Suamiku Musuh Bebuyutan Ku

Suamiku Musuh Bebuyutan Ku
cerita


__ADS_3

Sore telah beranjak ke malam. warna oranye dan lirikan matahari telah berganti dengan gemerlap malam di temani bintang dan bulan. tak ada lagi rasa sakit yang tersisa di hati itu lagi. mungkin hanya sedikit kecewa. Bisa di bilang rasa kecewa akan tetap kalah dengan kejujuran. hati tetap bersikuku untuk terus mencinta seseorang yang telah melukainya. cintanya kepada Zaky telah membutakan mata Karin. tidak ada balas dendam atau amarah yang tersimpan di hati itu. hanya cinta dan cinta untuk lelaki penggores hati.


gadis itu tepat berdiri di depan gerbang yang sengaja di tutup. ia memberikan satu kardus berisi kue brownies yang dia buat ke dalam plastik putih ukuran sedang. Karin memberikan selembar uang biru serta secarik kertas.


"ini kebanyakan mbak..." ucap seorang laki laki yang mengenakan pakaian ojol.


"gak apa apa, sampaikan makanan ini dengan selamat ya dan lagi..." Karin menggantung kalimatnya. ia merogoh saku celananya lalu kembali memberikan secarik kertas. "sampaikan makanan ini untuk nyonya Sarah, jangan lupa berikan kertas ini. jangan Sampai ketukar dengan kertas alamat ya mas" lanjutnya.


"baik mbak.." jawab ojol tersebut. ia pun pergi meninggalkan Karin yang masih berdiri di tempat semula.


keputusan yang tepat. tak akan lagi ia hubungi Zaky dengan alasan memberi tau segala yang terjadi tentang hubungan mereka pada Sarah. ia tau pasti Zaky belum mengatakan apa pun kepada mamanya itu dan itulah yang membuat Karin mau mengirim kue brownies buatannya untuk Sarah serta sebuah surat. gadis itu kembali masuk ke dalam rumah tetapi ia tak memasuki rumah tersebut. ia langsung menuju garasi dan menyalakan mesin mobilnya.


senandung lagu galau sengaja Karin putar dari head unit mobil untuk menemani perjalanan malamnya. walau tak terlalu jauh tapi jarak rumah dan tempat tujuannya ini menghabiskan tiga lagu berdurasi tiga menit lebih. sampai ia masuk kedalam pekarangan rumah yang luas. ia mulai turun setelah menanyakan keberadaan penghuni rumah pada satpam yang berjaga di pintu gerbang.


Karin mulai turun dari mobil lalu mengetuk sepasang pintu putih yang tertutup. sampai pada akhirnya ada jawaban dari dalam rumah. tak lama setelah terdengar jawaban itu, pintu pun terbuka. lelaki itu menatap heran ke arah Karin yang menenteng dua kantung plastik.


"ada mendung apa Lo ke sini?" tanya laki laki itu yang tak lain adalah Bima.


"gak ada, gue bosen di rumah mau ke markas juga males" jawab Karin tanpa ragu.


"yaudah masuk yuk"


"yuk"


Ragu rasanya jika ia harus cerita apa yang sebenarnya terjadi. tak mungkin pengorbanan sahabatnya terbuang sia sia. bukan berkorban harta benda tapi perasaan dan perasaan bukan benda yang bisa di berikan begitu saja. perasaan adalah tenang hati dan luka hati tidak semudah itu sembuh. tidak, akan ia simpan rapi segalanya. ia juga takut Bima malah melakukan hal bodoh hanya untuk membela Karin.


"bengong aja Lo, kenapa?" tanya Bima tiba tiba saat meraka berdua telah memasuki ruang keluarga.


"hah? gak pa pa kok" jawab karin. sedikit terkejut. "oh ya ini rumah gak ada penghuninya apa gimana?" lanjut nya.


"om Erlangga ada di kamarnya. kalau mama sama papa biasa lah keluar kota. baru kemarin sih berangkatnya" jawab Bima.


"oh gitu, ni gue bikinin buat Lo, baik kan gue hahah" ucap Karin seraya menyerahkan dua kantung plastik berisi kue brownies nya.


"hm ada udang di balik batu kayaknya?" Bima melayangkan tatapan penuh selidik pada Karin.


"ah udah Sono... apa gue bawa pulang lagi ni??"


