
Suara ada tiga hari pencarian Raina terus di laksanakan. melaporkan pada polisi setempat juga sudah di lakukan tapi tetap saja nihil hasilnya. Raina belum juga kembali. sedangkan resa tak pernah bisa tenang. sering kali ia menyalahkan nata atas kejadian ini tapi nata bukan jonata namanya jika tak sabar mengahadapi resa yang terus meraung dan mengoceh tak henti henti.
Karin selama pencarian Raina memutuskan untuk tinggal di rumah Raina untuk sementara. memastikan dan menemani resa dan kandungannya baik baik saja. walau ada perasaan aneh ketika harus berhadapan dengan nata atau hanya berpapasan dengan laki laki itu. kewaspadaannya tiba tiba meningkat saat dirinya berdekatan dengan nata. jangan lupa Zaky sadar akan hal itu.
Zaky memilih diam karena jika di lihat kondisi sedang tak signifikan. di tambah anak buah baru Karin yang sangat ia curigai.
"kenapa Lo percaya sama anak buah Karin yang baru? bukanya setiap pengawal yang baru di keluarga Hartanto hari seleksi terlebih dahulu?" tanya Zaky tiba tiba saat mendapati nata tengah mengotak atik laptop di depannya.
"itu body guard istri Lo sendiri, mau Lo curigai?"
"gue gak nyaman ada mereka. apa itu salah?"
"mereka udah gue awasi tenang aja" nata kembali fokus pada layar terang di hadapannya.
yah begitulah sering kali Zaky mengatakan maksud yang sama dan jawaban nata juga mengandung maksud yang sama. malasnya lagi kini timbul rasa curiga pada karin.
selama lebih dari seminggu sebelum kejadian ini, istinya itu bertindak aneh. sering pulang telat dan bahkan memilih tinggal di rumah ayahnya. seperti ada sesuatu yang Karin sembunyikan darinya.
silih angin sore kini telah berganti malam. gelap dengan gemerlap bintang bulan. menemani sepi dua orang wanita yang tengah asik duduk di taman belakang rumah.
sudah ada berkali kali gadis dengan rambut panjang terurai itu menyandarkan kepalanya pada sang ibu. berulang kali pula sang ibu terus mengusap lembut kepala putrinya.
"Tania... dengarkan ibu, pilihan ada pada hati tapi logika tetap harus ikut berdiskusi di dalamnya. kamu yakin dia mencintai mu atau tidak dengan kelakuannya pada mu selama ini diskusi kan lah baik baik" nasehat melati pada putrinya.
"entahlah Bu... aku tidak bisa membaca pikiran nya kalau pun aku tanya pasti ia tak akan pernah jujur" keluh tania lagi.
"dulu Zaky sekarang bima ibu berharap Bima yang terakhir kamu ceritakan pada ibu. ibu tak mau mendengar banyak nama laki laki yang kamu ceritakan secara istimewa di hadapan ibu" melati mengelus kepala putrinya.
"doakan Bu... agar dia berhenti mencintai perempuan bersuami"
mendengar ucapan tania, melati terkejut masalahnya di belum mengetahui jika Bima tengah mencintai wanita lain di tambah wanita ini sudah bersuami.
"tan? kamu kok gak cerita ke ibu... perkara fatal itu nak jika dia mencintai istri orang..." melati menghadapkan wajah putrinya tepat di depan wajah nya.
"kini dia berusaha mencintai Tania sepenuhnya Bu.."
"itu namanya kamu jadi pelampiasan untuk rasa kesepiannya. ibu tidak mau kamu sakit pada akhirnya" nasehat melati lagi.
"tidak Bu tidak akan, tania yakin Bu dia akan sepenuhnya mencintai tania" keras kepala gadis itu di bilang.
"bertanya lah pada ayahmu sekarang, ibu lelah" melati berusaha bangkit dari duduknya. ia berjalan perlahan masuk rumah.
Tania hanya diam di tempat. ia tau pasti ibunya kecewa. entah salah atau tidak jujur pada orang paling ia percaya tapi ia yakin apa yang di lakukan tidak lah salah.
satu ruangan sudah berhasil Sarah berantakan tapi apa yang di cari tidak kunjung ketemu. rasa takutnya Benar benar mencapai pada puncaknya. ia kembali teringat pada sosok Sabrina yang menghilang dan pulang hanya tinggal nama. omong kosong suaminya kala itu tidak pernah ia percaya sedikit pun. ia terus menampik hal hal yang tak sesuai di gambaran otaknya.
