
Mentari menyapa bumi dengan senyum indah. Burung bernyanyi menyambut hari baru. Sungguh cerah kala menatap mentari yang setia menyunggingkan senyum menawan.
Tapi... Ada hal berdeda di kediam Santos.
Suara ricuh kala keinginan tak sependapat dengan kenyataan. Semua barang yang ada di dalam kamar Karin berhamburan. Kegaduan di mulai saat Karin melihat koper-koper besar milik papanya telah siap.
"Papa aku mohon pikirkan lagi..." Rengek Karin sambil menarik-narik tangan papanya.
"Oke Karin, papa punya pilihan untuk kamu..." Samson menggantungkan kalimatnya.
"Apa?" Tanya Karin.
"Kamu ikut papa ke Singapura atau biarkan papa pergi dan setiap akhir bulan papa kembali jenguk kamu. Bagaimana?" Jelas samson.
"What? Ikut papa? Gak aku gak mau... Dia belum mati dan dendamku belum terbayarkan" jawab Karin dengan wajah terkejut.
"Hai anak papa, papa sudah bilang jangan menaruh dendam lagi...kapan hidup kamu akan merasa damai jika seperti ini terus? Mama sudah tenang di sana dan mama akan lebih tenang jika kamu sudahi masalah ini... Boleh?" Nasehat samson pada putri nya.
Mendengar jawaban papanya yang kurang memuaskan hati malah membuat mood Karin semakin hancur. Prinsip hidupnya tetap sama. apa yang di tanam akan di tuai sendiri dan nyawa di bayar nyawa.
"Oke Karin akan ambil keputusan yaitu membiarkan papa pergi dan akan melanjutkan dendam Karin" jawab Karin santai.
"Karin papa sudah bilang kamu..." Belum sempat Samson melanjut kalimatnya, Karin mengangkat tanganya.
"Jika papa ingin Karin menghargai keputusan papa, papa juga harus menghargai keputusan Karin" sela Karin.
"Baiklah ini masalahmu kamu sudah dewasa dan papa harap keputusan kamu benar" jawab Samson.
Perdebatan yang cukup panjang itu akhirnya berakhir. Samson pamit kepada putri tunggalnya untuk kembali bekerja. Dia memilih kembali dengan pesawat jet pribadi nya.
Dengan perasan yang sedikit di paksakan Karin mengantar papanya ke pelandasan.
__ADS_1
"Papa jangan sampai lupa dengan janji papa ya..." Ucap Karin mengingatkan.
"Papa tidak akan lupa sayang..." Jawab Samson tersenyum.
"Papa berangkat ya... Jangan sering-sering tidur di markas" lanjutnya dengan mengecilkan suara pada akhir kalimat.
"Okehh..." Jawab Karin.
Setelah papanya lepas landas karin kembali kerumah. Dia berbaring di sofa ruang tamu dan memainkan ponselnya. Sebuah pesan singkat tertera pada notifikasi layar. Karin membuka pesan WA itu dan membacanya sedikit serius.
*Bersiaplah* bunyi pesan yang tak lain milik Jack.
"Dia mengancam ku? Sungguh dia masih berani rupanya..." Bisik dalam hati Karin.
"Bi... Aku mau keluar, nanti pulang sedikit larut ya.." teriak karin pada pembantunya.
"Tapi nona, nona belum sarapan" jawab Bi Ina.
"Ih non paling pinter ngerayu deh" jawab bi Ina.
"Hehehe.. nanti kalau papa telepon jangan bilang aku keluar ya ngomong aja aku tidur atau ngapain gitu oke" ucap Karin memberi peringatan.
"Nona mau kencan ya... Siapa non lelaki beruntung itu?" Goda Bi Ina.
Mendengar ucapan bi Ina, Karin terkaget.
"iya kencan sama musuh, makan peluru" gerutu nya dalam hati.
"Haha anggap saja begitu" jawab Karin setelah lama terdiam.
"Oke deh langgeng ya non hihihi.." ucap bi Ina membuat Teling Karin geli.
__ADS_1
"Iya..." Jawab Karin sambil berlari kecil meninggalkan bi Ina sendiri.
Saat sudah masuk mobil Karin mengusap keringat dingin yang mengucur karena ucapan bi Ina tadi.
"OMG.. demi apa gue di doa in langgeng... Iya langgeng Sampek tua musuhan terus deh" gerutunya menyalakan mesin mobil.
Karin melajukan mobilnya menuju markas tapi sebelum berangkat ke markas dia menyempatkan diri membeli buah dan makanan ringan untuk di bawa ke rumah sakit.
"Nih Lo baca... Gue di ancam lagi.. gila gak tuh liat aja adik kesayangan nya bakal gue buat kripik tempe" gerutu Karin sambil menyodorkan ponsel nya pada Bima saat dia sudah sampai di rumah sakit.
"Tu anak gak ngandung kedelai kalik, lagian kenapa dia masih ngancam Lo ya" jawab Bima ikut bingung.
"Tunggu Lo jangan lupa kalau papanya Mantan king Black dragon jangan-jangan dia minta bantuan papanya" tebak Bima.
"Bisa jadi Bim... Emang ya kalau sejatinya pengecut ya tetep pengecut" jawab Karin tambah geram.
"Dah ni gue baik sama Lo and gue mau langsung otw ke markas bye...!" Lanjut Karin menyodorkan bingkisan yang di bawanya.
"Wih thanks ya... Emang kalau udah cinta bakal perhatian" jawab Bima mengecilkan suara di Kalimat terakhir.
"Apa!? Coba ulang" ucap Karin yang masih sempat mendengar ucapan Bima.
"Ee.. itu Lo ada nyamuk di sini" jawab Bima mencari alasan.
"nyamuk ke cinta jauh kalik, udah ah... orang sakit pikirannya juga ikut sakit" gerutu karin dalam hati. Dia meneruskan langkahnya meninggalkan ruangan Bima.
.
.
selanjutnya...
__ADS_1