
Di kamar 106.
Semua orang yang berada di ruangan itu bersorak gembira. Tak ada yang mendengar kebisingan yang terjadi di dalam kamar tersebut karena lantai tempat kamar charla kosong. Lantai ini sudah di beli sepenuhnya oleh Karin/charla. Dia sangat berhati hati dalam meletakkan tempat peristirahatan, ia juga malas mengambil resiko jika ada orang lain yang mendengar tentang statusnya sebagai mafia. Charla bukan hanya seorang mafia, tapi dia juga menerima pekerjaan yang sangat berbahaya. Menjadi pembunuh bayaran dan pekerjaan lainya sudah menjadi dunia Karin sebagai charla.
"Kerja bagus..." Ucap Karin tersenyum.
"Terserah pada kalian ingin bersenang senang di mana... Aku akan kembali nanti sore" akhir charla. Ia segera pergi dari apartemen itu untuk kembali menemani Bima. Ia takut Bima tau bahwa dirinya pergi tanpa sepengetahuan nya sebab jam sudah menunjuk pukul 06.00.
Sesampainya di rumah sakit pelita jaya, terlihat ranjang pasien yang di tempati Bima kosong. Karin yang sempat membeli makanan bertindak seperti tidak terjadi apa-apa. Dia menyiapkan sarapan untuk nya dan Bima, tapi saat dia sibuk menyiapkan makanan Karin di kejutkan dengan seseorang yang berdiri tepat di belakang nya.
"Dari mana?" Tanya orang itu yang tak lain adalah Bima.
"Ee... Itu gue beli sarapan buat kita" jawab Karin berusahan tenang.
"Sungguh?" Tanya Bima lagi meyakinkan.
"Iya lah... Kau pikir apa?" Jawab Karin mulai kesal.
"Aku pikir... Ada serangan dari black dragon" jawab Bima membuat Karin terkejut bukan main.
"Ap..apa maksudmu tidak ada serangan apa pun" elak Karin.
"Kau pikir aku tidak tau, kau keluar dari ruangan ini sejak pukul 02.30" ucap Bima.
**Flashback**
Terdengar samar samar suara seorang perempuan dengan nada menahan amarah. Bima mencoba untuk mengetahui siapa perempuan tersebut dan ternyata itu adalah Karin. Ia memilih pura pura tidur agar tak menimbulkan kecurigaan pada Karin.
Setelah Karin keluar dari ruang rawat tersebut, Bima mencoba melirik jam dinding yang berada di ruang rawatnya.
"Masih pukul setengah tiga... Mau kemana dia" ucapnya lirih. Tak ingin buang waktu, dengan perlahan Bima mulai mengikuti Karin dari jarak yang lumayan jauh dengan membawa tiang infus.
Bima berhenti mengikuti Karin setelah Karin melewati pintu utama rumah sakit yang masih sangat sepi itu. Ingatannya kembali pada kejadian brutal yang di lakukan Karin sebagai charla beberapa Minggu lalu.
"aku tau kau menganggap ku sahabat dan tidak lebih tapi perhatianmu Rin yang masih ku pertanyakan" ucap Bima dalam hati. Bima sempat melihat Karin tersenyum licik saat melewati pintu utama rumah sakit.
Bima memutuskan untuk kembali ke kamar Rawat. Bima yakin kalau Karin akan menang dalam melawan musuh bebuyutan mereka. Ia ingin sekali meneruskan tidurnya tapi sayang matanya sulit di ajak bernegosiasi. Akhirnya Bima memutuskan untuk menunggu Karin Sampai yang di tunggu kembali.
Setelah lebih dari 4 jam menunggu akhirnya Karin kembali. Pada saat Karin kembali Bima berada di kamar mandi. Ada sedikit rasa kecewa yang menyelimuti dirinya. Bagaimana tidak Bima berperan aktif di white crocodile tapi di saat keadaan genting ia selalu tak tau apa apa.
**Flashback off**
"Ah sudah lah lagian sudah selesai kok urusannya." Jawab Karin cuek. Menurutnya hal itu hanya masalah kecil, lagi pun masalah itu tuntas tanpa bantuan Bima. Karin juga sadar kalau penyerangan di lakukan di saat Bima sakit.
"Lo anggep gue apa?" Tanya Bima.
"Bim c'mon lah masalah selesai waktu juga udah lewat. Kau selalu membesarkan masalah kecil, itu yang gue gak suka dari Lo" jawab Karin tak kalah jengkel. Ia memilih keluar dari ruangan itu. Karin menuju roof top rumah sakit.
