
Mereka semua bergabung bersama dan juga mengobrol, ternyata Devon mudah beradaptasi dengan lingkungan yang dia singgah. Jadi tidak terlalu sulit untuknya. Apa lagi keluarga Lulu sangat welcome terhadapnya.
"Ibu akan kemana?" tanya Lulu yang melihat Ibunya beranjak.
"Ibu mau memasak untuk makan malam kita" jawab Ibunya.
"Tidak usah buk, kita makan diluar saja. Biar aku traktir" bukan Lulu yang bilang, melainkan Rina.
Dia memang berencana untuk mengajak mereka makan diluar. Walau mungkin tidak ditempat yang mewah, tapi jika melihat kebahagiaan diwajah mereka itu adalah yang paling utama.
"Waduh nak Rina, tidak usah repot-repot nak. Ibu bisa memasak untuk kita semua, jadi nak Rina tidak perlu menghamburkan uang nak Rina. Nanti jika ada keperluan mendadak atau apa, bagaimana?" ucap Ibunya Lulu merasa tidak enak jika Rina mentraktir mereka semua.
"Alhamdulilah buk, aku habis dapat bonus. Ya walaupun tidak banyak, Insya Allah cukup untuk kita makan bersama. Jadi Ibu mau ya? Plisssss" jelas Rina sambil mengedipkan berulang kali matanya seperti orang kelilipan.
"Huh, ya sudah. Terserah nak Rina saja" jawab Ibunya Lulu pasrah.
"Nah gitu dong. Kan enak jika makan malam bersama. Tapi sebelumnya nggak apa-apa kan buk jika makan nya bukan direstaurant yang mahal?" tanya Rina sambil senyum meringis menampilkan gigi putihnya.
"Tidak apa nak. Yang penting ikhlas, itu sudah cukup buat Ibu dan yang lainnya" jawab Ibunya Lulu.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang" ajak Rina sambil beranjak dari duduknya.
"Ya sudah, ayo" ucap yang lainnya.
Mereka semua berjalan kaki menuju sebuah restaurant yang tidak jauh dari kontrakan mereka.
"Loh, ksenapa direstaurant nak? Apa kita tidak salah masuk?" tanya Ibunya Lulu merasa tidak enak.
"Tidak buk, ini memang tempatnya" jawab Rina sambil tersenyum simpul.
"Silahkan, ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan yang berdiri didekat pintu masuk.
"Reservasi atas nama Rina" jawab Rina.
__ADS_1
"Oh, silahkan Nona lewat sini" ucap pelayan yang sengaja menunggu nya datang.
Mereka semua diarahkan menuju meja panjang yang lumayan besar. Sangat cukup untuk mereka semua berkumpul.
"Silahkan duduk Nona dan semuanya. Kami akan menyiapkan makanan nya" jelas pelayan dengan sangat ramah.
"Terimakasih" ucap Rina sambil tersenyum.
"Rin, kamu nggak salah ngajakin kita semua makan disini? Apa kamu yakin?" tanya Lulu yang memang duduk disebelah Rina.
"Tenang saja, Insya Allah cukup" jawab Rina penuh keyakinan.
'Jelas saja akan cukup Lu. Gue kan habis ngerampok si popon yang memang sangat menyebalkan itu. Sebanding lah dengan hasilnya, jika keluarga kamu setuju jika kamu sama dia. Hahaha' dalam hati Rina tertawa senang telah merampok Devon.
Flashback on
"Loe serius sama sahabat gue?" tanya Rina pada Devon setelah Lulu pergi dari mereka berdua.
"Apa hubungan nya sama loe?" Devon balik bertanya.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Devon dengan penuh kehati-hatian dengan wanita satu ini. Bisa saja dia dijebak atau malah dikerjai oleh nya.
"Gampang, sekarang kan ulang tahun Uci. Adik bungsunya Lulu, gue minta salah satu kartu sakti loe buat nerktir mereka semua direstaurant terkenal yang ada dikota ini. Gimana? Loe setuju atau nggak?" tanya Rina masih menampilkan senyuman dibibirnya.
"Oke, gue setuju jika itu saja. Toh itu tidak akan sebanding dengan nanti hasilnya bisa dekat dengan keluarga nya" jawab Devon setuju dengan usulan Rina.
"Oke, mana kartu nya. Gue nggak mau ya, jika loe bohong" cecar Rina pada Devon.
