Suamiku Ternyata Orang Kaya

Suamiku Ternyata Orang Kaya
Syndrome kehamilan simpatik yang parah


__ADS_3

Akhirnya Danu dirawat dirumah sakit tersebut. Karena kondisi nya yang sangat lemah juga tidak masuk makanan atau minuman sedikit pun. Setiap yang masuk kedalam perutnya akan dikeluarkan kembali.


Apa lagi jika ada makanan-makanan tertentu yang membuatnya merasa mual dan muntah. Bahkan makanan yang selalu dia makan pun tidak mau.


Jadi mau tidak mau Danu harus dirawat supaya tubuhnya mendapatkan cairan dari air infus yang menempel dipunggung tangan kirinya.


"Mas, Mas mau makan atau minum apa gitu. Supaya Mas ada tenaga" tawar Soraya yang sangat prihatin melihat kondisi fisik suaminya yang sangat lemah.


"Aku tidak menginginkan apapun sayang. Aku hanya mau kamu peluk saja seperti ini" jawab Danu sambil memeluk tubuh istrinya yang berbaring disampingnya.


"Ya sudah iya tidak apa-apa. Tapi nanti harus makan ya, jangan dibiarkan seperti ini" ucap Soraya membalas pelukan Danu dengan membiarkan Danu menelusupkan wajahnya diceruk leher Soraya.


Danu malah terlelap dalam pelukan Soraya yang membuatnya tenang dan nyaman.


"Dasar anak manja, mau nya dipeluk terus" gerutu Mama Rena saat baru masuk ruangan rawat Danu sudah disuguhkan dengan adegan romantis putra dan menantunya.


"Sayang, apa kamu tidak menginginkan sesuatu? Kamu sejak tadi belum makan apa-apa karena sibuk ngurusin bayi besar terus" tanya Mama Rena yang melihat Soraya ingin beranjak dari tiduran nya.


"Ini aku baru mau makan Ma, soalnya tadi Mas Danu habis muntah-muntah lagi. Jadi aku bantuin dulu dan akhirnya Mas Danu malah minta tidur dulu. Jadinya aku lupa" jawab Soraya sambil tersenyum malu.


"Ya sudah kamu makan dulu gih. Biar Mama yang jagain bayi besar kamu dulu" titah Mama Rena sambil menyerahkan rantang makanan pada Soraya.


"Terimakasih, Ma" jawab Soraya langsung menerima rantang dari Mama Rena.


"Oh iya, kamu nggak apa-apa kan jika makan nya disana. Supaya Danu tidak mencium aroma makanan yang akan kamu makan. Nanti bisa-bisa kamu tidak jadi makan karena Danu muntah-muntah lagi" jelas Mama Rena memberi tau pada Soraya supaya makan nya agak jauh dari Danu.


Untung saja ruangan rawat Danu yang VIP jadi ada sekat untuk kamar dan juga ruang untuk menerima tamu. Jadi Soraya tidak harus keluar ruangan jika ingin makan atau minum. Jika tidak pasti Soraya akan kelelahan karena sering bolak balik.


Ternyata Danu merasa disebelahnya telah kosong. Dia mencari keberadaan istrinya yang tidak ada disamping nya. Danu mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan rawat nya.


Disana sedang duduk mama Rena yang sedang membaca majalah yang ada dimeja tidak jauh dari ranjang pasien.


"Kenapa? Soraya sedang makan dulu. Karena mengurusi mu dia jadi lupa untuk mengisi perutnya. Apa kamu tidak kasihan padanya, dia sedang mengandung calon anak kamu. Kenapa kamu malah membuatnya menjadi susah" ucap Mama Rena memarahi Danu yang bersikap sangat manja semenjak Soraya dinyatakan hamil.


"Maaf Ma, aku juga tidak tau jika Soraya belum makan. Aku juga tidak tau, kenapa setiap berdekatan dengan nya rasa mual dan pusing aku menghilang Ma" jawab Danu sambil menundukan wajahnya.


Tiba-tiba ada gejolak didalam perutnya ingin segera dimuntahkan. Danu berlari sambil memegangi selang infus nya. Dan...


Hoek...

__ADS_1


Hoek...


Hoek...


Danu tidak memuntahkan apa-apa. Karena memang didalam perutnya tidak diisi oleh apa pun, jadi apa yang harus dia keluarkan. Danu benar-benar merasa sangat lemas tidak bertenaga dan...


Bruk!!


Danu pingsan kembali, Mama Rena yang melihat Danu tergeletak dilantai kamar mandi dengan sudah tidak sadarkan diri.


"Danu....!" teriak Mama Rena.


Membuat Soraya yang sedang makan spontan berlari menuju Mama Rena yang berada didalam kamar mandi.


"Ma, apa yang... " tidak sempat melanjutkan pertanyaan nya pada Mama Rena Soraya sudah menjerit juga.


"Mas Danu.... !" teriak Soraya juga melihat suaminya sudah tidak sadarkan diri.


"Sora, Sora. Cepat panggilkan dokter, sekarang!" ucap Mama Rena sambil berteriak pada Soraya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Soraya langsung berlari untuk memanggil dokter. Ternyata diluar ruangan rawat Danu, Papa Wijaya dan mang Asep sedang berjalan menuju kearah ruangan rawat Danu.