Sore harinya Karin pergi untuk menemui anak buahnya. Ia ingat betul bagaimana janjinya kepada mereka yang sudah bekerja sangat baik.
Sesampainya di apartemen charla segera memberikan mereka berlembar lembar uang merah. Charla juga membawakan satu kotak penuh minuman beralkohol untuk anak buahnya.
Semuanya bersorak gembira termasuk charla. Tapi kegembiraan charla tak bertahan lama setelah mendapat telepon dari rumah sakit yang mengatakan bahwa Bima jatuh dari tangga. Sesegera mungkin charla melajukan mobilanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Karin melihat resa tengah duduk di kursi tunggu. wajahnya terlihat sangat khawatir.
"Bagaimana keadaan Bima?" Tanya Karin.
"Saya tidak tau, saat saya berjalan menuju ruangan tuan Bima, saya melihat tim medis membawa ranjang yang menganggut tuan Bima. Menurut saksi mata saat tuan Bima turun dari tangga rooftop kakinya tergelincir dan jatuh." Jelas resa.
"Astaga..." Jawab Karin memegangi kepalanya.
Tak lama kemudian resa menerima panggilan dari sahabatnya yaitu Tania.
"Tuan Zaky kecelakaan?" Tanya resa terkejut.
__ADS_1
Mendengar nama yang di ucapkan resa, raut jawab Karin seketika menunjukkan keterkejutan.
"Res... Kalau boleh tau Zaky siapa?" Tanya Karin setelah resa mengakhiri panggilan telepon.
"Tuan Zaky pemegang perusahan Hartanto pusat yang pernah di ajak kerja sama oleh tuan Bima" jawab resa panjang lebar.
Mata Karin seketika melototkan mendengar jawaban resa. Kini ia bimbang antara memilih sahabat, atau lelaki yang berhasil memenangkan hatinya.
"Res... Apa kau akan menjenguk tuan Zaky?" Tanya Karin.
"Saya akan menjenguk tuan Zaky setelah tuan Bima sadar" Jawab resa.
Karin pun dengan cepat mengambil keputusan yang mungkin akan mengacaukan persahabatan nya sendiri.
"Em lebih baik kau tunggu tuan Bima sampai ia sadar dan tolong hubungi aku jika dia sadar ya..." Ucap Karin seraya melangkah cepat meninggalkan rumah sakit.
"Memang kau mau kemana..." Tanya resa sedikit berteriak karena Karin sudah lumayan jauh.
"Aku akan segera kembali." Jawab Karin dari kejauhan.
Resa hanya diam. Dia sendiri bingung mengapa Karin sangat terburu buru setelah mendengar kabar buruk tentang bos sahabatnya.
"apa mungkin Karin memiliki hubungan dengan tuan Zaky?..." bisik resa dalam hati.
Di rumah sakit keluarga Hartanto.
Karin segera menuju ruang rawat Zaky setelah resa mengirim pesan tempat dan letak kamar rawat Zaky. kebetulan satpam penjaga gerbang utama sedang berada di kamar mandi jadi sangat mudah Karin masuk ke rumah sakit keluarga besar Hartanto. Dengan sedikit berlari ia menuju ruang rawat tersebut. Dari kejauhan Karin melihat seorang lelaki paruh baya ditemani seorang lelaki muda yang wajahnya tak asing bagi Karin.
"Permisi om... Kalau boleh tau bagaimana keadaan Zaky?" Tanya Karin sopan setelah sampai di depan kursi tunggu.
"Kau siapa?... Tunggu sepertinya aku pernah melihatmu" jawab topan cepat.
"Oh om saya yang waktu itu di tabrak Zaky saat berada di restoran. Kami teman om" jawab Karin setelah melihat jelas wajah topan.
"anak ini...kalau di lihat lihat sangat mirip dengan Samson... ah tapi tidak mungkin anak Samson, gadis ini terlihat lembut dan baik..." perang batin topan pun terjadi.
"Oh ya... Keadaan Zaky tak terlalu parah, apa kau kekasih anak ku?" Tanya topan penasaran.
Seketika Karin tertegun.
"Bu...bukan om saya hanya teman" jawab Karin gugup.
"Kau perempuan yang di tabrak Zaky waktu itu kan?" Tanya nata tiba tiba.
"Iya benar... Kau lelaki yang bersama Zaky saat itu juga kan?" Jawab Karin balik bertanya.
Nata hanya menjawab dengan anggukan kecil.
"Zaky nabrak kamu lagi?" Sambung topan.