"we jangan timbilan sukurin nanti" ledek Bima. ia pun bergegas meninggalkan Karin di ruang keluarga. sementara dirinya menyiapkan roti itu untuk di makan bersama.


tak lama setelah itu Bima kembali ke ruang keluarga dengan membawa loyang berisi potongan potongan roti. ia pun meletakan loyang tersebut di meja tepat di depan kursi ruang keluarga.


"bim... nonton film horor yuk, jenuh nih gue" ucap Karin memelas.


"oke, ke kamar gue aja terus nanti nyalain lampu meja aja biar dapet horornya gimana?"


"oke, yuk" Karin pun beranjak mengikuti langkah Bima memasuki kamarnya.


sesampainya di kamar yang terdapat TV berukuran besar. bukan hanya tv tapi juga kamar itu terlihat besar dan rapi. gadis itu tersenyum kala mengingat kenangan indah itu. kenangan indah yang aneh jika di ulang kembali. Karin juga ingat ketika dulu sering menonton film animasi di kamar ini walau waktu itu usia mereka tak lagi anak anak.


Karin mulai berjalan mendekat ke sebuah lemari berukuran kecil di dekat pintu kamar mandi. sangat ia ingat betul di mana sahabat itu menyimpan makanan ringan yang biasa mereka makan bersama. perlahan Karin membuka pintu lemari tersebut dan benar. tidak ada yang berubah dari sahabatnya itu. ia tetap suka menyimpan makanan ringan di lemari warna coksu itu.

__ADS_1


"masih ingat aja Lo tempat gue nyimpen jajan, gue kira lupa karena lama gak nonton bareng di sini" seru Bima yang masih sibuk menyalakan TV itu.


"gila gue lupa... tempat kita ketawa bareng, nangis Sampek tegang bareng ada di sini dan sekian lama gue gak masuk kamar Lo ternyata gak ada yang berubah" ucap Karin. entah dari mana ingatan itu datang. titik bening mulai memenuhi pelupuk matanya. kenangan indah itu semoga terulang kembali walau jalan takdir tak sama lagi.


"Rin dah siap ni... ambil aja tuh cemilan nya di dalam" seru Bima yang di angguki Karin.


setelah di rasa siap, Bima mematikan lampu kamarnya. ia hanya menyalakan lampu meja agar suasana menonton film horor semakin mencekam. Karin juga sudah siap dengan posisinya. dan akhirnya Bima menekan tombol play pada remote TV tersebut.


Setelah melewati hari yang tidak masuk akal akhirnya lelaki itu dapat merebahkan tubuhnya tanpa beban. ia tak lagi mengingat kejadian tadi siang. kalau pun ingatan itu datang tiba tiba segera ia tepis atau mengalihkan nya ke hal yang lain. sungguh sulit menerima akan adanya kesalah paham di antaranya dan seseorang yang seberapa masih melekat di hati.


Ting...


Ting...


dua buah notifikasi masuk kedalam ponselnya. malas rasanya jika harus membuka ponsel lagi di saat yang seharusnya jadikan waktu untuk istirahat. tapi jika pesan itu penting seperti laporan tentang toror ini bagaimana? mau tak mau harus ia cek untuk memastikan.


*king ada paket misterius yang di kirim langsung ke kediaman king*


*sudah dari tadi... ku selidiki dulu ojol tersebut dan ternyata dia ojol resmi bukan suruhan oknum tak bertanggung jawab*


pesan itu dari mata mata yang Zaky selundupkan di sekitar rumahnya untuk berjaga jaga.


*kau tau siapa yang menerima paket itu?* jawab Zaky.


*satpam* jawab dari sebrang.


membaca pesan jawaban yang di kirim anak buahnya, Zaky sedikit risau. ia tak mau jika satpam rumah memberikan paket itu kepada orang yang salah. apalagi jika bener paket tersebut adalah paket teror. tanpa pikir panjang Zaky segera keluar kamar. namun belum sampai gagang pintu, pintu sudah di gedor gedor tanpa menggunakan kata sabar. perlahan Zaky membuka pintu memastikan jika itu bukan tanda bahaya dan...


plak...


"ma... mama kenapa?" tanya Zaky lembut.


wanita itu hanya menatap tajam ke arah Zaky tanpa mengeluarkan kata kata. air mata masih memenuhi pelupuk matanya.


