Suamiku Ternyata Orang Kaya

Suamiku Ternyata Orang Kaya
Kejujuran Devon Tomlinson


__ADS_3

Mereka berdua jadi salah tingkah jadinya. Karena mereka berdua habis berpelukan dan juga menangis bersama.


"Udah kan ngederama nya? Gue mau balik" ucap Rina sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


"Thanks Rin, sudah mau nemenin gue dan percaya sama gue" ucap Devon sebelum Rina membuka pintu.


"Siapa bilang gue percaya sama loe. Loe tetap harus bisa membuktikan semuanya, bahwa loe sudah berubah. Terutama loe harus minta maaf pada Pak Danu, karena loe sudah pernah membuat hatinya hancur" ucap Rina pada Devon. Dan Rina sambil membuka pintu lalu keluar.


Devon akhirnya bisa bernafas dengan lega karena dia sudah mengeluarkan semua unek-unek yang ada didalam hatinya yang selama ini dia pendam sendiri. Hingga dia bisa menemukan wanita yang tepat untuk nya dan untuk masa depan nya kelak. Jika memang dia masih mau menerima dirinya.


"Bener yang dikatakan oleh Rina, gue harus bisa membuktikan semuanya dan meminta maaf pada Danu. So, gue harus berusaha sangat keras" gumamnya sambil mengepalkan tangannya.


Lulu yang masih berada tidak jauh dari ruangan PIV langsung pergi sebelum Devon menyadarinya jika sejak tadi dia melihat segalanya.


.


Rina berjalan sambil sesekali mengusap air matanya yang mengalir deras. Dia bisa tahu jika Devon benar-benar sangat mencintai Lulu dengan sangat tulus.


Sedangkan dirinya baru saja dikhianati oleh orang yang sudah bertahun-tahun bersama. Benar-benar miris bukan, tapi dia harus mendukung sahabatnya yang memang pantas untuk bahagia juga.


"Gue bisa telat jika masih disini" gumam Rina yang masih berdiri ditepi jalan. Sedangkan hari ini dia masih ada kelas terakhir untuk menyelesaikan skripsinya.


"Butuh tumpangan Nona?" tawar seseorang yang datang dari arah belakang.


"Hai, kebetulan pake banget. Gue memang sedang butuh tumpangan" jawab Rina sambil naik keatas motor teman kuliahnya.


"Tumben banget kamu, kusut banget. Mana berdiri saja ditrotoar kayak orang linglung" tanya teman nya yang bernama Eric itu pada Rina.


"Iya, gue lagi galau nih. Huh, sudah nggak usah dibahas. Bikin mood makin ancur" jawab Rina sambil berteriak supaya Eric bisa mendengarnya.


"Thanks Ric sudah nganterin gue" ucap Rina setelah sampai didepan kampusnya, lebih tepatnya diparkiran kampus.


"Sama-sama, gue juga ada urusan disini" jawab Eric sambil tersenyum.


"Oke, gue duluan ya. Bye" ucap Rina sambil berlari menuju kelasnya.


.


Sedangkan Lulu sedang berjalan gontai menuju kontrakan nya. Dia seperti tidak mempunyai tenaga untuk berjalan.


Akhirnya Lulu berhenti ditepi jalan, dia duduk sambil memeluk lututnya. Sampai ada seseorang yang datang menepuk punggung Lulu dengan sangat pelan.


"Kenapa masih belum pulang?" tanya seseorang itu yang ternyata adalah Devon.


Lulu tidak menjawab ucapan Devon. Dia masih menekuk lututnya dan merangkulnya, menundukkan kepalanya diantara kedua lututnya.


"Maafkan aku, sungguh aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu, tapi aku merasa, aku belum siap untuk menceritakan semuanya pada kamu" ucap Devon sambil duduk disamping Lulu yang masih menunduk.

__ADS_1


"Semua keputusan ada ditangan kamu Lu, aku akan menerima apapun keputusan kamu nantinya. Karena aku tahu, aku adalah pria bre*gsek dan juga baji*gan. Kamu berhak mendapatkan pria yang baik juga, yang baik. Bukan seperti ku ini" ucap Devon lagi lalu dia bangkit berdiri.


Sebelum Devon pergi dia mengucapkan sesuatu untuk Lulu "I'm really sorry. May you always be happy" lalu Devon segera pergi dari tempat Lulu.


Devon berjalan dengan tidak tentu arah. Tiba-tiba kakinya melangkah kesebuah masjid yang berdiri kokoh didepannya. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari samping.


"Nak, apa kamu ingin melaksanakan sholat maghrib berjamaah?" tanya seorang pria paruh baya pada Devon.


"Apa saya masih diterima Pak?" tanya Devon pada pria paruh baya itu.


"Rumah Allah ini selalu terbuka untuk siapapun yang ingin bersungguh-sungguh untuk memperbaiki dirinya. Jadi jangan berkecil hati, karena Allah maha pengasih dan maha penyayang" jawab pria paruh baya tersebut.


"Tapi saya lupa cara-cara Pak" ucap Devon lagi merasa malu.


"Tidak perlu malu nak, Alhamdulilah masih mau belajar. Dari pada tidak sama sekali, mari saya bantu" ucapnya lagi sambil mengarahkan Devon menuju tempat berwudhu.


