
Hari semakin gelap tapi batang hidung nata tak kunjung kelihatan. Sarah, topan dan Zaky terus di buat bingung. pasalnya sudah berkali kali di telpon pun laki laki itu tak juga memberi respon.
Muncul sebuah ide dari otak Zaky. satu tempat yang pasti akan nata datangi untuk mengetahui letak resa. markas. hanya tempat itu yang akan membantu nata untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Zaky membisikan sesuatu pada topan lalu mendapat anggukan cepat laki laki paruh baya itu. topan pergi bersama Zaky, topan pergi setelah meninggalkan sebuah kecupan hangat pada dahi Istrinya. walau bertanya tanya, Sarah tak terlalu menghiraukan keduanya. Sarah tau pasti apa yang mereka lakukan ada kaitannya dengan apa yang terjadi saat ini.
Sementara Karin yang mendengar deru mesin mobil Zaky, segera bergegas menuruni anak tangga dengan tergesa gesa.
"Zaky mau kemana mah?" tanyanya pada Sarah yang masih berdiri di depan pintu.
"em?" Sarah sedikit terkejut dengan kehadiran Karin. "oh mereka mau mencari nata, mama takut terjadi sesuatu pada nata" sambungnya.
Karin mengangguk angguk paham tetapi masih diam di tempat.
"Rin mama masuk dulu ya" ucap Sarah.
"oh iya ma... Karin sekalian izin mau ke rumah papa cek cek sebentar"
"iya... pulang jangan malam malam ya"
Karin mengangguk lalu berjalan keluar rumah menuju garasi tempat mobilnya terparkir cantik.
"kalau gue diam aja, nata pasti mikir kalau gue main main bantuin dia'" bisik Karin dalam hati.
Mobil itu terus berjalan sampai pada markas. sementara kedua pria di depan sudah menyiapkan mental baja guna menahan amarah ketika nata harus menyembur mereka dengan kata kata pedas.
Markas terlihat sepi dari biasanya. hanya tersisa lima sampai sepuluh orang di sana. melihat itu Zaky di buat bingung begitupun dengan topan.
"kemana yang lain?" tanya topan.
"nata memberi perintah kepada mereka" jawab salah satu dari beberapa orang itu.
"pah... nata bergerak sendiri?" tanya Jack yang sungguh di buat tak tenang.
"dia orang cerdas berpendidikan, nata tidak akan mengambil langkah lebih"
"nata dalam amarah pa.. apa mungkin dia akan terus berfikir waras"
"percaya dia saudara mu jack"
Jack hanya dapat diam, dirinya kembali di terjang rasa tak enak yang terus meliputi diri.
"kita lihat ke rumah nata terlebih dahulu lalu ke rumah tante Raina" saran Jack lalu pergi di ikuti oleh topan.
Sementara di lain tempat Karin tengah berusaha mengatur kelompok anak buahnya yang akan di kerahkan untuk mencari keberadaan resa dan raina di tambah lagi dengan mencari keberadaan nata.
Kelompok terbagi menjadi empat. charla hanya mengambil 10 malfionso terkuat dan sekitar 40 malfionso biasa. satu kelompok di pimpin oleh dirinya sendiri sementara tiga kelompok lain akan di pimpin James, Deon dan karsa.
"huh... gue butuh Lo rel" lirih charla lemah tapi masih dapat di dengar oleh karsa yang saat itu berdiri paling dekat dengan charla.
Karsa menghembuskan nafas kasar mendengar kelurahan dari queen nya itu. ia tau queennya itu juga manusia yang dapat merasakan lelah. jujur saja karsa memiliki sedikit rasa benci pada verel yang selalu tidak ada di saat semuanya butuh.
"kita bergerak malam ini juga" ucap charla setelah hening beberapa saat.
__ADS_1
"siap queen" jawab semuanya serempak.