"Iya om saat kami tak sengaja bertemu di resto tradisional Park" jawab Karin.
Tak beberapa lama kemudian dokter pun keluar.
"Dok bagaimana keadaan Zaky" tanya topan.
"Luka bakar di bagian lengan tuan muda cukup parah tuan" jawab dokter itu.
"Luka bakar? Apa yang terjadi pada Zaky" tanya Karin.
"Zaky terkena b..." Belum sempat topan meneruskan jawabannya, nata memotong kalimatnya.
"Zaky terkena ledakan gas saat dia ingin belajar memasak" jawab nata cepat.
"Ledakan gas? Astaga" jawab Karin.
__ADS_1
Topan yang tau maksud nata memotong jawabannya hanya diam.
Nata dan Karin akhirnya masuk setelah topan mempersilahkan mereka berdua.
Tampak seorang lelaki tengah berbaring di atas ranjang. Tangan kiri dan pergelangan kakinya di perban, sementara bagian lain terlihat bekas luka bakar yang masih nampak jelas.
"Zaky... You oke?" Tanya karin di iring senyum Manis.
"Hai kau... I oke" jawab zaky.
"Dari mana kau tau aku sedang sakit" tanya Zaky.
"Resa... Dia di beritahu temannya" jawab Karin.
Tak lama kemudian ponsel karin berdering. Nama resa asisten Bima yang tertera pada panggilan. Karin pun segera mengangkatnya.
"Baik aku akan segera kesana" jawab Karin mengakhiri panggilan.
"Ada apa?" Tanya Zaky.
"Bima sudah siuman... Jika kau ingin bertanya lagi lebih baik nanti saat kondisi mu sudah membaik" jawab Karin segera meninggalkan rungan rawat Zaky.
Di rumah sakit pelita jaya.
Bima tak mengatakan apa apa setelah mendengar jawaban resa yang menyatakan Karin pergi setelah mendengar kabar bahwa Zaky masuk rumah sakit. Hatinya sungguh sakit kala mendengar dan merasakan sahabatnya sendiri memilih lelaki yang baru ia kenal.
Melihat keadaan Bima yang terus memandangi langit langit kamar tanpa berkedip membuat resa merasa bersalah. Tapi kalau pun resa mencari alasan lain Bima akan segera mengetahui nya.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka, tapi tak membuat pandangan bima teralih.
"Bim maaf in gue seharusnya tadi sore gue ga ninggalin Lo" terang Karin yang baru datang.
"Jangan kan sore tadi kau saja tega meninggalkan aku saat aku harus bertarung dengan maut... Seharusnya tadi aku tidak perlu bangun lagi" jawab Bima tanpa menoleh.
"Apa maksud mu Bim... Ayolah kau selalu seperti ini" jawab Karin.
"Res.. terimakasih telah menjaga ku alangkah lebih baik kau pulang ini sudah malam" jawab Bima mengalihkan perhatian.
Resa pun pergi meninggalkan rungan yang kini sudah menjadi kulkas.
"Bim... Oke gue salah tapi plis Lo sendiri tau apa yang ada di dalam hati gue dan gue..." Kalimat Karin di potong oleh Bima.
"Lo minta gue ngerti kan? Gue tau gue ngerti, gue paham Lo suka sama itu cowok. Dan apa lah arti 6 tahun itu?" Ucap Bima, matanya menatap dalam mata Karin.
"Gue..." Lagi lagi di potong oleh Bima.
"Cukup!... Gue minta Lo pulang lo istirahat dan biarin gue istirahat oke... Pulang Rin!" Ucap Bima sedikit berteriak.
Karin yang mengerti rasa kecewa yang di alami Bima memilih diam. Ia menatap teduh dan segera mengambil tasnya.
"Oke gue pulang tapi Lo...." Karin tak menyelesaikan kalimatnya. Matanya membulat sempurna melihat sesuatu yang keluar dari hidung Bima.
"Bima... Bim Lo kenapa?" Tanya Karin mulai panik.
"Gue gak pa pa" jawab Bima singkat. Tiba tiba kepalanya terasa sangat berat. Diantara sadar dan tidak Bima mendengar ucapan Karin.
"Bim... Darah... Dokter!!! Dok" teriak karin sambil memegangi kelapa Bima. Karin juga berupaya menghentikan darah yang keluar dari dua lubang kecil itu.
"Bimaa!" Teriak karin histeris saat kepala Bima lemas, matanya juga menutup.
Selang beberapa detik dokter sampai.
.
.
__ADS_1
selanjutnya...