
Rina membawa Rudi ke rumah sakit terdekat dengan dibantu oleh polisi yang datang untuk menolong Rina. Rina langsung menghubungi Ayah dan Ibunya Rudi untuk memberi tahu jika Rudi sekarang berada dirumah sakit.
Dan tanpa menunggu lama. Ayah dan juga Ibu datang dengan sangat tergesa-gesa menghampiri Rina yang sedang duduk menunggu Rudi yang sedang dalam pemeriksaan.
"Nak, bagaimana keadaan Rudi saat ini? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Ibu saat sudah berada disamping Rina.
"Ceritanya begini Bu" ucap Rina yang menjelaskan apa yang terjadi pada mereka berdua dan juga ada preman yang datang menyerang mereka berdua.
"Ya Allah. Apa kamu baik-baik saja nak? Dan Rudi, Rudi juga tidak apa-apa kan?" tanya Ibu pada Rina dengan mata yang sudah berkaca-kaca mendengarkan cerita Rina.
"Alhamdulilah, seperti yang Ibu lihat. Jika Rina tidak apa-apa. Untuk Mas Rudi, Rina belum tahu, karena dokter nya baru saja masuk untuk memeriksa keadaan Mas Rudi" jawab Rina dengan mata yang berkaca-kaca juga.
Dia sangat mengkhawatirkan Rudi yang berada didalam sana. Dia takut ada sesuatu yang tidak diinginkan pada Rudi. Rina berdo'a untuk kesembuhan Rudi, dia tidak ingin jika Rudi kenapa-kenapa karena ingin menolongnya.
Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan UGD dan meminta keluarga Rudi untuk datang keruangan nya yang tidak jauh dari tempatnya berada.
"Permisi, keluarga pasien apa ada?" tanya dokter yang sudah memeriksa Rudi.
"Kami dok. Apa keadaan nya baik-baik? tidak ada yang perlu dikhawatirkan kan dok?" tanya Rina dengan sangat berharap.
Karena dia takut jika dia mendengar kabar yang tidak dia inginkan. Seperti Rudi mengalami koma atau cidera parah atau fikiran-fikiran yang lainnya yang bersarang didalam kepalanya.
"Kondisi pasien baik-baik saja. Untuk lebih jelasnya anda ikut keruangan saya supaya melihat hasil yang lengkap" jawab dokter muda tersebut pada Rina yang sudah terlihat sangat panik dan juga khawatir.
"Baik dok, saya dan keluarga saya ingin mendengarkan penjelasan dari dokter tentang Mas Rudi" ucap Rina yang diangguki oleh kedua orang tua Rudi.
"Baiklah kalian boleh ikut dengan saya" ucap dokter muda tersebut pada Rina dan juga kedua orang tuanya untuk mengikutinya.
Rina dan juga kedua orang tua Rudi menuju ruangan dokter yang tidak jauh dari ruangan UGD tadi. Dengan jalan yang tergesa-gesa Rina dan kedua orang tua Rudi sudah sampai didalam ruangan dokter dan mereka sudah siap mendengarkan penjelasan dari dokter.
"Begini Pak, Bu dan Nona. Kami sudah memeriksanya secara keseluruhan, dan kondisinya baik-baik saja. Cuman karena pukulan benda tumpul mengenai punggung bagian atas jadi tidak berakibat apa-apa" jelas dokter pada ketiga orang yang ada dihadapan nya saat ini.
__ADS_1
"Lalu jika tidak apa-apa kenapa belum sadar juga dok?" tanya Rina yang sudah sangat gemas karena dokter menjelaskan nya terlalu berbelit-belit menurut Rina yang mendengarnya.
"Pasien sudah sadar sejak tadi. Tapi kami berikan obat dulu supaya bisa memulihkan dan juga merakadakan rasa sakitnya" jawab dokter tersebut pada Rina.
"Syukurlah. Apa kami sudah bisa menemuinya?" tanya Ibu pada dokter tersebut.
"Sudah Bu, nanti setelah sadar bisa langsung dibawa pulang. Karena kondisinya sudah pulih" jawab dokternya dengan tersenyum pada ketiganya.
"Terimakasih dok. Kami permisi" ucap Ibu yang berpamitan pada dokter yang memeriksa Rudi dan juga mengajak Rina dan Ayah untuk keluar dari ruangan dokter muda itu.
Saat sudah sampai didepan ruangan UGD, ketiganya langsung masuk untuk melihat keadaan Rudi saat ini. Ternyata benar yang dikatakan dokter tadi, jika Rudi sudah sadarkan diri dan sekarang dia sedang menunggu Rina untuk menanyakan keadaan nya juga.
"Apa kamu baik-baik saja nak? Ibu sangat khawatir pada kamu. Saat mendengar kabar jika kamu masih rumah sakit" ucap Ibu yang langsung memeluk Rudi yang hanya diam saja menatap Rina.
"Sekarang kamu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter nya tadi. Ayo kita langsung pulang saja" ucap Ibu yang langsung memapah Rudi dibantu oleh Rina juga Ayah nya.
"Kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Rudi pada Rina yang sejak tadi hanya diam.
"Tali kenapa diam saja? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kakak?" tanya Rudi lagi sambil berjalan dibantu oleh Rina juga Ibunya.
"Aku hanya sedang kesal dan juga emosi saja. Jadi Mas jangan mementingkan aku seperti ini" jawab Rina dengan suara yang benar-benar menahan marah.
"Sudah nak, jangan difikirkan. Kalian berdua harus istilahat dan juga jangan kemana-mana dulu. Apa lagi besok pagi adalah pernikahan kalian berdua. Ibu tidak mau jika kalian mengalami hal seperti ini lagi, biar semuanya Ibu suruh orang yang melakukan. Kalian berdua hanya harus duduk dan diam saja" ucap Ibu memberikan perintah nya yang sangat mutlak pada kedua calon pengantin.
"Iya Bu. Rina juga merasa sakit semua badan nya, jadi seharian ini Rina ingin tiduran saja" jawab Rina dengan sangat lesu menjawab ucapan calon Ibu mertuanya.
"Itu lebih baik dari pada kalian keluar malah kejadian yang tidak diinginkan" ucap Ibu lagi saat mereka semua sudah sampai didepan mobil.
"Ayah saja yang bawa mobilnya nak. Kamu temani Rudi saja dibelakang, Insya Allah Ayah masih kuat jika hanya menyetir saja" ucap Ayah yang langsung masuk kedalam mobil dan duduk dibalik kemudi.
"Ayah yakin tidak apa-apa?" tanya Rina yang melihat calon Ayah mertuanya sudah duduk didalam mobil.
__ADS_1
"Iya Ayah bisa" jawab Ayah sambil menyalakan mesin mobil dan langsung mengemudikan nya menuju hotel yang memang tidak jauh dari situ.
Dan ternyata para sahabat Rina sudah menunggu, karena mereka diberitahu oleh Ibunya Rudi saat akan kerumah sakit. Saat mereka melihat mobil yang dikendarai oleh Ayah nya Rudi sudah memasuki lobby mereka semua langsung menyambut Rina yang sedang memapah Rudi.
"Loe nggak apa-apa kan Rin?" tanya Siva yang ternyata sudah ada disitu bersama Sinta dan juga Eric. Jangan lupakan dua bumil dan juga para suaminya.
"Gue baik-baik saja. Cuman lakik gue saja nih yang kena pukul" jawab Rina yang sedang memapah Rudi menuju kamarnya.
"Gue antar lakik gue dulu ya. Nanti kita ngobrol sepuasnya" ucap Rina saat akan memasuki lift menuju kamar Rudi.
"Kamu terlihat ceria saat ini. Tidak seperti tadi yang hanya diam saja dan terkesan dingin pada ku" ucap Rudi saat didalam lift.
"Kamu nyebelin sih Mas. Pake nyuruh aku jangan keluar segala! Jadi gini kan akibatnya!" jawab Rina dengan bersungut-sungut menjawab ucapan Rudi.
"Iya, aku salah Sangka aku juga minta maaf. Aku hanya takut jika kamu keluar juga, kamu yang akan terluka. Jadi aku meminta kamu jangan keluar. I'm so sorry baby" ucap Rudi yang menangkup wajah Rina yang masih kesal dan juga marah padanya.
"Oke, untuk kali ini memang harus aku maafkan. Tapi tidak untuk lain kali!" jawab Rina dengan tatapan yang tajam pada Rudi.
"Iya baby I'm promise" jawab Rudi yang langsung memeluk Rina dan juga menciumi kepalanya dengan penuh sayang.
"Ya sudah jangan kelamaan. Ini didalam lift dan tuh kan, pintunya sudah terbuka" ucap Rina yang langsung melepaskan pelukan Rudi yang sedang sangat bahagia bisa memiliki Rina didalam hidupnya.
"Sekarang Mas istilahat saja. Aku mau menemui mereka semua, jangan menggagu ku dengan alasan ingin mengenal mereka juga" ucap Rina yang melihat Rudi ingin mengucapkan sesuatu padanya tapi dipotong lebih dulu oleh Rina.
"Baiklah, besok kamu tidak akan bisa kemana-mana. Hanya akan selalu bersama dengan ku, jadi sekarang kamu boleh bersenang-senang dengan sahabat-sahabat kamu" ucap Rudi yang mencubit gemas hidung mungil Rina.
"Oke. Aku pergi dulu. Bye" ucap Rina yang langsung pergi tanpa masuk kedalam kamar Rudi.
Rina langsung memasuki lift lagi untuk bisa menemui para sahabatnya yang sedang menunggunya dilantai paling bawah untuk memberitahukan kejadian yang tadi menimpa mereka berdua.
Rina juga sangat bersemangat bisa bertemu dengan Sinta dan juga Siva yang sudah sangat lama tidak dia temui. Semenjak Rina akan menikah dan juga resign dari pabrik tempat mereka bertiga bekerja.
__ADS_1