Suamiku Ternyata Orang Kaya

Suamiku Ternyata Orang Kaya
Pemecatan Silvia


__ADS_3

Siapa kira-kira pengawas yang Danu rekrut sekarang atau mungkin bukan Danu yang melakukan nya? Karena Danu maupun Devon akan selalu membuat semua orang tunduk dan takluk akan ketegasan nya.


Silvia hanya bisa bungkam, dia tidak bisa melawan atau mengancam pengawas ini. Dia juga sebenar nya ingin sekali untuk keluar dari pabrik yang sangat membuat nya tidak nyaman.


Sebenar nya Silvia adalah anak salah satu pengusaha yang menjadi salah satu infestor dipabrik ini. Dia bekerja disini karena Ayah nya yang menyuruh supaya dia bisa mengelola perusahaan nya kelak yang akan diserahkan pada nya.


Tapi justru Silvia tidak pernah belajar bersungguh-sungguh untuk bisa menguasai bidang bisnis atau yang lain nya. Yang dia kuasai hanya bisa menghabiskan uang dan juga membuat masalah.


Sedangkan kedua teman Silvia, mereka berdua bekerja dengan baik. Jadi walau berteman dengan Silvia mereka berdua tidak mau mengikuti Silvia yang seperti itu. Karena mereka berdua bukan dari kalangan menengah keatas, mereka berdua hanya kalangan menengah biasa.


Mereka semua benar-benar mengerjakan pekerjaan nya masing-masing. Hingga Danu meninjau langsung bagai mana semua kariawan nya bekerja.


"Gawat, idola gue dateng" ucap salah seorang kariawan wanita yang memang sangat mengidolakan Danu.


"Udah punya bini, jangan macam-macam loe" ucap teman nya.


"Iiihhh, makin ganteng aja sih punya orang" ucap seorang lagi.


"Seett, jangan berisik" ucap seorang lagi menenangkan.


Danu memperhatikan semua nya. Hingga pandangan nya tertuju pada seorang pria yang sudah menjadi pengawas disini. Sedang berbicara pada seorang kariawan yang sudah sangat dia kenal.


"Sedang apa kalian berdua?" suara bariton seorang pria muda dan berkarisma mengagetkan mereka berdua.


"Pak, saya sedang memperingatkan nya yang bekerja sesuka hati nya" jawab pria muda yang menjadi pengawas.


Danu hanya memperhatikan saja, dia ingin mendengar pembelaan dari kariawan satu ini yang selalu membuat ulah.


"Pak, saya sudah mengerjakan pekerjaan saya dengan baik dan benar Pak, tapi Pak pengawas tidak percaya Pak" ucap Silvia membela diri.


"Apa itu benar?" tanya Danu pada pengawas yang bernama Firman.


"Benar Pak" jawab Firman.


"Why? Kenapa kamu tidak percaya" tanya Danu lagi dengan menatap tajam kedua orang yang berada didepan nya.


"Karena saya sudah sering kali memergoki dia menyuruh orang lain untuk mengerjakan pekerjaan nya. Dan dia hanya mengatur dan mengancam supaya orang yang dia suruh tidak melaporkan nya pada ku atau atasan lain nya" jelas Firman dengan sangat rinci.


"Jika anda belum percaya juga, anda bisa melihat CCTV nya langsung" ucap nya lagi.


"Kalian berdua ikut saya" titah Danu pada Firman dan Silvia.

__ADS_1


Dibelakang mereka banyak kariawan yang lain kasak kusuk membicarakan Silvia yang akan menerima akibat nya. Mungkin saja dia akan dipecat dengan cara tidak hormat. Begitulah pemikiran semua orang.


Sedangkan diruangan Danu sudah ada dua orang yang tadi dia panggil. Sedangkan Soraya, dia keluar ruangan supaya tidak mengganggu mereka berbicara.


"Jelaskan semua nya. Dan, tanpa ada yang ditutup-tutupi" Danu menyuruh mereka berdua menjelaskan.


Firman menyerahkan beberapa bukti yang dia kumpulkan, termasuk dengan rekaman CCTV yang dia berikan. Juga berbentuk rekaman suara yang sengaja dia taruh disetiap meja para kariawan. Termasuk meja kerja Silvia.


"Apa yang ingin kau buktikan?" tanya Firman dengan nada meremehkan.


"Saya memang tidak memiliki bukti apa pun Pak, tapi saya bersumpah jika saya benar-benar bekerja dengan baik dan jujur" ucap Silvia membela diri.


"Jika kamu benar bekerja dengan baik dan jujur. Maka kerjakan ini sekarang, disini!" ucap Danu telak. Tidak menerima bantahan.


"Tapi Pak, ini bukan tugas saya. Itu bukanlah bidang saya" sanggah Silvia menolak apa yang disuruh untuk dia lakukan.


