
Mereka berdua masih duduk dibangku taman bertiga, dengan diiringi perdebatan-perdebatan kecil antara Rina dan juga Devon. Lulu sampai pusing menghadapi keduanya yang tidak bisa akur, walau baru bertemu dan kenal.
"Apa kalian tidak bisa akur walau satu menit?" tanya Lulu pada Devon dan Rina.
"Tidak" jawab keduanya kompak.
Lulu hanya bisa menepuk keningnya sendiri. Dia hanya diam membiarkan kedua orang itu selesai berdebat. Tapi dugaan Lulu salah, mereka tidak bisa akur walau hanya sebentar saja.
Lulu memutuskan untuk beranjak dari duduknya. Dia merasa pusing olehnya, bisa-bisa Lulu darah tinggi jika berlama-lama berada didekat mereka berdua.
"Lu, mau kemana? Kenapa gue ditinggalin sih sama si popon" ucap Rina sambil mengejar Lulu yang sudah berjalan lumayan jauh.
"Eh, apa loe bilang. Popon, maksud loe apa Hah. Dasar petasan banting" ucap Devon tidak terima dia dipanggil dengan sebutan seperti itu.
"Kenapa, tidak terima? Dasar popon, wee" ucap Rina sambil menjulurkan lidahnya meledek Devon.
Rina langsung berlari mengejar Lulu yang sudah pergi jauh darinya. Rina akhirnya sudah bisa mengejar Lulu dan berjalan disamping nya.
"Kenapa loe tinggalin gue sih Lu?" tanya Rina.
"Aku pusing mendengar perdebatan kalian yang unfaedah itu" jawab Lulu masih melangkahkan kakinya.
"Maaf Lu, habisnya itu si popon yang duluan. Bikin kesel aja" ucap Rina sambil mencebikkan bibirnya.
"Popon?" tanya Lulu masih belum mengerti jika Rina memanggil Devon dengan sebutan popon.
"Iya popon, itu tu orangnya" jawab Rina sambil menunjuk Devon yang ternyata sudah ada disamping Lulu.
"Rina, Rina. Dia itu Devon Rin, kenapa kamu ganti-ganti nama orang? Ya ampun Rina... " ucap Lulu tidak habis fikir dengan jalan fikiran Rina yang absurd nya minta ampun.
"Biarkan saja, julukan itu memang sangat cocok untuknya yang mulutnya seperti Ibu-Ibu gosip" jawab Rina acuh tak acuh akan ucapan Lulu.
Devon yang mendengar sebenarnya ingin sekali membungkam mulut cerewet Rina yang suka ceplas ceplos jika bicara. Tapi Devon hanya menahan saja, dia tidak mau terpancing emosi oleh Rina.
Devon menarik nafasnya perlahan dan menghembuskan nya secara berulang-ulang, supaya dia merasa tenang dan tidak tersulut emosi.
"Dev, maafkan sahabat aku yah? Walau suka ceplas ceplos dia sebenarnya sangat baik kok, cuman harus sabar saja menghadapinya" jelas Lulu merasa tidak enak terhadap Devon.
"It's okay Lu, aku tau kok. Bagaimana menghadapi sikap wanita aneh sepertinya" jawab Devon sambil melirik Rina yang sedang asik sendiri.
"Apa dia seperti itu pada semua orang?" tanya Devon penasaran.
__ADS_1
"Nggak kok, dia akan seperti itu jika dia merasa tidak nyaman dan tidak terlalu menyukai orang itu" jawab Lulu menjelaskan.
"Jadi dia merasa tidak nyaman padaku? Tapi kenapa, bukankah kita baru bertemu dan juga baru kenal. Kenapa dia bersiap seperti yang sudah kenal lama dan seperti musuh bebuyutan saja" ucap Devon merasa sangat aneh dengan sikap Rina.
"Mungkin dia merasa jika kamu laki-laki yang hanya memanfaatkan dan juga maaf kurang baik menurutnya. Karena diantara kami bertiga yang paling peka dan tau jika laki-laki itu baik atau hanya modus ya Rani. Sekali lagi aku minta maaf ya Dev" jelas Lulu panjang lebar pada Devon.
"Iya, nggak apa-apa sih. Cuman aku masih aneh saja padanya, dan coba lihat sekarang. Dia malah asik sendiri seperti itu" ucap Devon pada Rani yang sedang bermain dengan anak-anak yang berada ditaman tersebut.
"Itulah sifatnya Rina, dia bisa gampang ceria walau barusan habis bersitegang dengan kamu" jawab Lulu.
"Ini sudah sore, aku harus pulang. Maaf ya aku duluan" ucap Lulu pada Devon.