Tidak lama kemudian Devon mengeluarkan dompetnya yang ada disaku celananya dan mengeluarkan salah satu kartu saktinya pada Rina yang sudah menadahkan tangannya dihadapan Devon.
Flashback off
Dan disinilah mereka semuanya, sedang menikmati makan malam yang sangat mewah ini bagi mereka. Ibunya Lulu tidak henti-hentinya berterimakasih pada Rina yang sudah mentraktir nya.
__ADS_1
Rina masih menikmati perannya sebagai orang yang sangat royal. Dalam hati Rina sedang bersorak bahagia, karena sudah berhasil menguras sedikit uang Devon.
Devon yang melihat Rina hanya menatap sinis padanya. Dia berhasil dibod*hi oleh Rina, jelas-jelas sekarang yang mendapatkan pujian dari keluarga Lulu.
Devon sebenarnya ingin marah padanya Rina, tapi dia tidak mau merusak repotasinya dihadapan keluarganya Lulu.
Rina langsung mendekati Lulu dan meminta berbicara berdua saja. Dan Lulu menyetujuinya untuk berbicara berdua saja.
"Ada apa Rin? Sepertinya serius banget" tanya Lulu yang sudah berada didalam toilet.
Mereka sengaja berbicara didalam toilet supaya tidak ada yang mendengar nya.
"Nggak, ada apa-apa kok. Aku cuman mau bilang jika yang neraktir kita semua adalah si popon, aku cuman membantunya saja. Karena dia merasa tidak enak jika dia yang mengajak, dia bilang jika dia baru saja bertemu sama keluarga kamu sudah sok akrab gitu. Jadinya aku bantuin deh" jelas Rina sambil nyengir kuda.
"Kamu ini Rin. Tapi ngomong-ngomong sejak kapan kalian akur?" tanya Lulu penuh selidik menatap wajah Rina yang masih cengengesan.
"Oh itu. Ya jelas harus akur lah, dari pada harus jatuh cinta padanya. Bukankah cinta dan benci itu tipis ya, makanya aku putuskan buat berdamai saja dengannya. Supaya aku tidak membencinya dan berakhir mencintainya. Dih.... Amit-amit" ucap Rina panjang lebar.
"Rina, Rina kamu ini memang suka aneh-aneh saja ya kalo ngomong. Oh iya bilang makasih ya Rin pada Devon, soalnya aku tidak berani bicara langsung sama dia. Dia sudah terlalu baik padaku dan juga keluargaku, aku takut cuman dibilang memanfaatkan nya saja" jelas Lulu yang merasa tidak enak hati.
"Iya nanti aku sampaikan" jawab Rina sambil tersenyum.
'Dia sedang mendengarkan semua yang kamu ucapkan marimar' ucap Rina yang sebenarnya sedang menelpon Devon untuk bisa mendengarnya langsung mereka berbicara.
"Oh iya, tadi kan si popon ngungkapin isi hati nya tuh sama kamu. Apa jawaban kamu padanya? Apa kamu juga sudah menyukainya juga?" tanya Rina seperti polisi yang sedang mengintrogasi tersangka.
"Sebenarnya... Siapa sih Rin yang tidak menyukai pria tampan sepertinya. Sudah baik, lemah lembut juga perhatian. Apa coba yang tidak ada pada dirinya?" jawab Lulu sambil menghela nafasnya kasar.
"Jangan berbelit-belit marimar, intinya kamu menyukainya atau tidak? Tinggal jawab saja apa susahnya sih. Pake muter-muter segala" gerutu Rina sambil mendengus kesal pada sahabatnya yang polosnya tidak ketulungan.
"Iya, aku juga menyukainya. Tapi yang jadi pertanyaan, apa dia serius padaku atau hanya main-main saja? Aku tidak mau jika dia hanya main-main saja" ucap Lulu sambil menundukan wajahnya.
'Kau dengar sendiri Ferguson, eneng pengen diseriusin' gumam Rina dalam hati. Dia greget sendiri akan sikap pasangan baru ini.
__ADS_1
Sedangkan Devon yang mendengarkan percakapan antara Rina dan Lulu senyum-senyum sendiri. Dia berjanji akan segera melamar Lulu untuk dia jadikan istrinya. Dia akan bilang pada Mommy dan Daddy nya untuk melamarkan Lulu untuknya.
Dia sudah mendapatkan kode supaya dia langsung gercep (gerak cepat). Devon juga takut jika nanti akan ada yang menikungnya dari belakang. Apa lagi yang dia tunggu.