"Jadi, kamu tidak bisa? Sedangkan ini memang tugas mu dan ini adalah bagian mu!" jelas Danu sambil melemparkan beberapa lembar kertas yang memang sudah dia siapkan.


"Baca semua nya dengan teliti, jangan sampai ada yang terlewat. Dan resapi semua nya" ucap Danu sambil menunjuk kertas-kertas yang berserakan dan juga menunjuk wajah Silvia.


Silvia semakin gemetar, karena selama ini dia bekerja sama sekali tidak pernah mengerjakan apa pun. Dia hanya memerintah dengan tanpa perasaan pada kariawan lain.


Silvia mengambil kertas yang ada dihadapan nya lalu membaca nya dengan teliti. Tapi memang dia tidak mengerti setiap tulisan yang tertera diatas kertas tersebut.


"Kenapa diam saja? Apa sudah menherti" tanya danu dengan tatapan tajam nya.


"Sekarang kau buat surat pengunduran dirimu sekarang juga! Saya tidak mau mendengarkan penjelasan dari mu. Sekarang pergi" ucap Danu tak terbantah kan.


Silvia mau tidak mau dia menerima nya. Memang dia tidak tahu apa-apa soal itu semua. Jadi dia segera bangkit dari duduknya dan pergi dari ruangan Danu.


"Dan kamu, kerja bagus. Lakukan semua nya dengan baik dan benar. Saya mau kamu tingkatkan lagi kinerja mu" ucap Danu pada Firman.


Firman hanya mengangguk, dia lalu pamit undur diri. Dan dia juga segera melangkahkan kaki nya menuju pintu keluar.


Saat bersamaan Soraya juga ingin membuka pintu. Soraya kaget karena saat ingin memegang hendel pintu tiba-tiba terbuka dari luar.


"Maaf" ucap Firman saat melihat Soraya, istri dari atasan nya kaget melihat nya keluar mendadak.


Soraya hanya mengangguk dan tersenyum lalu melangkah masuk kedalam ruangan kerja Danu.


"Kenapa sayang?" tanya Danu saat melihat Soraya baru masuk dengan wajah yang tegang.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Mas, cuman tadi kaget saja pas mau masuk kesini. Tadi berpapasan dengan orang yang tadi" jawab Soraya sambil tersenyum.


"Habis dari mana?" tanya Danu lagi.


"Dari kantin, dan membeli ini" jawab Soraya sambil memperlihatkan bungkusan yang berada di kedua tangan nya.


"Wah, kamu beli apa sayang? Bau nya enak sekali" tanya Danu dengan tatapan berbinar.


"Ada deh, pasti nya ini enak dan juga mengenyangkan" jawab Soraya lagi lalu mendudukan dirinya disofa ruangan kerja Danu.


Danu langsung menghampiri Soraya yang duduk disofa. Lalu ikut membuka beberapa bungkusan yang dibeli oleh Soraya.


.


Tidak jauh dari tempat Soraya dan Danu yang sedang menikmati camilan yang lumayan banyak. Rina sedang berada dikantin pabrik, sedang memesan makan siang nya. Dia duduk sendiri dipojokan kantin.


"Boleh gabung?" tanya seseorang yang datang dari belakang Rina yang sedang memainkan ponsel nya.


"Gabung saja" jawab Rina yang masih fokus pada ponsel nya.


"Rin, gue lihat tadi Mak Erot pergi dari ruangan HRD" ucap seseorang yang sudah duduk dihadapan Rina.


"EGP emang gue pikirin" jawab Rina masih memandangi layar ponselnya. Entah apa yang dia lihat sehingga Rina tidak bergeming sama sekali.


"Kan bagus sudah hilang biang nya rusuh" ucap nya lagi. Tapi tidak ditanggapi oleh Rina yang masih fokus pada ponsel nya.


Tiba-tiba Rina berteriak dan juga menggebrak meja mengagetkan orang yang yang berada didalam kantin. Apa lagi yang berada satu meja dengan nya.


"Gila! Kenapa bisa begini sih!" ucap Rina yang masih melototi ponsel nya.


"Loe ngagetin saja. Kenapa sih?" tanya seorang wanita yang berada disebrang nya duduk.


Rina tidak menjawab melainkan menggerutu tidak jelas dan juga tidak dapat didengar oleh orang lain.


"Sejak kapan dia punya nomor ponsel gue. Kenapa tiba-tiba dia mengirim gue chat? Aduh, gue harus balas apa" gumam nya Rina saat dia menerima chat dari seseorang yang tidak dia harapkan.


"Loe kenapa sih Rin? Dari tadi ngomong sendiri nggak jelas" tanya wanita disebrang nya.


"Bukan apa-apa" jawab Rina datar dan langsung meletakkan ponsel nya.


Karena makanan yang dia pesan sudah datang. Jadi dia menikmati makan siang nya dengan semangat, karena dia harus kembali memikirkan apa yang akan dia lakukan pada chat dari orang itu.

__ADS_1


__ADS_2