
Rintikan gerimis menambah rasa khawatir yang terus berputar di otak sarah. semenjak nata pulang setelah pergi tanpa pamit yang mengatakan Karin masuk rumah sakit keluarga, dirinya tak kunjung tenang. Resa hanya bisa menatap sendu ibu mertuanya.
"mah... duduk saja dulu, Karin sama Zaky pasti lagi ada di jalan kok" ucapnya lembut.
"Res kalau sampai Karin kenapa napa karena peneror itu mama gak akan mau tinggal diam. mama mau papa, suamimu dan Zaky segera membereskan ini semua" ucap Sarah menggebu gebu. "di tambah kalau sampai papanya Karin tau bagaimana nanti dia menilai Zaky? suami nggak becus? mama gak mau Res..." sambungnya.
"mama tenang, ini sudah malam lebih baik mama istirahat besok kan bisa ketemu Karin"
"nanti dulu"
Resa memilih diam. tak ada lagi gunanya ia membujuk Sarah kalau sudah kekeh dengan pendirinya. wanita itu sama keras kelapa karena jika di ingat Zaky juga memiliki sifat itu.
selang beberapa menit suara deru mesin mobil membuat kepala Sarah yang tadinya menunduk segara mendongak. ia tau itu suara mobil milik Zaky putranya.
Sarah segara bergerak untuk membantu Karin berjalan. di lihat dari kondisi Karin, dia hanya terluka di bagian tekuk leher belakang. tidak terdapat luka lain yang lebih parah lagi. itu membuat Sarah bernafas lega.
"Karin... lukanya ada di bagian mana sayang?" tanya Sarah cepat.
"Karin gak papa kok ma... cuma memar di leher aja kok" jawab Karin santai dengan tangan masih memegang tekuk nya.
"ya sudah kamu duduk di sini sama Resa, mama sama Zaky mau masuk ke ruang kerja papa dulu ya"
Karin mengangguk mengiyakan ucapan Sarah. setelah itu Zaky di tarik secara paksa oleh Sarah menuju ruangan yang terdapat di antara ruang keluarga dan ruang tamu. di sana lah Nata dan Topan berkumpul dan tengah berdiskusi. membicarakan pesan teror yang Nata dapatnya kurang lebih seminggu yang lalu.
Baik Topan maupun nata menatap tanya di saat Zaky tepat masuk ruangan kedap suara itu. mereka menunggu saat Zaky siap mengatakan apa identitas keluarga mereka yang sebenernya. dengan cara seperti itu Karin akan siap dengan segala kondisi yang ada.
"apa?" tanya Zaky tak mengerti arti tatapan itu.
"sudah siap?" tanya Topan.
"tentang apa?"
"identitas keluarga kita... Karin harus-" penjelasan Topan jelas terpotong oleh ucapan Zaky.
"nanti di saat yang tepat"
"sampai kapan ky? yang paling di benci seorang perempuan adalah kebohongan kau tau itu" tekan Nata.
"tapi kau tau apa yang barusan terjadi pada Karin hari ini" jengah Zaky.
"apa yang di katakan nata benar ky... kamu harus jujur, sejujur jujurnya." Sarah ikut bersuara.
"tapi ini belum tep-" kini giliran topan yang memotong ucapan Zaky.
"saat nya dan sudah waktunya. tidak ada kata menolak malam ini. jujur pada istri mu jika kau tak ingin kehilangan dia"
"papa mengancam!" suara Zaky meninggi.
"tidak sama sekali tidak. papa hanya mengingatkan. hari ini dan malam ini lalu setelah ini" jawab lelaki paruh baya itu.
Di setiap kata yang di lontarkan topan mengandung penekanan yang sangat berarti. membuat Zaky tak lagi mau membantah lalu mengiyakan kemauan mereka yang ada di sana. tapi rasa tak siap juga menghampiri hati kecilnya. di ingat lagi kalau Karin habis saja mengalami kejadian tidak mengenakkan padahal baru seminggu menjadi anggota keluarga Hartanto.
mereka berempat pun akhirnya keluar dari ruangan kerja tersebut. membuat pembicaraan yang tengah Karin dan Resa gelar dengan candaan terhenti sejenak. memperhatikan raut wajah keempat orang itu penuh dengan ketegangan. rasa penasaran menghampiri Karin tapi tidak dengan resa. dia tau mengapa wajah wajah mereka menampilkan kekhawatiran yang mendalam.
