Suamiku Musuh Bebuyutan Ku

Suamiku Musuh Bebuyutan Ku
salah kira


__ADS_3

Sudah ada satu Minggu lebih laki laki yang mengisi ruang hatinya menghilang tanpa kabar sedikit pun. padahal sejurus harap dan cerita indah tentang lelaki itu sudah ia sebar pada anggota keluarga nya terlebih ke dua orang tuanya. positif dalam berfikir adalah pilihan yang paling tepat demi menenangkan hati serta jiwa.


"Mungkin dia tengah sibuk" gumam Tania sambil menatap layar ponsel yang mati.


sebuah pukulan pelan di bahu membuatnya sedikit terperanjat, ia segera menoleh ke arah belakang.


"ngelamun aja, makan siang yok" ucap citra selaku sekretaris perusahaan Hartanto.


"oh... oke, di mana kantin atau luar?"


"kantin aja"


mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin yang sepi karena kebanyakan orang hari ini memilih untuk membawa makanan mereka ke ruangan. karena mungkin pekerjaan mereka masih menumpuk.


Citra tak henti hentinya memandangi wajah kusut milik Tania. gadis yang di kenal ceria dan banyak cerita itu, akhir akhir ini hanya sibuk melamun. meresapi perasaan sendiri tanpa ada seorang pun yang tau.


"heh! Lo tuh kenapa... patah hati lagi? udah lah tuan Zaky udah bahagia sama istrinya kok" ucap citra bermaksud memecah keheningan.


"apaan? gue gak lagi berharap sama dia... lagian gue juga bukan tipe orang yang suka sama suami orang kok, gue tu sadar diri"


"lah terus?"


"gue cerita tapi Lo tutup mulut rapet ya... kalau gak gue sledeng Lo ke Madura" ancam Tania.


"ketemu Mak bapak gue dong..." jawab citra dengan candaan. "yaudah buru ceritanya" lanjut gadis itu.


"gue lagi Deket sama orang, dia punya kerjasama sama dengan perusahaan ini, gak tau sih tapi dia selalu baik ke gue. kasih kabar, ngajak makan siang, bahkan dia pernah beliin mama baju dan itu harganya gak murah Ra..." Tania menggantung ceritanya.


"gila baru Suka sama pengusaha udah dapet pengusaha lagi lo... jernih jernih" celoteh citra.


"tunggu dulu... tapi dia tu kayak nge-ghosting gue... satu Minggu lebih gak ada kabar secara tiba tiba juga." raut wajah Tania yang sudah di tekuk sedari tadi semakin ia tekuk lagi.


"oh tu orang model Kaya doang Kalik, seriusnya gak ada, cuma buat bercandaan gitu" ucapan citra berhasil membuat Tania mati kutu.


Serasa di kutuk jadi batu dirinya sekarang. jangankan bergerak bernafas pun dia susah. jika apa yang di katakan citra benar, untuk terakhir kali ia tak mau berharap dan mungkin akan membuat dirinya mati hati alias tak mau mencintai atau berharap pada seseorang lagi.


"cit... aku udahan dulu ya, mau ke kamar mandi kebelet" ucap Tania sebelum pergi meninggalkan citra sendirian.


"okhe" jawab citra dengan mengacungkan jempol. "asik jatahnya buat gue dong... hahaha" bisiknya dalam hati.


Sudah sedari tadi Bima hanya menatap layar ponselnya. dirinya tengah di ambang ambang keyakinan dan tidak yakin dengan apa yang akan di lakukan. salah atau benar kah pilihan yang akan dia ambil. tapi menurutnya akan lebih baik jika dia mengatakan hal yang sejujurnya dengan orang yang bersangkutan.


Jari jemarinya menari di atas layar ponsel menekan nomer seseorang lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga. satu tarikan nafas berhasil ia ambil.


"temui saya di cafe roses, kita bahas kerja sama kita selanjutnya. kerja sama kita!" Bima menekan bagian 'kerja sama kita' menandakan Bima hanya ingin mereka berdua yang berbicara tanpa ada orang lain.


