Suamiku Ternyata Orang Kaya

Suamiku Ternyata Orang Kaya
Saling memikirkan (Rina & Rudi)


__ADS_3

Sedangkan Rina sedang didalam kamar nya. Dia dilema akan perasaan nya sendiri. Dia bingung kenapa sekarang menjadi selalu memikirkan duda itu? juga tidak pernah berhenti mengingat kata-kata nya yang mengungkapkan perasaan nya dan juga tidak ingin berpacaran atau pendekatan seperti remaja.


"Bisa-bisa gue gila mikirin ini terus" gerutu Rina sambil mengacak-ngacak rambutnya hingga sangat berantakan.


"Gue harus bisa lupain kejadian itu. Gue bisa. Loe pasti bisa Rina... Bisa!" ucapnya menyemangati diri nya sendiri.


"Tapi kenapa tidak bisa hilang sih semua kata-kata nya yang membuat kepala ku sakit... Hiks.. hiks.. hiks... " gumam Rina sambil menangis dan juga mengacak-ngacak rambutnya hingga sangat berantakan seperti orang waras.


Setelah mengacak-ngacak rambutnya dan akhirnya tertidur karena lelah menyalahkan diri sendiri karena tidak langsung menerima permintaan menikah dari Rudi.


Tak jauh berbeda dengan Rina, Rudi juga sama. Dia tidak bisa tidur dan selalu memikirkan Rina, dia tidak tahu harus berbuat apa nanti jika bertemu dan berhadapan dengan Rina nantinya.


"Sudahlah, gimana nanti saja. Benar yang dia katakan, jika memang berjodoh pasti akan bersatu atau dipertemukan" gumam Rudi saat dia menginginkan ucapan Rina tadi siang pada nya.


Rudi langsung memejamkan matanya karena sudah sangat mengantuk, apa lagi sebelum bertemu dengan Rina. Rudi banyak sekali kerjaan dan pasti sangat lelah sekali.


.


Keesokan harinya seperti biasa Rina akan bangun pagi dan pergi untuk kerja. Dia harus segera pergi kerja untuk masa depan nya nanti.


Entahlah dengan siapa masa depan nya nanti. Saat sedang berjalan dia bertemu dengan Devon. Rupanya dia belum pulang, mungkin tidak diijinkan untuk pulang cepat.


"Apa loe lihat-lihat!" ucap Rina ketus.


"Loe salah minum obat ya. Pagi-pagi sudah kayak ayam sawan" ucap Devon tak kalah sengit nya.


"Apa loe bilang! Loe belum kapok rupanya gue bikin bonyok kayak ini. Mau nambah? Kebetulan gue memang lagi butuh samsak hidup buat nyalurin emosi gue" ucap Rina yang sengaja menyingsing kan lengan kemejanya.


"Loe mau hajar gue lagi? Kagak, kagak. Gue nggak sudi jika wajah ganteng gue ternodai lagi oleh tangan kagak bertanggung jawab loe" ucap Devon yang langsung masuk kedalam rumah mertuanya.


"Dasar ba*ci! Baru segitu saja sudah kabur" gumam Rina yang langsung pergi dari depan rumah Ibunya Lulu.


Sedangkan Rudi yang melihat itu semua hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah Rina yang seperti preman meminta bayaran.


Tapi entah kenapa dia semakin mengagumi nya dan malah sangat mencintai nya. Jangan tanya alasan nya apa? Yang jelas dia sudah menaruh hatinya terlalu dalam pada Rina.

__ADS_1


"Kenapa jika dia sedang bersikap seperti itu terlihat sangat cantik dan menggemaskan? Apa ada yang salah dengan penglihatan ku? Ah, aku bisa gila jika seperti ini terus" gumam Rudi dan akhirnya dia berangkat kerja juga.


Sedang Rina sudah berada dipabrik dan sedang dipanggil oleh kepala pabrik untuk menghadap kearah nya. Ternyata bukan dirinya saja yang dipanggil, Sinta dan Siva juga sama.


"Loe berdua juga dipanggil?" tanya Rina yang baru sampai depan ruangan kepala pabrik.


"Iya, loe sendiri?" tanya Sinta yang melihat Rina datang kearah mereka berdua.


"Kira-kira ada apa sih? Jam kerja kayak gini dipanggil" tanya Rina pada Sinta dan Siva.


"Gue denger yang dipanggil dapat mutasi kekantor pusat" jawab Siva dan diangguki oleh Sinta.


"Beneran? Tapi gue kan belum wisuda, gimana bisa gue ninggalin cita-cita gue coba" tanya Rina tiba-tiba lesu.


"Tumben seorang Rina Adisti murung kayak gini? Nggak kayak biasanya?" tanya Sinta menatap Rina yang tertunduk lesu.


Saat akan menjawab pertanyaan kedua teman nya mereka bertiga dipanggil untuk segera masuk kedalam ruangan kepala pabrik.


"Selamat pagi. Rina, Sinta dan Siva. Kalian tahu kenapa kalian dipanggil untuk datang kemari?" tanya kepala pabrik pada ketiganya.