"Resa... Karin kita duduk bareng dulu ya... ngobrol sebentar menceritakan apa yang kalian lalui barusan dan sepanjang hari ini" ucap Sarah lembut sebelum akhirnya mendaratkan diri di sofa empuk tepat di sebrang Karin dan resa duduk.
"iya mah..." jawab Karin sedikit ragu. pasalnya dia ingin kejadian tadi di sembunyikan saja atau tak perlu di ungkit lagi. ia takut jika keluarga ini mendapat teror tak mengenakkan dari musuh bebuyutan nya.
"ya sudah sekarang duduk" ucap Sarah di ikuti topan, Nata dan Zaky yang duduk di samping pasangannya masing masing.
"tadi Zaky bilang pada nata untuk menyusulnya di rumah sakit keluarga karena kamu pingsan secara tiba tiba. lalu tadi Nata bilang kamu di pukul orang, papa minta kronologi, boleh?" tanya topan lembut.
"oh iy iya pa... tadi saat di jalan kami dia berhentikan oleh sebuah mobil. dari dalamnya ada sekitar lima sampai tujuh orang. mereka menyerang kita secara tiba tiba. kalau boleh tau siapa mereka?" Karin menjelaskan awal kejadiannya saja. ia tak mau berlama lama merasa penasaran.
"jadi sebenarnya kami sekeluarga selalu mendapat teror setelah pernikahan nata dan resa. oleh sebab itu juga mama dan papa pengen kamu cepat cepat menikah dengan Zaky, agar kami juga bisa melindungi kamu. mereka itu-" ucapan topan tiba tiba di potong oleh Zaky.
"musuh di dunia bisnis kami" potong Zaky cepat. "ada yang tidak suka keluarga Hartanto berjaya" sambungnya yang mendapat tatapan heran dari mama, papa, nata bahkan sampai resa.
"kenapa mereka meneror setelah pernikahan nata?" tanya Karin.
__ADS_1
"kerena itu musuh di dunia bisnis nata, jadi mereka tidak suka nata mendapat kesempurnaan dalam hidupnya" jawab Zaky lagi tanpa memperdulikan tatapan heran dari empat orang itu.
"ohh..." Karin bukan orang biasa, dia dapat Melihat segumpal kebohongan dalam diri Zaky. tapi ia tak menuntun itu. ia membiarkan Zaky tenang setelah kejadian tadi karena bagi Karin itu bukan masalah besar. itu dapat ia selidiki sendiri melalui anak buahnya.
"em... Karin aku minta tolong boleh?" tanya Zaky tiba tiba.
"iya..."
"sakit... apa bisa kau kompres?" Zaky menunjuk sudut bibirnya yang memar.
"iya boleh... mah... pa... Nat... sa.. aku pamit ke kamar dulu ya" izin Karin tak enak hati meninggalkan mereka semua.
tidak menunggu jawaban dari yang lain, Zaky segera menarik Karin untuk naik ke lantai atas menuju kamar mereka. takut nanti kalau salah satunya membuka suara dan mengatakan yang sebenarnya.
Semua orang yang masih duduk manis di sana saling bertatapan. mengutarakan pertanyaan di dalam Metra mata yang mengandung arti. tak paham dengan apa yang di mau Zaky. hanya satu yang mereka takutkan jika suatu saat nanti Karin tau yang sebenarnya, betapa sakit rasa hatinya.
berbeda dari yang lain, yang memikirkan bagaimana nasib Karin nanti jika tau yang sebenarnya. topan masih keras berfikir apa yang terjadi di antara mereka setelah mereka tau bahwa yang selama ini menjadi pasangan mereka ada musuh sendiri. topan juga tidak mau gegabah dengan memaksakan kehendak Karin untuk bercerita siapa dirinya. dia tau anak itu pasti juga takut kehilangan Zaky dan kemungkinan memang itu yang terjadi.
