
Keesokan harinya Rina sudah bangun lebih dulu dan menuju kamar Rudi untuk membangunkan nya karena hari sudah hampir siang. Dia ingin mengajak Rudi menuju suatu tempat sebelum mereka melangsungkan pernikahan.
TOK...
TOK...
TOK...
"Mas, sudah siang apa Mas sudah bangun?" tanya Rina yang mengetuk pintu berulang-ulang tapi tidak ada sahutan dan juga dibukakan pintunya.
CKLEK...
Rudi membuka pintunya setelah Rina beberapa saat menunggu diluar kamar hotel. Rina menghampiri Rudi yang masuk lebih dulu kedalam dan terlihat kamar dan juga tempat tidurnya yang sangat berantakan.
Entah apa saja yang dilakukan oleh Rudi semalaman sehingga membuat tempat tidurnya seperti ini. Rina mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kamar.
"Mas ngapain saja semalam? Sampe seperti kapal pecah" tanya Rina yang sedang menunggu Rudi bersiap.
"Nggak ngapa-ngapain, cuman nggak bisa tidur saja jadi nya seperti ini. Mau ngajak kamu keluar tidak enak, mungkin kamu sudah tidur" jawab Rudi yang memang kenyataan nya seperti itu.
"Aku kira Mas ngapain semalam. Mungkin saja kan Mas malah main kuda lumping" ucap Rina yang menahan tawanya.
"Sembarangan saja kalo ngomong! Ya nggak lah" ucap Rudi yang mencubit gemas hidung mungil Rina.
"Ih, sakit tahu!" protes Rina saat hidungnya dicabut gemas oleh Rudi.
"Habis kamu gemesin banget sayang" ucap Rudi yang langsung memeluk tubuh Rina yang berdiri didekatnya saat ini.
"Dua hari. Dua hari lagi kita akan selalu bersama dalam suka dan duka menempuh mahligai rumahtangga. Apa kamu mau menempuh itu bersamaku?" tanya Rudi yang menangkup kedua pipi Rina.
"Aku sudah sangat siap untuk itu Mas. Semoga saja apa yang kita lakukan menjadi berkah dan juga selalu dalam lindungan NYA, dan semua yang kita tempuh mendapatkan ridho dan semuanya dihitung dalam ibadah kita berdua" jawab Rina yang mengusap rahang tegas milik Rudi.
"Always you sweetie" ucap Rudi yang langsung memeluk Rina dan mengecupi kepala Rina dengan penuh kasih sayang.
"Kita akan seperti ini terus Mas?" tanya Rina yang langsung membuyarkan semua kebahagiaan yang sedang Rudi rasakan saat ini.
__ADS_1
"Sayang, tidak bisakah dia dulu dan menikmati indahnya saat seperti ini? Kenapa malah mengacaukan semuanya?" tanya Rudi yang langsung mengurai pelukan nya pada Rina.
"Aku engap Mas, dari tadi meluknya kenceng banget" ucap Rina yang langsung duduk ditepi tempat tidur.
"Maaf sayang. Kita mau kemana memangnya sepagi ini mengajak keluar?" tanya Rudi yang belum sadar jika ini sudah hampir siang.
"Apa pertanyaan Mas tidak sadar? Sekarang sudah jam 9 pagi, dan kita belum sarapan. Mas bilang ini masih sepagi ini?" tanya Rina yang langsung memeluk keningnya sendiri.
"Benarkah? Kenapa tidak bilang sejak tadi sayang?" tanya Rudi yang melihat jam tangan yang ada dipergelangan tangan nya saat ini.
"Sudahlah, aku sudah sangat lapar dan aku harus makan sekarang" ucap Rina yang langsung pergi keluar dari kamar hotel tersebut dengan diikuti oleh Rudi.
"Maafkan aku sayang. Karena aku kamu jadi kelaparan" ucap Rudi yang sudah merangkul tubuh mungil Rina dalam dekapan nya saat ini.
"Untuk kali ini aku maafkan. Tapi tidak untuk Zayn kali!" ucap Rina yang memberi ultimatum pada calon suaminya itu.
"Janji sayangku" jawab Rudi yang tersenyum sangat manis sekali untuk Rina saat ini.
"Ya sudah, kita akan kemana ini? Aku sudah sangat lapar" ucap Rina yang mengerucutkan bibirnya.
"Promise?" tanya Rina yang mendongak menatap wajah Rudi yang berada disampingnya.
"I'm promise" jawab Rudi dengan senyuman mengembang dibibirnya.
"Oke, kita kerestaurant sekarang juga" ucap Rina yang langsung semangat lagi jika urusan makan.
Saat sedang berjalan berdua sambil bercanda Rina dan Rudi bertemu dengan seseorang yang sangat dikenal oleh Rina. Siapa lagi jika bukan Bram yang sudah menyakiti hati Rina sedemikian rupa.
"Hai Rin, kamu disini rupanya? Dengan siapa?" pertanyaan Bram seperti mengejek Rina yang baru saja check out dari hotel dengan Om-Om.
"Siapa dia sayang?" tanya Rudi dengan berbisik.
"Hai Bram, iya. Gue memang disini, kenapa? Tidak boleh ya, orang biasa dan miskin ada didalam hotel ini dan akan makan ditempat semewah ini?!" tanya Rina yang sengaja memancing Bram.
