
Apa yang sebenarnya ingin Mama Rena tanyakan. Devon benar-benar dibuat panas dingin akan pertanyaan yang belum pasti itu.
"Apa yang ingin anda tanyakan Nyonya?" tanya Devon saat sudah duduk disamping Mama Rena.
"Saya hanya mau bertanya kapan kamu melamar putriku ini secara resmi" jawab Mama Rena dengan sangat lembut tapi tidak menghilangkan kesan tegas nya.
"Untuk masalah itu sebaiknya Nyonya tanyakan sendiri pada Lulu, kenapa belum mau menerima saya untuk menjadi pendamping nya" jawab Devon dengan nada dingin dan datarnya.
Seorang Devon bisa juga berwajah datar dan dingin tanpa ekspresi. Tidak seperti biasanya dia jika sedang berdua atau dengan teman dekat dan dia kenal.
"Kenapa jadi Lulu yang ditanyakan? Jika kamu memang serius maka perjuangkan, jangan sampai kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali. Ingat satu hal. Jika kamu sampai membuatnya seperti dimasa lalu mu saya sendiri lah yang akan membuat perhitungan langsung padamu!" ucapan Mama Rena terdengar seperti ancaman telak untuk Devon.
Devon hanya diam dan mendengar kan. Ternyata Mama Rena sudah tahu semuanya tentang masalalu nya dengan wanita yang dulunya juga sangat berarti dan sangat disanyangi oleh putranya Mama Rena. Siapa lagi jika bukan Danu.
"Kenapa diam saja? Jika memang kamu tidak serius akan hal ini, jauhi dia dan menghilang lah seperti buih. Jangan kamu rusak kembali wanita baik-baik hingga menjadi wanita tidak baik" ucap Mama Rena benar-benar membuat Devon mati kutu.
Mama Rena memang belum memberi tahu tentang Devon yang sebenarnya pada Lulu. Karena Mama Rena percaya pada Lulu, dia tidak mungkin melakukan kesalahan fatal yang membuat dirinya dirugikan.
"Maksud tante wanita baik-baik menjadi tidak baik bagaimana tan?" tanya Rina yang penasaran.
"Bukan apa-apa, saya hanya mengingatkan nya. Jangan berbuat seperti itu, coba kamu bayangkan. Jika wanita baik-baik disakiti sedemikian rupa, pasti dia akan menjadi tidak baik bukan atau menjadi nekad melakukan sesuatu tanpa berfikir" jelas Mama Rena masih belum menjelaskan pada yang dia ketahui.
Devon sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika dia sudah berubah dan akan menjadi lebih baik lagi. Dia tidak ingin seperti dulu lagi, selalu mementingkan kesenangan dan juga kepuasan dirinya sendiri.
"Saya akan jujur padanya dan akan serius padanya. Karena sejak awal memang sudah sangat serius, tapi belum mendapatkan jawaban yang pasti" ucap Devon dengan bersungguh-sungguh.
"Saya pegang kata-kata mu. Jika sedikit saja membuat kesalahan, bahkan berniat yang tidak baik. Bersiaplah untuk mendapatkan hukuman yang setimpal" tegas Mama Rena sebelum beranjak dari duduknya.
Mama Rena melangkahkan kakinya menuju kasir, dia ingin membayar semua makanan yang semua kariawan pabrik ini makan tanpa terkecuali.
__ADS_1
"Apa loe menyembunyikan sesuatu Tevlon?" tanya Rina penuh selidik menatap wajah Devon.
"Itu bukan urusan mu petasan banting" jawab Devon ikut meledek Rina dengan julukan yang dia berikan.
"Awas saja jika benar loe ada niatan buat nyakitin sahabat gue. Gue panggang loe Tevlon" ancam Rina sambil menunjuk Devon dengan garpu yang dia pegang.
"Silahkan saja. Karena saya memang ingin serius, saya sudah lelah akan semua ini. So lakukanlah sesuka mu" ucap Devon lalu beranjak dari duduknya.
Sebelum beranjak Devon sempat bilang pada Lulu, jika pulang nya bareng dan dia akan bicara sesuatu yang sangat penting. Lulu mengiyakan ucapan Devon, dia ingin mendengarkan penjelasan dari Devon yang sebenarnya.
.
Tibalah waktu pulang kerja, semua kariawan pabrik sudah bubar. Tinggal lah Lulu dan Devon yang sedang berjalan santai menuju sebuah cafe yang tidak jauh dari pabrik dan juga kontrakan Lulu.
"Kenapa sampai menyewa tempat ini?" tanya Lulu setelah duduk didalam ruang PIV dicafe tersebut.
"Karena pembicaraan ini sangat sensitive" jawab Devon dengan nada dingin.
"Begini Lu" Devon menceritakan semua masa lalu nya dengan setiap wanita dan yang terakhir adalah kekasih dari Danu Wijaya Kusuma yang sudah dia rusak dan dia janjikan sesuatu yang akhirnya membuat nyawanya hilang.
