
"Memang nya kamu kesal dengan siapa?" tanya Lulu penasaran.
Pasalnya Rina sudah lama tidak marah-marah seperti ini, seingat Lulu Rina marah karena dia pernah dikhianati dan dia memberi pelajaran yang sangat memprihatin kan.
"Ada aja, tuh orang kagak ada perasaan nya. Jika tuh orang deket, sudah gue ajak duel deh" jawab Rina semakin kesal.
"Sabar, jangan memancing emosi" ucap Lulu menenangkan sahabat nya yang satu ini.
"Eh, loe kira gue mau nangkep ikan pake mancing segala" jawab Rina sambil menggerutu tidak jelas.
"Sak karepmu wae Rin" ucap Lulu sambil menatap wajah Rina yang sedang marah-marah seperti lagi PMS.
"Idih si Lulu ambekan" ucap Rina malah meledek Lulu.
"Kalo nggak ambekan ya mati lah Rina" jawab Lulu geleng-geleng kepala.
"Oh, iya kah?" tanya Rina lagi dengan tatapan anehnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, tertera dilayar nama Popon Tevlon yang memanggil. Rina langsung beranjak pergi dari kamar menuju taman dengan berlari. Tapi tidak mengangkat panggilan dari Devon.
"Kenapa tuh anak? Aneh" gumam Lulu yang didalam kamar kosan Rina.
Dia lalu menguncinya dengan rapat supaya tidak ada yang curiga jika didalam ada orang.
Sedangkan Rina sudah sampai ditaman dan melihat sosok yang semalam dia kirim pesan. Dan betapa terkejut nya dia melihat anak kecil berada dalam gendongan nya.
"Siapa dia?" tanya Rina langsung dan tanpa basa basi lagi.
"Dia anak gue" jawab Devon dengan tegasnya mengakui jika anak yang sedang bersama dengan nya adalah anaknya.
Rina menatap sinis, lalu tanpa basa basi lagi dia menghadiahi bogeman mentah pada wajah yang sok dimata Rina. Rina melakukan itu setelah anak kecil tadi sudah dibawa oleh pengasuhnya.
Devon terhuyung dan sudut bibirnya terluka. Karena Rina mengerahkan seluruh tenaganya.
"Bangun loe bang*sat. Loe sudah membuat sahabat gue menderita!" ucap Rina terus melayangkan pu*ulan nya pada Devon.
Devon hanya diam saja menerima apapun dari Rina. Karena memang dia yang salah. Dia menikahi Lulu tanpa mencari tahu dulu masalalu nya. Hingga terjadilah kejadian seperti ini.
"Baji*gan loe, gue sudah memperingatkan loe sejak awal. Tapi loe dengan sengaja nya membuatnya menangis dan" Rina tidak melanjutkan ucapan nya.
Dia benar-benar sudah dipenuhi dengan emosi dan juga kemarahan yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Untung saja taman kota sedang sepi, jadi Rina dengan leluasa megha*ar Devon tanpa ampun.
__ADS_1
Devon sudah ambruk diatas rerumputan ditaman tersebut. Mungkin ada beberapa tulang yang patah akibat pukulan dari Rina dan juga banti*gan dari nya.
Rina seperti kesetanan memukuli Devon. Untung saja Rudi datang tepat waktu. Jika tidak entah apa yang terjadi pada Devon selanjutnya.
"Lepas! Gue harus memb*nuh baji*gan itu" teriak Rina memberontak.
"Dasar ban*sat! sini loe. Gue belum puas membuat loe tidak berdaya. Gue tidak terima saudara gue loe bikin sakit hati dan menderita karena loe!" Rina masih berteriak-teriak. Dan penampilan nya sudah sangat berantakan.
Dengan ragu Rudi langsung memeluk dan menenangkan Rina yang masih sangat emosi. Rudi menangkup kedua pipi Rina dan berbicara padanya.
"Rina, Rina tenang lah. Kau bisa masuk penjara karena telah menganiaya seseorang!" ucap Rudi saat Rina masih memberontak ingin terus memukuli Devon yang sudah tidak sadarkan diri lagi.
Barulah Rina sedikit tenang setelah melihat Devon tidak ada dihadapan nya lagi. Rudi sudah menghubungi ambulance untuk membawa Devon kerumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan.
"Kamu sudah tenang?" tanya Rudi sambil menyodorkan satu botol air mineral.
Rina menerimanya dan langsung meminumnya. Nafasnya masih naik turun, dia masih sangat emosi dibuat nya.
"Kamu kenapa sampai memukuli orang hingga hampir Wasalam?" tanya Rudi setelah Rina meminum ari darinya.
"Gue masih belum puas" jawab Rina masih dengan tatapan tajam dan penuh dengan amarah juga dendam.
"Untung saja taman sepi. Jika tidak, kamu akan viral karena sudah membuat orang hampir menemui malaikat Izrail" ucap Rudi lagi supaya Rina lebih tenang.
"Istigfar Rin, istigfar. Sebut nama Allah, kamu tidak boleh bersikap berlebihan seperti itu. Itu sangat dibenci oleh Allah, kamu pasti sangat tahu akan hal itu. Ingat Rin, jangan biarkan hati kamu menjadi hitam karena dipenuhi dengan dendam dan kebencian. Kelak kamu sendiri yang akan rugi" ucap Rudi sambil memegang bahu Rina yang masih sangat tegang.
