Suamiku Ternyata Orang Kaya

Suamiku Ternyata Orang Kaya
Pria tua dan gadis bar-bar


__ADS_3

Ternyata sudah satu minggu berlalu dan sekarang sudah waktunya pernikahan Devon dan Lulu dilangsungkan. Yang katanya adalah pernikahan sederhana menjadi pernikahan yang sangat mewah dan juga meriah.


Banyak tamu undangan yang hadir, dari kalangan bisnis dan juga seluruh kariawan pabrik diundang juga. Tidak ada yang terlewatkan.


"Selamat ya Lulu ku sayang, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah, dan cepat dikaruniai momongan" ucap Rina memberikan do'a terbaik nya untuk Lulu.


"Terimakasih ya Rin, semoga kamu juga cepat menyusul" jawab Lulu dengan senyuman dibibirnya.


"Do'akan saja, mungkin ada CEO yang mau menerimaku, hahaha" ucap Rina sambil tergelak.


"Selamat ya Lu, semoga sakinah sampai kejannah" Do'a Soraya pada Lulu.


"Amin, makasih atas do'a nya Sora" ucap Lulu sambil memeluk sahabatnya.


"Tevlon, loe jaga sahabat gue dengan baik. Jika loe sampe menyakitinya, loe berhadapan dengan gue langsung!" ancam Rina pada Devon.


"Loe itu, bukannya ngucapin selamat malah mengancam. Gue do'ain loe supaya dapet duda karatan!" gerutu Devon dan juga menyumpahi Rina.


"Diihh, amit-amit jabang orok! Loe kalo ngomong nggak pake Bismilah. Do'ain gue yang bagusan dikit napa sih Tevlon" ucap Rina sambil mengetuk-ngetuk kan kepalanya.


Dan mereka harus turun dari pelaminan karena harus bergantian dengan tamu lain yang ingin menyalami pengantin.


"Rin, gimana jika yang diucapkan oleh Devon benar-benar terjadi. Kamu akan mendapatkan seorang duda" ucap Soraya menggoda Rina yang sedang dongkol akibat ucapan Devon barusan.


"Sora, kalo ngomong nggak pake Bismilah. Tega banget do'ain bestie nya yang jelek banget. Bukan nya do'ain gue dapet Lee Min Ho atau Kim Hyun Joong gitu. Ini malah duda" gerutu Rina masih tidak terima.


"Walaupun duda yang penting dia baik dan menerima kita apa adanya, bukan hanya mempermainkan kita saja" jawab Soraya dengan menatap wajah Rina yang cemberut.


Sedangkan Danu sedang bertemu dengan seseorang yang sedang menjalin kerjasama dengan nya. Siapa lagi jika bukan Rudi, dia ternyata diundang juga. Dan mereka sedang asik berbincang-bincang.


Lalu Soraya dan Rina menghampiri Danu dan rekan bisnisnya.


"Mas, aku ingin keluar sebentar ya sama Rina" ucap Soraya pada Danu meminta izin.


"Kamu yakin tidak akan mual jika kita berjauhan?" tanya Danu yang selalu dirinya lah yang tidak bisa berjauhan dengan Soraya.


"Emm, mungkin tidak. Mungkin juga iya" ucap Soraya meragu.


"Jika tidak yakin lebih baik duduk lah" ucap Danu sambil menarik kursi untuk Soraya duduk.


"Tapi Mas, Rina" ucapan Soraya disela oleh Danu.


"Bergabung lah" ucap Danu pada Rina.


Rina sebenarnya merasa canggung jika harus bergabung dengan Danu dan yang lainnya. Dia merasa tidak akan nyaman jika bergabung.

__ADS_1


"Maaf Pak, tidak perlu. Saya juga masih ada urusan yang lain. Sekali lagi saya minta maaf" jawab Rina merasa tidak nyaman dan dia membungkukan badannya lalu pergi.


"Rin, maaf" ucap Soraya merasa tidak enak pada sahabatnya.


"Tidak apa-apa Sora. Aku tahu, jadi jangan merasa sungkan" jawab Rina lalu pergi dari tempat Soraya dan Danu berada.


"Ngenes banget nasib gue, sudah ditinggal tunangan oleh pria bre*gsek itu. Dan sekarang sahabat gue sudah bahagia semuanya, tinggal gue sendirian disini. Menyendiri dan terlihat menyediakan" gumam Rina yang sedang berada ditaman hotel.


Rina benar-benar merasa sangat sedih karena dulu dirinya lah yang lebih dulu bisa memiliki seorang kekasih. Tapi sekarang malah dia yang ditinggalkan lebih dulu menikah oleh kedua sahabatnya, sedangkan dirinya hanya berdiam diri dipojokan. Dan, sendirian.


"Sangat menyedihkan bukan" gumamnya lagi.


Tidak terasa air matanya menetes. Dia tidak tahu kenapa dia menjadi seperti ini.


"Menangislah, jika dengan menangis bisa meringankan beban berat yang ada didalam hati anda Nona" ucap seseorang yang tiba-tiba sudah duduk disamping nya lalu mengulurkan sebuah saputangan pada Rina.


"Terimakasih" jawab Rina sambil menerima saputangan yang diberikan seseorang tersebut.


"Saya kira, wanita bar-bar seperti anda tidak bisa menangis" ucapnya lagi terdengar mengejek.


