
Hari semakin petang, puncak acara kan segera di langsungkan. dengan mengumpulkan seluruh anggota keluarga, mereka memberikan ucapan terima atas kedatangan dan atas kehadiran para tamu. kini pesta dansa yang sengaja mereka hadirkan banyak mengundang iri para jomblo yang hanya dapat melihat dari pojok ruangan. sesekali mata Karin menuju seikat bunga yang tadi ia lempar bersama Zaky. seikat bunga itu masih di genggam erat oleh Tania sementara Bima... entah kemana perginya lelaki itu.
"mohon perhatiannya para tamu... sebentar lagi akan sampai pada puncak acara yang mungkin akan membuat para jomblo meringis yaitu berdansa dengan pasangan masing masing" seru pembawa acara yang seorang wanita muda. "jangan ambil pasangan orang oke... nanti bisa rusak acara ini hehehe" candanya.
Semua tamu tertawa mendengar apa yang di ucapkan oleh pembawa acara. tak terkecuali Samson yang menyadari dirinya tengah sendiri. bayangan kelam itu muncul begitu saja tapi dia berusaha tenang dan membiarkan segalanya di bawa oleh waktu. tak ada gunanya juga marah saat ini. jika ia melakukan itu bagaian Nasib Karin nantinya? ah sudahlah.
Musik bernada romantis di putar. dengan lihai beberapa orang mengayun ayunkan tubuhnya bersama tubuh pasangannya. begitu juga mereka berdua yang telah sah menjadi sepasang suami istri.
Bahagia rasanya bisa memeluk dan mencium mesra perempuan yang telah menjadi istirnya itu. ada rasa berbeda saat mencium lama kening Karin. hangat dan tidak merasa tersudutkan oleh suasana.
"tunggu sebentar" lirih Karin.
"hm? ada apa?" tanya Zaky.
"kita bahagia sementara papa ku hanya bisa menonton, aku gak mau papa harus dapat pasangan dansa... gak perlu pakai hati yang penting nikmati acara" ucap Karin seraya berlari ke arah papanya.
"loh Rin kok kamu di sini?" tanya Samson bingung melihat putrinya berdiri tepat di depannya.
"papa ikut dansa oke" ucap Karin seraya menarik tangan papanya menuju sebuah meja pinggir ruangan yang terdapat seorang wanita seumuran dengan Samson duduk sendiri di sana.
"eh Karin... ada apa?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Raina.
"Tante... Karin mau Tante jadi teman dansa papa. bisa?" tanya Karin pada Raina.
Raina dan Samson saling melihat dengan tatapan terkejut di mata mereka. tapi melihat Karin yang tidak mau papanya hanya diam, akhirnya Samson menyetujuinya begitupun Raina.
Resa dan nata yang melihat hal itu ikut tertawa dengan tingkah Karin. resa juga sadar mamanya tengah butuh teman tapi ia juga berdoa agar pertemanan mereka tidak melibatkan hati. di lihat dari umur aneh rasanya jika menggunakan perasaan hanya karena berdansa berdua.
Kini tinggal Tania yang duduk sendiri menanti lelaki yang sebenarnya terus berputar di kepalanya. entah kenapa lelaki itu tiba tiba hadir padahal hanya beberapa jam mereka bersama. sebuah uluran tangan membuat Tania tersentak padahal dia belum melihat siapa pemilik tangan tersebut. perlahan ia mengangkat kepala. dan lelaki itu berdiri gagah di depannya. Lelaki yang bayangannya terus menyelimuti pikiran Tania.
Ragu ia menyambut uluran tangan yang sebenarnya dia nanti tapi jika dia menolak dia sendiri yang akan merasakan menyesal nantinya. bukan terpaksa lagi, dengan senang hari tanganya digenggam lelaki itu. perlahan tapi pasti, mereka berdua berjalan ketengah ruangan yang luas sembari menikmati alunan lagu.
"apa tuan tidak salah mengajak saya berdansa seperti ini?" tanya tania ragu.
"tidak... lagi pun siapa yang mau mengomentari kita... tidak ada kan" jawab Bima dengan entengnya. "jangan panggil aku tuan" lanjut nya.
"eh? i iya tuan eh Bima" gugup rasanya harus berdansa dengan seseorang yang baru dekat dengannya beberapa jam lalu. kini orang itu terus menatap nya tanpa ada rasa enggan seperti yang dia rasakan.
