
Mereka bertiga masih berkumpul dengan Devon yang hanya sibuk dengan kediaman anaknya saja dibandingkan fokus mengobrol dengan Danu dan Rudi yang masih saling bertukar fikiran tentang perkembangan pabrik yang sudah tinggal vinising.
"Apa yang membuat semuanya terlihat lambat? Bukankah semuanya sudah rampung?" tanya Danu yang merasa heran dengan pembuatan tersebut yang terkesan lambat.
"Maafkan atas kinerja kami Tuan. Ini memang diluar dari ekspetasi, karena kami juga terkendala cuaca yang memang sedang sering sekali turun hujan. Makanya proses pembangunan menjadi terhambat. Sekali lagi saya selaku yang bertanggung jawab penuh minta maaf yang sebesar-besarnya" ucap Rudi yang merasa tidak enak pada Danu yang menanyakan ini sudah beberapa kali.
"Baiklah, tapi kenapa bisa selama itu mengerjakan semuanya? Bukankah bisa dipercepat?" tanya Danu lagi.
"Saya dan tim sudah melakukan sebisa dan semampu kami semuanya Tuan. Karena disini sudah hujan sangat tinggi dibandingkan dengan kota lain. Jadi anda harus lebih bersabar lagi" jawab Rudi yang memang sudah ingin segera menyelesaikan pekerjaan nya yang ada dikota ini.
"Hmm" jawab Danu hanya dengan deheman saja. Dia sebenarnya sudah tahu akan kondisi cuaca saat ini, tapi karena dia tidak tahu harus membahas apa maka dia membahas masalah yang sama.
"Oh iya, saya panggil Pak atau Mas saja?" tanya Devon yang ingin menanyakan sesuatu pada Rudi.
"Senyaman anda Tuan. Saya tidak masalah akan panggilan" jawab Rudi yang memang tidak terlalu ambil pusing jika tentang panggilan.
"Tapi anda juga jangan memanggilku dengan sebutan itu. Karena saya bukanlah Tuan Muda, so panggil nama saja" ucap Devon yang merasa tidak nyaman.
"Baiklah. Apa yang ingin anda tanyakan pada saya?" tanya Rudi yang ingin tahu Devon berbicara apa padanya.
"Saya hanya mau bertanya soal pribadi. Maaf sebelumnya, jika anda tidak suka maka saya tidak akan bertanya" jawab Devon dengan nada yang tidak enak.
"Bicara saja. Selagi itu tidak merugikan saya" jawab Rudi yang meminta Devon untuk bicara.
"Kenapa anda bisa mengenal dan dekat dengan Fia? Bukankah anda baru bertemu dengan nya?" tanya Devon yang memang sudah penasaran.
"Oh, dia adalah anak dari mantan istriku. Dan beberapa waktu lalu kami sempat dekat dan sering bertemu setiap saat" jawab Rudi yang tersenyum tipis melihat ekspresi Devon yang kaget.
"Jadi. Anda adalah suami, maaf mantan suaminya Sofia?" tanya Devon yang benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan masa lalunya lagi tanpa dia sadari.
"Iya, dan itu sudah sangat lama sekali. Apa anda ingin anda tanyakan lagi pada saya?" jawab Rudi yng memberikan pertanyaan lagi pada Devon.
__ADS_1
"Apa kau merasa takut? Karena kau bertemu dengan masa lalu mu lagi" ucap Danu dengan senyuman sinis saat melihat wajah Devon yang terlihat pucat pasi.
"Anda tidak perlu ragu dan juga malu terhadap saya. Karena bagi saya itu hanya masa lalu saja, mau itu anda yang sudah dekat dengan nya atau orang lain tetap saja bukan?" tanya Rudi yang membuat Devon semakin tidak bisa berkata-kata lagi.
Dia hanya diam dan mendengarkan semua yang Rudi katakan padanya. Karena mau bagaimana pun juga dia memang bersalah juga dalam hal ini. Dia sudah bertemu dengan sosok yang bersangkutan dengan masa lalunya lagi untuk yang kedua kalinya.
"Dia terlihat seperti mayat hidup. Lihatlah wajahnya, sudah sangat pucat sekali" ucap Danu yang merasa sangat puas. Karena Devon memang memiliki banyak musuh. Terutama musuh masa lalunya itu.
Sedangkan Rudi hanya tersenyum tipis. Dia tidak menanggapi semua ucapan dari Danu, karena semua orang pasti memiliki masa lalu yang baik bahkan yang buruk sekalipun.
"Saya minta maaf. Karena saya sudah membuat rumahtangga anda menjadi berantakan" ucap Devon yang sudah menetralkan dirinya sendiri untuk mengatakan itu pada Rudi.
"Justru saya berterimakasih pada anda. Karena anda sudah bisa membuat saya tahu bagaimana watak dan juga sifat aslinya seperti apa. Karena jika menurut saya, wanita yang sudah pertama berselingkuh maka akan selalu mengulanginya lagi dan lagi. Saat pasangan nya belum bisa memberikan apa yang dia inginkan. Itu menurut pandangan saya" jawab Rudi dengan tatapan yang benar-benar memancarkan biasa saja.
