
Rudi benar-benar jengah dengan situasi seperti ini. Dia ingin sekali mengusir Eric yang sedang mengobrol dengan asiknya bersama dengan Rina. Dan itu sangat membuatnya tidak nyaman sama sekali.
"Jadi ini undangan buat gue dan juga keluarga gue nih Rin?" tanya Eric yang sedang mengacungkan sebuah undangan dari Rina.
"Iya, masa buat orang lain bambang" ucap Rina sambil menggelepak lengan Eric yang sedang nyengir kuda.
"Eh Rin, sakit tahu! loe itu belum juga married udah main kdrt saja sih loe" ucap Eric yang mengusap-ngusap lengan nya yang lerih mendapatkan gelepak dari Rina.
"Enak saja loe klo ngomong, siapa juga yang kdrt sama loe! macam-macam loe kalo bikin gosip" jawab Rina tidak terima dengan semua ucapan Eric.
"Ehemm" Rudi berdehem karena sejak tadi dia hanya menjadi pendengar saja untuk mereka berdua.
"Eh, sorry ya Mas. Saya tidak ada maksud tertentu kok sama calon istrinya Mas yang memang rada-rada ngeselin ini" ucap Eric yang langsung mendapatkan toyoran dari Rina lumayan keras membuat Eric malah tergelak dengan sangat keras.
"Saya masih ada sesuatu yang harus saya kerjakan. Jika kalian masih ingin mengobrol berdua silahkan saja. Saya harus pergi" ucap Rudi yang akan segera bangkit dari duduknya.
"Silahkan Mas, saya hari ini pinjem Rina nya dulu untuk seharian ini sebelum dia pergi dan menjauh dari saya" ucap Eric dengan nada yang serius. Kembuat Rudi semakin tidak nyaman dan beranggapan jika keduanya ada hubungan apa-apa dibelakngnya.
"Baiklah saya minta tolong jaga calon istri saya dengan baik. Jangan sampai ada lecet-lecet atau apapun itu" ucap Rudi yang langsung bangkit dan pergi begitu saja dari hadapan Eric dan Rina yang hanya diam menatap Rudi.
"Loe kenapa Rin? sudah seperti yang tertekan begitu mau kawin" tanya Eric yang melihat seperti banyak beban dalam diri Rina saat ini.
"Gue nggak apa-apa kok. Cuman sedikit tidak enak badan saja Ric" jawab Rina menutupi perasaan nya sendiri dari Eric. Sahabatnya selama ini dan pria satu-satu nya yang dekat dengan nya.
"Loe itu kagak bisa bohong dari gue Rin. Gue tahu loe tertekan kan dengan semua ini? Kenapa loe memutusakan hal sebesar ini jika hati loe belum benar-benar menerima sepenuhnya Rin?" tanya Eric yang sudah berbicara serius dengan Rina. Tidak seperti tadi yang hanya bercanda saja.
"Memangnya kelihatan banget ya?" Rina malah bertanya balik pada Eric.
__ADS_1
"Jelas banget Marimar. Bahkan saking jelasnya loe terlihat seperti orang yang sedang nahan kentut didepan cem-ceman. Hahaha" ucap Eric yang sengaja membuat suasana menjadi cair lagi.
"Sialan loe!" ucap Rina sambil memukul lengan Eric.
"Gue serius Rin. Loe beneran sudah yakin dengan keputusan loe saat ini? Sorry, bukan gue mengompori loe buat kagak jadi kawin. Cuman wajah loe itu kelihatan tertekan banget tahu" tanya Eric dengan sangat serius mengulang ucapan nya yang tadi.
"Nggak tahu Ric, gue merasa ini adalah keputusan yang terbaik dalam hidup gue. Gue memang belum sepenuhnya mencintainya atau apa lah itu namanya. Gue cuman nggak mau mempermainkan perasaan nya yang begitu tulus pada gue dan mau menerima gue apa adanya Ric. Gue tahu mungkin keputusan gue ini loe anggap tidak masuk akal atau apa itu. Yang jelas menurut hati gue ini yang terbaik buat hidup gue kedepan nya nanti" ucap Rina menceritakan semuanya pada Eric tentang keputusan nya saat ini.
"Kenapa loe mengambil keputusan sebesar ini dalam hidup loe Rin? Loe itu jangan memaksakan diri jika loe belum siap dengan semua ini. Seharusnya loe fikirkan ini dengan baik-baik dan juga matang Rin. Ini adalah keputusan yang membuat loe menjadi bukan diri loe sendiri" ucap Eric yang tidak habis fikir dengan jalan yang Rina ambil ini adalah kalong yang sangat besar.
Dia memutuskan untuk menikah disaat hatinya masih gamang dan belum bisa menerima sepenuhnya. Tapi Eric tidak mau jika Rina memutuskan begitu saja dalam menjalin hubungan yang sangat serius dan juga sensitive seperti ini. Ini adalah masalah menyatukan hati yang berbeda dan juga keluarganya. Menurut Eric ini sangat terburu-buru untuk melangkah kejenjang yang sangat serius seperti ini.