Tapi salah, orang di sebrang yang ternyata adalah Zaky menganggap itu bener bener membahas soal pekerjaan.


"oke, setelah jam makan siang berakhir" jawab Zaky lalu panggilan pun terputus dari sebrang.

__ADS_1


Zaky segera keluar ke dari ruang kerjanya, ia menuju ruang kerja Tania berniat untuk memberi tau wanita itu. nihil saat pintu ruangan Tania ia buka orang yang di cari malah tidak ada di tempat.


Zaky beralih pada citra yang tengah asik duduk di tempatnya sambil memainkan ponsel.


"kamu tau tania ada di mana?" tanya Zaky dengan nada datar yang berhasil membuat citra terkejut.


"oh tadi dia izin ke kamar mandi, tapi saya tidak tau tuan kenapa sampai sekarang dia tak kunjung kembali" jawab citra menutupi rasa gugupnya.


Zaky menjawab dengan anggukan kecil lalu kembali ke ruangannya. ia meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja. dengan ayunan kecil, jari jemarinya menari di atas layar.


Di kamar mandi tempatnya di atas toilet duduk, gadis itu masih berusaha menetralkan hati juga pikirannya. jujur saja ia tak ingin kejadian yang masa terjadi lagi pada dirinya. sampai denting ponsel berbunyi, ia segera mengecek ponselnya dan itu pesan dari Zaky.


'datang ke cafe roses 10 menit lagi'


bunyi pesan tersebut.


Tania sedikit di buat bingung karena Zaky tidak menyertakan keperluan apa sehingga mengharuskan ke cafe itu.


'cukup bawa buku catatan mu'


pesan selanjutnya.


'baik tuan'


'tapi maaf saya tidak dapat datang tepat waktu, tolong beri saya sedikit kelonggaran waktu tuan' dua pesan jawaban di kirim oleh Tania.


Lama berselang sampai dua pria itu telah duduk di meja yang sama. tatapan Bima menajam semenjak kedatangan Zaky lima menit yang lalu. sedangkan Zaky masih santai dengan tatapan aneh dari Bima.


"ingin membahas apa Bim?" tanya Zaky masih dengan nada santai.


"ingin membahas siapa sebenarnya lelaki yang kini menjadi suami sahabat ku!" tegas Bima. emosinya tak dapat tertahan.


"hah? bukanya kau mengajakku kemari untuk membahas pekerjaaan Lalu ada apa dengan ini?" tanya Zaky yang belum tau situasi.


"kau pikir aku bodoh, tidak semudah itu mengelabui seorang Bima Satria Permada, apa tujuan mu menikah secepat ini dengan sahabat ku akan ku usut tuntas"


"kau belum Bisa melupakan nya?" pertanyaan pendek dari Zaky berhasil mengunci sejenak mulut Bima.


"akan ku lupakan jika dia benar benar bahagia" jawabnya datar.


"menurutmu Karin belum bahagia bersama dengan ku? ku pikir kau telah mencintai Tania sepenuhnya ternyata hanya ilusi" ucapan Zaky kini benar benar mengunci diri Bima. ketika nama 'tania' di sebut detak jantungnya tak beraturan.


"benar?" sambung Zaky.


"kau menikahi Karin untuk menjebaknya. bukan memberikan kebahagiaan untuknya. kau membawanya masuk dunia gelap mu kan? dengan ambangan kematian kau bawa Karin kesana" Bima tak dapat lagi menahan rasa yang ia simpan selama ini. biarlah Zaky tau kalau dia bukan hanya CEO tapi juga seseorang yang bergelud di dunia hitam.


"mau apa kau?!" bentak Zaky tak mau kalah.


"kembalikan Karin bersama ku!" tegas Bima.

