
Sofia sangat senang bisa tinggal dengan Devon. Walau dia terkesan tidak menerima, setelah mendapatkan serfis yang muaskan pasti akan menerima nya dengan senang hati. Begitulah fikir Sofia yang memang hanya ahli dalam hal seperti itu.
"Aku tidak akan repot-repot hanya untuk membuat Rudi bisa menerima ku, karena aku sudah bisa masuk kedalam hidup Devon yang lebih sempurna dan lebih segala nya dibandingkan dengan dia" gumam Sofia.
"Tapi, apa aku akan membiarkan wanita kampungan itu tetap disini? Atau mungkin aku depak saja kali ya? Mungkin akan lebih seru" ucap nya dengan seringai liciknya.
.
Sedangkan didalam ruang kerja, Devon benar-benar sangat frustasi dengan keadaan yang dia hadapi saat ini. Apa lagi sekarang Lulu mendiamkan nya, dia lebih baik kita dia dimaki atau mungkin dipu*uli itu jauh lebih baik. Dibandingkan didiamkan seperti ini.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar sangat menyesal, kenapa disaat aku sudah benar-benar berubah dan bisa memiliki wanita yang baik dan juga menerima ku apa adanya malah datang orang dimasalalu mengacaukan nya? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa membuat istriku percaya dan bisa seperti sedia kala kembali, ceria dan suka merengek untuk diajak keluar atau yang lain nya. Sungguh aku tidak mau seperti ini" ucap Devon sambil menangkup kedua wajah nya dengan kedua tangan nya.
Devon benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Apa mungkin Lulu menerima nya dengan senang hati seperti sebelum nya.
.
Sedangkan didalam kamar utama Lulu sedang membereskan baju-baju nya yang seperlunya saja. Dia akan pergi dan tidak membawa apa pun selain pakaian saja. Itu pun hanya beberapa yang ia bawa.
"Sayang, kamu kuat ya. Mama akan menjaga kamu sekuat tenaga Mama, Mama tidak mau jika Mama berlama-lama berada disini. Mama hanya ingin fikiran Mama waras saja, jadi maafkan Mama yang akan menjauhkan kamu dari Papa kamu. Mama tidak sanggup sayang, lebih baik kita pergi. Kamu anak baik sayang, tolong dukung Mama ya nak" ucap Lulu dan sekarang dia meneteskan air matanya sambil mengusap perut datarnya. Seolah sedang berbicara dengan anak nya.
Lulu langsung menyelinap pergi. Biasanya pintu belakang tidak dikunci dan juga tidak ada penjaga nya. Lulu sengaja meninggalkan semua barang-barang yang mungkin akan bisa Devon lacak dengan mudah.
Lulu hanya membawa uang cash dan perhiasan yang menjadi maharnya. Yang lain nya tidak, karena Lulu fikir itu bukanlah haknya. Awalnya Lulu akan menjual semua perhiasan yang dia punya untuk bisa membeli ponsel dan juga bisa pulang pada Ibunya.
Tapi apakah Ibu mau menerima nya kembali? Karena ini adalah pilihan nya. Lulu juga membawa berkas-berkas penting nya juga buku nikah nya yang akan. dia ajukan pada pengadilan agama secepatnya. Dia ingin segera bisa lepas dari suaminya.
Walau dia masih sangat mencintai nya. Tapi jika dia harus menderita tinggal satu atap dengan wanita masalalu suaminya, itu sangat tidak mungkin. Dia memang yang mengijinkan nya untuk tinggal, karena dia akan pergi.
Lulu tidak bisa mengajukan cerai sekarang. Karena dia sedang hamil, jadi Lulu membiarkan nya dulu. Dia hanya ingin otak nya tetap waras dan juga bisa hidup tenang berdua, bersama anaknya.
"Kita kerumah nenek ya sayang, Mama tidak punya siapa-siapa jika disini" gumam Lulu lalu sudah keluar dari rumah besar itu dan menaiki taxi yang sebelum-sebelum nya sudah dia pesan. Dia sengaja memesan taxi untuk menuju Mall untuk menjual semua perhiasan yang dia punya untuk biaya hidupnya dan juga anaknya.
__ADS_1
Lulu sudah menjual semua perhiasan dan langsung pergi menaiki angkot menuju terminal bus. Dia akan memulai semuanya dari awal lagi, sekarang dia akan kembali pada Ibunya yang entah akan menerimanya atau malah sebaliknya.
.
Sedangkan Rina yang sudah mencoba untuk berdamai dengan keadaan dan dia bisa seperti dulu lagi, ceria dan tidak banyak beban dalam fikiran nya.
"Eh, nomer siapa ini yang masuk?" tanya Rina pada dirinya sendiri.
Rina membukanya dan betapa terkejut nya dia melihat siapa yang mengirimi nya pesan singkat ini.