Papa Wijaya yang melihat Soraya menangis dan juga panik langsung menghampiri Soraya dan bertanya "Kamu kenapa nak, apa yang terjadi?".


"Apa! Sekarang kita tolong Danu" ucap Papa Wijaya sambil melangkah menuju ruangan rawat Danu.


Mang Asep berlari untuk memanggil dokter. Karena panik mereka tidak ingat jika diatas ranjang pasien ada tombol untuk memanggil perawat atau dokter.


Papa Wijaya langsung menolong Danu dan menggendong tubuh Danu menuju ranjang pasien nya. Lalu tidak lama kemudian dokter dan beberapa perawat datang untuk memeriksa keadaan Danu.


"Apa yang terjadi dengan pasien?" tanya dokter yang akan memeriksa Danu.


"Dia baru saja jatuh dikamar mandi dok" jawab Mama Rena sambil terisak dipelukan Papa Wijaya.


"Kenapa dibiarkan sendiri dalam kondisi yang sangat lemah seperti ini?" tanya dokter itu lagi.


"Untung saja kepalanya tidak terbentur, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan" ujarnya lagi.


"Alhamdulilah Ya Allah" ucap Soraya yang mendengar jika Danu tidak kenapa-kenapa.

__ADS_1


Soraya menghampiri Danu yang sudah mengerjapkan matanya. Dokter juga sudah memeriksa kondisi Danu.


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak, jika anda ingin muntah lebih baik sediakan wadah saja. Kami akan menyiapkan nya untuk anda" jelas dokter pada Danu.


Danu hanya mengangguk kan kepalanya saja, dia tidak bisa banyak berbicara karena kondisinya lebih lemah dari sebelumnya.


"Apa ada yang salah nak?" tanya Mama Rena yang masih meneteskan air matanya.


"Aku baik-baik saja Ma" jawab Danu dengan suara yang sangat lemah.


"Hei, kenapa menangis? Aku baik-baik saja, don't cry" ucap Danu menenangkan istrinya yang sedang menangis pilu masuk kedalam pelukannya.


Soraya masih terisak dipelukan Danu. Tangisan nya sangat menyayat hati bagi yang mendengar nya.


"Maafkan Mama nak, tadi Mama membentak kamu. Mama tadi sangat panik" ucap Mama Rena sambil mengusap punggung Soraya yang sedang bergetar karena menangis.


Tangis Soraya semakin pecah dalam pelukan Danu. Danu mengusap kepala Soraya dan menciumi kepalanya.


Setelah hampir setengah jam Soraya sudah tidak menangis lagi dan ternyata Soraya sudah tertidur lelap dialam pelukan Danu. Walau sudah tertidur tapi dia masih sesegukan, saking lamanya menangis.


"Ternyata dia tertidur" ucap Mama Rena sambil membenarkan posisi Soraya supaya lebih nyaman tidurnya.


"Biarkan seperti ini Ma, aku jadi tidak merasa mual dan juga pusing" ucap Danu saat Mama Rena ingin menjauhkan Soraya dari Danu.


"Baiklah. Sekarang kamu harus makan dan minum obat dulu. Bukankah kamu sudah tidak mual lagi?" tanya Mama Rena mengambil makanan yang ada diatas nakas.


Mama Rena menyuapi Danu dengan makanan yang sudah diberikan pihak rumah sakit. Danu makan dengan lahap bahkan seperti orang yang kesurupan. Makan dengan sangat rakus seperti orang yang kelaparan. Tapi memang dia kelaparan kan? Sejak pagi belum makan apapun.


"Aku sudah kenyang Ma" ucap Danu yang sedang menghabiskan makanan yang tadi dibawa oleh Mama Rena.


"Ini bukan kenyang lagi. Yang ada kamu memang sudah menghabiskan makanan sebanyak ini" gerutu Mama Rena yang melihat bekas makan putranya yang sedang kelaparan.


Danu hanya nyengir kuda, dia juga merasa tenaganya sudah pulih kembali. Jika begini Danu haus selalu berada didekat Soraya, jika tidak Danu akan muntah-muntah lagi dengan sangat parah.


"Untuk sementara kamu memang harus selalu menempel pada Soraya, supaya kamu tidak merasa mual kembali dan bahkan muntah-muntah" ucap Papa Wijaya dengan tatapan datarnya.


"Maksud Papa aku harus selalu berada didekat Soraya terus supaya tidak mual dan muntah?" tanya Danu memastikan jika pendengaran nya tidak salah.


"Iya, karena jika tidak maka kamu bersiaplah untuk muntah-muntah lagi hingga kamu tidak sadarkan diri lagi" jelas Papa Wijaya dengan serius.

__ADS_1


"Iya Pa, aku akan selalu menempeli Soraya setiap harinya" jawab Danu sambil tersenyum.


Danu merasa dengan seperti ini Soraya tidak akan jauh-jauh dari nya. Mungkin jika ingin kekamar mandi pun istrinya harus selalu ikut.


__ADS_2