
Ternyata tidak semudah yang difikiran oleh Rina. Beram mencekal tangan Rina hingga dia duduk kembali dikursi yang diduduki sebelumnya.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan. Bukan kah sudah selesai!" ucap sarkas Rina sambil menghempaskan tangannya yang sedang dipegang oleh Bram.
"Aku mau kita seperti dulu lagi Rin. Kita jalani hari-hari kita seperti sebelumnya" ucap Bram dengan nada mengibanya.
"Cukup! Sudah tidak ada kita lagi. Yang ada hanya kau aku tidak ada sama sekali. Dan ingat satu hal, aku tidak sudi berhubungan dengan lelaki pengecut sepertimu. Camkan itu!" ucap Rina sambil menunjuk wajah Bram yang sangat membuatnya muak.
Setelah mengucapkan itu, Rina beranjak pergi dari cafe dengan suasana hati yang sangat dongkol. Bagaimana bisa dia bertemu dengan orang yang sudah membuatnya sangat sakit hati dan juga membuatnya seperti orang bod*h selama ini.
Sepanjang perjalanan Rina selalu mengumpat dan menggerutu tidak jelas. Dia benar-benar dibuat sangat marah oleh seorang laki-laki bernama Bram itu.
.
Rina sedang kesal dan juga dongkol karenabertemu dengan mantan tidak ada ahlak. Dikediaman Danu dipagi hari ini sangat heboh. Pasalnya Danu tiba-tiba muntah-muntah dan berakhir pingsan.
Lalu Mama Rena meninggalkan dokter supaya memeriksa keadaan putranya yang belum sadarkan diri juga.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Mama Rena yang merasa khawatir.
"Keadaan Pak Danu baik-baik saja buk, semuanya sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan" jawab dokter tersebut.
"Jika semuanya sehat kenapa putra ku muntah-muntah dipagi hari hingga tidak sadarkan diri seperti ini?" tanya Mama Rena lagi.
"Supaya bisa lebih jelas lagi atau penasaran, lebih baik Pak Danu dibawa kerumah sakit supaya diperiksa lebih lanjut" jelas dokter yang memeriksa keadaan Danu.
"Baiklah dokter, terimakasih" ucap Mama Rena sambil menjabat tangan dokternya.
"Sama-sama Buk, saya permisi" jawab dokter itu dan langsung beranjak pergi dari rumah Danu.
"Sebenarnya apa yang terjadi nak? Kenapa Danu sampai muntah-muntah hingga seperti ini?" tanya Mama Rena pada Soraya yang duduk disamping Danu.
"Aku juga tidak tau Ma, tadi setelah selesai sholat subuh. Tiba-tiba Mas Danu lari menuju kamar madi dan muntah-muntah hingga seperti sekarang" jawab Soraya juga merasa bingung dengan keadaan suaminya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Danu sudah sadar, dia memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit dan juga berputar-putar. Dia bingung melihat semua orang yang berkumpul didalam kamarnya dan sedang memperhatikan nya.
"Ada apa sayang? Kenapa semua orang ada disini?" tanya Danu bingung pada Soraya.
"Mas, tadi habis pingasan. Apa Mas tidak ingat? Untung saja Mas tidak kenapa-kenapa" jawab Soraya dengan wajah khawatir nya.
"Maafkan aku sayang, sudah membuat kamu menjadi khawatir" ucap Danu sambil menggenggam tangan Soraya dan mengusap pipinya.
"Semua orang sedang khawatir, eh... Yang dikhawatirkan malah menampilkan drama romantis nya" ucap Mama Rena menyindir putranya yang baru saja siuman dari pingasan nya.
"Sudahlah Ma, lebih baik kita keluar. Biarkan mereka berdua disini" sanggah Papa Wijaya mengajak istrinya untuk keluar.
Sedangkan bik Darmi dan mang Asep sudah sejak tadi keluar dari kamar Danu dan Soraya.
"Ma, apa Mama tidak berfikir jika Danu sama seperti Papa waktu Mama sedang mengandung Danu dulu?" tanya Papa Wijaya yang mengingat kejadian dulu dirinya sama dengan Danu.
"Jadi maksud Papa Soraya yang hamil Danu yang mengidam atau merasakan seperti Ibu hamil yang sedang mengidam gitu?" ucap Mama Rena memastikan pendengaran nya tidak salah.
"Iya Ma. Apa mungkin Danu mengalami syndrome kehamilan simpatik?" tanya Papa Wijaya lagi.
"Jadi semuanya sudah jelas. Jika Danu memang baik-baik saja, dia hanya mengalami syndrome kehamilan simpatik saja" ucap Mama Rena dengan santainya.
