
Dalam kebingungan yang melanda dan pada akhirnya diam adalah kunci utama. mendengar lebih baik dari segala situasi yang harus ia pilih di hadapannya. memperhatikan mimik wajah dua pria yang tengah berbicara secara serius di depannya. apalah daya wanita bersuami itu, mendengar sesuatu yang sungguh ia tak mengerti artinya. juga tak ingin menyela pembicaraan itu. biarlah dia terasingkan dengan keadaan yang ada.
"lalu bagaimana langkah selanjutnya?" tanya sang suami. nata.
"pastikan dulu siapa dia, jika memang white crocodile kita serang tanpa aba aba" jawab Jack.
"apa harus segegabah itu?"
"kau yakin bahwa white crocodile yang melakukan dan kini aku mengusulkan sesuatu kau kengkang tanpa alasan. apa mau Nat?" Jack mulai geram.
"aku belum yakin" jawab nata. "kita tunggu teror selanjutnya, malam ini aku akan kembali ke rumah mu. jika teror itu masih berlanjut berarti dia bukan white crocodile" lanjut nya.
"mengapa kau berfikir seperti itu?"
"karena tidak mungkin anggota white crocodile tau letak rumah itu, selain itu juga terlalu beresiko bagi mata mata white crocodile untuk mengawasi pergerakan kita. kau telah menyebabkan seluruh anak buahmu di sekitar rumah papamu guna berjaga jaga bukan?" nata mengambil kesimpulan.
Zaky nampak terdiam, akhir akhir ini memang tidak ada laporan apa pun dari anak buahnya. hal itu juga yang membuat dirinya yakin bahwa white crocodile telah hancur. Zaky mengangguk pelan, pertanda setuju dengan kesimpulan itu.
sementara di kediaman keluarga Santos tengah di sibukkan dengan ulah majikannya. Karin membuat kekacauan dengan menuang lebih dari sekilo tepung ke dalam adonan roti yang rencana ia buat bersama bi Ina dan Bu tuti, sayang seribu sayang kala adonan pertama telah jadi dan masuk dalam panci seba guna untuk di kukus, Karin malah menyenggol plastik tepung hingga tumpah memenuhi adonan yang sudah jadi. alhasil dengan begitu terpaksa pula mereka mengulang dari awal dengan mencampur bahan yang telah jadi.
"Bu ini nanti jadi berapa ya? kok kayak banyak banget" tanya karin. seluruh tubuhnya telah di penuhi bedak putih yang berasal dari tepung.
"iya non bisa jadi lebih dari lima puluh loyang ukuran sedang dan memang itu yang kita punya"
"hah?" banyak banget astaga siapa yang mau makan kue sebanyak itu" Karin histeris. kacau siapa yang bisa memakan roti sebanyak itu sebelum lebih dari tiga hari, sebelum rasa roti
manis itu menghilang di grogoti semua semut kecil. ah ini memang salahnya.
"di bagi bagi aja non, cepet abis e gimana" ujar bi tuti memberi saran.
"mantap, bi Tuti encer banget hahaha" Karin menjawab dengan gelak tawa. tawa yang lama tak terdengar dari sosok Karin yang kadang misterius dan kadang sangat humoris untuk orang orang yang sering mengisi ruang dalam hatinya. seperti bi Tuti dan bi Ina. selain mereka, banyak pekerja yang berada di rumahnya mengira Karin adalah sosok yang tegas.
P.T satria permada.
sangat sulit untuknya menghandel segala pekerjaan yang datang bertubi tubi. tanpa Asisten yang dapat di andalkan. setelah memberi cuti kepada resa untuk melakukan honeymoon selama seminggu, kini dirinya sendiri yang kocar kacir tak tentu arah. banyak sekali meeting yang diundur karena banyak pula berkas yang belum beres. jadwal pertemuan yang telah resa buatkan sebelum di beri cuti saja hilang. ah sungguh konyol dirinya itu.
bukan hanya itu, sore ini, di kantor ini pula akan di adakan rapat para staf kantor untuk menggantikan posisi resa sementara waktu. jika terus begini dirinya bisa stress berat. walau dengan banyaknya pekerjaan, banyak pula pundi pundi harta yang akan terkumpul jadi kemandiriannya yang selalu jauh dari orang tua ada hasilnya. tapi juga masalah berat bagi mental nya.
"gillaaa... gue capek" seru Bima.
setelah itu sunyi kembali. janggal sungguh janggal. ada apa dengan hubungan Karin dan Zaky. di matanya ada sesuatu ke anehan yang terjadi pada diri Zaky. saat di pesta, tak sengaja Bima mendengar Zaky mengangkat telepon dari seseorang. lantas ia pergi menjauhi area yang ramai di penuhi para tamu.
