Suamiku Musuh Bebuyutan Ku

Suamiku Musuh Bebuyutan Ku
duka lara


__ADS_3

hujan rintik masih menjadi teman malam orang orang kota. entah dengan kegalauan atau kegembiraan. tapi jarang adanya kondisi seseorang tengah bahagia di antara rintik hujan. pasti kebanyak pikiran mereka berkelana dan berusaha membuat rintik hujan juga membasahi pipi mereka. suka cari gara gara memang.


Diantara cekungan air seperti nya ada yang ingin mengusik ketentraman kumpulan air itu. dengan langkah tergesa gesa sepatu hitam itu benar Benar membuat air di cekungan membuyarkan diri.


Langkanya penuh hentakan, terlalu terburu buru hingga laki laki itu hampir saja jatuh. untung masih hampi kalau jatuh beneran bisa jadi bahan ejekan para nyamuk nantinya.


tokk ..tokk... tokk...


pintu kayu itu di ketuk kuat hingga suaranya tak lagi sama seperti ketukan tapi gedoran. membuat orang yang ada di dalam rumah segera membukakan pintu. takut ada sesuatu yang penting atau semacamnya.


"loh mas Andreas" ucap seorang perempuan yang membukakan pintu rumah.


"dimana suami mu?"


"di dalam mas" jawab perempuan itu yang tak lain adalah Santi.


Andreas langsung masuk ke dalam rumah dan menemui siapa yang ingin ia temui. mata nya terus mencari sampai menemukan sosok laki laki tengah berbaring di atas sofa.


tubuhnya terlihat letih, wajahnya juga lesu tak bertenaga. walau sedikit kasihan pada sang adik, Andreas tak mau ambil peduli. ia segera menampar pelan pipi adiknya dengan maksud agar Adik nya itu tak terlalu terkejut.


"bagun!" ketus Andreas.


dari kejauhan Santi yang Melihat itu hanya diam. dia tau ada sesuatu yang akan suami dan kakak iparnya bahas. pasti masalah nata, detik itu juga Santi teringat akan sesuatu.


seorang laki dan seorang perempuan pernah mendatanginya dengan alasan mencari suaminya. sudah ada sekitar satu mingguan Mereka datang. Dengan isyarat aneh yang baru Sinta pertanyakan dalam otaknya.


"apa!" ketus John yang terkejut dengan sikap kakak nya.


"Lo tau! kita terlalu bertele tele dalam melakukan sesuatu sampai sampai kita tidak tau kalau istri beserta ibu mertua nata hilang!" erang Andreas bersama segudang amarah. diri nya jua tega menarik kerah baju John Sampai laki laki itu sedikit tercekik.


"apasih Lo bang!" John tak mau kalah begitu saja. "Lo yabg minta supaya kita kasih jeda untuk meneror mereka dan sekarang Lo nyalahin gue! goblo*" pekik John.


menyadari keributan yang akan segera terjadi, Santi ambil tindakan. perempuan itu maju melerai kedua saudara itu.


"udah udah! Dani lagi tidur bang!" teriakkan Santi berhasil merendam Amarah keduanya. "kalau mau ribut di luar sana jangan di sini" lanjut Santi lalu pergi meninggalkan dua laki laki itu.


Andreas tak mau ambil diam, dia langsung menyeret adiknya keluar dari rumah dan membawanya masuk mobil. kini mereka berdua berniat untuk menemui pemimpin dangger untuk rencana selanjutnya.


Senyum senyum perempuan itu mengendarai mobilnya. kurang lebih beberapa menit lagi dia akan sampai di rumah papanya. Karin memang berniat untuk bermalam di rumah ini sementara waktu. ia juga berniat untuk memperingati Bu Ina dan para anak buahnya untuk bungkam kemana saja dia pergi selama ini.


gerbang tinggi menjulang telah di lewati oleh Karin kini dirinya memarkir mobilnya di halaman. tak lupa Karin menyuruh salah satu anak buahnya untuk meletakkan mobilnya ke garasi. bukanya malas, Karin hanya terlalu telah.


yang di khawatirkan selama ini ternyata hanya tipuan semata untuk nata dan bodohnya semua orang ikut terjerat di dalamnya. Karin sampai tak habis pikir dengan kelakuan resa bersama mama dan mantan mama mertuanya. Mereka benar benar kompak walau sebenarnya sudah tak ada hubungan erat di antara mereka.


pintu utama rumah di buka dari dalam, walau Karin terkejut ia pun tersenyum Melihat siapa yang menyambutnya. tapi tidak dengan orang itu dia hanya tersenyum tipis melihat majikanya pulang.