Dia tidak perlu khawatir jika menantunya akan mengalami mual dan muntah setiap hari saat kehamilan nya pada trimester pertama seperti sekarang ini. Karena sudah diwakili oleh Danu yang merasakan mual dan muntah nya.
"Kenapa Mama marah senyum-senyum seperti itu? Apa Mama tidak kasihan dengan keadaan Danu saat ini?" tanya Papa Wijaya yang melihat wajah istrinya selalu tersenyum.
"Ya jelas Mama kasihan Pa. Tapi Mama akan lebih kasihan jika yang mengalaminya malah menantu kita. Coba bayangkan jika Soraya yang mengalaminya, dia sedang hamil dan dia harus makan makanan yang sehat dan bergizi. Jika dia yang mengalami mual dan muntah nya, maka apa yang terjadi pada calon cucu kita?" jawab Mama Rena sambil memberi pertanyaan juga.
"Iya juga. Mama memang benar, lebih baik Danu yang mengalaminya dibandingkan dengan harus Soraya yang mengalaminya" ucap Papa Wijaya mengiyakan ucapan istrinya.
"Jadi, jangan terlalu khawatir dengan keadaan Danu. Nanti juga dia bisa makan dan bisa sehat kembali. Kita hanya harus memberi tau nya supaya mereka tidak banyak fikiran. Memikirkan penyakit apa yang diderita oleh Danu" jelas Mama Rena sambil beranjak menuju kamar Danu dan Soraya.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Boleh Mama masuk?" tanya Mama Rena dari luar dan membuka pintu nya.
Mama Rena dan Papa Wijaya masuk kedalam kamar Danu dan Soraya. Saat sudah dekat dengan mereka berdua Soraya langsung bertanya pada Mama Rena.
"Ma, sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Danu? Barusan saja habis muntah, tapi tidak keluar apa-apa karena Mas Danu tidak makan apa pun" tanya Soraya pada Mama Rena dengan sendu.
"Kamu jangan khawatir sayang. Danu baik-baik saja, kamu jangan banyak fikiran. Kasihan janin yang ada dirahim kamu pasti ikut stres juga. Kamu tidak mau kan jika terjadi sesuatu pada calon baby kalian?" jawab Mama Rena dan memberikan pertanyaan juga untuk Soraya.
Soraya hanya mengangguk kan kepalanya, dia memang harus selalu bahagia dan tidak boleh banyak fikiran.
"Tapi kondisi Mas Danu?" tanya Soraya lagi.
"Danu sama seperti Papa waktu Mama hamil Danu dulu. Mama yang hamil tapi Papa yang mengalami mual dan muntah nya" jawab Mama Rena sambil mengusap punggung Soraya.
"Maksud Mama, aku tidak mengerti Ma?" tanya Soraya yang masih bingung dengan ucapan Mama Rena.
"Maksud Mama, Danu mengalami syndrome kehamilan simpatik. Jadi kalian berdua bagi tugas, kamu yang mengandung dan Danu yang mengidam. Jadi kamu bisa selalu enak untuk makan apa saja yang kamu inginkan. Tanpa khawatir nanti akan mual dan muntah" jelas Mama Rena panjang lebar.
"Jadi Mas Danu sekarang sedang mengidam, begitu maksud Mama?" tanya Soraya memastikan jika yang dikatakan oleh Mama Rena adalah benar.
"Iya sayang. Jadi kamu jangan banyak fikiran dan juga stres melihat keadaan Danu. Dari pada kamu yang mengalaminya, Mama akan sangat khawatir" jawab Mama Rena.
"Tapi Ma, kondisinya Mas Danu sangat lemah. Apa kita nggak bawa kerumah sakit saja Ma? Aku takut Mas Danu terlalu banyak kehilangan cairan" ucap Soraya sambil terus mengusap kepala Danu yang sedang menatapnya dengan tatapan sayu.
"Iya Ma, kita harus membawa Danu ke rumah sakit supaya mendapatkan perawatan" jawab Papa Wijaya mengiyakan ucapan menantunya.
"Ya sudah. Mama minta bantuan sama mang Asep dulu supaya membantu Papa memapah Danu untuk ke mobil" ucap Mama Rena.
Tidak lama kemudian mang Asep datang menghampiri untuk membantu Papa Wijaya memapah Danu untuk dibawa kerumah sakit.
__ADS_1
Sedangkan Soraya membereskan pakaikan ganti untuk Danu yang akan dibawa kerumah sakit. Juga pakaian nya yang dia bawa, dia tidak mau nanti harus bolak balik untuk mengambil pakaian.
Mang Asep mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit terdekat. Danu tidak banyak protes, karena memang keadaannya sangat-sangat lemah dan juga lemas.