"Aku antar pulang ya. Aku juga punya hadiah untuk adik-adik kamu dirumah, apa lagi untuk yang sedang berulang tahun sekarang" ucap Devon memberi tawaran untuk mengantarkan Lulu pulang.
"Aku nggak mau ngerepotin kamu Dev, aku bisa pulang sendiri" ucap Lulu merasa tidak enak terhadap Devon.
"Tidak, aku sama sekali tidak merasa direpotkan sama kamu. Justru aku ingin mengenal keluarga kamu. Boleh kan?" tanya Devon.
"Tidak bisa, anda tidak diterima" bukan Lulu yang menjawab melainkan Rina yang menjawab pertanyaan Devon.
"Saya tidak bertanya pada anda" jawab Devon sinis.
"Semua karena leo" ucap Rina.
"Loe, enak saja. Semuanya gara-gara loe!" ucap Devon.
Dia langsung mengejar langkah Lulu yang sudah hampir sampai dikontrakan nya. Ternyata Rina juga mengikutinya dari belakang, Rina juga ingin mberikan kejutan untuk Uci yang sedang berulang tahun.
Lulu, Rina dan Devon sudah sampai didepan kontrakan Lulu dan keluarganya. Lulu langsung memasuki rumahnya, tidak lupa mengucapkan salam juga diikuti oleh Rina dan Devon.
"Kamu baru pulang nak?" tanya Ibunya Lulu.
"Iya bu, maaf ya Bu lama" jawab Lulu.
"Eh, ada nak Rina juga rupanya. Silahkan duduk, maaf hanya bisa duduk dilantai" ucap Ibunya Lulu.
"Iya bu, tidak apa-apa. Seperti sama siapa saja" jawab Rina.
"Bu, kenalin ini Devon" ucap Lulu memperkenalkan Devon pada Ibunya.
"Devon bu" ucap Devon sambil menjabat tangan Ibunya Lulu.
__ADS_1
"Uci dimana bu, kenapa dari tadi tidak kelihatan sejak aku pulang?" tanya Lulu yang mencari keberadaan adik bungsunya.
"Uci sedang ke warung. Katanya dia mau membeli sesuatu" jelas Ibunya pada Lulu.
"Oh, aku kira kemana. Apa Rama dan Rizki juga ikut bu?" tanya Lulu.
"Tidak, mereka berdua sedang mengerjakan sesuatu didalam kamar" ucap Ibunya.
Tidak lama kemudian Rama dan juga Rizki datang dari dalam kamarnya.
"Kak, kakak sudah pulang?" sapa Rama dan Rizki bergantian dan juga menyalami ketiganya bergantian.
"Iya. Hai Ram, lama ya kita tidak bertemu?" sapa Rina pada Rama.
"Iya kak, kakak kemana saja tidak pernah datang kesini?" ucap Rama pada Rina.
"Kakak sedang sibuk nyusun skripsi Ram, makanya kakak tidak pernah kesini" jawab Rina.
"Bagaimana dengan ujian kamu? Apa sudah selesai?" tanya Rina kembali.
"Belum kak, masih beberapa bulan lagi untuk ujian. Makanya aku harus mempersiapkan nya dari sekarang" jawab Rama dengan ramah.
Rina dan Rama memang sudah sangat dekat sejak dulu. Tidak hanya Rama saja, Rizki juga sama dekatnya dengan Rina.
"Kenalin dek, ini teman kakak juga. Namanya bang Devon" ucap Lulu memperkenalkan Devon pada Rama dan Rizki.
"Hai, saya Devon" ucap Devon sambil menjabat tangan kedua adik Lulu bergantian.
"Senang berkenalan dengan abang" jawab Rama dan Rizki bersama-sama.
Tidak lama kemudian Uci datang sambil membawa bungkusan ditangannya, dia habis membeli sayur untuk makan malam nanti.
Uci merasa heran, sepertinya didalam rumah sedang ada tamu. Terlihat dari banyaknya sepatu diluar kontrakan, saat dia masuk ternyata kakaknya yang ada didalam bersama dengan Rina, sahabat dari kakaknya sendiri. Tapi Uci bingung dengan sosok laki-laki yang duduk tidak jauh dari kakaknya.
"Kamu sudah pulang dek?" tanya Lulu setelah Uci masuk kedalam.
"Iya kak" jawab Uci sambil menjabat tangan kakaknya dan mencium punggung tangan nya.
Begitu pula dengan yang lainnya, yang berada didalam bergantian satu persatu.
Uci undur diri, ingin menyimpan belanjaan yang baru saja dia beli kebelakang. Lalu Uci ikut bergabung dengan yang lainnya berada didepan.
__ADS_1