
Sofia diam-diam memang sudah mengikuti Rudi. Dia tahu jika Rudi menyukai gadis yang lumayan cantik walau dari kalangan bawah. Dia harus bisa menjauhkan nya dari Rudi, supaya dia bisa memilikinya kembali.
Dan disinilah dia berada, sedang menunggu kedatangan seseorang yang dia ajak bertemu. Siapa lagi jika bukan Rina, mereka berdua ketemuan disebuah cafe yang biasa mereka singgahi.
"Maaf saya datang terlambat" ucap Rina yang baru datang.
"It's okay. Duduk lah" jawab Sofia dengan angkuh nya.
Apa lagi tatapan nya yang sangat membuat Rina menjadi risih, wanita itu seakan memandangnya dengan pandangan yang merendahkan dan juga seperti menahan jijik.
"Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" tanya Rina to the point. Dia tidak nyaman harus berlama-lama dengan wanita yang dia anggap sebagai istrinya Rudi.
"Apa benar kamu wanita yang disukai oleh Rudi?" Sofia balik bertanya pada Rina.
"Saya tidak tahu. Kenapa anda bertanya pada saya? Bukankah anda itu istrinya" jawab Rina dengan nada datarnya. Padahal dalam hati dia menangis.
"Jadi kamu beranggapan bahwa aku ini istrinya? Wah Wah Wah, kamu sudah tahu banyak rupanya. Oke, aku tidak mau berbelit-belit bicara sama kamu! Wanita yang tidak selevel dengan ku. Kamu jauhi Rudi, aku tidak mau jika aku melihat kamu berdekatan dengan nya lagi. Jika masih nekad juga, aku akan memberimu pelajaran yang tidak pernah kamu bayangkan. Camkan itu baik-baik!" ucap Sofia penuh dengan ancaman yang sama sekali tidak membuat Rina takut.
"Silahkan saja anda mengancam saya. Lagi pula, saya tidak pernah bertemu dengan nya apa lagi dekat dengan nya. Anda benar-benar tidak bisa membedakan yang mana dekat dan yang tidak" jawab Rina tidak takut sama sekali. Bahkan dia malah menantang nya.
"Kamu menantang ku rupanya. Oke, aku akan membuat hidup mu semakin menderita dan, kamu akan dikeluarkan dari kampus kamu dan dari pabrik tempat kamu bekerja sekarang" ancaman Sofia benar-benar seperti nyata akan terjadi.
"Oh ya? Ow takut. Hahaha, anda mengancam saya dengan trik murahan seperti itu, wah. Anda berbakat sekali Nona" ucap Rina malah tertawa mendengar ancaman dari Sofia.
"Kenapa kamu malah tertawa? Aku tidak main-main dengan ucapan ku! Karena aku adalah keponakan dari pemilik kampus tempat mu kuliah. Dan, dan pabrik tempat mu bekerja adalah kenalan ku" ucap Sofia masih dengan nada angkuh dan penuh ancaman nya. Tapi dikalimat terakhirnya dia seperti ragu.
'Bagaimana jadinya jika dia tahu kalau yang punya pabrik adalah suami dari sahabat gue. Apa dia akan serangan jantung ya? hihihi' ucap Rina dalam hati.
Dia benar-benar suka dengan ancaman seperti ini, yang seperti didalam tokoh-tokoh novel atau film. Yang mana sosok wanitanya akan menurut karena takut ancaman dari wanita pemeran antagonis tersebut.
__ADS_1
"Saya tertawa karena merasa lucu saja dengan yang anda ucapkan. Pertama saya memang sebentar lagi akan lulus, tinggal nunggu waktu saja. Yang kedua saya sendiri memang ingin keluar dari pabrik itu, tapi tidak bisa. Karena terikat kontrak. Jika anda bisa mengeluarkan saya, saya malah merasa bersyukur akan hal itu" ucap Rina masih menahan tawa nya dan menampak kan wajah lugu dan polos nya.
"Apa maksud mu sebenar nya? Jika kamu tidak mau menjauhi Rudi maka aku akan berbuat keker*san pada mu. Camkan itu!" Sofia bertanya dan juga mengancam Rina lagi lalu dia meminum minuman nya dengan sangat marah juga kesal.
"Maksud saya sudah jelas Nona, saya tidak takut dengan ancaman yang anda berikan. Karena saya tidak takut pada anda. Dan satu lagi. Saya tidak pernah dekat dengan nya atau menjalin hubungan dengan nya. Jadi urus saja dia jangan ikut campur urusan pribadi saya. Hingga anda repot-repot mengancam saya" ucap Rina sambil mengambil tasnya dan pergi dari cafe tersebut meninggalkan Sofia yang sedang marah dan kesal.
"Ternyata dia tidak bisa dirimehkan. Baiklah jika itu mau mu, aku akan membuat mu menyesal telah menantang ku" gumam Sofia sambil menyeringai licik.