"biarkan, Zaky masih takut kehilangan Karin. nanti akan ku bicarakan dengannya" topan membuka suara sebelum dia pergi beranjak dari tempat duduk menuju ruang kerjanya.
semua terdiam, sampai helaan nafas panjang dari nata terdengar.
"mama mau masuk kamar dulu" ucap Sarah.
resa dan nata sama sama mengangguk mereka berdua juga menyusul tetapi pergi ke kamar mereka sendiri.
Siang itu terik matahari begitu membakar kulit. padatnya kota menambah hawa panas di sekitar kantor di jam istirahat. hanya berdiri sembari menempelkan benda pipih itu ke telinga sampai pada akhirnya senyum mengembang dari bibirnya.
"maaf tuan baru saya angkat..." ucapan maaf dari sebrang.
"bukan masalah besar bagi saya" jawab Bima santai.
"ada perlu apa tuan? menelpon tiba tiba?"
"kamu bisa temani saya makan siang sekarang?"
"sepertinya bisa tuan, dimana?"
saat di dalam mobil, notifikasi dari layar ponsel membuat senyum lelaki itu kembali terukir.
"pilihan yang perfect" ucap lelaki itu lalu menjalankan mobilnya.
Sesampainya di tempat tujuan Bima segera berjalan ke arah meja yang di sana telah duduk seorang gadis. dia tak dapat mengejutkan gadis itu karena tubuhnya menghadap kearah pintu masuk.
"hai Tan" sapa lelaki itu.
"eh... taun"
"Bima saja"
"heh? iy iya" selalu seperti itu ketika berhadapan dengan seorang Bima, Tania akan grogi tanpa alasan yang jelas.
"sudah pesan?" tanya bima dengan senyuman.
"belum tuan.. eh Bima"
"pesanlah, aku ikut kamu" ucap Bima.
"dari tadi kamu selalu ingin ikut aku? apa tidak ada keinginan lain?"
"tidak, jika suatu saat aku menginginkan mu apa kamu akan menurutinya"
"hah?" Tania terperanjat dengan perkataan Bima.
"abaikan, cepat pesan sebelum jam istirahat selesai" peringat Bima.
Tania mengangguk lalu memanggil waitress yang tak sengaja lewat. ia memesan makanan cepat saji tak lupa dengan minumannya. suasana yang panas membuat tania memilih es choco, ia juga memesankan nya untuk bima yang tampak hanya diam melihat pilihan yang di ambil Tania.
setelah waitress itu pergi Tania, mulai merasakan ada sesuatu yang bima simpan. nampak seperti beban yang ingin ia jatuhkan saja.
__ADS_1
"bim... kamu kenapa? gak suka sama pilihan ku?" tanya tania.
"oh gak kok" jawab Bima cepat dengan lengkungan bibirnya. "boleh ku tanya sesuatu?" sambungnya.
"selama aku bisa menjawab boleh saja"
"sejak kapan kau bekerja dengan perusahaan Hartanto prajaya pusat?"
"kurang lebih dua tahun, tapi saat aku masuk untuk menjadi manager keuangan Zaky masih di angkat menjadi direktur"
"apa yang kau tau tentang keluarga Hartanto?" tanya Bima dengan mimik wajah serius.
Aneh rasanya melihat mimik wajah Bima yang tiba tiba berubah. ada rasa tak enak juga yang tiba tiba menyerang Tania saat Melihat tatapan mata itu.
"tidak terlalu banyak, yang ku tau Zaky memilik seorang adik perempuan yang meninggal hampir satu tahun lalu. kerena kecelakaan beritanya banyak di sorot akan tetapi secara tiba tiba berita itu lenyap" jawabnya dengan wajah serius pula. " ada gerangan apa kamu menanyakan itu?" sambung dengan tatapan lebih serius lagi.
