
Danu sangat bahagia melihat putra nya yang sangat menggemaskan berada didalam gendongan nya. Dia benar-benar sangat bersyukur bisa memilikinya.
"Ma, bagaimana cara meletak kan nya?" tanya Danu benar-benar tidak berani untuk bergerak. Dia merasa takut jika baby kecil nya kenapa-kenapa.
"Kamu ini, sudah jadi Papa belum bisa menggendong nya" gerutu Mama Rena sambil mengambil alih baby AL.
"Aku kan masih takut menjatuhkan nya Ma, dia masih sangat kecil dan rapuh" jawab Danu membela diri.
"Ck, dasar" ucap Mama Rena berdecak kesal.
"Kamu harus belajar menggendong nya, ingat. Walau kamu sesibuk apa pun tetap harus meluangkan waktu mu untuk anak-anak dan istri kamu. Apa lagi masih bayi seperti ini, istri kamu akan kurang istirahat. Jadi Mama minta kamu bisa menggendong nya disaat seperti ini" ucap Mama Rena dengan panjang lebar menjelaskan pada Danu.
"Iya Ma, aku akan belajar" jawab Danu dengan semangat.
"Bagus, dulu juga Papa kamu seperti itu. Karena mau belajar akhirnya bisa menggendong mu waktu bayi" ucap Mama Rena.
Tidak lama kemudian Papa Wijaya sudah masuk kembali dengan bik Darmi yang membawakan makanan untuk majikan nya. Ini sudah waktu nya untuk makan malam, setelah bik Darmi mengantarkan makanan langsung pulang kembali setelah mengambil pakaikan kotor juga untuk dibawa pulang.
Danu, Mama dan Papa nya sedang menikmati makan malam bersama. Sedangkan Soraya dan baby AL sedang tertidur lelap.
"Dan, apa kamu tidak mau kembali ke mainson kita yang di ibu kota? Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, jadi izinkan Papa untuk pensiun. Papa sudah tua, Papa hanya ingin bersama dengan cucu Papa dirumah. Sedangkan WJ CORP kamu yang handle" tanya Papa Wijaya dengan panjang lebar.
Papa Wijaya memang sudah lama menginginkan bisa berada dirumah, tidak selalu disibukkan dengan pekerjaan terus-terusan. Maka nya Papa Wijaya ingin Danu kembali, sedangkan disini sudah diserahkan pada orang kepercayaan nya saja.
"Iya Pa, aku juga sudah berencana untuk kembali. Tapi aku harus bicara dulu dengan Soraya, aku belum jujur siapa aku sebenar nya. Jadi aku meminta waktu pada Papa" jawab Danu sambil menatap wajah Papanya yang sudah sangat tua.
"Papa Izinkan, tapi jangan terlalu lama. Papa sudah lelah Dan, jadi secepat nya kamu bicarakan dengan Soraya" ucap Papa Wijaya dengan serius.
Danu hanya mengangguk setuju. Dia tidak mungkin menolak dan mengulur waktu lagi. Karena dia sudah menemukan wanita yang sangat baik juga sudah memberikan nya keturunan. Jadi tidak ada alasan lagi untuk dia tetap tinggal disini.
.
Sedangkan ditempat lain saat ini Rina memang sudah menjadi sadgirl, dimana pun dia berada akan terlihat murung dan tidak pernah ceria kembali semenjak seseorang yang membuat nya menjadi gelisah dan juga selalu membayangi hidup nya sudah memiliki keluarga.
__ADS_1
"Rin, gue perhatikan loe sering banget melamun? Ada masalah?" tanya teman kerja nya, sebut saja nama nya Risma.
"Sotoy loe" ucap Rina cuek tidak menanggapi.
"Gue bukan nya sotoy Rin, gue seeing banget liat loe diem sendiri kayak sekarang. Gue kayak kagak kenal loe tau" ucap Risma yang memang sering memperhatikan Rina.
"Bukan urusan loe kan. Lagian siapa loe nanya-nanya urusan pribadi gue?" tanya Rina dengan telak pada wanita yang suka kepo pada nya.
"Gue nanya baik-baik ya sama loe. Kenapa loe nyolot!" ucap Risma tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Rina.
"Whatever" jawab Rina sambil berlalu pergi dari cewek tukang gosip.
"Sia*an tuh cewek! Awas saja nanti, gue bikin perhitungan" ucap Risma dengan kesal.