Entah apa yang dia rencanakan pada Rina. Yang jelas Rina harus selalu hati-hati dan waspada akan wanita ular ini. Dia bahkan lebih licik dan juga kejam dari Silvia. Dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan, termasuk membuat Rina tidak berdaya sekali pun.
"Aku akan membuat mu bertekuk lutut dihadapan ku Rina. Lihat saja, kamu akan menyesal untuk selamanya karena telah melawan ku" gumam nya lagi dengan seringai liciknya.
.
Sedangkan Rina malah menuju ketaman kota yang biasa dia singgahi bersama dengan Eric. Tapi sekarang Eric sedang pergi bersama Ibunya. Jadi sekarang dia tidak punya teman untuk berbagi keluh kesah nya.
"hup, huh" Rina menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan nya dengan pelan.
"Kenapa harus merasakan patah hati disaat cinta itu belum berkembang sama sekali? Apa memang nasib gue nggak pernah bisa mujur jika berhadapan dengan perasaan dan cinta? Kenapa bisa sesakit ini, ini bahkan lebih sakit dari sebelum nya" gumam Rina sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa hidup gue sangat mengenaskan sekali? Dulu ditinggal pergi tanpa kata dan dia memutusakan untuk bertunangan dengan yang lain. Sekarang gue sudah bisa move on malah lebih mengenaskan. Secara cowok yang gue suka malah sudah beristri. Huh, lengkap sudah penderitaan yang gue rasakan" ucap Rina dengan pandangan yang kabur karena air matanya yang mengalir deras.
Rina sedang meratapi kemalangan yang dia rasakan. Dimana dia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan nya sendiri. Saat sedang meratapi nasibnya tiba-tiba ponsel nya berdering.
"Halo, ini siapa?" jawab Rina tanpa melihat siapa lenelpon nya.
"Halo, Assalamualaikum Rin. Ini aku Lulu" jawab Lulu disebrang sana.
"Eh loe Lu. Wa'alaikum salam, ada apa? Tumben banget nelpon gue, baru inget loe punya sahabat?" tanya Rina dengan sengit nya pada Lulu.
__ADS_1
"Maaf Rin, bukan aku bermaksud untuk membuat kamu marah. Tapi aku juga sangat sibuk dengan kuliah dan suami aku Rin. Maaf banget ya Rin, bukan aku mau lupain kamu. Sungguh" ucap Lulu menjelaskan semuanya pada Rina.
Lulu tahu jika Rina pasti kecewa padanya. Tapi memang dia tidak ada waktu untuk telpon dengan Rina atau Soraya. Jika weekend dia akan dikurung dikamar oleh suaminya. Jadi mana ada waktu untuk itu.
"Iya Iya, yang sudah married. Ngomong-ngomong, ada angin apa loe nelpon gue?" tanya Rina lagi.
"Aku mau ngasih kabar kalo kamu sebentar lagi akan menjadi auntie lagi Rin" jawab Lulu dengan senyuman mengembang dibibir nya.
"Maksud loe? gue kagak ngerti" tanya Rina yang memang otak nya belum konek.
"Rina.... Aku, H A M I L" ucap Lulu meng eja kata hamilnya.
"Apa! Serius loe!" ucap Rina sambil berteriak dengan sangat kencang.Hingga beberapa orang menatap kearah nya.
Sedangkan Lulu disebrang sana menjauhkan ponsel nya dari telinga karena sangat keras sekali Rina berteriak hingga telinganya berdengung.
"Biasa saja kali Rin, tidak usah berteriak juga. Aku kan nggak budek" ucap Lulu menggerutu disebrang sana.
"Sorry, sorry Lu. Gue kaget saja dengernya, ngomong-ngomong sudah berapa bulan?" tanya Rina
"Baru menginjak 10 minggu Rin. Do'ain ya supaya dia sehat" ucap Lulu dengan sangat bahagia menyampaikan kabar gembira ini.
"Iya pasti dong, masa gue nggak do'ain loe. Selamat ya Lu. Semoga lancar sampe persalinan nanti. Amiin" ucap Rina dengan tulus.
"Amiin, makasih yah Rin. Semoga kamu juga segera mendapatkan jodoh yang baik dan juga sayang dan setia sama kamu" ucap Lulu mendo'akan Rina juga.
"Amiin. Semoga" jawab Rina dengan lesu dan tanpa terasa air matanya mengalir jika ada yang membahas masalah jodoh dan pernikahan.
"Ya sudah ya Rin. Aku tutup dulu telpon nya, nanti kapan-kapan aku sambung lagi. Dah Rina... Assalamualaikum" ucap Lulu. Lalu mematikan panggilan nya sebelum Rina menjawab salam dari nya.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam" ucap Rina semakin menangis terisak sendirian dibangku taman yang lumayan ramai orang.
Rina benar-benar merasa sendiri dan tidak punya siapa-siapa. Dia benar-benar sangat rapuh dan juga tidak berdaya. Dia beranjak dari duduknya untuk segera pulang, karena hari sudah semakin gelap. Dia tidak mau jika sampai kosan malam hari.