__ADS_1
saat sudah di area yang sepi lelaki itu tetap saja waspada. dia memelankan suaranya saat berbincang lewat telepon. siapa penelpon itu? mengapa Zaky harus mengangkat nya di tempat yang gelap dan sepi? ya Bima memang mengikuti langkah Zaky secara diam diam. di takut akan... ah sudahlah itu bukan urusannya. tapi Karin? jika benar itu wanita lainnya Zaky, bagaimana Karin? menambah beban pikiran saja.
dering telpon membuyarkan lamunan resa. membuat dua lelaki yang masih berbicara serius itu memalingkan wajahnya. berharap bukan urusan penting yang menghampiri.
"resa kamu dimana?" tanya si penelepon yang tak lain adalah Karin.
resa diam, dia harus menjawab apa? tidak mungkin ia menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur. kalau pun tidak jujur tempat mana yang bisa menjadi penghalang kejujuran itu.
"res... kamu di sana kan?" tanya Karin lagi.
diam. resa masih diam. jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan itu. di mana ia kini adalah sebuah masalah besar jika Sampai Karin tau.
"siapa?" bisik nata yang duduk tepat di depan resa.
"Karin" jawab resa lirih.
bersamaan dengan jawaban yang keluar nata dan Zaky sama sama melototkan mata. kacau gadis itu menelpon di saat yang tidak tepat.
"resa... you oke?" tanya Karin lagi.
"ee... ya aku baik baik saja, ada apa Karin?" resa masih berusaha menyangkal pertanyaan apa yang di dengar dari sebrang.
"kamu di mana?"
"ah astaga aku lupa kalian pengantin baru maaf jika menganggu, oh ya resa nanti malam kamu dimana?"
resa kembali berbisik ke arah nata dan Zaky dengan pertanyaan yang sama seperti yang di ucapkan Karin. nata tak terlalu paham gerak mulut resa yang membuat resa harus mengulang kalimat itu lagi.
paham dengan ucapan resa, nata pun angkat bicara.
"kita mau nginep di rumahnya om topan, rumahnya Zaky" suara nata tampak di buat buat agar meyakinkan bahwa mereka tengah berdua di dampingi dengan cinta.
"ah baiklah, aku akan ke sana pukul tujuh tunggu aku pengantin baru" ucap Karin mengakhiri panggilan.
resa dan nata membelalakan matanya bersamaan. Zaky yang sedari tadi mendengan ucapan Karin dari telpon tampak tenang, karena telpon itu di speaker. jelas pula tidak ada rasa takut yang membuat dirinya kalang kabut.
"Lo gak takut kalau bener white crocodile peneror, nanti karin ikut di teror." celetuk nata.
Zaky menggeleng. "akan ku kirim anak buah ku ke rumah nya untuk mengawasi dia kemanapun dia pergi termasuk pergi kerumah ku sendiri" lanjutnya.
nata menggeleng pelan sembari tersenyum kecil. "gila... buruan nikahin sana biar aman" celetuknya.
__ADS_1
"setelah kita tau siapa peneror itu" ujar Zaky datar.
senja telah berganti malam. membawa angin dingin mengelilingi suatu kota dengan hembusan pelan tetapi menusuk tulang. bukan salah angin jika mereka merasa dingin. bukankan lebih nyaman diam di rumah sembari menggelar selimut tebal untuk menutupi tubuh. ah itu pekerjaan orang malas. memang malam di gunakan untuk beristirahat tetapi bukan berarti tidur di akhir senja kan?.
Karin sibuk mengemas beberapa roti berbentuk balok untuk ia bawa ke rumah Zaky. tak lupa ia juga membawakan satu balok roti lagi untuk sahabat nya. Bima. lelaki itu entah bagaiman kondisinya saat ini. semoga baik saja, dan siapa perempuan yang akan mengisi hatinya yang selalu sepi itu, semoga bukan orang yang buruk hati.
beberapa menit yang lalu mesin mobil nya telah menyala untuk di panaskan. karena dari kemarin mobil itu tidak di gunakan. setelah mendapat laporan dari mas Jo kalau mobilnya siap pakai karin langsung meluncur sembari menenteng dua kantung plastik berwarna putih berukuran sedang. dengan di bantu bi ina yang membawa satu kantung plastik dengan ukuran dan warna yang sama.