"Loe beneran udah serius banget dengan semua ini Rin?" tanya Eric yang entah sudah yang keberapa kalinya dia bertanya pertanyaan yang sama dan berulang-ulang.
"Gue serius Ric. Masa gue bercanda dalam hal yang sensitive seperti ini sih. Loe sudah tahu gue dan sudah mengenal gue bertahun-tahun bukan? Jadi kenapa masih nanya juga Ferguson" ucap Rina yang mencoba untuk bisa tersenyum.
'Apa benar kamu tertekan dengan semua ini Rin? Jika iya, kenapa kamu mau memutusakan menikah dengan saya? Apa kamu benar-benar tidak merasakan betapa aku sangat mencintai kamu dengan sangat tulus dan juga sepenuh hati ini. Kenapa kamu tidak pernah bilang terus terang pada mu Rina, kenapa?' ucap Rudi yang hanya didalam hati melihat dan mendengar betapa menyakitkan nya mendengar semua pengakuan dari Rina.
Rudi langsung mengusap air matanya yang akan menetes dari pelupuk matanya. Dia tidak ingin jika ada yang melihatnya menangis seperti ini. Dia hnyabingin mendengar bagaimana keputusan Rina yang sebenarnya.
Kembali lagi pada Rina dan Eric yang sedang berbicara.
"Gue memang melihat loe sangat serius dengan keputusan loe saat ini. Tapi yang gue pertanyakan adalah hati loe Marimar" ucap Eric yang langsung membuat Rina menjadi bungkam tidak menjawab nya.
"Kenapa loe diam? Apa benar, loe belum ada rasa sama calon suami loe sendiri?" tanya Eric yang menatap mata Rina dengan sangat intens.
"Entahlah Ric, gue juga nggak tahu. Yang jelas gue merasa nyaman saja berada didekatnya dan disamping nya saat ini. Jika itu bukan perasaan cinta tidak apa, mungkin dengan berjalan seiring waktu hati dan perasaan gue benar-benar untuknya. Do'ain gue ya Ric, supaya gue bisa cepat memiliki perasaan padanya" jawab Rina dengan sedikit senyuman tipis dibibirnya.
__ADS_1
Dan jawaban itu membuat hati seseorang yang sedang mendengarkan nya menjadi berbunga-bunga dengan jawaban dari Rina.
"Gue selalu mendo'akan sahabat terbaik gue. Semoga saja pernikahan loe menjadi sekali seumur hidup loe. Sakinah sampai kejannah nya, amiin" ucap Eric yang mengusap kepala Rina dengan senyuman yang sangat lebar dari Eric.
"Thanks my friend" ucap Rina juga merasa lega telah bercerita pada Eric tentang perasaan nya yang masih merasa bingung dan juga gamang ini.
"Always be happy my friends" jawab Eric senang. Bisa melihat senyuman yang seperti biasa dari Rina yang selalu menghiasi bibirnya seperti dulu.
Mereka berdua sekarang sangat relax dan juga merasa saling tenang dengan pembicaraan keduanya yang salaing terbuka dan juga saling menguatkan satu sama lain. Hingga waktu mulai malam dan sekarang waktunya untuk Eric dan Rina pergi dari cafe tersebut.
"Mas Rudi kagak jemput loe apa? Kenapa belum kemari lagi?" tanya Eric yang mengedarkan pandangan nya keseluruh cafe tersebut.
"Mungkin dia masih sibuk Ric. Lagian kan kami sebentar lagi bakalan pindah dari ini, mungkin sedang mengurus itu semua" jawab Rina yang tidak terlalu berharap jika Rudi akan menjemputnya.
"Eh itu dia" ucap Eric yang melihat Rudi mendekat kearah mereka berdua.
"Maaf lama. Sudah mau pulang sekarang?" ucap Rudi merasa bersalah karena baru datang dan juga bertanya pada keduanya.
"Iya Mas, lihat tuh calon istrinya. Sudah hampir nangis karena tidak dijemput oleh ayang, hehehe" ucap Eric menggoda Rina.
"Wah benarkah? Jika begitu saya ucapkan terimakasih karena sudah menjaga calon istri saya Mas Eric. Kapan-kapan kita luangkan waktu untuk bersama" ucap Rudi pada Eric dengan berbasa-basi padanya.
"Ditunggu Mas undangan nya untuk sekedar ngopi-ngopi lain waktu" jawab Eric dengan saling berjabat tangan keduanya.
"Ric, thanks ya. Gue balik duluan. Bye" ucap Rina pada Eric yang masih menatap keduanya berjalan menjauh darinya.
"Semoga selalu bahagia buat kalian berdua" ucap Eric setelah melihat mereka berdua masuk kedalam mobil dan pergi.
__ADS_1
Eric langsung pergi juga dari cafe tersebut dengan selalu mendo'akan sahabat nya yang akan menempuh hidup baru dengan pria pilihan nya.