"Walau bar-bar, saya juga wanita juga kan? Biar bagaimana pun tetap akan bisa menangis. Jadi anda sebagai pria jangan merendahkan nya" ucap Rina sambil tersus terisak dan menggunakan saputangan pria tersebut untuk mengelap ingusnya.


Srot..


Srot..


Srot..


"Sama-sama, untukmu saja. Saya masih banyak dirumah" ucapnya dengan pandangan sangat jijik melihatnya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pria tadi meninggalkan Rina yang masih duduk sendiri ditaman.


.


"Dasar gadis aneh, hanya karena sahabatnya sudah menikah semuanya. Dia sudah menangis seperti ditinggalkan meninggal oleh orang tua nya saja" gumam Rudi yang masih tidak habis fikir dengan wanita tadi yang sudah sering sekali bertemu.


Tapi pertemuan yang selalu membuatnya merasa bingung dengan wanita seperti itu.


"Dia gadis aneh yang sudah bisa membuatku menjadi gila" gumamnya lagi sambil tersenyum samar dantidak jelas.


"Hey tunggu. Pak, Paman atau siapa pun anda. Terimakasih" ucap Rina sambil berteriak dan mengejar pria yang sudah sering menolong nya dan juga mengejeknya.


Rina sudah mensejajarkan jalannya dengan pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rudi.


"Apa kamu bilang, Pak? Om maksudmu apa? Apa saya terlihat setua itu?" tanya Rudi tidak terima dia dipanggil dengan sebutan setua itu.

__ADS_1


"Memang nya kenapa? Aku benar kan, jika anda ini memang sudah tua bukan?" Rina balik bertanya.


"Terserah kamu anak kecil" jawab Rudi langsung mempercepat langkahnya.


"Dasar pria tua yang aneh" ucap Rina menggerutu karena sikap Rudi yang aneh menurutnya.


.


Jika Rina dan Rudi saling menggerutu. Berbeda dengan pasangan pengantin baru yang sedang berbahagia.


"Kamu sangat cantik sayang" ucap Devon saat mereka berdua sudah berada didalam kamar pengantin nya.


"Terimakasih Mas, tidak apa kan jika aku panggil dengan sebutan seperti itu?" tanya Lulu yang baru saja selesai membersihkan dirinya.


"Tidak masalah menurutku. Lebih baik lagi jika memanggilku dengan sebutan sayang" jawab Devon.


Dia yang memang sang mantan Casanova sejati itu dengan sangat mudah untuk merayu Lulu yang sudah bersetatus sebagai istrinya.


"Jika berdua saja tidak apa-apa. Tapi jika didepan umum aku malu, tidak apa-apa kan?" ucap Lulu yang masih merasa canggung akan semua ini.


Benarkah dia pria yang selama ini dia kenal? Kenapa berbeda sekali. Bukankah sebelumnya dia terlihat pendiam dan tidak pernah merayu nya. Tapi kenapa sekarang sangat lancar merayu nya? Sungguh diluar dugaan bukan?


"Kenapa kamu terlihat sangat tegang? Maaf jika sikapku seperti ini. Ini adalah sifat asliku, dimana aku banyak bicara dan suka membual mungkin jika menurutmu itu sebuah bualan. Tapi sungguh, aku benar-benar mengatakan nya dari hati. Jadi terimalah semua sikapku ini. Please" ucap Devon sambil mengatupkan kedua tangannya didada dan terus mengucapkan permohonan.


"Jangan seperti ini Mas, aku justru aku sangat berterimakasih atas segalanya. Mas sudah menerimaku apa adanya, mungkin aku belum bisa menerima nya dengan mendadak seperti ini. Karena sebelumnya Mas tidak seperti ini. Tapi aku akan berusaha menyambutnya dengan senang hati. Jadi aku akan selalu bersiap untuk menerima kejutan-kejutan selanjutnya" ucap Lulu pada Devon sambil membelai pipi Devon dengan lembut.


"Thank you sweetie. Aku akan membantumu selalu bahagia dan menjadi ratu dihati ku sekarang dan selamanya" ucap Devon sambil menangkup kedua pipi istrinya lalu mengusap kepala Lulu dan mencium kening nya dengan sangat lama.


Mereka berdua berpelukan bersama dan lalu mereka merebahkan diri diatas ranjang king size yang sudah penuh dengan taburan kelopak mawar merah sangat indah. Mereka melakukan sesuai insting mereka berdua.


Entah siapa yang memulainya lebih dulu, mereka sudah tidak mengenakan sehelai benang pun ditubuhnya. Lalu Devon melakukan pemanasan sebelum melangsungkan olahraga ranjang nya.


Devon melumaatt bibir Lulu dan Lulu membalasnya dengan masih terasa kaku. Devon membimbing nya dan tangannya sudah mendaki bukit kembar yang sangat menantang dan juga menuruni lemah yang sangat lebat akan rerumputan halus.


Tangan Devon menjelajahi semuanya tangan kanannya terus melakukan untuk penjelajahan. Sedangkan tangan kirinya menahan tubuhnya supaya tidak menindih tubuh Lulu.


Dan dikamar presidential suite hanya ada suara-suara kenikmatan saja juga saling menyebut nama masing-masing.


.


.


.


Mata othor receh ternodai 🙈🙈🙈

__ADS_1


Maafkan othor receh yang sudah khilaf ini mohon jangan dibuly 😁🙏


Masih ditunggu vote dan hadiahnya...


__ADS_2