Sedangkan disebrang sana ada Siva dan Sinta yang masih bekerja dipabrik, mereka berdua memang masih berteman seperti waktu masih bertiga. Karena yang selalu menyokong mereka sudah keluar, mereka berdua tidak pernah membuat masalah.
Apa lagi mereka memiliki pengawas yang sangat kejam dan juga tidak bisa diajak bernegosiasi sedikit pun juga. Jadi mau tidak mau mereka berdua tidak pernah membuat masalah lagi dengan para kariawan lain.
"Eh Siv, gue ngerasa si Rina memang sedang ada masalah deh. Loe lihat saja kan beberapa bulan terakhir dia selalu murung dan tidak pernah ngajak ribut kita. Iya ngga sih?" tanya Sinta.
"Iya juga ya. Semenjak kita nggak deket lagi sama Silvia hidup kita kayak jungkir balik. Mulai selalu berhemat supaya gaji bisa sampai satu bulan" ucap Sinta mengeluhkan tidak dekat dengan Silvia lagi.
"Kalo gue malah seneng bisa jauh. Gue bisa jadi diri gue sendiri, nggak harus menjadi bod*h dihadapan nya" jawab Siva yang memang sudah tidak suka dengan Silvia.
"Itu sih loe. Kalo gue kan seneng bisa minta apa saja yang gue mau tanpa susah payah" ucap Sinta lagi.
"Maka nya loe dijadikan sebagai kacu*g nya dia doang. Kalo gue sih ogah" jawab Siva kembali.
Mereka berdua akhirnya berdebat. Karena mereka tidak sependapat. Mereka memang contoh teman yang menerima ada apa nya.
.
Sore hari saat semua kariawan pabrik sudah pulang semua nya, Rina juga sedang berjalan menuju kampus nya, karena dia tidak mau harus bolak balik.
__ADS_1
Dia sengaja sudah membawa perlengkapan nya, hari ini dia hanya akan menemui dosen pembimbing nya untuk mengurus masalah skripsi nya.
Dan disinilah dia berada, dia baru saja sampai didepan ruangan dosen killer yang akan menjadi pembimbing nya.
"Permisi Pak" ucap Rina saat memasuki ruangan dosen nya.
"Duduk" titah dosen killer saat Rina sudah memasuki ruangan nya.
"Terimakasih Pak" jawab Rina langsung duduk bersebrangan dengan dosen nya.
Setelah duduk Rina mengerjakan semua yang ditugaskan untuk nya, sesekali dia bertanya pada dosen nya.
Setelah mengerjakan semuanya Rina langsung pulang. Karena waktu sudah lumayan larut, Rina berjalan menuju keluar dari gerbang kampus nya.
Tin...
Cekiiiitttt!
Hampir saja Rina tertabrak jika yang mengendarai mobilnya tidak segera menginjak pedal rem tepat waktu.
"Hei! Kalo jalan itu lihat-lihat, jangan asal nyebrang saja! Sudah bosan hidup apa." ucap pengemudi mobil tersebut pada Rina.
Sedangkan Rina yang masih syok hanya diam mematung sambil tangan nya menutup kedua telinga nya. Tak berapa lama ada seseorang yang datang dan langsung memeluk nya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya orang itu. Lalu tiba-tiba Rina pingsan dipelukan seseorang yang menolong nya.
"Hei bangun, Yah malah pingasan" ucap nya lalu membawanya menuju kedalam mobil nya yang terparkir tidak jauh.
"Kenapa kamu pucat sekali? Apa yang sebenar nya terjadi?" tanya seseorang itu yang ternyata adalah Rudi.
Rudi baru saja bertemu dengan klien nya yang kebetulan berada didekat kampus Rina. Dan saat dia akan pulang dia melihat Rina yang akan menyebrang tidak melihat-lihat dan hampir saja tertabrak.
Dan sekarang dia membawa Rina kerumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan. Walau tidak terluka tetap harus diperiksa, mungkin dia merasa trauma.
__ADS_1
Tidak lama kemudian dokter datang memeriksa Rina dan dia tidak kenapa-kenapa, cuman syok saja. Dan jika sudah sadar bisa langsung pulang.
Rudi sudah merasa lega, dia tidak cemas lagi seperti tadi. Tadi saat melihat Rina hampir tertabrak mobil jantung Rudi hampir saja mau copot. Jika jantung nya buatan Cina atau Jepang memang akan copot. Untung saja ciptaan Tuhan jadi tidak kenapa-kenapa.