"Nggak, bukan begitu. Cuman kamu putus dariku malah menjadi seperti ini? Sangat kengejutkan sekali" jawab Bram yang menekankan kata putus dan juga mengejutkan.
__ADS_1
"Memangnya ada apa dengan gue. Hidup-hidup gue, diri-diri gue. Apa urusan nya sama loe? Eh, tapi yang gue denger loe diselingkuhi ya sama tunangan loe yang bentar lagi jadi istri loe? Wah, gue turut prihatin ya akan nasib loe yang.... Mengenaskan" ucap Rina dengan senyuman sinis dan tentunya mengejek Bram yang memulai duluan.
"Aku tidak ingin dikasihani oleh kamu Rina. Lihatlah kamu sekarang sudah jalan dengan Om-Om dan baru keluar juga dari kamar hotel. Justru aku yang merasa kasihan dan juga prihatin akan yang kamu lakukan saat ini" ucap Bram yang sebenarnya sudah sangat emosi dan dia juga mengepalkan kedua tangan nya dengan sangat erat.
"Jaga ucapan anda Tuan. Saya tidak terima jika.. " belum sempat Rudi menyelesaikan ucapan nya sudah disela oleh Rina yang sudah ingin sekali membungkam mulut Bram yang seperti mulut emak-emak lambe turah.
"Kamu tentu sangat bisa menilai semuanya dengan mata kepala mu sendiri. Oh iya sampe lupa, ini ada undangan buat loe. Jangan sampe nggak dateng ya, dua hari lagi dihotel ini juga" ucap Rina yang memberikan undangan pernikahan nya untuk membungkam mulut Bram.
"Ayo sayang, kita pergi. Aku sudah sangat lapar sekali" ucap Rina yang langsung menarik tangan Rudi untuk langsung pergi menuju restaurant hotel tersebut.
Sedangkan Bram menatap nanar pada undangan yang diberikan oleh Rina padanya. Dan ternyata itu adalah undangan pernihakan dirinya dengan pria yang bersamanya barusan.
"Jadi dia akan menikah dengan Rudi Suryoto" gumam Bram yang membaca undangan tersebut dan meremasnya dengan sangat kuat.
Bram sangat kesal dan juga marah dengan apa yang dia ketahui sekarang. Dia ingin marah, tapi dia malah karena apa? Dia sendiri yang menghianatinya lebih dulu dengan memilih wanita pilihan dari orang tuanya yang selalu dikatakan sempurna dan bisa memperbaiki keadaan.
Sedangkan Rina dan Rudi sudah duduk dikursi yang sudah disediakan pihak hotel untuk mereka berdua.
"Sayang dia jadi?" tanya Rudi yang sebenarnya ingin mendengarkan penjelasan dari Rina.
"Iya Mas, dia adalah Bram. Mantan aku dulu, dia sudah menghianati ku saat aku sedang berusaha untuk meyakinkan keluarganya, jika aku bisa menjadi apa yang mereka inginkan. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan nya lagi sekarang" jawab Rina yang terlihat sedih saat menceritakan semuanya pada Rudi.
"Jika kamu sulit untuk menceritakan tidak apa, jangan kamu ceritakan. Jika itu semua membuat kamu sedih dan juga sakit akan mengingat semuanya" ucap Rudi yang langsung mengusap tangan Rina yang ada diatas meja.
"Aku harus menceritakan nya Mas, supaya aku juga lega dan Mas tidak akan salah faham jika mendengar dari orang lain" ucap Rina yang memaksakan senyuman nya.
"Baiklah jika itu bisa membuat kamu bisa lega dan juga bisa melepaskan beban yang ada didalam diri kamu" ucap Rudi yang siap mendengarkan cerita dari Rina.
"Dulu aku dan dia menjalin hubungan LDR karena aku tidak mungkin bisa kuliah dikota dengan biaya yang mungkin lebih besar dari disini. Aku disini dan dia disana. Awalnya kami biasa saja dan selalu kompak, jika libur semester dia akan pulang dan menemuiku sebelum akhirnya dia bilang jika dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya dan dia juga sudah bertunangan dengan nya juga. Dia juga membawa wanita itu untuk dikenalkan padaku" jelas Rina yang menatap kedepan sana dengan tatapan yang sudah berkaca-kaca.
"Huh, Aku sempat bingung dengan keputusan nya yang sangat tiba-tiba. Aku mempertanyakan apa kesalahan ku waktu itu, dia hanya bilang jika aku tidak akan bisa bersanding dengan nya jika tanpa restu dari orang tuanya. Aku bisa apa dengan semua itu, aku langsung menghajar nya hingga tidak bisa apa-apa. Dan dia sempat koma untuk beberapa saat, dan aku juga dilaporkan oleh kedua orang tuanya dan juga wanita yang mengaku sebagai tunangan nya" ucap Rina lagi sambil tersenyum sinis sekarang.
"Lalu? Apa kamu ditahan setelah mendapatkan laporan dari mereka, dan itu memberatkan kamu?" tanya Rudi yang penasaran akan kehidupan Rina sebelum dia bertemu dengan nya dan juga bisa merasakan kebahagiaan nya sekarang.
Rina hanya tersenyum sebelum dia melanjutkan ucapan nya lagi pada Rudi yang penasaran akan semua tentang hidupnya dulu.
__ADS_1