
Kembali ke Karin.
Perasaan kesal masih menyelimuti Karin yang berjalan menuju mobil dengan membawa kantung plastik berisi roti yang masih sempat selamat.
"Akan hancur kau dalam hitungan jam gadis sombong." ucap Karin ketika sudah ada di mobil. Rahang nya mengeras menahan amarah.
Karin segera pergi dan kembali ke markasnya.
Sesampainya di markas
"Nih rotinya makan aja semua gue udah ada dan setelah ini kalian kumpul di sini" ucap charla sambil meletakkan plastik besar itu di meja kayu panjang.
"Siap queen" jawab semua anak buah charla.
30 menit kemudian semua orang berkumpul di ruang tengah. Semua saling menatap serius di balik topeng mereka.
"Ada tugas untuk kalian semua" ucap charla mengawali pertemuan itu.
"Cari dimana letak PT. Puspita Arifin dan juga cari PT. Arifin yang lain tugas ini jatuh pada Dika dan James kalian yang ahli dalam bidang ini." Lanjut
charla menatap orang yang di pilihnya secara bergantian.
"Cari dimana tempat tinggal keluarga Arifin dan hancurkan tepat tinggal mereka tanpa sisa. Dan cari seluruh fasilitas yang mereka punya aku ingin mereka hancur sehancur hancurnya. Dan tugas ini jatuh pada Deon. Kau pilih saja anak buah yang akan membantumu untuk menjalankan tugasmu itu" lanjut charla lagi.
"Sisanya kalian hancurkan keluarga Arifin hingga mereka tak Sudi melanjutkan hidupanya!" Perintah charla lagi.
"Siap queen laksanakan." Jawab mereka serempak.
"Dari Sekarang!!" Perintah charla selanjutnya.
Para malfionso dan anggota yang lain pergi meninggalkan markas untuk menjalankan perintah charla. Bersamaan dengan itu pintu terbuka. Verel masuk dengan tatapan pasrah menghadap charla yang duduk di kursi sambil memegang kepalanya.
"La..." Panggi verel lirih.
Charla tak menjawab, dia hanya menatap verel dingin.
"Gue siap nangguh semuanya" lanjut verel.
__ADS_1
"Tidak bisa semuanya rel, Tina memang kekasihmu tapi kesalahannya tetap kesalahannya." Ujar charla dengan tatapan hangat.
"Sumpah la... Gue gak ada hubungan apa apa sama tu cewek percaya sama gue" bela verel pada diri nya.
"Hah tak usah banyak omong. Ruang bawah tanah!" Jawab charla, tatapannya kembali dingin.
Verel terkejut dengan jawaban charla yang tadinya hangat sekarang sangat dingin dan terlihat ganas. Verel juga tidak bisa membantah perintah charla, dia akhirnya berjalan menuju ruang bawah dengan langkah lunglai.
Sesampainya di tempat verel melihat seorang gadis di pinggir pojok rungan. Terdapat dua bungkus roti yang tadi di beli charla. charla sengaja memberinya makanan karena hari ini Sabrina tak membuat jiwa iblisnya bangun.
"Hai kau berdiri dan lihat ini!" Perintah charla menghadap ke arah Sabrina.
Sabrina yang mendengar perintah charla langsung menatap semua gerak-gerik charla.
"Telanjang dada!!" Bentak charla pada verel.
Verel melepas semua lembar kain yang menutupi tubuh bagian atas dari jas sampai kaos dalam.
Charla memegang cambuk dari besi dan memanaskanya di kepala gas mini yang di hubungkan dengan gas porteble.
Sabrina ternganga melihat charla dan benda yang di pegangnya.
"lalu siapa dia dan apa kesalahannya mengapa dia memakai masker" Segala pertanyaan muncul di benak Sabrina.
"Rasakan ini!!" Teriak charla.
Cthaarrrr... cthaarrrr... cthaarrrr
Suara cambukan itu menggema di rungan tersebut. Sungguh memekik telinga apa lagi di tambah dengan suara erangan dari verel menahan sakit di tubuhnya. Ini baru pertama kalinya verel menerima hukuman dari charla setelah 6 tahun mengabdi menjadi anggota white crocodile.
Charla kehilangan kendali. Dia mencambuk verel dengan membabi buta. Bukan hanya bekas luka yang tertinggal tapi juga luka bakar dan darah.
Verel tumbang dengan luka parah di sekujur tubuhnya yang gagah. Dia jatuh pingsan. Bersamaan charla menangis melihat kondisi sahabat terbaiknya. Hanya karena kesalahan yang tak murni dia lakukan.
"Rel bangun... Maaf in gue... We.. bangun Lo kuat" rintih charla di samping tubuh verel.
"Lo gila la... Keterlaluan motif apa Lo nyakitin sahabat Lo sendiri dia ga salah la.." lanjut charla berbicara sendiri.
__ADS_1
Saking frustasi nya charla, dia meminta bantuan dua anak buahnya yang bertugas. Sambil menunggu anak buahnya datang, charla membenahi baju verel agar tak di lihat anak buahnya nanti.
"apa dia menangis? siapa pria itu bagaimana gadis iblis itu bisa menangis setelah menyakitinya? hai Rin apa kau bosan hidup? sudahlah jangan kepo" ucap Sabrina berbicara sendiri dalam hati.
"Jangan berusaha kabur saat gue pergi!" Bentak charla pada Sabrina yang mematung di pojokan.
"Ti...tidak a..akan" Jawab sabrina terbata.
Setelah beberapa saat dua anak buah yang di panggil charla datang. Mereka terkejut dengan keadaan verel.
"Queen ada penyerangan?" Tanya salah satu orang itu.
"Tidak.. dia.. dia ku hukum" jawab charla merasa bersalah.
Sontak jawaban charla membuat kedua anak buahnya melorot. Mereka tau verel tak pernah membuat charla kesal atau kecewa tapi sekarang...
"Saat menjalankan perintah ku apa kalian harus bertanya terlebih dahulu? Cepat!!!" Ujar charla lagi.
"Siap queen" jawab anak buahnya serempak.
Di tempat lain..
Semua anak buah charla berhasil mendapatkan apa yang mereka cari. Setelah menyusun rencana para malfionso mengebom semua gedung-gedung milik keluarga Arifin. Bukan hanya itu mereka juga membakar fasilitas yang mereka miliki, seperti hotel pribadi, rumah sakit pribadi, mobil dan lainnya. Mereka melakukannya tanpa sisa sedikit pun.
Walau mereka melakukanya saat siang hari tidak ada pihak yang mencurigai gelagat mereka. Saking matangnya rencana mereka, semua ledakan dan kebakaran di sangka kecelakaan.
Rumah sakit keluarga santos.
"dokter...suster... Dokk... Sus..!" Teriak charla.
"Ya nona muda" jawab salah satu suster.
"Rawat teman saya sampai dia benar-benar sehat!" Perintah charla.
Suster bergegas mengambil salah satu ranjang kosong dan langsung membawa Bima ke ruang ICU.
.
__ADS_1
.
selanjutnya....