"Lulu? Apa dia benar-benar sudah pergi dari si Tevlon itu? Bukankah dia sangat mencintai nya. Awas saja kau Tevlon, gue bakalan ngasih pelajaran yang akan membuat loe menyesal seumur hidup loe" ucap Rina dengan sangat menggebu.
Lalu Rina menghubungi Lulu. Dan benar saja, Lulu menceritakan semuanya pada Rina. Karena dia hanya bisa bercerita pada nya, jika pada Ibunya itu tidak mungkin. Mungkin setelah fikiran nya sudah tenang barulah menemui Ibunya.
Sekarang Lulu akan tinggal dengan Rina dulu. Satu kamar bareng, karena hanya Rina satu-satu nya orang yang sangat dia percaya.
Rina setelah mendengarkan penjelasan dari Lulu langsung sangat emosi. Tapi dia harus bisa menahan dan menetralkan nya, dia akan menjemput Lulu malam ini. Dan dia harus mempersiapkan semuanya supaya Lulu bisa nyaman dengan nya.
"Lulu" ucap Rina dan langsung memeluk sahabat nya.
"Rina" ucap Lulu juga membalas pelukan Rina.
"Ya sudah kita pulang ya. Nanti baru bisa ngobrol disana" ucap Rina yang menuntun Lulu untuk duduk diatas motornya.
"Makasih yah Rin. Maaf aku merepotkan kamu" ucap Lulu merasa tidak enak pada Rina, karena sudah mau menjemput nya malam-malam begini.
"Tidak ada kata merepotkan Lu. Kita itu sahabat, jadi dimana sahabat kita membutuhkan kita harus membantunya bukan? Jadi jangan sungkan lagi" jawab Rina sambil tersenyum pada Lulu.
Mereka menempuh perjalanan yang dekat jadi tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai didepan kamar kosan Rina. Rina membawa Lulu segera masuk dan menyembunyikan Lulu untuk beberapa saat atau mungkin waktu. Entahlah sampai kapan.
Yang pasti dia akan selalu ada untuk Lulu. Untungnya Rina mempunyai kasur yang luas untuk mereka gunakan berdua.
__ADS_1
"Bersihkan diri kamu dulu Lu, supaya lebih nyaman untuk tidur" ucap Rina yang sedang menyiapkan air hangat untuk Lulu.
"Makasih yah Rin. Aku pergi mandi dulu" ucap Lulu dan beranjak pergi menuju kamar mandi.
Setelah segar, Lulu ikut berbaring dengan Rina yang sudah tertidur. Itulah Rina, dia akan gampang jika soal tidur. Dia akan langsung terlelap jika kepalaya sudah menyentuh bantal.
"Maafkan Mama ya sayang. Kamu tadi ikut sedih karena Mama, kamu pasti kuat sayang. Kita bangkit bersama ya" gumam Lulu.
Dia juga ikut terlelap bersama dengan Rina. Dia menangis dalam diam dan dia tidak bisa tidur dengan nyenyak seperti biasa nya.
.
Sedangkan Devon sedang panik mencari keberadaan istrinya yang pergi entah kemana. Dia membuka semua lemari dan semuanya masih ada, pakaian juga barang-barang istrinya.
Dan yang membuat Devon semakin khawatir Lulu tidak membawa ponsel nya juga uang dan macam nya yang seharusnya dia bawa.
"Kamu mena sayang? Kenapa meninggalkan aku?" gumam Devon sambil menatap foto nya dan juga Lulu.
"Tuan mungkin Nyonya sudah pergi jauh. Atau mungkin pulang ke kampung halaman nya Tuan" ucap penjaga gerbang yang selalu berjaga didepan.
"Apa mungkin itu terjadi?" tanya Devon kembali dan dijawab dengan anggukan kepala oleh penjaga tersebut.
Devon lalu pergi untuk mencari istrinya. Mungkin yang dikatakan oleh penjaga itu adalah benarnya juga. jika sekarang Lulu sudah ada dirumah orang tua nya.
Tapi jika tidak ada, apa yang akan dia katakan pada Ibu mertuanya jika dia bertanya. Apa mungkin Lulu menceritakan nya atau belum. Jika sudah maka bersiaplah untuk mendapatkan hukuman dari Ibu mertuanya. Mungkin lebih parah nya lagi dia mungkin disuruh untuk bercerai dengan Lulu.
Membayangkan nya saja membuat dia semakin takut. Apa lagi jika menjadi kenyataan, bisa-bisa dia benar-benar menjadi tidak waras karena nya.
Devon benar-benar dilema akan melakukan apa. Devon percaya jika Lulu tidak mungkin pergi jauh darinya. Atau mungkin dia sedang menenangkan fikiran nya saja. Begitulah fikir Devon yang sudah sangat pusing memikirkan semuanya.
Masalah ini saja belum selesai, sekarang datang lagi masalah yang baru dan membuatnya tidak berdaya.
__ADS_1