kekuatan, mama butuh dukungan. Dan atas tragedi ini Zaky yang salah. Seharusnya pada saat itu Zaky tidak mengancam leader white crocodile. Seharusnya Zaky tau leader white crocodile itu sekejam apa." Sesal Zaky.
"Kita yang salah nak... Papa kurang gerak cepat.. sudah lah kitakan harus sama sama kuat untuk mama. Lebih baik sekarang kamu istirahat." ingat topan.
"Iya pa.. papa lebih baik temani mama. Zaky keatas dulu. Malam pa" pamit Zaky.
"Malam nak" jawab topan. Dirinya kembali teringat perkataan Zaky. Zaky benar di situasi seperti ini seharusnyadia tidak meninggalkan istrinya. Topan pun bergegas menuju kamarnya dan istirahat.
Sesampainya di kamar Zaky merebahkan dirinya di samping nata yang sudah tembus ke alam mimpi. Matanya sangat sulit terpejam kala mengingat kesedihan orang tuanya. Namun tiba tiba ada harapan di hatinya. Ingin sekali rasanya dia bertemu kembali dengan gadis yang dua kali sudah dia tabrak tanpa sengaja. Ingatannya tertuju pada kartu nama yang sempat dia berikan kepada gadis itu.
"mengapa dia tak kunjung menelpon ku ya?" Tanya Zaky dalam hati.
"kau bodoh ini sudah jam berapa? dan kau berharap gadis itu menghubungi mu? ah sudahlah pasti kartu nama mu sudah di buang oleh kekasihnya yang tadi seperti membentak ku" batinya lagi.
Zaky pun berusaha menutup matanya dan akhirnya berhasil. Dia berhasil masuk ke alam mimpi yang yang sangat bertolak belakang dengan kenyataan saat ini. Mimpi yang indah pertemuan antara dirinya dan gadis itu diwarnai pelangi yang nampak menawan hati. Hingga terbuai tak sadar itu hanya bunganya tidur.
pagi nampak cerah. Dua lelaki tampan itu keluar dari kamar dengan dandanan yang rapi. Mereka menuju meja makan untuk menjalankan rutinitas pagi.
"Wih para Jaka Jaka sudah rapi saja" ucap topan yang sudah rapi dengan setelan jas nya.
"Pagi om Tante..." Senyum nata.
"Pagi ma... Pa.." senyum Zaky.
"Pagi anak anak mama" jawab Sarah. Terlihat dari wajah Sarah lebih segar dari pada kemarin malam.
"Hai anak malas apa kau akan bekerja hari ini?" Tanya topan pada Zaky.
"Hmm ya aku akan bekerja lagi... Lebih dari satu bulan aku tak berkunjung ke kantor."
"Baiklah kalau begitu papa akan ganti baju lalu duduk di rumah.." ucap topan.
__ADS_1
"Bersama mama.." lanjutnya dengan mengedipkan matanya sebelah.
Nata dan Zaky yang melihat reaksi lelaki berumur itu terlihat memberikan tatapan menggoda kepada wanita paruh baya yang duduk di sampingnya. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum malu.
"ah papa malu lah" ucap Sarah.
"Zaky, nata apa kalian berminat memiliki adik dan keponakan baru?" Tanya topan menggoda istrinya.
"Eh apalah kalian ini cepat sarapan" ucap Sarah mengalikan perhatian.
Mereka pun tertawa bersama membuat Sarah semakin merasa tenang dan mulai mengikhlaskan kepergian Sabrina.
"Nata mulai sekarang tinggal lah bersama kami ya nak akan lebih baik jika kau tinggal bersama om dan Tante disini" ucap Sarah di sela sela makan.
"Ah tidak Tan lebih baik nata pulang ke apartemen nata sudah lebih dari tiga bulan nata tidak pulang kesana" jawab nata.
"Hai ayah dan ibumu akan lebih tenang jika kau tinggal bersama kami. Kami bukan orang lain nata, Om kakak dari ibumu" bujuk topan.
"Tapi om... Nata sudah janji pada ayah dan ibu untuk mandiri setelah kepergian mereka" bantah nata lagi.
"Dengarkan om... Sekarang ini rumah mu. Warisan ayah dan ibu mu akan cair saat kau memutuskan untuk menikah nanti, lagi pun kau tidak hanya tinggal disini tapi kau juga bekerja bersama kami nak" nasihat topan.
"Om nata..." Belum sempat nata melanjutkan kalimatnya, tangan Zaky menepuk pelan pundaknya.
"Lo sudah seperti adek gue sendiri, gue yakin Tante Mira dan om andrea bakal senang kalau liat anak tunggalnya tidak menjauh dari keluarganya. Lo temen in gue disini jadi adek gue ya" ucap Zaky menepuk pelan bahu nata.
Nata yang mendengar ucapan Zaky menjadi tenang. Kepergian orang tuanya 10 tahun lalu memang meninggalkan kepedihan mendalam pada dirinya. Bahkan hal itu berdampak negatif. sangat membenci sopir yang saat itu mengantar ayah dan ibunya pergi keluar kota. Ada hal ganjal dari kematian orang tua nya dan hanya dia yang merasakannya.
"Nat jangan ngalamun... Keluarga baru Lo disini dan mereka udah tenang Nat" ucap Zaky menyadarkan nata.
"Iya bro ya sudah aku mau berangkat kerja dulu. Om Tante, nata pamit" ucap nata berdiri dari duduknya lalu bersalaman pada Sarah dan topan.
"Zaky juga pamit pa ma" ucap Zaky ikut bersalaman.
Di markas white crocodile.
Charla terlihat sangat rapi. Hari ini dia berniat untuk pulang kerumah. Sudah lebih dari tiga hari ia berada di markas. Verel yang melihat queennya sudah rapi dan tidak menggunakan setelah hitam menaruh curiga.
"Kau mau kemana?" Tanya verel yang masih membenahi dasinya.
"Oh ini gue mau pulang. Udah lebih dari tiga hari kan gue di markas terus." Jawab charla santai.
"Benarkah?" Tanya verel lagi.
.
.
Selanjutnya...
__ADS_1