"Apa anda tidak akan menyalahkan saya dalam hal ini? Karena saya lah yang secara tidak langsung membuat keluarga anda jadi berantakan?" tanya Devon pada Rudi yang hanya diam dan menatapnya dengan sangat intens.
"Apa hak saya untuk menghakimi anda? Karena keduanya saling menyukai dan juga menginginkan satu sama lain bukan?" Rudi balik bertanya pada Devon tentang pendapatnya.
"Saya tidak berpendapat dengan anda. Jadi jangan sok tahu" ucap Devon yang malah tersulut emosi.
"Kalian sedang membicarakan apa? Kenapa terlihat malah akan saling menyerang seperti musuh?" tanya Soraya yang ternyata ada dibelakang mereka bertiga.
"Tidak ada sayang. Dia saja yang selalu seperti itu padaku" jawab Danu yang membela diri.
"Kalo sitevlon memang sudah biasa dia mancing keributan" ucap Rina yang malah menimpali ucapan Danu.
"Eh petasan banting. Gue nggak mancing-mancing ya, dia tuh wajah datar!" ucap Devon yang malah tidak mau kalah dari Rina.
"Mulai lagi mereka berdua. Kita tinggal saja mereka berdua disini, biarkan mereka mau berbuat apa juga suka-suka mereka. Sukur nggak usah pulang!" ucap Lulu yang sudah geram akan suaminya yang tidak bisa menahan emosinya sendiri.
"Ya sudah kita pergi saja" jawab Soraya yang juga melangkah mengikuti Soraya pergi dari pantai tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Rina malah menatap sinis kearah Devon. Sepertinya kedua manusia beda jenis ini tidak akan pernah bisa akur jika berada didalam kungkungan yang sama dan ditempat yang sama.
"Sayang, kita bisa pulang saja sekarang. Kamu harus mempersiapkan diri kamu untuk acara lusa" ucap Rudi yang mengajak Rina juga pergi dari sana dengan menggandeng tangan nya.
Devon langsung berlari mengejar istri dan anak-anaknya yang sudah pergi menjauh darinya sejak tadi. Rina malah tertawa terbahak-bahak melihat Lulu yang sekarang bisa marah-marah juga pada Devon.
"Mereka berdua itu lucu sekali. Hahaha" ucap Rina yang memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Sayang, kamu kenapa sih selalu tidak bisa akur dengan pria itu?" tanya Rudi saat sudah berada didalam mobil.
"Tidak apa-apa. Hanya senang saja selalu ribut dengan nya" jawab Rina dengan santainya.
"Memangnya kenapa?" tanya Rina pada Rudi yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja aku merasa heran dengan kalian berdua. Dan lagi Tuan Danu juga sama dengan kamu, tidak bisa akur walau hanya sebentar saja" jawab Rudi yang sedang fokus mengemudi.
"Jika Pak Danu memang sangat membencinya. Karena dulu setahu aku dia pernah merebut kekasihnya dan membuat hamil hingga meninggal dunia. Itu sih yang aku dengar dari Soraya, kenapa Pak Danu sangat membencinya mungkin" ucap Rina yang mengingat apa yang pernah dia dengar dari Soraya.
"Jadi karena alasan itu Tuan Danu membencinya? Apa dia masih memiliki perasaan pada mantan nya yang sudah meninggal itu?" tanya Rudi yang mulai kepo dengan masalah pribadi Danu dan masalalunya.
"Sejak kapan kamu kepo dengan urusan orang lain seperti ini?" Rina balik bertanya pada Rudi yang menatapnya sekilas.
"Iya dari yang kamu ceritakan tadi, terkesan dia itu masih memiliki perasaan yang sama dengan seseorang itu" jawab Rudi yng masih fokus mengemudikan mobilnya.
"Kamu memang benar Mas, tapi menurut pengakuan Pak Danu sendiri jika dia membenci Tevlon bukan karena dia sudah merebut kekasihnya. Tapi dia bilang hanya tidak suka dengan kelakuan nya saja yang suka mempermainkan perempuan dan juga menjadi teh celup. Itu sih yang aku tahu" ucap Rina yang menatap kedepan dengan menerawang.
"Jika kamu sendiri, kenapa kamu tidak bisa akur dan malah memiliki panggilan masing-masing?" tanya Rudi lagi.
"Jika itu... Aku juga berpendapat sama dengan Pak Danu yang tidak menyukai pria yang seperti teh celup. Itu merugikan bagi perempuan baik-baik yang bertemu dengan nya dan juga menjalin hubungan dengan nya. Tapi akan berbeda jika dia memohon untuk bisa dekat dengan sosok wanita yang bisa membuatnya tidak bisa melirik atau melihat wanita lain selain dirinya saja" jawab Rina yang malah seperti melamun.
"Apa itu? Dan siapa?" tanya Rudi yang mana mobilnya sudah sampai didepan rumah yang dia sewa bersama dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Dia sempat meminta bantuan ku untuk bisa bersama dan dekat dengan Lulu. Bahkan dia sampai menangis karena Lulu baru tahu jika dia bukanlah pria baik-baik. Karena dia adalah seorang bastard yang mencoba menjadi pria yang baik dan mau berubah" jawab Rina mengingat saat Devon menangis dihadapan nya seperti seorang anak yang ditinggalkan pergi oleh Ibunya.