"Deon aku percayakan CCTV seluruh kota kepadamu, bobol dan sadap dengan hati hati. banyak organisasi mafia di luaran sana. bahaya jika mereka tau kita dalam keadaan tak baik" wejangan panjang charla untuk Deon dan bawahan yang lain.
Deon di ikuti oleh bawahannya mengangguk paham. mereka segera bergerak, sementara yang lain berpencar sesuai keahlian masing masing.
Di sana di sebuah rumah sederhana di dalam sebuah ruangan yang tak terlalu besar. wanita paruh baya itu tersenyum di temani seorang perempuan seumuran Karin. keduanya terus memandangi perut buncit milik seorang perempuan yang tengah menahan takut.
Ya itu resa yang tengah di sekap di dalam kamar yang tak asing baginya. kamar yang menjadi memori hangat baginya. kamar yang dulu pernah ia gunakan untuk menyuapi seseorang.
"sabar ya... gak usah nangis mama cuma mau menunggu cucu mama lahir" lirih perempuan paruh baya yang tengah mengelus perut resa.
"dia bukan cucu mu" ketus Raina yang juga ada di sana. posisinya di ikat pada sebuah kursi kayu tak jauh dari resa.
"bagaimana mungkin? resa masih menantuku na" wanita itu tersenyum miring ke arah Raina. "dia masih istri dari anakku" wanita itu kembali menatap resa.
"Rosa! sadar kan diri kamu!" teriak raina.
"mama" pekik resa kecil. Resa dalam ketakutan yang memuncak padahal di sini dia sangat di manja akan tetapi juga tertekan akan perlakukan mantan mertuanya.
"ikhlas kan Arvin, dan biarkan resa bahagia" Raina berkata lirih dengan nada menyayat hati.
"ibuku tidak bahagia... lantas mengapa dia harus membiarkan orang lain bahagia Tante?" ucap wanita di samping Rosa yang tak lain adalah anaknya.
"Shely jangan berbicara dengan orang bodoh yang hanya ingin kebahagiaannya saja tapi tak mau melihat bahagia orang lain" ucap Rosa datar.
Shely hanya tersenyum puas.
Andaikan dirinya dapat memiliki anak pasti dia tak akan di tinggal suaminya dan tak harus meminta paksa anak orang yang masih dalam kandungan. andai dulu rahimnya tak di angkat pasti kini ibunya pun sudah bahagia. andai dunia adil dalam segala hal, tak akan dia mengompori ibunya untuk mengambil dan meminta anak orang dengan cara seperti ini.
"cari aku Nat... lindungi aku seperti janjimu, lindungi anak kita Nat... kini aku tengah lemah" lirih resa lagi dengan sekuat tenaga menahan sesak nya rasa takut.
Dari tempatnya Raina menatap iba putrinya yang terus menunduk. dia tau resa dalam ketakutan tapi apa yang dapat ia perbuat.
Kecepatan mobil Zaky telah melampaui batas, untuk kini dirinya dan topan tengah menyusuri jalanan sepi dan sedikit gelap.
Zaky masih dalam keadaan frustasi kerena Mereka baru saja pulang dari kekediaman nata. rumah sepi melopong. hanya ada seorang satpam gerbang dan para art nata disana.
Topan dan Zaky tengah menuju kekediaman raina.
Sesampainya disana, Zaky di perlihatkan oleh banyaknya orang. bahkan sebagian lagi mereka temui di beberapa kilo meter sebelum sampai sini. tak di ragukan lagi nata berusaha sendiri mencari keberadaan istri dan mertuanya.
Zaky dan Topan kembali di kejutkan dengan keadaan ruang tamu yang sekarang lebih mirip bar. berbagai minuman keras tersaji di sana. terdapat pula dua botol minuman keras yang telah kosong tak berisi.
Melihat itu Zaky naik pitam. dirinya tak dapat lagi menahan rasa kesal, takut, dan khawatiran nya jadi satu. dengan langkah cepat gemertak di setiap langkahnya, menghadap nata yang tenang duduk duduk di sofa sambil meminum setelah isi dari botol minuman itu.
bughhh...