"ma... jangan buat Zaky khawatir... Zaky gak tau salah Zaky dan mama tampar aku pun diam, mama kenapa?" Zaky masih berusaha. kini dirinya memegang ke dua bahu mamanya yang terlihat tengah rapuh itu.


"mama cuma sayang sama Karin! mama gak mau menantu lain selain dia! cukup kamu ambil Sabrina dari mama, jangan dengan yang satu ini" jawab Sarah dengan nada tertekan.


Badai dari mana yang tiba tiba menerjang hati Zaky. susah payah ia melupakan Karin hanya untuk melindungi wanita yang sangat ia sayangi itu. tapi nyatanya banyak keluarga yang tidak setuju. bukan hanya nata dan resa tetapi kini mamanya juga menangis karena hal itu. bagaimana mungkin Zaky menjelaskan maksudnya melakukan ini semua pada mamanya? dia malah takut jika Sampai mamanya itu memilih untuk bertindak gegabah. ia juga takut jika pikiran mamanya tentang kematian adiknya ada yang ganjal dan malah menuduh si peneror yang sekarang. tidak, tidak akan ia biarkan begitu saja.


"senang kah kamu melihat mama mu ini menangis? hah?" teriak Sarah yang membuat Zaky terkejut. bukan hanya dia tetapi papa, Nata dan resa bahkan sampai menghampiri mereka kerena teriakan itu.


"ada apa ma?..." tanya topan baik baik.


tak ada jawaban dari Sarah. tatapannya tetap tajam mengarah ke pada Zaky membuat nyali lelaki itu menciut tiba tiba. lelah rasanya baru hitungan jam yang lalu ia bertemu dengan Karin. saat dan tempat yang tidak tepat membuatnya salah tingkah sampai Sampai menimbulkan kecurigaan pada Tania yang saat itu juga berada di tempat. tak dapat ia bendung keputusannya kali ini mantap dan tak akan ada bisikan bisikan yang membuatnya mundur. Zaky mulai menegakkan kepalanya lagi. membalas tatapan tajam itu dengan tatapan sendu.


"mama... ikut Zaky sebentar" Zaky meraih tangannya mama. ia pun masuk ke dalam kamar dengan menggandeng tangan mamanya lembut.


"ma... mama duduk sini, ya?" ucap Zaky membawa Sarah duduk di sofa kamar tersebut.


semoga pilihannya kini bener. tidak akan ada yang dia sembunyikan lagi dari seorang wanita yang telah melahirkannya. segala masalah dan keluh kesah hanya akan tumpah di bahu wanita berusia empat puluh tahunan itu. biar lah resiko di tanggung nanti yang pertama Sekarang adalah kejujuran akan masalah yang ia tampung selama ini.

__ADS_1


"apa? jelas kan kepada mama! di sini mama hanya ingin mendengar alasan mu. bukan melihatmu terdiam seperti patung" hardik Sarah.


setengah terkejut, zaky pun menjawab dengan mantap.


"hanya untuk melindungi nya saja ma... Zaky masih mencintai wanita itu dan tidak ada wanita lain yang ada di hati Zaky selain dia"


"melindungi? kau bilang melindungi? kau menyakiti hatinya nak, dia cinta sama kamu dan kamu semudah itu memberi Alasan untuk melindungi nya? alasan bodoh!" Sarah masih tak terima.


"mama... nata dan resa tengah di teror, begitu pun aku" ucap Zaky langsung pada intinya penjelasan.


"teror? siapa lagi yang mau menghancurkan keluarga kita?" sarah menjawab dengan keterkejutan yang mendalam.


"kami belum tau pasti, aku sempat mencurigai musuh bebuyutan kita white crocodile. tapi peneror ini aneh. ia tau betul tempat dan sejarah keluarga kita. bahkan dia tak segan mengirim teror itu ke mari" Zaky menjelaskan di ikuti dengan langkah kaki menuju sebuah nakas di samping tempat tidur nya.


"ini paket yang nata terima saat kita berkumpul bersama Karin malam itu dan ini mereka dapat dari bathtub apartemen nata di malam pengantin mereka" Zaky menunjukkan kain putih lengkap dengan batu dan tulisan merah darahnya.