Sama halnya dengan apa yang Tania rasakan. sebenarnya gugup juga menyerang hati bima tapi ia mencoba tenang menikmati alunan musik bertema romansa. dalam pikirannya kini dia hanya ingin membuka lembar baru dalam hatinya untuk orang lain yang datang. namun rasa tak enak hati juga timbul di sana. teganya dia yang sekarang masih mencintai sahabatnya harus mengaku pada hati sendiri bahwa dia telah melupakan wanita pertama yang masuk dalam hatinya dan kini di gantikan oleh gadis di depannya. begitu tak ada rasa kasian pada gadis yang juga memiliki masalah yang sama dengannya. tapi sebisa mungkin otaknya menolak rasa tak enek itu dengan anggapan 'Tania akan melakukan hal yang sama.'
Bertolak belakang dengan sepasang pengantin yang ikut berdansa itu. Mereka sama sama memberikan dukungan pada dua orang yang sebenarnya telah mereka perhatikan sejak tadi.
"apa kau memikirkan hal yang sama?" tanya Karin berbisik.
Zaky menjawab dengan uluman senyum sembari mengangguk. ada perasaan tak tenang yang secara tiba tiba menyeruak dalam hatinya. bukan karena melihat Bima dan Tania akan tetapi ada lah yang lain yang masih ia risaukan.
"maafkan aku Karin, setelah ini kau harus mengikuti duniaku. aku sangat berharap kau bisa menerima... ah andai aku bisa mengatakannya secara langsung" batin Zaky.
"hei.. kok bengong" tegur Karin.
"aku senang melihat mu bahagia karena kebahagiaan Bima saat ini" Zaky mencoba mengalihkan perhatian.
Acara terus berlanjut Sampai jam menunjuk pukul satu dini hari. musik romansa di matikan lalu di susul pembawa acara mengalihkan perhatian agar tamu beristirahat di penginapan yang telah di sedia kan.
__ADS_1
Berselang setelah bubarnya para tamu undangan, nata kembali di buat gelisah karena pesan yang satu menit lalu masuk ke ponselnya. pesan itu sedikit tak masuk akal baginya. pasan yang hanya terdiri dari tiga kata yang berhasil mengguncang ketenangan seorang Jonata Aditya.
*pestanya sangat spektakuler*
pesan itu ia dapat dari nomer yang sering memberinya teror.
Nata mendekat ke arah Zaky yang tengah berdiri bersama dua wanita yang salah satunya adalah Karin. tatapi wanita satunya entahlah dia tidak terlalu mengenalnya dari tubuh wanita yang berdiri membelakangi nya.
"aku ada perlu sebentar dengan mu" ucap nata berdiri tak jauh dari wanita itu.
Mendengar ucapan nata, baik Zaky, Karin dan wanita itu sama sama memalingkan wajah.
Nata baru menyadari bahwa wanita yang tadi tengah berbincang dengan Karin adalah asisten dari perusahaan Karin sendiri. wanita yang tampak muda padahal umurnya jauh di atas Karin. dengan ramah pula wanita itu yang lain ada lah jezzy menyumbang senyum untuk nata.
"ada apa Nat?" jawab Zaky kemudian. .
"ikut lah bersama ku"
mereka berdua pun meninggalkan Karin dan jezzy mengobrol berdua sementara mereka menuju keluar gedung. nata kembali mengatur nafas yang menggebu kerena terus menarik Zaky menjauh dari hiruk pikuk tamu yang masih tersisa.
"apa maksud dari pesan ini, apa dia mengetahui tempat ini" ucap nata panik seraya menyodorkan ponselnya ke arah Zaky.
Zaky yang melihat tindak tanduk dari nata yang sedari kecil dia kenal adalah pribadi yang tenang dalam menghadapi masalah menjadi bingung melihat wajah nata sepanik itu.
"kau... sepanik ini Nat?"
"baca pesan dari nomer lain yang juga sering mengirim teror pada ku" nata mulai menunjukkan nomer lain yang tadi malam sempat mengirim pesan padanya.
"Tante Raina di bawa bawa! ini kelewatan Nat"
"tenang di sini penjagaan ketat termasuk setiap anggota keluarga Hartanto akan di lindungi... percaya pada papaku... dia telah merencanakannya sematang mungkin" Zaky mencoba menenangkan nata.
Jauh di depan gerbang gedung yang di sewa untuk di jadikan Pesta pernikahan antara Zaky dan Karin, bertengger lah sebuah mobil merah yang menarik perhatian body guard yang yang berjaga. sebab di dalam mobil yang kaca terbuka terdapat seorang lelaki yang diam sembari menikmati satu batang rokok. lelaki itu tetap terlihat mencurigakan sebab lahan parkir yang telah di sedia kan masih banyak sisa tempat di tambah banyaknya mobil yang telah pergi meninggalkan area parkir.