"Saya mendapatkan pemberitahuan dari kantor pusat. Jika disana sedang membutuhkan sekertaris dan dia dibagian keuangan. Karena diantara yang lain nya hanya kalian bertiga yang memiliki kemampuan yang saya sebutkan tadi pada kalian. Jadi kalian diperbolehkan untuk bersiap untuk segera pergi kekantor pusat secepatnya" ucap kepala pabrik dengan sangat tegas.


"Tapi pak, maaf sebelum nya jika saya menyela ucapan Bapak. Saya sedang menunggu acara wisuda saya Pak, jika saya pergi sekarang bagaimana dengan kelulusan saya Pak?" tanya Rina memberanikan diri untuk bertanya.


"Saya kan tadi bilang jika kalian bertiga bersiap untuk langsung pergi kesana. Saya bilang persiapkan diri kalian masing-masing, karena kalian bertiga yang terpilih dari puluhan bahkan ratusan kariawan pabrik ini. Jadi bukan untuk pergi sekarang, sudah jelas?" tanya kepala pabrik tersebut.


"Terimakasih Pak, jika begitu kami pamit. Selamat pagi pak" ucap Siva yang langsung menarik kedua teman nya yang tiba-tiba menjadi tilalit.


"Kalian berdua kenapa? Kenapa jadi terlihat seperti orang bodoh seperti ini sih? Kalian akan mendapatkan jabatan dengan gaji tinggi dan juga mendapatkan fasilitas yang memadai nanti. Kenapa malah terlihat seperti ini?" tanya Siva yang benar-benar bingung pada kedua teman nya ini.


"Maaf Siv, gue masih nggak nyangka saja sih. Gue yang kepilih untuk pindah ke kantor pusat" ucap Sinta dengan berkaca-kaca.


"Loe kenapa Rin? Apa loe juga berfikiran sama dengan Sinta?" tanya Siva pada Rina yang masih diam saja.


"Seperti yang gue bilang tadi. Gue masih belum yakin" jawab Rina dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

__ADS_1


Dia langsung pergi dari hadapan Sinta dan Siva dan Sinta. Sedangkan mereka berdua merasa bingung dengan sikap Rina saat ini yang tidak seperti biasa nya.


"Kenapa tuh anak?" tanya Sinta pada Siva.


"Jika loe nanya gue, gue nanya siapa dodol?" ucap Siva pada Sinta.


Sedangkan Rina malah sudah duduk kembali dimeja kerjanya. Dia terlihat tidak bersemangat memang hari ini. Dia sendiri tidak tahu, kenapa dan bagaimana.


Jika sudah begini Rina tidak bisa fokus pada pekerjaan nya sendiri. Dia sering berbuat kesalahan yang tidak dia sadari. Bahkan mungkin dia tidak akan dipilih untuk mutasi ke kantor pusat.


"Ada apa-apa dengan gue sih?" gumam nya sangat frustasi dengan keadaan seperti ini.


"Apa yang musti gue lakuin sekarang? Gue tidak mungkin akan seperti ini terus. Apa otak gue sudah tidak waras lagi? Sehingga didalam otak gue hanya ada dia dan dia" gumam Rina sambil menelungkup kan wajah nya diatas meja kerja nya.


Sinta dan Siva saling sikut karena tidak tahu apa yang terjadi pada Rina yang terlihat sangat aneh bagi mereka berdua.


"Loe tahu kenapa dia?" tanya Sinta yang merasa ada yang aneh dengan Rina.


"Iya juga, tidak seperti biasanya. Dia seperti bukan Rina yang kita kenal sebelum nya" jawab Siva dengan kening yang mengerut bingung.


"Terus apa yang harus kita lakukan pada nya. Apa mungkin dia sedang memiliki masalah yang berat dan dia belum bisa mempercayai kita. Maka nya dia tidak bilang pada kita berdua?" tanya Sinta lagi.


"Apa mungkin seperti itu? Tapi kenapa dia belum bisa percaya pada kita? Bikankah kita bertiga sudah berteman dekat? Apa yang salah dengan semua ini?" bukan nya menjawab pertanyaan dari Siva, Sinta malah balik bertanya.


Mereka berdua saling bertanya tapi tidak ada yang bisa menjawab nya. Sehingga mereka berdua menyerah dengan pertanyaan mereka sendiri. Mereka ingin menanyakan nya langsung pada Rina. Pada narasumber nya langsung.


Karena mereka berdua tidak mau ikut pusing karena memikirkan masalah Rina dan juga Rina sendiri. Mereka berdua melanjutkan pekerjaan nya hingga selesai dan hingga waktu makan siang menjelang.


.


.


.


Maafkan Othor ya reader kesayangan Othor... Othor hanya bisa up satu bab saja hati ini, karena bocil Othor masih sakit jadi up nya telat terus... Ini juga Othor usahakan untuk bisa up, walau mata sudah ngantuk berat. Demi reder semua....

__ADS_1


Othor minta vote dan hadiahnya ya....


__ADS_2