Lulu membekap mulutnya, dia tidak percaya. Pria baik seperti Devon ternyata seseorang yang sangat jahat dan juga sangat menjijikan. Bahkan dengan teganya menyuruh untuk menggug*rkan janin yang tidak berdosa, karena dia tidak ingin terikat dengan wanita.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Lulu pergi dari hadapan Devon yang memandang nya hingga menghilang dibalik pintu ruangan VIP yang dia sewa.
"Ini lah yang aku tidak suka jika jujur. Dia pasti akan membenciku, dan sangat jijik padaku. Apa orang seperti ku ini tidak pantas untuk berubah dan bisa mendapatkan wanita baik-baik dan menerima kekurangan dan kelebihan ku. Menerima masa lalu ku" gumam Devon sambil menunduk.
Dia tidak sadar jika didalam ruangan itu ada seseorang lagi yang menyaksikan semuanya dan juga mendengarkan semuanya.
"Kamu memang salah Tevlon, tapi aku percaya jika kamu sudah berubah. Aku bisa membantu mu untuk bisa mendapatkan hatinya, dan mendapatkan kepercayaan nya kembali" ucap seseorang itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rina.
__ADS_1
Devon mendongakkan kepalanya menatap wajah Rina yang sedang duduk dihadapan nya. Ya, Rina sejak tadi mendengarkan penjelasan dari Devon. Memang, Rina juga kecewa dan juga marah akan sikap masa lalu Devon yang sangat kejam dan tidak manusiawi.
Tapi bukan kah setiap manusia berhak untuk berubah dan memperbaiki dirinya. Itulah mengapa Rina tidak ikut menghakimi Devon, akan masa lalu nya yang sulit untuk dimaafkan.
"Kamu" sebelum Devon melanjutkan pertanyaan nya, sudah lebih dulu dipotong oleh Rina.
"Aku mendengar semuanya, semua-muanya. Boleh nggak sih gue muku*in loe. Gue bener-bener gedek banget sama loe" ucap Rina yang melemparkan beberapa makanan yang sudah tersaji diatas meja.
Devon hanya diam saja menerima apa yang dilakukan oleh Rina padanya. Dia tahu jika itu adalah bentuk dari kekesalan seorang sahabat pada sahabatnya yang dikecewakan olehnya.
"Kenapa loe diam saja? Kenapa loe tidak mencegah gue hah!" ucap Rina yang sudah sangat marah padanya.
"Gue nggak pantas buat membela diri gue sendiri. Gue memang pantas mendapatkan nya, gue memang baji*gan, bre*gsek dan juga menjijikan" jawab Devon dengan menunduk dan meneteskan air matanya.
Devon menangis terisak karena dia merasa benar-benar sangat rendah dan juga sangat tidak pantas dan juga dekat dengan para orang baik.
"Loe boleh nangis sekarang, keluarin semua unek-unek yang ada pada diri dan hati loe. Gue tahu, jika loe itu hanya manusia biasa yang bisa saja ngelakuin kesalahan yang fatal. Tapi loe harus bisa berubah dan tidak akan mengulangi nya lagi" jelas Rina sambil menepuk punggung Devon yang sedang bergetar karena menangis.
"Menangis lah, karena dengan menangis kita bisa merasa lebih tenang. Jadi menangislah, tumpah kan semua yang ada dalam hati loe. Jangan malu, tumpah kan semuanya" ucap Rina yang masih berada disamping Devon yang sedang menangis sesegukan sambil menundukan kepalanya.
Ternyata apa yang dilakukan oleh mereka berdua disaksikan oleh Lulu yang ternyata belum benar-benar pergi dari sana. Dia ingin mendengarkan semua, jika Devon benar-benar berubah. Lulu ingin menghampiri nya dan memeluk pria yang memang sejak awal sudah mencuri hatinya.
Tapi Lulu ingin tahu sampai dimana kesungguhan seorang Devon pada dirinya. Lulu tidak mau jika nanti Devon mengulanginya lagi. Hingga ada kata-kata yang membuat nya semakin percaya jika Devon benar-benar berubah sepenuhnya.
"Gue, benar-benar sudah sangat mencintainya Rin. Gue nggak tahu kenapa hati gue sangat nyaman berada didekat nya, gue merasa seperti sedang berada dengan nyokap gue Rin. Gue tahu, gue baji*gan, bre*gsek. Gue membutuhkan dirinya supaya bisa membimbing gue Rin, gue... Gue ingin benar-benar berubah" ucap Devon benar-benar menyayat hati.
Bahkan Rina ikutan menangis sesegukan mendengar kan semua ucapan Devon. Bahkan tanpa mereka sadari saling berpelukan dan menangis sesegukan bersama hingga beberapa menit. Hingga mereka berdua langsung tersadar dan melepaskan pelukannya.
"Sorry, gue terbawa suasana" ucap Rina sambil menjauh dari Devon.
__ADS_1
"Gue juga minta maaf. Gue yang salah" jawab Devon juga sambil membenarkan pakaian nya yang sudah kusut dan juga basah oleh air mata Rina yang tadi memeluknya.