Lelaki bertubuh besar kekar itu menghampiri lelaki yang masih asik dengan hembusan asap nya.
"boleh saya lihat identitas anda?" tanya body guard itu tegas.
dengan santai pula lelaki itu mengeluarkan KTP nya lalu menyerahkannya pada body guard.
"nama anda tidak terdaftar sebagi undangan" tegas body guard itu.
"saya tau... oleh sebab itu saya menunggu di sini"
"boleh saya tau siapa yang anda tunggu... dan nama dari seseorang yang anda tunggu?"
"jezzy milaya." jawab nya singkat.
body guard itu kembali memeriksa ponselnya memastikan nama yang di sebut terdaftar sebagai tamu undangan.
"baik... anda siapa dari nona jezzy?"
"suaminya"
__ADS_1
body guard itu terlihat terkejut mendapati jawaban dari pria yang dengan santainya melanjutkan kegiatan merokoknya.
"beri satu alasan jika anda memang suami dari jezzy Milaya akan tetapi anda tidak di undang"
"dia tidak memperkenalkan saya pada bos nya" jawab lelaki itu singkatan.
"baik... silahkan anda menunggu di pos tunggu agar ramah di lihat mata" perintah bodyguard itu.
"bisa anda biarkan saya tenang... saya tidak mengacau di sini jadi tolong anda juga jangan mengacaukan pikiran saya" ucap lelaki itu tegas lalu pergi begitu saja.
Sementara body guard yang mendapat perlakuan menjengkelkan dari orang itu merasa ada yang aneh dengan nama yang di miliki pria itu. nama yang terdaftar di KTP pernah ia lihat di Suatu lembaran. nama yang sangat di wanti wanti untuk menjauhi acara pernikahan ini. ya nama itu... Andreas sandres.
Angin malam semakin terasa mencekat kulit hingga tulang tulang. berkali kali sudah gadis itu menggosok secara kasar lengannya yang tak tertutup kain. berkali kali pula gadis itu menggosokkan kedua telapak tangannya lalu menempelkannya ke pipi berharap dingin yang dia rasakan sedikit berkurang.
"dingin?" tanya seseorang dari arah belakang Tania.
"eh bim... belum tidur"
"aku akan tidur setelah memastikan kau masuk ke kamar mu" jawab Bima sambil memasangkan jas nya pada tubuh Tania. "oh ya... menginap di sini atau sewa vila?" lanjutnya.
"seperti nya di sini, Tante Sarah juga yang meminta nya" jawab Tania.
"oke... aku antar kau ke atas"
"tidak perlu aku bisa sendiri. di sana nanti aku juga akan bertemu resa kan"
"sudahlah ayo..." Bima masih bersikuku.
mau tak mau Tania menuruti saja apa yang Bima inginkan. mereka pun berjalan memasuki gedung hotel. saat tengah memasuki pintu samping hotel, ekor mata Bima menangkap sebuah pergerakan yang mencurigakan. ia pun berhenti sejenak untuk memastikan siapa yang ekor matanya itu tangkap.
menyadari seseorang yang tadi mengikutinya berhenti, tania segera memalingkan wajahnya.
"ada apa" tanya tania.
"hah? oh tadi aku seperti melihat ada seseorang... em... Tania aku minta maaf, kamu bisa kan pergi menuju kamarmu sendiri tanpa aku temani?" tanya Bima hati hati.
"iya... bukan masalah besar bagi ku" jawab Tania lalu ia pergi memasuki gedung hotel.
Dengan langkah mantap Bima terus melangkah mendekati Suara yang terdengar samar samar dari balik tanaman hias yang berjejer rapi. tanaman hias yang sedikit menjulang tinggi berhasil menutupi tubuh Bima yang merunduk.
"teror ini akan terus berlanjut jika kita tak kunjung mengambil tindakan zak... Lo tau gue khawatir sama resa dan ibunya dan Lo juga harus mikir gimana cara teror ini berhenti. ingat Karin ada di sisi Lo sekarang" ucap nata dengan nada rendah namun masih dapat di dengar jelas oleh Bima.
Dua lelaki yang berdiri membelakangi posisinya saat ini membuat Bima penasaran sampai pada akhirnya dia yakin suara itu milik Zaky dan nata. pembicaraan teror yabg membuatnya kebingungan mendorong bima keluar dari persembunyiannya.
"teror apa yang kalian maksud?!" tegas Bima. "kenapa Karin di bawa bawa..." sambungnya.
mendengar suara itu Zaky dan nata sama sama terkejutnya
mereka berdua hanya dapat melongo tanpa mengucap sepatah kata pun.
.
.
__ADS_1
selanjutnya...