
Rina dan Eric melanjutkan makan berdua mereka, lalu dilanjutkan belajar bersama. Membahas materi untuk skripsi mereka masing-masing. Mereka juga berencana untuk pergi ketoko buku untuk membeli buku yang mereka butuhkan.
"Rin, loe jadi kan pergi ketoko buku? Soalnya gue nggak bisa, gue harus pergi bareng nyokap gue" tanya Eric yang merasa bersalah karena dia membatalkan untuk pergi kesana bersama.
"It's okay Ric, gue tahu kok. Gue bisa sendiri kesana nya" jawab Rina dengan senyuman khas nya.
"Bener nih? Atau kita atur ulang aja gimana?" tanya Eric menawarkan untuk jalan lain kali.
"Ogah, gue mau cepet-cepet selesai. Gue nggak mau jika nunggu nanti, gue harus kejar tayang supaya bisa segera lulus" jawab Rina dengan menggebu-gebu.
"Oke deh, kalo gitu gue anter kesana. Baru gue bisa tenang perginya" ucap Eric sambil membereskan barang-barangnya sebelum mereka pergi.
"Oke deh, ayo gue sudah gerah disini lama-lama" ucap Rina seraya pergi lebih dulu.
Ternyata kepergian Rina membuat Rudi semakin tidak semangat untuk melanjutkan makan siang nya. Pandangan nya selalu tertuju pada Rina dan pemuda itu.
Sehingga membuat Sofia menjadi kesal sendiri. Dia ingin mengungkapkan perasaan nya pada Rudi. Jika dia menginginkan untuk rujuk kembali. Dia memberanikan diri untuk bicara padanya.
"Rud, aku mau bicara sesuatu yang penting sama kamu" ucap Sofia memberanikan diri.
"Bicara apa?" tanya Rudi mengernyitkan dahinya.
Sofia menarik nafasnya dalam dan menghembuskan nya secara perlahan, lalu memberanikan diri untuk bicara.
"Aku, aku ingin kita rujuk kembali Rud. Maaf, aku lancang. Aku ingin menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan sama kamu, aku ingin memperbaikinya dengan menjadi pendamping kamu lagi" ucap Sofia sambil terbata-bata, dia takut jika Rudi menolaknya.
"Maksud kamu, kita rujuk dan menikah kembali?" tanya Rudi memastikan.
__ADS_1
"I... Iya, Rud" jawab Sofia sambil menundukan wajah nya.
"Are you crazy! Itu semua tidak mungkin Sof, aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun sama kamu. Aku hanya menganggap kamu sebagai teman, itu saja. Tidak lebih" ucap Rudi dengan tercengang.
"Kamu jangan salah artikan kebaikkan aku selama ini sama kamu dan juga anak kamu ini. Aku hanya membantu kamu sebagai teman, tidak lebih. Maaf aku tidak bisa" jelas Rudi lagi.
Dia langsung pergi dari cafe tersebut meninggalkan Sofia yang menangis karena sudah ditolak nya. Bahkan anak nya sendiri dia jadikan pelampiasan nya.
Rudi tidak habis fikir dengan semua yang dikatakan oleh Sofia, kenapa dia berfikiran untuk kembali pada nya disaat dia sudah tidak berniat untuk itu. Dia sendiri jika tidak merasa kasihan dengan purtinya, tidak mungkin dia mau sering jalan bertiga dengan nya.
"Dia memang sudah tidak waras. Kenapa dia malah ingin kembali dengan ku? Disaat dia sendiri sudah memiliki suami. Dasar gi*a" gerutu Rudi yang sudah didalam mobilnya.
"Aku harus segera menjauh dari nya, jika aku ingin bebas. Aku tidak mau diganggu olehnya lagi seperti dulu, aku harus segera pindah" gumam nya, lalu segera melajukan mobilnya menuju kontrakan nya.
Sesampainya dikontrakan, dia menemui pemilik nya dan langsung keluar membawa barang-barangnya. Untung saja didalam kontrakan nya sudah lengkap dengan perabotan. Jadi dia hanya membawa pakaian dan berkas-berkas nya saja. Jadi saat pindahan seperti ini dia tidak repot untuk semua barangnya.
Rudi mengemudikan mobilnya menuju sebuah tempat kos yang tidak jauh dari tempat kosan Rina. Dia ingin ngekos disana dengan Rina tapi tidak mempunyai tempat parkir mobilnya. Dia menemukan rumah kontrakan yang bersebelahan dengan rumah kontrakan Ibunya Lulu.