"tidak ada aku hanya ingin tau, kau tau kan kalau sekarang Karin sudah menikah dengan Zaky jadi otomatis Zaky juga menjadi sahabat ku" elak Bima padahal bukan itu yang membuat nya sangat ingin tau tentang keluarga Hartanto.
Tania hanya mengangguk angguk. setelah itu makanan yang mereka pesan datang.
Semacam tengah terburu buru Bima menyantap makanannya. sampai tidak ada rasa nikmat yang dia rasakan. begitu makanan itu masuk mulut ia segara menelannya. membuat tatapan heran Tania melayang arahnya.
Menyadari tatapan Tania Bima segera menghentikan aksinya. ia menatap Tania dengan senyuman.
"pukul dua belas lebih empat puluh lima, 15 menit lagi jam istirahat selesai" ucap nya.
Tania mengangguk mengiyakan. bukan itu yang dia heran kan. kenapa seakan akan Karin adalah prioritas semua orang yang dia kenal. bahkan Resa yang telah menjadi temannya sejak SMP selalu membahas tentang Karin setiap bertemu dengannya. khawatir dan rasa takut selalu Resa tunjukan untuk Karin. entah apa yang ada dalam diri wanita itu.
Selesai makan Bima meminta izin pada Tania untuk kembali ke perusahaannya terlebih dahulu setelah membayar total makan yang mereka pesan.
bukan masalah bagi Tania mengingat Bima adalah seorang CEO muda yang sukses. tapi yang membuat nya tak enak hati adalah semua makanan yang dia pesan tadi di tanggung oleh bima.
Setelah keduanya berpisah, Bima tidak membawa mobilnya menuju perusahaan nya Melain ke markas white crocodile. ia benar benar sudah merasakan ada hal ganjal di pernikahan Karin dan Zaky. seperti ada konflik di Antara keduanya yang sama sama sepasang suami istri itu tak tau.
sesampainya di markas, Bima segara menuju ruangan priv miliknya dan milik Karin. memastikan bahwa wanita itu tak ada di tempat yang sama dengannya saat ini.
"ada tugas?" tanya James tiba tiba saat Bima keluar dari ruangan itu.
"ada"
"dari queen?" tanya James memastikan.
Bima terdiam sesaat ia bingung harus menjawab apa. jika sampai tugas yang akan dia berikan ini di ketahui oleh Karin apa lagi sampai mereka tau tugas itu bukan dari queennya bisa saja dirinya di sebut penghianat.
"dari queen?" James mengulang pertanyaan nya.
"bukan, tapi aku butuh bantuan kalian. bisa?" jawab verel akhirnya.
"selama itu tidak pernah menganggu tugas queen untuk kami, kami siap" jawab James penuh dengan rasa hormat.
"baik, intai pergerakan jonata Aditya Sandres, topan Hartanto dan putranya"
mendengar nama Hartanto yang verel sebut membuat James sedikit terperanjat. ia tau sangat tau nama itu adalah nama keluarga baru queennya sekarang. keluarga Hartanto tak lagi asing di telinganya setelah pesta pernikahan queennya beberapa Minggu lalu.
"keluarga dari queen sendiri?" tanya James sedikit meninggikan suaranya. .
"iya" verel masih santai dengan keadaanya saat ini.
"apa mau mu?" tanya James lebih tinggi lagi.
Bima diam. ada dalam kondisi fatal dirinya saat ini. pengabdian dari James memang tak bisa di ragukan lagi. salah ucap kesengsaraan yang akan dia dapat.
"hanya ingin ku pastikan queen bersama orang yang tepat" jawab Bima santai lalu pergi ke area pengintaian yang di jaga oleh deon. Bima begitu angkuh hingga meninggal kan James sendiri dalam kebingungan.
James bukan orang yang gampang menyerah. secepat kilat ia mengajar Bima. sampai sebelum Bima memasuki ruangan yang lebih banyak orang, ia berhasil mencekal tangan Bima.
"ku terima tugas mu dengan syarat tidak akan ada perseteruan di antara queen dan kau" ucap James sebelum balik meninggalkan Bima sendiri.
.
__ADS_1
.
selanjutnya...