Putrinya tidak lah mati karena kecelakaan melainkan kesengajaan. jika dia teringat tentang Vidio yang katanya CCTV itu jelas itu bukan Vidio CCTV. Sarah atau Benar mana yang CCTV dan mana yang kamera biasa.
"apa yang kau lakukan?!" tanya topan yang melihat ruang kerja sudah seperti kapal pecah.
"melakukan apa yang harus ku lakukan sejak dulu!" jawab Sarah tak kalah kasar.
"cukup Sarah! apa yang mau cari tidak akan pernah ada hasil"
__ADS_1
"dengar! kau lupa putrimu mati setelah kau biarkan dia hilang kan! kini apa kau juga mau mengambil ibu dari putrinya yang tengah mengandung? jangan gila topan! kau membawa banyak orang masuk dalam dunia gelap mu" sarkas Sarah.
"mafia memiliki aturan. mereka tidak akan pernah menyerang keluarga dan mereka yang menyerang keluarga adalah pengecut! Rania hilang bukan kerena mereka. Rania hilang karena kakaknya nata! kita sudah menyelidiki itu tapi sayang kami belum menemukan lokasi di mana Rania di sekap" topan memberi pengertian.
"iya memang kakak kakak nata yang menculiknya tapi mereka bukan apa apa jika tak minta bantuan. musuhmu itu... siapa-" Sarah menggantung kalimatnya, mengingat sesuatu dalam otaknya.
"charla... aku yakin dia di balik ini semua ini!" lanjutnya.
topan terdiam membeku mendengar nama itu di ucapkan. tidak charla tidak ada di dalamnya sama sekali. malah mungkin dia lah incaran selanjutnya untuk di culik. masih mungkin.
"andai kau tau siapa sebenarnya charla apa kau masih akan tetap membencinya seperti sekarang, andai kau tau charla itu Karin apa kau akan tetap takut dia sama di culiknya dengan Rania?" bagiamana Sarah?" gumamnya dalam hati.
Sarah kembali berucap. "kau terlalu lama untuk bertindak topan. maka istri mu yang kau ajak masuk dan bergabung dalam dunia mu akan bergerak terlebih dahulu" ketus wanita itu lalu pergi meninggalkan pria itu sendiri.
tak mau istrinya bertindak gegabah dengan pikiran yang di penuhi kejengkelan, topan segera mengejar wanita kesayangan itu.
"kamu tau apa yang akan terjadi jika kamu bertidak tanpa arah seperti ini? Karin belum tau tentang keluarga ini. jika sampai dia kena imbas siapa yang akan kehilangan dia? tenang lah Sarah" ucap topan saat tangannya berhasil meraih tangan istrinya.
Sarah terdiam sejenak. kemudian dengan tegas ia menampik tangan kekar suaminya.
"tidak selamanya rahasia tetap menjadi rahasia. semua akan terungkap pada waktunya! Karin anakku tak akan ku biarkan di tergores sedikit pun oleh duniamu!" tampiknya. lalu meneruskan langkah pergi.
tidak topan bukan orang pengecut. segalanya akan berantakan jika Sarah bertindak semaunya. tapi yang lebih di takutkan laki laki ini adalah nanti ketika Karin tau Sarah ikut dalam black dragon semua ceritanya akan berubah. ia segera berlari ke arah mobilnya yang terparkir. dengan kecepatan penuh topan mengejar istrinya yang melebihi standar kecepatan.
topan merogoh kantung jasnya, mengambil benda pipih di dalamnya. jarinya dengan cepat nari di atas layar ponsel.
"nata, tolong Kamu sembunyikan anak buah Karin. mamamu segera menyusul kesana dengan amarah"
"memang kenapa om?"
dari sebrang nata tampak menganggukkan kepala. "iya om" akhirnya. panggilan pun terputus.
Nata segera mencari keberadaan Karin tapi tak kunjung ketemu. ingin bertanya pada Zaky tapi ia takut Zaky malah bertanya tanya mereka ada urusan apa. nata memilih bertanya pada salah satu anak buah Karin.
"di mana queen mu?" tanyanya setengah berbisik.
"ada di ruang pengintaian" jawab seorang laki laki bermasker hitam.
nata mengangguk kecil sebelum pergi. ia menuju ruang pengintaian untuk bertemu perempuan itu.
sesampainya di sana nata melihat Karin dan anak buahnya yang di ketahui namanya. Deon dan James tengah duduk di samping Karin yang sibuk dengan layar komputer di depannya.
"Karin!" panggil nata tegas.