Pukulan itu mendarat tepat di pipi nata yang masih terlihat linglung. sementara topan diam di tempat, masih bingung dengan apa yang dilakukan putranya.
"Zaky!" pekik topan akhirnya.
Tak ada sahutan dari Zaky. laki laki itu masih menatap tajam nata yang tengah menunduk.
__ADS_1
"Lo ngapain!" teriak Zaky tepat di dekat telinga nata.
Nata belum memberi respon. laki laki itu masih nyaman dengan posisi menunduk nya.
"Lo gak perlu kayak gini Nat... Lo sama aja nyakitin diri lo sendiri!" seru Zaky lagi.
Masih sama nata tidak memberi respon.
Satu pukulan hampir saja menghantam pipi nata lagi, tapi tangan topan menghentikan pergerakan tangan Zaky.
"sudah ky... kamu terlalu berlebihan" tegur topan halus.
Tapi saat keduanya lengah, sebuah senyum licik tertampil di bibir nata.
bugh....
Satu pukulan kasar mendarat bebas di pipi Zaky. laki laki itu langsung tersungkur saking kuatnya pukulan dari nata. ini bukan pukulan biasa. pukulan pedih dengan bumbu dendam yang membara tiada habis.
"nata!..." pekik topan keras membuat beberapa orang yang ada di sana menoleh ke asal suara.
Zaky di bantu oleh topan untuk berdiri. pandanganya memburam, sekuat tenaga Zaky tahan agar tubuhnya tak ambruk ke lantai.
"sakit?" tanya nata yang tergambar seperti ledekan.
Topan mau pun Zaky Diam tak menanggapi. mereka membiarkan nata larut dalam amarah yang nampak semakin tinggi.
"aku ingin Karin dan tante Sarah menggantikan posisi resa dan mama" lirih nata yang menusuk hingga lubuk hati.
"aku ingin kalian merasakan apa itu namanya sakit!" nata berbicara lagi dengan nada yang sama.
"SUDAH HAMPIR SATU BULAN RESA DAN MAMA HILANG TAPI APA YANG KALIAN LAKUKAN! ADA?" nadanya mulai meninggi. tapi topan dan Zaky belum menjawab apa pun.
prakkk...
Satu botol minuman keras dengan isinya yang masih setengah pecah di banting oleh nata. lalu dengan biasa saja laki laki itu mengambil salah satu pecahan kaca tanpa hati hati.
Topan dan Zaky masih diam walau tau apa yang akan nata lakukan dengan benda tajam itu.
"JANGAN SEBUT KALIAN KELUARGA JIKA MEMBANTU KELUARGA YANG LAIN MASIH NANTI NANTI! KATA KELUARGA YANG SELALU KALIAN PAKAI UNTUK MENENANGKAN KU HANYALAH BULSHIT!" ketus nata lagi.
Pelan laki laki itu meremas serpihan kaca yang ada di tangannya hingga darah mengucur deras dari sana.
Sementara topan dan Zaky yang melihat betapa besar amarah nata, memilih diam. sebab sebelum tenang nata belum bisa untuk di dekati.
Seseorang yang memiliki kepribadian santai dalam mengahadapi masalah belum tentu dia akan tetap santai ketikan kesabaran di buat permainan.
"omongan kalian tentang keluarga semacam tong kosong yang nyaring bunyinya!" lirih nata sebelum terjatuh di atas beribu serpihan kaca dari botol minuman keras yang tadi di banting.
Kesempatan ini di jadikan Zaky dan topan untuk memeluk hangat seorang nata yang kini tengah rapuh. mereka sadar, mereka terlalu santai menghadapi apa yang nata hadapi. mereka juga sadar embel embel kata keluarga jika hanya di gunakan pewarna kebersamaan tak akan ada gunanya. semua akan berwarna abu abu di saat saat seperti ini.
.
.
__ADS_1
selanjutnya...