Setelah selesai wudhu Devon dibimbing untuk sholat maghrib berjamaah. Dan Devon melakukannya dengan sangat khusuk meminta ampunan pada sang khaliq.


Hingga Devon meneteskan air matanya kembali. Dia memang bersungguh-sungguh untuk bartaubat dan memohon ampunan. Saat sedang berdo'a ternyata pria paruh baya yang tadi masih menyaksikan nya.


Pria paruh baya tersebut sangat senang. Masih ada orang yang mau mengakui semua kesalahan nya. Dia mendengarkan semuanya tanpa terkecuali. Hingga Devon selesai dengan do'a nya.


"Sudah lebih lega nak?" tanya pria paruh baya tersebut.


"Alhamdulilah, lebih baik Pak" jawab Devon dengan menghela nafasnya.


"Iya Pak, sebelum nya saya belum pernah merasa setenang ini. Ini adalah ketenangan yang saya cari sejak dulu" jawab Devon setuju dengan ucapan pria paruh baya tersebut.


"Kamu masih beruntung nak, masih bisa merasakan hidayah yang Allah berikan pada mu. Jangan sia-sia kan kesempatan ini nak, kesempatan tidak akan datang dua kali" jelas nya lagi sambil berlalu dari sana.


"Kemana Bapak yang tadi? Aku belum mengucapkan terimakasih padanya. Ya sudah lah, lain kali aku akan berterimakasih pada nya" gumam Devon yang sudah lebih tenang dan fikiran nya juga sudah tidak kusut lagi.


Devon juga melangkahkan kakinya keluar dari masjid yang baru saja dia singgahi. Rasanya Devon berjalan sangat ringan dibanding dengan sebelumnya. Dia sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan pria paruh baya yang tadi menasehatinya.


.


Lulu melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar nya setelah dia pulang beberapa menit yang lalu. Dia ingin istirahat dengan tenang, untuk saat ini dia tidak ingin memikirkan Devon dulu.


Lulu ingin membuktikan kesungguhan Devon padanya. Lulu tidak mau jika suatu saat nanti kejadian masa lalu Devon menghancurkan nya atau mungkin Devon akan mengulangi nya lagi.


"Ya Allah, jika memang dia jodoh hamba. Dekatkanlah, jika bukan jodoh hamba maka jauhkan lah. Hamba tidak mau jika hamba terlalu berharap, hamba tidak bisa memaksakan kehendak Mu Ya Robb. Amin" ucap Lulu dalam sujud nya.


Dia masih terisak memikirkan semua yang dia lihat dan dia dengar sendiri dari mulut Devon. Memori itu seperti kaset kusut yang selalu diputar berulang-ulang didalam otaknya.


Lulu membereskan perlengkapan sholat nya dan dia berbaring diatas ranjang nya. Dia masih tetap merenung. Apa lagi jika mengingat ucapan Devon yang terakhir kalinya membuat Lulu semakin sedih.


Dalam kata-kata Devon tersemat jika Lulu harus bahagia. Dia meminta maaf pada nya berulang kali, bahkan hingga meneteskan air matanya. Devon benar-benar pria sejati, yang mau menerima kesalahan nya. Dan berani bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.

__ADS_1


Lulu mengambil ponselnya untuk menghubungi Devon.


Lulu


Assalamualaikum, Devon. Maaf mengganggu waktu kamu, aku hanya ingin memberi tahu kamu. Jika aku ingin bicara lagi sama kamu. Apa kamu ada waktu?


Devon


Wa'allaikum salam. Iya aku selalu ada waktu untuk bisa berbicara lagi dengan kamu Lu. Jam berapa kita bertemu nya?


Lulu


Pulang kerja kita bertemu dicafe yang kemarin.


Devon


Baiklah, aku akan menunggu kamu disana. Aku akan menjelaskan semuanya pada kamu, tanpa aku menyembunyikan apapun dari kamu.


Lulu


Iya, aku tunggu semua penjelasan dan juga pengakuan dari kamu.


Devon


Baiklah, sampai bertemu besok Lu. Semoga kamu bisa menerima penjelasan dari aku dan bisa menerima ku yang banyak salah dan dosa ini. Good night, Assalamualaikum.


Lulu


Good night, too. Wa'allaikum salam.


Begitulah kira-kira isi pesan Lulu yang dikirimkan untuk Devon. Dia memang harus berbicara lagi supaya lebih jelas. Lulu tidak mau jika dia semakin sakit hati karena selalu menjauhi Devon.


Begitu juga dengan Devon. Dia akan menerima apapun keputusan Lulu besok, dia akan menerimanya dengan lapang dada. Dia tidak mungkin memaksakan kehendaknya pada Lulu supaya bisa menerima dirinya seutuh nya.


Biarlah Allah yang menentukan, karena bagi para umatnya hanya bisa memohon dan berdo'a. Dikabulkan atau tidak nya itu urusan yang Maha kuasa.


.


.


.


Othor receh masih menunggu komen kalian semua...


Like, vote dan hadiahnya untuk othor receh ini...


Jangan lupa subscribe juga ya...

__ADS_1


Selamat membaca semuanya para reader kesayangan othor receh ini 🤗🤗🤗😉


__ADS_2