Karin menoleh, dengan gerakan santai menarik pistol yang di letak bawah kolong meja.
"apa?" tanya Karin terdengar ketus.
"mama Sarah akan segera kesini, lebih baik kau sembunyikan dulu Anak buahmu. aku takut mama Sarah menyadari bahwa kebanyakan orang orang di sini bukan anak buah ku atau Zaky" ucapannya menurunkan kadar ketegasan di setiap katanya.
Karin mengangguk pelan. ia memberi isyarat pada Deon dan James. dua orang itu akhirnya pergi memberitahu perintah Queennya pada yang lain. kini hanya nata dan Karin yang ada di ruang pengintaian.
"sampai kapan Lo rahasiain ini?" tanya nata tiba tiba.
__ADS_1
"sampai gue tau siapa yang udah bunuh ibu gue. dengar Nat, gue tau Lo pintar tapi Lo juga harus tau kalau gue cerdik!" ketus Karin.
"gue tau soal itu. gue juga tau Lo sekejam apa. Jack gak akan bunuh ibu Lo kalau Lo gak nyulik adiknya"
"Lo terlalu banyak ikut campur Nat. lo hanya petinggi di black dragon tapi gue gak yakin kalau Lo gak tau tentang kematian ibu gue" ketus Karin.
"ibu Lo?" suara itu seketika membuat keduanya mati otot.
"pembunuh? bunuh? siapa?" lanjut suara itu.
pelan nata dan Karin mengalihkan pandangan mereka. melihat pintu yang belum tertutup sempurna. memperlihatkan kan seorang perempuan yang tengah berdiri di depannya.
"Resa" lirih Karin.
resa memiringkan sedikit kepalanya menandakan dia mempertanyakan pertanyaannya yang belum terjawab.
"res... kamu ngapain di sini?" tanya nata mencoba mengalihkan perhatian.
"ini rumah mama Nat. lagian aku kesini mau panggil kalian, di depan ada mama Sarah dan papa topan" jawab resa lugu.
"iya, aku akan menghampiri mereka terlebih dahulu" Karin berkata cepat melangkah menuju pintu.
"siapa yang membunuh ibumu?" pertanyaan resa cukup membuat Karin mati di tempat. di tambah aura dingin yang di tunjukan resa di setiap katanya. tak tau dari mana resa bisa seseram ini, apa mungkin nata yang mengajarkan nya.
ruangan yang tak terlalu besar itu di penuhi hawa dingin. kecanggungan ada di mana mana. nata tau posisi Karin tak mendung.
"sayang... kita fokus cari mama dan kamu jaga dia buat kita" ucap nata sembari mengelus perut resa.
resa berpaling menatap nata sambil tersenyum manis. Karin yang melihat itu mengambil kesempatan untuk keluar dari sana.
di ruang tamu sudah ada Zaky, topan dan Sarah yang duduk manis sambil menikmati minuman yang telah di suguhkan. Karin berhenti sejenak saat matanya bertemu dengan mata Zaky. sorotan itu membuat Karin terdiam. tatapan yang tak pernah melayang padanya dari sosok Zaky.
"Karin..." pekik Sarah. wanita itu berjalan cepat menuju menantu kesayangannya.
"mama.." jawab Karin saat Sarah berhasil memeluknya.
"kok lama gak pulang sayang?"
"masih sibuk ma... handel pekerjaan papa di sini. kata papa, papa lagi sibuk di Singapura Karena mau pindahin perusahaan ke Indonesia. jadi Karin bantu bantu apa yang Karin bisa" jawab nya dengan senyuman.
"mama kangen tau gak ada teman ngobrol di rumah, gak siang gak malam sama aja" keluh sarah.
melihat itu Karin luluh. benar juga selama ini dia terlalu egois untuk mengurus peneror keluarga nya sampai lupa dengan intinya. keluarga memang prioritas utamanya tapi jika sudah masalah mafia dia lupa segalanya.
mata Karin beralih pada Zaky yang terus menunduk. salah apa dia sampai sampai didiam kan laki laki itu. apa mungkin karena dia tak pernah pulang dan selalu sibuk? Karin hanya diam.
.
.
selanjutnya...
*maaf man teman telat terus ya update nya... kasih aku sedikit waktu longgar ya🥺 sekolah udah pada offline. jadi harus bagi waktu. andai di sekolahku boleh bawa hp pasti bisa up cepet kerena kan bisa aku susun waktu jam kosong atau istirahat...
__ADS_1
maaf ya sekali lagi... sayang dari aku @ghazaa1 buat kalian🤗😚*