"bibi... gak kangen sama Karin?" tanya Karin langsung menghambur memeluk bi Ina.

__ADS_1


"kangen kok non, tapi ada yang lebih kangen" ucap bi Ina lirih. di sana Karin dapat mendengar samar samar bawah bi Ian tengah menahan rasa takut yang luar biasa.


"bibi kenapa?" tanya Karin lembut.


"tidak ada, bibi kelelahan mungkin" jawab bi Ina. tidak Karin bukan orang bodoh. dia terus mengajak bi Ina mengobrol bahkan Karin juga mengajak bi Ina makan malam, tapi sayang itu di Tolak mentah mentah.


usia makan, Karin memilih masuk kamar nya untuk beristirahat sejenak. sejak beberapa menit lalu ia sudah tak melihat bi Ina ada di dapat atau di sekitar meja makan mungkin beliau sudah istirahat.


Pintu kamar itu terbuka lebar. Karin tersenyum menyambut kamar lamanya yang sudah jarang ia singgahi. tapi sayang senyum itu menyusut beberapa detik setelah Karin mendongak kan kepalanya.


Tepat di sana, di samping tempat tidurnya Zaky berdiri tegap dengan wajah datar yang jarang Karin lihat. dengan satu tangan mengarah ke belakang, Zaky menghembuskan nafasnya kasar. memberi tahu bahwa dirinya tidak baik baik saja.


"sa...sayang, kamu..-" karin tak dapat melanjutkan kata katanya. suara tercekat di tenggorokan.


"iya aku disini, dari kemarin" Zaky menekan kata terakhir.


"oh.." hanya suara itu yang dapat keluar mulut Karin.


"kamu gak tanya ngapain aku ke sini?" Zaky berucap lagi namun kini dengan nada yang mematikan.


Karin menanggapi itu hanya tersenyum lalu ia berjalan mendekati Zaky.


"berhenti!" Ketus zaky.


kaki Karin seketika membeku di tempat. tapi walau begitu Karin masih dapat tersenyum.


"BOHONG! KAMU BOHONG, KAMU BOHONG BUKAN SAMA AKU AJA TAPI JUGA MAMA DAN PAPA. MAKSUD KAMU APA RIN?" bentakan itu berhasil membuat hati Karin bergemuruh.


Di sana lah letak kelemahan Karin. di bentak seorang laki laki yang sangat ia cintai adalah kelemahan nya. walau sejak kecil ia di didik keras tapi ingat Karin tetap seorang wanita yang bisa saja menangis Karena hatinya tergores.


satu titik air mata berhasil menerobos keluar dan sayangnya itu tak pernah luput dari penglihatan zaky. jelas laki laki itu ikut tersiksa karena air mata sang kekasih. untuk pertama kalinya Zaky membentak Karin dengan kesadaran penuh.


Pada akhirnya Zaky runtuh sendiri. bahkan tanpa sengaja dia menjatuhkan pistol yang ada di tangannya. ya bener satu tangan Zaky yang terarah ke belakang sebelum tengah memegang pistol, itu ia lakukan untuk menghukum Karin dengan hukuman pedih tapi sayang ternyata dirinya sendiri lah yang terhukum.


menyadari apa yang telah ia jatuhkan, Zaky dengan sigap menendang pistol itu ke kolong kasur. ia segera memeluk Karin erat. penuh penyesalan laki laki itu menangis hingga tersedu sedu.


"maaf Rin" lirihnya.


Karin hanya mengangguk dan kembali menenggelamkan kepalanya pada lekuk leher milik suaminya.


Sementara di balik pintu, bi Ina tengah menahan rasa takut yang begitu dalam. dia hanya dapat memastikan tidak ada suara mematikan dari benda itu terdengar dari dalam kamar majikanya. dan satu lagi bi Ina tau lebih dari apa yang Karin tau.


adegan sesal sesalan, kangen kangenan, maaf maafan di dalam kamar itu akhirnya berhenti setelah bunyi nyaring dari ponsel Karin. merasa takut ada yang penting Karin langsung mengangkatnya dan nama 'nata' tertera di sana.


Karin yang Melihat itu sedikit terkejut, namun sebisa mungkin dia menetralkan gerak tubuhnya dan tidak berusaha menghindar dari Zaky. kalau pun nata sampai keceplosan nanti biarlah Karin hadapi sendiri. jika sudah saat nya Zaky tau siapa karin akan membiarkan hal itu.