__ADS_1


Sampai pada titik kalimat Bima terucap bersamaan dengan itu suara buku jatuh terdengar jelas di telinga mereka berdua. tak ayal pengunjung cafe tengah sepi.


bersamaan mereka berdua memalingkan pandanganya. kedua pasangan mata mereka menangkap seorang gadis tenaga berdiri di samping meja yang letaknya tak terlalu jauh dari keberadaan dua lelaki itu.


Sekuat tenaga gadis itu menahan rasa panas pada matanya. menahan agar titik bening tak jatuh dari tempat nya. menahan rasa sesak di dada.


Dengan gerakan cepat ia segera mengambil buku tebal yang berupa buku catatan perusahaan. ia maju beberapa langkah.


"ada yang bisa saya bantu di sini, tuan?" tanya nya dengan suara gemetar.


Dua pria itu membatu dan tak dapat menjawab. tak Zaky sangka jika maksud Bima 'kita' hanya mereka berdua tanpa di dampingi asisten masing masing dan ini lah yang terjadi.


"jika tidak saya permisi" Tania mundur beberapa langkah sebelum balik badan dan berjalan cepat meninggalkan dua pria yang masih membatu itu.


"siapa yang menyuruhmu membawa asisten mu untuk pertemuan kita!" ucap Bima datar dengan menekan bagian 'kita' di akhir kalimat.


baru beberapa langkah Bima meninggalkan Zaky, ucapan Zaky berhasil membuat dirinya membeku kaku.


"bukankah lebih baik seperti itu? Tania tau isi hati mu. supaya dia tak berharap banyak dengan mu" Zaky berkata dengan pandangan entah kemana. "kau terlalu egois soal perasaan Bima, kau tak akan mendapat semuanya" Zaky berlalu pergi meninggalkan Bima.


Hari telah berganti malam tapi tak ada niatan sedikit pun dari tania untuk beranjak dari kursi kerjanya. kurang lebih ada enam jam dirinya hanya duduk dan mengamati layar laptop di depannya yang terkadang sampai mati pun masih ia amati. berjuta panggilan baik itu virtual atau nyata ia abaikan. bukan abai lebih tepatnya tidak ia dengarkan.


ketukan dari pintu kali ini dapat sedikit menarik simpatinya. ia mulai mendongak keatas menatap pintu kaca yang di ketuk. nampak dari saja seorang laki laki lah yang mengetuk pintu kerjanya.


"saya masih ingin sendiri" ucap nya datar tapi dapat terdengar hingga pintu.


"pintu utama perusahaan akan segera di kunci Tan... keluar lah, kamu bisa terkunci nanti" suara itu mirip suara Zaky.


tubuh Tania mulai bergerak, ia beranjak dari kursi lalu mengambil tasnya. ia berjalan layaknya mayat hidup tak memilik semangat sama sekali.


"saya antar pulang ya..." tawar Zaky. ia tak suka melihat ada karyawan nya yang berekspresi seperti tania saat ini.


senyum miring muncul di bibir milik Tania. gadis yang terlihat cantik itu kini berubah menakutkan. wajah pucat dan gerak tubuh yang tak seimbang.


"oh... jadi tuan sudah menyerahkan keamanan Nona Karin pada tuan Bima?" tanyanya dingin.


"tidak akan, saya hanya akan mengantarkan kamu pulang"


"jangan tuan saya takut ada kesalah pahaman antara hati dan realita saat ini"


"kesalahan saya sendiri... terlalu berharap pada manusia" sambungnya. sebelum seorang satpam membuka kan pintu untuk mereka berdua.


alhasil Zaky hanya menemani Tania yang mengendarai mobil nya sendiri dari belakang. jujur ia takut terjadi sesuatu pada gadis malang itu. sampai tania memasuki pekarangan rumahnya baru lah Zaky merasa tenang.


selanjutnya...


***maaf telat man teman, udah mulai sekolah offline jadi susah bagi waktu... maaf ya hehehe😁.


salam hangat untuk kalian para reader dari @ghaaza1 ya***...

__ADS_1


__ADS_2