Sarah ternganga melihat batu dan kain putih yang memiliki arti lain serta baju tadika yang telah kumal dan ada bercak noda. ada firasat aneh tentang tiga benda itu. ada lagi yang membuat mata Sarah meneliti keseluruhan benda yang ada di tangan Zaky. secarik kertas putih itu tertangkap netra matanya.


-kita sama sama di tinggal, bedanya anda bahagia saya sengsara!!!- tulis dalam kertas tersebut.


semakin yakin dengan apa yang di rasakan, tiba tiba mata yang tadinya tajam sekarang mengembun. akhirnya terjadi dan bener dia tidak akan tinggal diam akan tindasan ini. tidak semudah itu seseorang akan merelakan harta yang telah lama ia nikmati.


"mama kenapa? mama tau sesuatu?" tanya Zaky mendesak.


"nanti biarkan mama beri tau papamu dulu, Zaky jangan hanya kau putuskan Karin lalu acuh padanya. kirim anak buah mu untuk terus mengawasi Karin" ucap Sarah lulu bergegas pergi dengan membawa benda benda yang di tunjukkan Zaky tadi.


"sudah ku lakukan apa yang mama perintah" jawab Zaky sebelum mamanya sampai gagang pintu.


"bagus.." jawab Sarah lalu menghilang dari balik pintu. sampai sampai ia lupa apa yang harusnya dia tunjukkan pada putranya.


Ada sepercik harapan tenang jika sang mama meminta bantuan pada suami yang selaku Mantan king mafia. tapi begitu lemah dirinya jika di samakan dengan musuhnya yang lain. yah dari mana perbandingan itu masuk kedalam pikirannya. sudah lah yang penting musuhnya itu tidak tau.


Film horor yang sebenarnya tidak terlalu horor itu telah usai. kini kantuk yang berdatangan di ikuti rasa lelah yang bergelayut mengiringi langkah kaki itu. dengan di antar oleh sang sahabat ke depan rumah. ingin rasanya ia segera menghilang dan muncul kembali ke kamarnya nya. segera ingin merebahkan diri nya itu ke kasur empuk, tempat ternyaman di dunia itu.


"Rin... gue tau ada alasan lain kenapa Lo datang kemari. ada apa Antara kau Dan Zaky? dia menyakitimu?" ucap Bima tiba tiba sebelum Karin menarik pintu rumah.


"halu Lo... gak gak pa pa, sengaja ke sini kangen sama Lo" jawab Karin. tujuan awalnya kemari bukan hanya untuk memberikan gue brownies dan nonton film horor tapi juga ingin bercerita tentang masalahnya. tapi ia urungkan karen tak mungkin ia membuat Bima memusuhi Zaky lagi seperti dulu dulu.


"ekspresi sama mata Lo gak bisa bohong... Rin gue masih sahabat Lo kan?" bujuk Bima lagi.


"gak kok... film horor nya gak horor nyesel dikit gue kesini" jawab Karin. "dah malem banget ni gue pulang dulu. oh ya besok besok cari film horor yang serem gitu kek, film horor kok isinya malah cinta cintaan cih" seru Karin lalu melanjutkan langkahnya.


"iya iya... gue lupa Lo orang nya baperan" jawab Bima bernada canda.


"ngakaca dulu sebelum ngomong" sahut Karin yang kini berdiri tepat di samping mobilnya.


lelaki itu masih setia menunggu di depan pintu. menatap kepergian sang wanita yang mungkin masih menetap dalam hatinya. bagaimana pun cara yang telah ia lakukan tetap gagal. Kini tiba tiba sifat Karin berubah. ia sering menghubungi Bima hanya demi menanyakan kabar atau kegiatan sungguh konyol dan itu bukan sifat dasar Karin kecuali ia sedang dalam keadaan gabut.


senyum manis tiba tiba terukir di wajah tampan itu. Karin memang dalam masalah dan Bima tau itu. mata gadis itu tak dapat membohongi mata Bima yang terlalu jeli untuk mengintrogasi seseorang yang ada di depannya. mahir sekali lelaki itu. tapi bukan itu yang membuat nya tersenyum. kenangan berbulan bulan lalu yang dia kira tak akan pernah terulang lagi. kini, tanpa permisi mampir dan semoga itu bukan hasil dari kosongnya waktu Karin. semoga.


.

__ADS_1


.


selanjutnya...


__ADS_2