"iya Nat?" balas Karin sedikit ragu.

__ADS_1


mendengar nama yang di sebut karin, Zaky melayangkan tatapan interogasi pada Karin. Nata sudah menghilangkan dan tanpa kabar dari kemarin dan Sekarang dia malah menelpon istri nya? mengapa?


"maaf apa benar ini dengan saudara Karin?" tanya dari sebrang dan itu bukan suara Nata.


"i-iya benar dengan saya sendiri, dengan siapa ini?" balas Karin yang juga menimbulkan tanda tanya di benak Zaky.


"kami dari kepolisian, mengabarkan bahwa saudara Jonata Aditya sandres bersama istrinya Resa adinda Mayang Sari mengalami kecelakaan di jalan merdeka. kini korban telah di bawa ke rumah sakit pelita jaya" suara itu terpotong karena Zaky menyela.


"resa?" lirihnya.


Karin hanya dapat mengangguk. kini dirinya di buat mematung di tempat mendengar berita itu.


"untuk pihak keluarga di mohon untuk segera datang karena kondisi korban lumayan parah" sambung dari ponsel.


"iya, baik" hanya kata datar dan lirih itu yang dapat keluar dari mulut Karin.


Mereke berdua bergegas menuruni anak tangga. Mereke juga tak lupa.mamberi kabar pada Sarah dan topan tentang nata, tapi Zaky begitupun karin lupa memberitahu keduanya bahwa nata kecelakaan tidak sendiri. tapi kini itu tidak penting, kondisi nata dan resa yang terpenting untuk Mereka.


Bi Ina yang baru saja sampai lantai dasar di buat terkejut dengan langkah kaki yang cepat dan penuh gertakan. Bi Ina sempat berfikir bahwa karin atau Zaky tidak akan pernah keluar kamar dengan Berdua, karena kejadian beberapa jam yang lalu masih berputar juga menempel di kelapa Bi ina.


"Bi ina kita keluar dulu ya... tolong jaga rumah nanti kita kembali" ucap Karin masih dengan berlari menuju pintu utama.


bi in hanya dapat mengangguk lemah. setelah itu entah dirinya salah apa, tatapan tajam milik zaky melayang padanya.


"iya non" ucapnya cepat.


sesampainya di rumah sakit pelita jaya, Karin dan Zaky segera menunju kamar inap milik nata dan resa. tapi ternyata ruang inap keduanya berbeda dan letaknya pun berjauhan. jadi mau tidak mau Mereke harus berbagi untuk menunggu keduanya selesai di tangani dokter.


tak di sangka saat Mereke menyusuri koridor untuk menuju ruangan nata ternyata di sana sudah ada Sarah dan topan. jadi tak butuh waktu lama, Karin bersama dengan Sarah menuju ruangan resa. sementara topan dan Zaky menunggu ruangan nata.


dari kejauhan Karin dan Sarah dibuat bingung begitupun takut. karena tidka jauh dari mereka ada ruangan resa yang terus saja di masukin dokter serta suster secaa bergantian. dengan membawa troli medis yang juga ikut berbolak balik.


"resa kenapa mah" lirih Karin.


"yakin kan diri kamu bahwa itu bukan resa, resa dan bayi nya selamat Rin dan itu harus" tangis Sarah tak dapat di bendung lagi. jujur dia sangat ketakutan dengan apa yang di lihat Sekarang.


Sudah ada lebih dari 30 menit, Karin dan Sarah menunggu keluar nya dokter dari dalam ruangan Resa. tapi setiap dokter keluar, dokter itu enggan untuk berbicara apa pun. sampai akhirnya Mereka mendapatkan kabar bahwa Nata telah siuman. dari pada menunggu lagi, Sarah dan Karin memutuskan untuk kembali ke ruangan nata.


"benturan pada kepala saudara nata bis SDI bilang parah. oleh sebab itu kami sarankan untuk tidak terlalu menekan beliau untuk saat ini" ucap seorang dokter yang menangani nata.


Keempat orang itu mengangguk. mereka juga memutuskan untuk bergantian dalam melihat kondisi Nata. Sarah dan Karin yang memang mendapat kan giliran akhirnya mendapatkan kabar bahwa Resa telah siuman. tanpa pikir panjang Sarah dan Karin kembali ke ruangan resa untuk melihat kondisi perempuan itu.


Sesampainya di sana, Sarah dan Karin melihat...


.


.

__ADS_1


selanjutnya...


__ADS_2