"Kamu boleh marah, boleh emosi, boleh kecewa. Tapi jangan biarkan akal dan hati kamu dipenuhi dengan itu semua. Kelak kamu akan menyesalinya seumur hidup kamu. Percayalah, jika semua akan baik-baik saja jika kita tidak melakukan itu semua" lanjutnya lagi.
Rina beberapa kali mengucapkan istigfar dan menyebut asma Allah. Dia sedikit tenang dan bisa meredam emosi nya, dia benar-benar dipenuhi dengan emosi.
Tiba-tiba Rina menangis dengan sesegukan. Dia mungkin menyesali perbuatan nya yang sudah diluar batas. Bagaimana jika Lulu tahu jika dia sudah membuat suaminya menjadi seperti ini. Apa dia siap mererima kebencian dari Lulu?
"Menangislah, dengan menangis bisa meringankan beban berat yang ada didalam hati kamu. Kamu memang wanita yang tangguh, tapi tetap. Kamu adalah seorang wanita yang bisa menangis dan juga bersedih. Tapi jangan berlarut-larut dalam kesedihan itu sendiri. Kita harus bisa menghadapinya dengan lapang dada" ucap Rudi lalu memeluk Rina dan membiarkan dia menangis dibahu nya yang kokoh.
Rina masih menangis. Lumayan lama, tapi dia berhenti menangis dan akan pergi dari hadapan Rudi.
"Terimakasih untuk segala nya Om, maaf sudah membuat baju Om basah. Aku harus pergi aku ingin menemui pria itu" ucap Rina ingin berlari. Tapi tangan nya digenggam oleh Rudi.
Rina menoleh dan menatap tangan nya yang dipegang oleh Rudi. Rudi yang menyadari tatapan tajam Rina langsung melepaskan nya.
"Maaf. Saya hanya mau bilang, bersihkan dulu diri kamu baru bisa menemuinya. Dan ingat satu hal, jangan membuat keributan lagi disana" ucap Rudi lalu pergi lebih dulu menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari taman.
__ADS_1
Rina berjalan menyusuri jalanan menuju kosan nya dengan gontai dan mungkin jika tidak kenal. Mereka menganggap Rina tidak waras, karena penampilan nya sangat berantakan dan dia tidak menggunakan alas kaki atau sandal.
Rina memasuki kosan nya dan dia mendapati Lulu yang sedang berdiri menatap nya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Rina langsung membersihkan dirinya dan ikut duduk setelah selesai mandi dan berganti pakaian.
Lulu masih menatapi Rina yang duduk dihadapan nya saat ini. Dia tidak mengucapkan apapun pada Rina hingga Rina sendiri yang membuka suara.
"Ada apa Lu?" tanya Rina.
"Bayi aku Rin" jawab Lulu dengan pandangan kosong.
"Kenapa dengan bayi kamu?" tanya Rina semakin panik. Takut terjadi sesuatu pada sahabat rasa saudara.
"Tadi aku periksa dibidan yang tidak jauh dari sini. Ternyata bayiku tidak bisa berkembang dengan baik. Aku disuruh untuk USG kedokter kandungan supaya lebih jelas. Aku takut terjadi sesuatu pada bayi aku Rin, aku takut" ucap Lulu sambil terisak.
Rina memeluk tubuh Lulu yang bergetar karena menangis. Rina ikut meneteskan air matanya, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan pada Lulu. Rina hanya bisa menenangkan saja.
"Kita bersiap untuk segera kerumah sakit. Supaya bisa tahu kondisinya" ucap Rina sambil mengusap air mata dipipi Lulu.
"Bersiaplah, kita pergi sekarang" lanjut Rina lagi mengajak Lulu mengganti pakaian nya.
Mereka berdua berjalan beriringan, Lulu sengaja menggunakan pakaian syar'i dan menggunakan masker untuk menutupi wajahnya.
Rina mendaftarkan Lulu kedokter sepesialis obgyn. Lalu mereka berdua duduk dibangku ruang tunggu untuk menunggu nama Lulu dipanggil.
Lulu masih saja menangis, dia tidak tahu jika kehamilan nya bermasalah. Apa yang harus dia katakan pada Devon, Devon pasti sangat kecewa padanya.
Rina selalu memeluk Lulu dan menenangkan nya. Dia tahu, itu pasti sangat menyakitkan bagi seorang Ibu jika sampai terjadi sesuatu pada calon bayinya.
"Tenang saja Lu, dan jangan berhenti berdo'a supaya semuanya baik-baik saja. Insya Allah, atas izin nya pasti akan baik-baik saja" ucap Rina selalu berada disamping nya.
Lalu nama Lucinta dipanggil dan mereka berdua masuk kedalam menemui dokter obgyn yang akan memeriksa Lulu.
"Selamat pagi buk, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter obgyn tersebut
"Iya dok, saudara saya tadi periksa kebidan terdekat. Lalu Bidan tersebut bilang jika bayi dalam kandungan saudara saya tidak berkembang. Dan mendapat rujukan untuk datang kemari" jelas Rina.
.
.
.
__ADS_1
Apa yang terjadi pada calon baby Lulu ya??