"maksih ya bi... Karin jalan dulu" ucapnya sembari tersenyum. "oh ya mas Jo biar saya nyetir sendiri" ucapnya lagi, setelah mendapati sopirnya itu berdiri di dekat pintu sopir.
mas Jo hanya menjawab dengan anggukan kecil lalu pergi begitu saja. diam seribu bahasa bahkan menoleh pun tidak. sangat irit gerak dan bicara. lelaki itu, tak dapat membayangkan bagaimana perasaan sang istri dan anak mendapat kan kepala keluarga seperti mas Jo. tapi Karin yakin di balik sifatnya yang dingin mas Jo memilik rasa tanggung jawab yang besar.
sendiri dalam sunyi di dalam sebuah mobil yang cahaya remang remang bahkan gelap ketika pintu tertutup. tak ada lawan bicara bahkan batinnya ikut diam seribu bahasa. entah apa yang akan terjadi malam ini. bukan kah seharusnya dia senang karena sebentar lagi akan bertemu sang kekasih beserta keluarga nya? dan pada akhirnya batin mulai bersuara. membuat suara yang seharusnya di dengar dalam hati di dengar pula oleh telinga. ya Karin mulai berbicara sendiri. bukan tanpa alasan itu sering terjadi pada dirinya yang banyak menanggung beban yang tak terlihat. tanpa sadar pula ada sebuah mobil sedan hitam mengikuti arah mobil Karin.
sampai pada akhirnya Karin memberhentikan itu tepat di depan gerbang besar yang menjulang tinggi. taman di halaman dan lampu taman itu masih sama seperti beberapa bulan lalu saat dirinya datang ke mari. malam ini penampilan nya juga tak terlalu mencolok. dengan paduan kaos oblong yang di tutupi jaket kulit berwarna merah. celana jeans hitam dan sepatu sneakers warna putih.
sedangan mobil sedan yang mengikuti nya pergi begitu saja melewati gerbang rumah Zaky. bukan orang yang perlu di takutkan, pengendara mobil sedan itu adalah anak buah Zaky sendiri yang di utus untuk mengintai pergerakan Karin ketika keluar rumah.
tak lama setelah Karin hanya diam di dalam mobil yang masih tepat bertengger di depan gerbang, muncul pula mobil warna hitam dari arah berlawan dengan arah kedatanganya tadi. tak di sangka mobil itu juga berhenti tepat di depan gerbang itu.
Karin yang tampak bingung akhirnya membuka kaca mobil di bagian penumpang depan agar dapat melihat siapa pengendara mobil hitam yang baru datang tersebut. senyumnya menyunging saat sopir mobil di sampaikan nya ikut membuka kaca mobilnya. nampak dua pengantin baru yang bahagia dengan deretan gigi yang di tampilkan.
"kok bisa barengan sih" seru nata.
"gak tau... kebetulan aja kalik" jawab karin sembari tersenyum sumringah.
tak lama setelah itu nata membunyikan klakson mobilnya di ikuti terbukanya gerbang karena satpam tau ada dua mobil yang menunggu tanda 'silahkan'.
Karin berjalan beriringan dengan resa sementara nata masih berjalan santai di belakang mereka. raut wajah yang seharusnya senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan keluarga baru tidak nampak di wajah resa yang yang polos tanpa polesan make up. wajah lesu dan gundah bahkan wajah itu terlihat pucat.
"emm... Lo gak papa kan res? apa jangan jangan nata... duh Nat ngukur dulu dong kasian kan resa" seru Karin sembari menatap dua pengantin baru itu bergantian.
"eh? apa sih Rin... Lo tu ih" resa menyenggol siku Karin pelan. mereka berdua tertawa sementara nata masih asik dengan rapat di batinnya.
baru saja tiga pasang kaki itu menginjak lantai berkramik putih, pintu lebar itu terbentang secara tiba tiba. seorang lelaki dan seorang wanita paruh baya membentangkan tanganya. bermaksud memberikan sambutan hangat pada menantu dan calon menantunya.
Sarah sadar nata bukan akan kandung nya melainkan anak dari adik sang suami. namun setelah meninggalkan Sabrina ia Telah menganggap nata sebagai Nata kandung nya. begitu resa selaku istri nata juga menantu baginya. tak pernah terbayang perginya Sang putri tunggal malah mengundang dua putri lagi untuk masuk dalam hidup nya. terkadang yang di ambil adalah jalan yang terbaik. tapi banyak manusia yang tak terima dengan itu. bukan bukan salah manusia, memang logika mereka yang sudah tertanam sejak dulu. andai bukan logika tapi perasaan yang di kedepankan Pasti mereka tak akan mendustakan nikmat tuhan.
.
.
__ADS_1
selanjutnya...