Dan disinilah Rudi berada didepan kontrakan Ibunya Lulu. Dia berkenalan dengan mereka, karena kebetulan mereka sedang berada diluar.
"Permisi buk, saya mau tanya. Apa disini masih ada kontrakan yang kosong?" tanya Rudi pada Ibunya Lulu.
"Oh, kebetulan sebelah kosong Mas. Apa Mas nya memang serius untuk ngontrak disini?" tanya Ibunya Lulu sangat ramah.
"Iya buk, saya memang sedang nyari-nyari yang kecil saja. Sebenar nya saya ingin kosan saja, tapi tidak ada tempat parkir nya buk" jawab Rudi tak kalah ramah juga menjelaskan keinginan nya.
"Oh, kalo soal parkir bisa diatur Mas. Kebetulan garasi rumah kami juga besar, jika Mas nya memang tidak keberatan itu juga. Kosan masih ada satu yang kosong juga dengan kontrakan nya. Terserah Mas nya mau pilih yang mana" jelas Ibunya Lulu panjang lebar.
__ADS_1
"Oh, memang nya boleh saya menggunakan garasi rumah Ibu ini? Nanti Ibu akan terganggu jika saya keluar masuk menggunakan mobil saya" tanya Rudi merasa sungkan pada pemilik kontrakan.
"Itu tidak masalah Mas, kalau memang Mas nya bersedia. Tapi Mas nya harus mematuhi peraturan yang sudah ada. Jika Mas nya harus meninggalkan potokopian KTP beserta kartu keluarga anda, jika tidak keberatan. Ini hanya untuk berjaga-jaga takutnya ada sesuatu yang tidak diinginkan" jawab Ibunya Lulu dengan sangat ramah.
"Itu tidak masalah buk, saya setuju. Justru Ibu sangat bijaksana meminta itu semua, takutnya memang terjadi diluar dugaan kan repot buk" ucap Rudi sambil menyerahkan apa yang diminta oleh Ibunya Lulu.
"Oh, terimakasih Mas. Jadi Mas nya mau ngontrak apa ngekos?" tanya Ibunya Lulu lagi.
"Ngekos saja buk, jika memang boleh parkir mobil saya disini" jawab Rudi sambil mengeluarkan dua koper berukuran besarnya.
"Mari Mas saya antarkan" ucap Ibunya Lulu mengantarkan Rudi menuju kosan nya. Telat disebelah kosan Rina.
"Ini Mas kamar nya. Maaf sangat kecil, didalam sudah tersedia lemari kecil dan beberapa alat makan. Hanya itu saja Mas, ini kunci nya" ucap Ibunya Lulu menerangkan isi didalam kosan tersebut dan juga menyerahkan kunci pintu nya pada Rudi.
Disaat bersamaan Rina baru pulang dari toko buku nya dan menyapa Ibu dari sahabat nya.
"Penghuni baru buk?" tanya Rina pada Ibu sahabat nya.
"Iya, baru saja sampai dan masuk hari ini" jawab Ibunya Lulu sambil tersenyum.
"Kamu dari mana kelihatan beli barang banyak?" tanya Ibunya Lulu ikut masuk kedalam kamar kos Rina.
Sebenar nya Ibunya Lulu mengajak Rina untuk tinggal bersama dirumah nya, tapi Rina selalu menolak karena takut merepotkan. Dan selalu saja seperti itu, maka nya Ibunya Lulu membebaskan kosan untuk Rina. Dia sudah menganggap Rina seperti anak nya sendiri. Apa lagi dia adalah sahabat dari putri sulung nya.
"Aku dari toko buku buk, aku sedang mempersiapkan untuk membuat skripsi kuliah ku buk. Do'ain aku yakin buk, supaya aku bisa cepat lulus" ucap Rina sambil memeluk tubuh Ibunya Lulu, yang sudah dia anggap Ibunya sendiri.
"Iya nak, Ibu selalu mendo'akan kamu. Kamu adalah putri Ibu juga kan? Jadi jangan sungkan sama Ibu" ucap Ibunya Lulu yang memeluk Rina dengan penuh sayang.
__ADS_1
"Terimakasih buk" ucap Rina semakin mengeratkan pelukan nya pada Ibunya Lulu.
Ternyata yang mereka berdua lakukan disaksikan oleh Rudi yang berdiri diambang pintu kamar kos Rina. Rudi merasa terharu pada sikap Rina yang seperti ini, dia mengira gadis bar-bar seperti nya tidak bisa bersikap lembut pada orang lain. Tapi ternyata dugaan nya salah. Rina bisa lembut pada sosok seorang Ibu.